
“kaaaakkkk!” Panggil Aina pada Ryo dari dalam kamar dengan sangat keras
Ryo berlari menuju kamarnya.
Ia memasuki kamar dengan tergesa. Ryo berlari menuju Aira yang terbaring. Tubuh Aira kembali mengejang, ia terus mengigau, menggigil bukan karena dingin, tapi karena reaksi tubuhnya yang terus mengingat kenangan masa lalu yang menakutkan.
“jangan .. jangan..” teriaknya
“mas.. tolong tolong” racauan itu terus terdengar
Ryo membangunkan tubuh Aira. Ia memeluknya erat.
“aku disini sayang .. aku disini” ucapnya terus mengelus pundak Aira mencoba terus untuk menenangkannya.
Kesadaran Aira telah hilang, keringatnya membanjir, wajahnya kini sepucat kapas.
Aina berdiri ketakutan, ia sering melihat sang kakak yang mengigau, tapi tak pernah separah hari ini. ia pun ikut ketakutan.
“niii...” tangisnya
Syen ikut merasa takut melihat kondisi Aira. Ia takut ia menjadi penyebab sang nona seperti itu.
Setelah lebih dari 10 menit, akhirnya Aira bisa ditenangkan, perlahan nafasnya teratur, tubuhnya lunglai dalam pelukan sang suami.
Tak lama dokter Johan dan tim datang memasuki apartemen Ryo. Ryo memberikan cairan infus setelah Aira kondisi Aira tenang. Ia sendiri yang memeriksa sang istri, beberapa dokter pun ikut melihat kondisi Aira. Beberapa dokter pun menyarankan agar Aira melanjutkan terapinya. Sementara yang lain menyuntikkan penenang untuk Aira agar ia bisa beristirahat.
Ryo tak beranjak sedikit pun dari samping Aira. Ia memilih menjadi sandaran tidur Aira.
Waktu pun berlalu meninggalkan mereka berdua yang kini terlelap.
Malam mulai menyelimuti bumi. Aira masih dalam mode tenang dan damainya sendiri. Ryo terbangun oleh sentuhan tangan di bahunya.
“kak! Makan malam dulu!” Aina membangunkan Ryo
“jam berapa sekarang?” tanya Ryo
“udah jam sembilan”
“oo..” Ryo mengangkat kepala Aira yang berbantal lengannya perlahan.
Ia mengecek cairan infus dan mengatur kembali. Pakaian Aira sudah diganti lagi dengan yang baru.
“ni gak pernah seperti ini” ucap Aina yang duduk di tepi tempat tidur melihat sang kakak dengan sedih.
“dulu pernah seperti ini, tapi tidak separah sekarang” jelas Ryo beranjak.
“boleh aku disini dulu?” tanya Aina
“hem!” Ryo beranjak ke kamar mandi.
Aina memegang pipi sang kakak dengan telapak tangannya, ia berpikir, setelah kembali pada Ryo, semua trauma Aira akan menghilang. Ternyata, ia masih memendam taumanya.
Ryo menikmati makannya dengan lambat dan tak selera. Lidahnya seakan tak memiliki rasa, rasa khawatir dan cemasnya membuat ia tak menginginkan apapun masuk ke dalam kerongkongannya.
Ryo kembali ke kamar. Ia melihat Aina yang menunduk terisak menatap sang kakak. Tangannya memangku tangan Aira yang mengalir cairan infus.
“ni kamu akan baik baik aja” ucap Ryo menguatkan Aina dan seakan menguatkan dirinya juga.
“aku sedih... dia baru aja bahagia, tapi sekarang gini” ucap Aina terisak
__ADS_1
“malang sekali ni ku” lanjutnya
Mendengar ratapan Aira membuat mata Ryo mengembun
“ni gak pernah mengeluh dalam hidupnya, ia selalu menunjukkan jika hidupnya senang, aku baru tahu bahwa ni harus banyak menderita demi aku” jelas Aina
“Bams menceritakan kehidupan ni, dia harus bekerja kemana mana, makan seadanya, bahkan tak layak disebut makanan” ucapnya masih terisak.
“tapi dia selalu pamer padaku makanan enak, tak pernah sekalipun menunjukkan betapa susahnya dia selama ini”
“Aku pikir ni hidup dengan nyaman” ucapnya
Ryo terdiam. Ia tersenyum merasakan kuatnya kasih sayang kakak beradik di hadapannya.
“kalau kamu sayang sama ni kamu, kamu harus bahagia, karena hanya itu keinginan dia” jawab Ryo menepuk bahu Aira lembut
Aina mengangkat kepalanya dan menatap Ryo yang berdiri, matanya sembab karena menangisi sang kakak.
“Ni bilang begitu?” tanyanya
“hem! Ni kamu hanya punya satu cita cita, ingin membahagiakan adiknya” jelas Ryo tersenyum
"Semua keputusannya demi kamu, tak ada satu keputusan pun ia ambil untuk dirinya sendiri, setiap langkah yang ia ambil seakan kamu yang menjadi tujuannya" jelas Ryo
"pernikahan rahasia ku dengannya dilakukan Rara dengan terpaksa, karena aku terus meminta, sedang ia terus merasa takut kamu kecewa" jelas Ryo
“asal kamu tau... kamu selalu menjadi orang nomor satu di hatinya, aku hanya menjadi yang kedua” jelas Ryo dan kemudian memajukan bibirnya seolah sewot dan memelas
Aina tersenyum dalam wajah sedihnya. Air matanya kembali menetes karena terharu mendengarnya.
