
Aira dibangunkan oleh rasa pada kandung kemihnya yang kini penuh. Sesaat ia melihat sekitar. Ada Rya yang tidur pulas di sampingnya. Dan Ryo yang tidur telungkup di sisi ranjang dan masih menggenggam tangannya.
Aira baru menyadari ada infus yang mengalir masuk ke tubuhnya saat itu. Ia merasa bingung dengan situasi yang sekarang ada di hadapannya.
Ia mengangkat tangannya yang digenggam Ryo membuat Ryo terbangun. Ryo mengerjapkan mata dan mengangkat tubuhnya menatap Aira yang sudah duduk.
“kamu dah bangun?” ucapnya menatap Aira
Sedang Aira menatap Ryo bingung.
“apa ada yang sakit?” tanya Ryo lagi
“aku mau ke kamar mandi, minggir!” ucapnya seakan tak pernah terjadi apapun
Ryo berdiri dan ingin membantu Aira.
“lepas ini!” pinta Aira berbisik karena ia tak ingin membangunkan Rya.
“kamu harus tetap diinfus” ucap Ryo berdebat
“aku gak mau! Aku gak sakit ngapain diinfus” protesnya
Ryo mengusap wajahnya kasar berusaha menghilangkan kantuknya. Karena Ia baru tidur satu jam saja.
“baiklah baiklah” Ryo melepas pelan
“cepetan aku kebelet ini” Ucap Aira tak sabaran
“udah!”
Aira turun dari ranjang, namun saat ia berdiri, ia kehilangan keseimbangan pada tubuhnya dan hampir saja jatuh. Dengan sigap Ryo menahan tubuh Aira. Aira mengerjapkan matanya yang terasa berputar.
“aku bantu!” ucap Ryo menggendong tubuh Aira dan membawanya ke kamar mandi.
Ryo meletakkan Aira pada toilet kamar mandi. Ia pun keluar.
“nanti kalau selesai panggil aku! Jangan berdiri sendiri” ucapnya menutup pintu.
Tak berapa lama Aira selesai. Ia mencoba berdiri dan memang masih sedikit pusing. ia pun terus mengerjapkan matanya berusaha menghilang kan pusing yang membuatnya merasa dunianya berputar dan agar ia mampu sendiri. Aira berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Dan saat pintu terbuka, Ryo masih betah berdiri menunggunya disana.
Ryo ingin mengangkat kembali tubuh Aira, tapi Aira menahan.
“cukup papah aku!” ucapnya dengan tatapan sayu
Ryo pun menggandeng tubuh Aira menuju ranjang.
“apa Rya yang mengganti bajuku?” tanya Aira yang melirik Rya yang tertidur pulas.
Rya terlalu lelah karena habis jalan dengan Aira, sehingga membuatnya begitu nyenyak tidur malam itu.
“iya! Baju kamu basah karena keringat” ucap Ryo
Aira menunduk sedang Ryo yang duduk bersamanya di tepi ranjang menatapnya dengan sangat khawatir.
Bagaimana mungkin aku sampai tak terbangun padahal Rya mengganti seluruh baju ku? benaknya bicara.
“apa kamu sering sakit gini?” tanya Ryo membelai lembut kepala Aira
“gak pernah!” jawab Aira menoleh pada Ryo, memang terlihat ada kejujuran dimatanya.
“apa aku tadi demam?” tanya Aira yang tak menyadari seperti apa dia sebelumnya
Ryo menatap Aira semakin khawatir.
__ADS_1
Apa biasanya, dia pucat itu karena seperti ini? benak Ryo mengingat Aira yang sering berwajah pucat di pagi hari.
“Ryo?” panggil Aira yang melamun
“ah.. apa?” Ryo lupa dengan pertanyaan Aira.
“apa aku demam sampai kamu menginfusku?” tanya Aira
“ah.. gak.. tapi kamu kekurangan cairan karena terlalu berkeringat” Ryo berkilah
“oo...” jawab Aira santai.
“sebaiknya kamu tidur lagi, kamu pasti capek kan?” tanya Ryo
“aku laper!” ucap Aira mengusap perutnya tersenyum meringis.
Ryo tersenyum, tapi hatinya terus sakit melihat Aira.
Sepertinya kamu sering mengalami hal seperti ini! tapi apa yang menjadi pemicunya? Benak Ryo terus saja bicara sambil membelai lembut puncak kepala Aira dan terus tersenyum padanya.
“kamu kenapa liatin aku gitu? Baru tahu aku ini suka laper?” ucap Aira merasa tatapan Ryo terlihat berbeda.
“aku beruntung punya tunangan yang perutnya selalu laper” ejek Ryo pada Aira
“cih..” Aira ngerucutkan bibirnya
“ayo.. kita ke dapur!” ajak Ryo menggandeng tubuh Aira.
“aku dah mendingan kok” Aira melepas tangan Ryo yang yang memegang kedua bahunya.
