Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Perjuangan Aira di Ultah Ryo


__ADS_3

Malam mulai menyelimuti bumi. Riuh pesta mulai terasa semakin pekat seiring gelapnya sang malam. Pesta yang diadakan dengan konsep private mask party, dimana semua orang yang datang harus menggunakan topeng dan dilarang membawa ponsel atau kamera, karena sang bintang tidak ingin pesta malam itu akan menjadi trending topic untuk media sosial para tamunya. Tamu yang datang pun juga wajib menunjukkan undangan mereka, karena mereka hanya mengundang orang orang dikalangan tertentu saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun bayangan Aira masih tak muncul disana. Raut wajah Ryo yang tersenyum justru menyimpan kecewa yang sangat dalam.


“kak! Kakak ipar gak datang ya?” bisik Rya


“sepertinya dia gak senang berada disini bersama ku” jawab Ryo kesal menenggak minuman di tangannya.


Sedang Aira yang kini berada di apartemen masih berdiri mematung melihat dirinya. Ia menghela nafas berkali kali mencoba melawan diri agar mampu mengayunkan langkah kakinya keluar dari sana.


Aira kamu bisa .. kamu harus bisa!! Benak Aira terus mencoba.


Dengan degupan jantung yang terus memacu, akhirnya Aira memberanikan diri melangkah. Ia memasuki taksi dengan tangan gemetar. Ia pun mengenakan topeng yang hampir menutup seluruh wajahnya.


Aira melangkah ragu memasuki halaman rumah tempat pesta diadakan. Sejenak ia berdiri menatap rumah itu kembali. Keraguan kembali menghantui benaknya.


Lutut Aira kembali lemas, ketika melihat begitu banyak makhluk makhluk entertain dan wartawan yang hanya mampu meliput dari luar pagar.


Aku harus bisa!! Benak Aira kembali memberi semangat pada tubuhnya yang gemetar.


Keinginannya untuk menunjukkan kepada Ryo bahwa ia mencintai lelaki itu seakan menjadi perjuangan panjang melalui ladang ribuan ranjau darat yang seketika mampu meledakkan tubuhnya.


Langkah Aira mulai terayun.


“nona, undangan?” tanya Security yang berjaga.


“maaf, saya keluarga disini!” ucap Aira menjawab yakin.


Beberapa orang menoleh pada Aira yang menjawab.


“cih.. kasian, mengaku dirinya sebagai Rya, memangnya pengawal mereka tak bisa mengenalinya apa?” cemooh seseorang yang telah menyerahkan undangan dan masuk.


Aira terdiam. Wanita itu benar. Ia bukan undangan dan dia memang bukan Rya. Aira pun mundur. Tubuhnya kembali bereaksi atas ucapan barusan. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas clutch yang ia bawa malam itu.


Ia menghubungi Rya, namun Rya sepertinya tak membawa ponselnya. Akhirnya Aira hanya berdiri disana, bingung dengan keadaannya sekarang.


Jika ku telpon Ryo, kejutanku malam ini akan gagal, tapi jika aku gak masuk malam ini, apa mungkin Ryo akan mengakhiri hubungan kami? Benak Aira yang menunduk meratapi nasib simalakamanya.


“Aira gak kamu undang Ri?” bisik ibunya mendekat karena melihat calon menantunya tak terlihat.


“mana mungkin gak mah” ucap kesal


“kamu nyuruh dia datang kan?” tanyanya lagi


“ya jelaslah.. dianya aja yang gak mau datang” ucap Ryo kesal


“kamu kasih dia undangan gak?” tanya ibunya ragu


Ryo menatap ibunya panik.


Astaga.. iya ya.. kesini kan harus bawa undangan! Benak Ryo panik


“sepertinya gak!” tebak ibunya dengan raut wajah kecewa


“gimana dia bisa masuk kalau kamu gak ngasih.. adduuhhh!” ibunya kesal.


Camila mendatangi Rya, sedang Ryo langsung mengambil ponselnya. Ia melihat tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Aira. Ryo kecewa.


Jika kamu gak bisa masuk, kamu pasti telpon aku, berarti kamu memang gak datang! Benak Ryo menatap layar ponselnya.


“Rya coba kamu hubungi kakak iparmu!” pinta Camila


Orang yang dari tadi mengobrol dengan Rya mendengar jelas kata kakak ipar dari mulut sang nyonya.


“iya mah” Rya berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.


“astaga!!!” pekik Rya yang melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Aira.


Ia pun langsung menghubungi kembali


“kakak.. maaf ponsel ku di kamar.. kakak dimana?” tanya Rya panik


“aku gak bisa masuk, kakakmu gak memberiku undangan” jawabnya di tengah riuhnya orang orang yang terus berdatangan.