“aku pasti akan bahagia ni.. aku akan bahagia” ucapnya terus mengelus punggung tangan sang kakak”
“sekarang kamu istirahat! Biar aku yang jaga istriku, Ok?” pinta Ryo
“dia hanya tidur, nanti kalau dia bangun dia pasti lupa semuanya” jelas Ryo
Aina menatap wajah sang kakak. Kemudian mengecup dahinya lama.
“aku janji ni, aku akan bahagia” ucapnya lagi
Dengan berat Aina melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
“aku tidur di sebelah” ucapnya sebelum menutup pintu
“hem!” angguk Ryo
Tinggallah Ryo dan Aira yang terlelap. Ia menarik tubuh itu kembali kedalam pelukannya. Membelai puncak kepala Aira dan terus mengecupnya.
“aku sangat mencintai kamu sayang, hati ku sakit melihat kamu begini” ucapnya membelai wajah sang istri.
“hai trauma.. menjauhlah dari istriku” ucapnya mengecup kening Aira
Ryo pun mencoba terlelap dengan memeluk Aira. Setelah beberapa jam, Ryo melepas infus Aira dan kembali melelapkan diri.
Di tempat lain..
Bams berdiri tepat di mobil Kiky yang terparkir di parkiran. Entah seperti apa perasaannya saat ini, ia sangat ingin menemui Kiky tapi sejak siang Kiky selalu mengatakan jadwalnya sangat padat dengan meeting dan meeting. Maka berakhirlah Bams disini sekarang, menunggu Kiky pulang.
Kiky melangkah dengan lelah, ia berjalan dengan gontai karena lelah tubuh dan pikirannya, namun lelah batin karena melawan kerinduannyalah yang lebih membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga.
__ADS_1
Bams hanya diam melihat Kiky yang berjalan mengarah padanya. Kiky masih sibuk melihat isi tas seakan ingin menemukan kunci mobilnya.
Saat Kiky mengarahkan remote ke mobil. Ia baru melihat sosok yang ia rindukan berdiri menunggunya dengan bersandar pada mobil dengan tangan berada di dalam saku. Sosok itu begitu tampan, tapi entah apa yang ada di pikiran Kiky, hatinya terasa sakit dan pedih melihat senyum itu.
Mengapa kerinduanku pada sosok itu justru membuat hatinya sakit? Kiky tak bisa menjawab batinnya sendiri.
“capek sayang?” tanya Bams melihat Kiky berjalan
Serasa angin sejuk langsung menerpa wajah Kiky mendengar Bams yang memanggilnya sayang malam ini. tapi ia tak ingin menghambur memeluk Bams seperti dulu. Ia hanya tersenyum kecil mendekatinya
“hem!” jawab Kiky
“udah lama?” tanyanya seakan biasa
“lumayan” jawab Bams tersenyum canggung.
Ia merasakan perubahan sikap Kiky akhir akhir ini. Bams berpikir mungkin malam ini Kiky akan langsung menciumnya, memeluknya dan mengatakan kata kata rindu seperti dulu.
Tapi hari ini yang ia dapati hanya sapaan dingin yang seolah olah tak ada rasa didalamnya.
Bams menarik tubuh kiky ke dalam pelukannya. Wajahnya bersembunyi di ceruk leher Kiky dan mengecupnya.
“aku kangen kamu” ucapnya
Namun Kiky seakan biasa, seolah tak tersentuh oleh semua belaian Bams. tubuhnya hanya membalas pelukan itu, namun tak melepas kerinduannya. Ia seperti mati rasa.
Pelukan bams semakin erat, menghirup aroma tubuh Kiky agar ia terbebas dari rasa yang lama ada di dirinya. perasaan yang sampai sekarang tak mampu ia sadari.
Kiky melepaskan pelukan Bams perlahan meski Bams enggan melerainya.
“ayo pulang!” ajak Kiky membuka pintu mobilnya
Tapi Bams menahan pintu itu. Ia mengambil kunci mobil dari tangan Kiky, dan menarik tangan Kiky menuju pintu sebelah. Ia membuka pintu agar Kiky masuk di kursi kiri.
Kiky hanya menurut, tapi seakan tak ada keceriaan di matanya. Bams melirik sejenak padanya. bams mulai menyadari jika Kiky bukanlah sibuk, tapi menghindarinya.
“mobil kamu gimana?” tanyanya pada Bams
“tadi sudah dibawa pulang” jawab Bams memasuki mobil.
Ia menatap Kiky yang seakan tak mau menatapnya
“Ky..” panggil Bams membuat Kiky menoleh padanya
“hem” jawabnya menoleh
Bams menarik tubuh Kiky dan mencium bibirnya. Pertautan itu seperti tak berbalas, Kiky hanya mengecup sejenak disela ******* Bams.
Kamu dingin! Benak Bams di tengah ciumannya
Kamu merindukan tubuhku kan? Benak Kiky dalam pejamnya
Bams melepaskan ciuman mereka. ia mengecup kening Kiky sejenak dan tersenyum padanya. Bams berusaha menutupi perasaannya yang mampu merasakan betapa dingin seorang Kiky sekarang.
“kita pulang ya” senyum Bams mulai memutar setir dan menjalankan mobil itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Gimana readers? baiknya Bams dan Kiky tetep terus pacaran atau putus nih?
__ADS_1
Moga tetap betah baca ya... makasih
Love you all