Mereka pun pergi ke dapur. Aira masih belum menyadari jam yang menunjukan pukul 3:30 dinihari.
Aira ingin memasak sendiri yang ia anggap makan malam.
“emang kamu bisa masak?” tanya Aira
“bisalah!” jawab Ryo
Ryo mengambil roti dan selai. Ryo memanggang roti dan memberi selai. Ia menyodorkannya pada Aira.
“wahh.. kamu beneran bisa masak sekarang!” goda Aira menahan tawa melihat roti di depannya.
“itu Cuma buat ganjel” jawab Ryo
Aira pun menikmati rotinya dan secangkir susu hangat yang juga buatan sang tunangan.
“apa kamu selalu memanjakan wanitamu seperti ini?” tanya Aira tanpa melirik Ryo sedikit pun.
Ryo menoleh ke Aira. Sebenarnya ia kesal dengan pertanyaan itu, tapi mengingat Aira yang baru saja lebih baik dibanding tadi. Ia pun kehilangan rasa kesalnya.
“bisa enggak? Gak ngungkit masalalu ku?” ucap Ryo meliriknya dengan tatapan kesal.
“aku kan cuma nanya” jawab Aira menikmati kembali rotinya.
Ryo berjalan menuju tempat nasi. Ia mengambil nasi sebanyak dua piring. Ia pun membuat nasi goreng untuk Aira. Dengan lihai ia memasak di dapur Aira. Membuat telur ceplok. Dan .. selesai.
“tada... nasi goreng spesial buatan sang bintang Boys” ucapnya menyajikan pada Aira. Ia masih berdiri dan mengelap tangannya.
Aira tidak menyangka Ryo bisa memasak, setahu dia, dulu Ryo bahkan tak punya bahan makanan yang bisa dimasak di dalam kulkasnya.
“sejak kapan kamu bisa masak?” tanya Aira menatap nasi goreng itu terlihat menggiurkan.
__ADS_1
“ada deh!” ucapnya
“jadi selama ini kamu pura pura gak bisa masak sama aku?” tanya Aira lagi dengan nada curiga menatap Ryo yang masih berdiri
“tadinya aku mau kasih kejutan buat kamu setelah menikah. Tapi malam ini kejutanku jadi batal” ucap Ryo duduk menarik kursi di depan Aira.
“ini aman 'kan buat dimakan?” tanya Aira bercanda menunduk kembali mengamati piring nasi gorengnya. Ia berusaha mengalihkan rasa sedih Ryo dan rasa bersalahnya membuat semua rencana kejutan Ryo yang batal.
Ryo menarik piring yang sudah di depan Aira.
“gak usah dimakan!” ucapnya pura pura kesal.
“gak ikhlas!” jawab Aira menarik bibirnya ke sisi atas kanan membuat Ryo terkekeh melihatnya.
“ahhh.. gemesnya aku” cubit Ryo di kedua pipi Aira.
“sakit!” ucap Aira mengusap pipinya.
“maafin aku beib.. abis kamu gemesin sih” Ryo memandangnya dengan wajah imut mengedipkan matanya.
“ahhh.. ayo makan!” ucap Aira semangat mengambil sendok dan garpunya.
“ditunggu saran dan kritiknya ya?” ucap Ryo mengambil sendok.
Aira mulai menyendok dan memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Satu
Dua
Tiga
“hemmm.. enyak” ucapnya dengan mulut penuh
Ryo tersenyum senang melihat Aira yang memang terlihat menyukai masakannya.
Terima kasih bumbu instan! Benak Ryo
“kamu suka?” tanya Ryo melihat Aira terus menyendok makannya.
“sukha!” ucapnya masih dengan mulut penuh.
“nanti ku masakin lagi!” ucapnya
Memang Ryo telah belajar memasak beberapa waktu lalu. Tapi ia belum terlalu lihai menggunakan peralatan dapur yang lain. Memang benar awalnya ia ingin memberi kejutan pada Aira setelah menikah. Ia ingin memasak pada hari pertama mereka kelak menikah dan memberikan Aira sarapan nasi goreng. Tapi karena kondisi Aira malam ini. rencananya itu pun hanya tinggal cerita.
“kalian ngapain?” Suara Rya terdengar serak mendekati mereka.
“makan malam!” jawab Aira pelan kemudian menoleh ke belakang
Sedang Ryo belum sempat menyendok nasinya menatap Rya yang rambutnya acak acakan.
Kaya mak lampir! Benak Ryo
“sahur ya?” tanya Rya
Aira dan Ryo menatap Rya dengan tatapan kaget dan berbeda ekspresi
“sahur?” tanya Aira kaget. Ia pun melirik jam besar yang tak jauh dari ruangan itu.
“aahhhhh!” teriakan Aira memekik telinga saat melihat jam dinding yang menunjukan lewat dari jam empat.
__ADS_1
Kakak beradik itu hanya bisa menggeleng.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~