“ya sudah, tunggu disana, aku jemput!” ucap Rya


Rya berjalan cepat, sementara Ryo menghubungi Aira, namun ia tak menjawabnya. Ia dengan berada di panggilan lain. Ia pun seperti tidak tenang.


Apa mungkin kamu memang gak datang malam ini? benak Ryo menatap ponselnya.


“Aira gak datang?” bisik Bams mendekati Ryo yang terlihat kesal


“gak tau gue!” ucapnya ketus


Bams hanya menatap Ryo, kemudian Kiky datang mendekat dan memeluk Ryo


“happy birthday sahabatku” ucapnya dan mencium kedua pipi Ryo.


Entah kenapa, desiran aneh terasa di dada Bams yang menyaksikan keakraban Kiky dan Ryo kali ini. Ada perasaan sedikit perih menatap Kiky yang tersenyum.


Kiky beralih di samping Bams dan menggandeng manja lengannya.


“sayang ayo, kita cari makanan.. aku lapar!” bisik Kiky.


Mereka pun meninggalkan Ryo.

__ADS_1


Rya melihat sekitar untuk mencari keberadaan Aira. Ia menghubungi Aira karena ia tak bisa mengenali orang orang yang memakai topeng.


“kakak dimana?” tanya Rya


“aku disamping pos!” ucapnya yang telah lelah berdiri.


“vicall aja!” lanjut Rya


Panggilan pun beralih ke video call. Hingga akhirnya Rya mampu menemukan Aira.


“kakak maaf ya.. Rya lupa kasih tahu security” ucapnya merasa bersalah


“sudahlah.. ayo masuk! Kaki ku rasanya mau patah ini” ucap Aira yang memang tak terbiasa mengenakan heels.


“ayo ayo!” Gandeng Rya


“maaf nona!” tunduk seseorang yang tadi melarangnya masuk


“lain kali kau tanyakan padaku!!” ucap Rya kesal pada lelaki itu


“sekali lagi maaf nona!” tunduknya hormat


“sudah sudah..” Aira menarik Rya memasuki Rumah itu.


“Rya mengajak Aira langsung ke kamarnya untuk membenahi diri.


“aku gugup banget Re!” ucap Aira menatap Rya yang berdiri.


“tenang kak.. gak akan ada kok yang ngenalin kakak” ucapnya


“Ryo marah padaku!” ucap Aira ingin cerita


“dia kesal dari tadi!” jawab Rya


Aira menunjukkan tangannya yang gemetar pada Rya.


“kakak tarik nafas.. terus hembuskan.. pelan.. lagi” Rya terus membantu Aira menghilangkan gugupnya


Rya mengajak Aira turun. Tangannya yang menggandeng tangan Rya terus gemetar. Sekilas Aira melirik Ryo yang berdiri dengan wajah yang sangat tidak senang.


“ayo.. aku menyapa tante dulu!” bisik Aira


Mereka pun melangkah menuju kedua orang tuanya berdiri.


“mah!” sapa Rya menunjukkan Aira


“sayang.. kamu datang!” ucap ibunya memeluk Aira. ia merasakan kegugupan Aira karena tubuhnya gemetar.


“iya tante.. meski hampir tak bisa masuk!” ucapnya tersenyum


“dasar anak nakal dia.. nanti tante marahin!” ibunya kesal



“tante lebih cantik!” jawab Aira


“kamu bisa aja sayang..” Ia membelai dagu Aira.


“jangan gugup!” bisik Camila, “gak akan ada yang ngenalin kamu kok” ucapnya lagi mengelus lengan bahu Aira dengan lembut.


Aira menarik nafas dan membuang pelan mencoba menurunkan kegugupannya.


“mah.. kita mau ke sana dulu ya?” tunjuk Rya


“iya!”


Aira pun mengayunkan langkahnya bersama Rya. Tak sengaja Aira berdiri berhadapan dengan Boman.


“hai Re!” sapa Boman dan menatap sekilas pada Aira yang tak ia kenali. Mereka pun terus berjalan.


“Re.. lututku lemas!” bisiknya. Aira takut Boman mengenalinya tapi ternyata benar yang dikatakan Camila, tak ada yang mengenalinya.


“ayo kak.. kita duduk disini dulu!” Rya mengajaknya duduk pada sebuah kursi pojok.


“huhuh...” Aira menurunkan tensi gugupnya.


“tuh liat.. kak Boman aja gak ngenalin kakak” bisik Rya


“iya..” jawab Aira


“makanya gak perlu panik.. gak ada yang tahu kok” bisiknya lagi agar Aira tenang.


Rya mengambil minuman dingin untuk Aira. Rya membantu Aira membersihkan keringat Aira yang tadi mengucur.


“gimana? Mendingan?” tanya Rya setelah gelas Aira kosong


Aira mengangguk tersenyum. Wajahnya kini tak terlalu gugup lagi.


“aku ingin mengerjai kakakmu” bisik Aira pada Rya setelah melirik Ryo kesal.


“hah?” Rya melirik tak percaya.


“aku berdiri diluar sangat lama gara gara dia gak ngasih undangan”


Rya terkekeh mendengar kekesalan kakak iparnya.

__ADS_1


“Kamu berdiri disini” Aira meminta Rya berdiri untuk menutupi dirinya agar tak terlihat Ryo.


Malam itu hanya Ryo dan keluarga yang boleh membawa ponsel.


Drrrttt.. ponsel Ryo bergetar sebuah pesan masuk. Matanya langsung membulat dan menatap pesan yang Aira tulis untuknya


📲‘kamu terlihat tampan’


Ryo memperhatikan sekitar, tapi ia tak melihat sosok perempuan yang ia cintai itu.


📲‘mencariku?’ pesan itu kembali masuk


Ryo tersenyum melihat pesan itu. hal itu berarti Aira berada disana. Ia terus melihat sekitar.


📲‘kamu dimana?’ tanya Ryo


📲‘masih diluar, gak bisa masuk karena gak punya undangan’


Ryo membuat raut wajah ngeri menatap pesan itu. itu artinya ia membunyikan genderang perang baru pada kekasihnya


📲‘aku jemput’ balasnya


📲‘telat!’ balas Aira


📲‘beib.. pleaaasse!’ balas Ryo


📲‘gak usah merasa bersalah gitu? Kenapa kamu gak pakai topeng?’ tanya Aira


Ryo langsung menghubungi Aira. tapi Aira mematikan panggilannya


📲‘jangan telpon!’ balas Aira


📲‘kamu dimana?’ Ryo terus saja melihat lihat mencoba mencari sosok Aira di tengah kerumunan manusia penikmat pesta yang semakin meriah malam itu.


📲‘ada deh!’ jawabnya terkekeh


Aira melirik kembali Ryo dari balik lengan Rya. Sedang Rya ikut tertawa melihat kelakuan kakak iparnya yang telah sembuh dari sesi ngambeknya.


📲‘beib pliss.. ayolah!’ bujuk Ryo lagi


📲‘coba cari aku diantara semua orang disini’ balas Aira


📲‘kamu jangan becanda ah’ Ryo terus saja melihat lihat dengan senyuman.


Ibunya tersenyum melihat Ryo yang seakan mencari Aira sedang Aira duduk santai di pojokan sambil sesekali mengintip kekasihnya.


“dasar kalian berdua” ucap ibunya terkekeh.


“ayo kita datangi kakak kamu!” Aira berdiri dan Rya tersenyum.


Aira mematikan ponselnya dan memberikan kepada Rya. Rya pun meminta asistennya untuk memegang ponsel mereka.


“Re!” sapa Ryo sekilas melihat Rya yang datang bersama perempuan yang mengenakan dress hitam.


“kakak ipar kamu ngambek lagi!” ucapnya terus mengetik pesan. Tapi pesan itu sudah tak terkirim lagi.


Ryo terus saja melihat lihat dan mencari. Ia tak menyadari Aira yang berdiri disamping Rya.


“aduuhh.. kok gak aktif lagi” ucap Ryo mencoba menghubungi Aira tapi kini hanya dijawab dari seorang gadis operator seluler.


Ryo menoleh pada Rya yang berdiri disampingnya.


“kakak ipar kamu datang.. tapi gak tau dimana.. coba kamu cari dia!” bisik Ryo


“dia gak bisa masuk tadi!” ucap Rya


“hah? Jadi kamu ketemu dia?” tanya Ryo nyaring


Aira masih menahan tawa disamping Rya. Ia menunduk mencoba menutupi dirinya di belakang Rya.


“he eh.. terus dia kesal .. pulang deh!” ucap Rya santai


“jangan becanda kamu!!” ucap Ryo mengeratkan kedua gerahamnya.


“makanya kalau nyuruh orang datang yang bener..” ucap Rya ikut mengerjai sang kakak.


“adduuhhh.. bisa digantung aku ini” keluh Ryo panik


Rya berusaha menahan tawanya.


“kayanya ini ultah kakak yang terakhir deh.. soalnya habis ini kakak pasti bakalan di gorok habis sama kakak ipar” ucapnya lagi dan ingin sekali ia tertawa.


“iya.. mati aku!” Ryo panik dan terus mencoba menghubungi Aira.


“ya sudah.. aku kasih hadiah!” ucap Rya menarik lengan Aira ke samping Ryo


Tapi Ryo masih menatap ponselnya dan terus mengetik pesan.


“mau gak?” tanya Rya memajukan kepalanya


“hah?” Ryo menoleh sekilas pada Rya yang kini dibelakang seseorang yang dari tadi berdiri di belakang Rya.


“kamu gak ngenalin aku?” ucap Aira pada Ryo


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya ya..


makasih, love you all readers


__ADS_2