
“selamat sore!” sapa Aira ramah
“ssss.. selamat sore nona besar” ucap Hendrawan seakan menahan nafasnya
Hendrawan mengulurkan tangan pada Aira dan disambut Aira dengan senyuman. Baru saja tangan Aira akan terulur untuk membalas jabatan tangan Hendrawan, tangan Ryo justru lebih cepat menarik kembali tangan Aira.
Senyum Aira menghilang diiringi tolehan pada Ryo.
“Kita duduk beib!” Ryo justru kini memindahkan tangannya ke bahu Aira dan membimbingnya duduk berseberangan dengan Hendrawan yang berbataskan sebuah meja besar.
Hendrawan tersenyum melihat tangannya yang terulur. Ia menarik kembali dan duduk dengan perlahan dengan tatapan penuh binar yang tak mampu Ryo artikan. Jelas ada sebuah senyum seperti seorang lelaki yang menemukan kembali cintanya.
“nona sangat mirip dengan Nona A..” Hendrawan menahan ucapannya ketika ia merasakan sepasang mata menatapnya dengan tajam dan melotot.
Wajah Aira menjadi pias mendapat ucapan tersebut. ia kembali menoleh pada sang suami yang duduk bersamanya namun tangan itu tetap kokoh memegang bahunya, merangkul seakan memberi perlindungan penuh. rangkulan yang seakan mengatakan dia milikku yang tak bisa kau ganggu.
“mass...” ucap Aira lirih menatap Ryo
Ryo mengangguk tersenyum.
“tuan yang di depan kamu adalah orang yang mengetahui masa kecil kamu beib” ucap Ryo
Aira semakin merapat pada Ryo, tak bisa ia pungkiri bayangan ketakutan masa kecilnya muncul seketika. Meski hanya sekelebat bayangan ngeri, namun tetap saja membuat detak jantungnya sedikit meningkat.
Hendrawan dapat membaca ketakutan pada mata Aira, gerakan tubuh Aira mengisyaratkan jika ia tak ingin berada di hadapan lelaki itu.
“beib! Tenang saja, tuan ini tidak akan menyakiti kamu! ada aku, om Haris dan Ken... jadi jangan takut!” bisik Ryo perlahan.
Ruang itu terlalu hening hingga bisikan itu mampu didengar oleh semua orang yang berada disana.
Hendrawan yang mendengar kembali tersenyum terharu, ternyata lelaki itu mencintai Aira dengan sangat. Ternyata Aira tak salah memilih pendamping hidupnya.
“nona.. maaf sebelumnya, perkenalkan.. saya Hendrawan” ucap Hendrawan membuka mulutnya.
Aira masih gemetar dan hanya melirik sesaat pada Hendrawan.
“kamu ingin masuk?” tanya Ryo merasakan ketakutan Aira
Aira menggeleng. Ia terus menguatkan dirinya untuk mengetahui siapa lelaki tersebut.
“nona tolong jangan takut, saya tidak akan menyakiti nona” ucap Hendrawan lagi
“ap apa mau anda?” ucap Aira kini berani menatap tajam Hendrawan.
“mungkin nona lupa, dulu ketika nona diajak ke mension utama, nona terlalu kecil. Dulu nona memanggil saya om” ucap Hendrawan
Tubuh Aira mengendur, tak lagi setegang sebelumnya ketika mendengar ucapan Hendrawan.
Hendrawan ingin meraih saku dalam jasnya. Ryo dengan cepat menarik Aira kedalam dekapannya.
“tenang tenang.. saya hanya ingin mengambil beberapa foto” ucap Hendrawan
Ia mengeluarkan beberapa foto ketika Andini masih muda, dan sebuah foto yang menunjukkan ia menggendong Aira kecil.
“lihat nona.. ini adalah nona Andini ketika berumur sama dengan nona” tunjuk Hendrawan.
__ADS_1
“dan ini foto terakhir saya bertemu dengannya, ketika nona Andini membawa nona berkunjung ke mension utama” Haris menunjukkan fotonya bersama Aira.
Ken mengambil foto tersebut dan menyerahkan pada Ryo. Aira menegakkan duduknya menatap foto kecilnya. Jelas terlihat ia tertawa dalam gendongan Hendrawan muda. Wajah yang lelaki itu tak jauh berbeda sekarang, meski beberapa keriput menghias kulitnya ia masih terlihat tampan dan berwibawa.
Kini Aira tak lagi gemetar, ia menghela nafas kelegaan diikuti otot otot tegang Ryo yang menghilang bersama deru nafa lega.
“siapa tuan sebenarnya?” tanya Aira menatap foto foto sang ibu.
“saya adalah asisten dari kakek nona” jelasnya
“kakek?” tanyanya
Karena seingat Aira, ibunya melarang ia menanyakan perihal kakek dan neneknya disaat ia masih kecil. Ia selalu iri dengan teman temannya yang selalu bercerita berkunjung ke rumah kakek dan nenek mereka disaat libur sekolah
“iya nona, almarhum kakek nona” jelasnya lagi
“kami mencari nona kemana mana selama ini, sejak kepergian nona Andini, kami kehilangan jejak nona” ucap Hendrawan.
“kenapa kalian mencari ku?” tanya Aira
Hendrawan mengerutkan keningnya. Ia mencoba memahami situasi Aira.
“nona? Boleh saya bertanya?” tanyanya sopan
Meski ragu Aira menganggukkan kepalanya pelan dan kembali duduk merapat pada sang suami.
“apa nona mengetahui siapa kakek nona? Siapa sebenarnya orang tua nona?” tanya Hendrawan
“papa saya seorang yatim piatu, ia tak memiliki keluarga, sedang mamah.. mamah tidak pernah menceritakan tentang keluarganya” jelas Aira
“saya akan menjelaskan silsilah keluarga nona..” Hendrawan pun menjelaskan siapa sebenarnya Andini.
“dia putri satu satunya dari pasangan Aiman Dinirja dan Anna Herawati, kakek dan nenek Nona. Aiman Dinirja adalah generasi terakhir Dinirja karena ia tak memiliki saudara lain, jadi Andini Dinirja Putri adalah penerus tunggalnya”
Aira dan Ryo masih mendengarkan dengan seksama, sedang ekspresi Haris terlihat begitu Syok. Ia sangat mengenal nama Dinirja sebagai nama lelaki pemilik dari perusahaan raksasa yang sekarang di pegang oleh Hendrawan. Ai & Din Corp.
“jadi mamah tidak memiliki saudara?” tanyanya
“saudara kandung, tidak ada, tapi ada seorang saudara tiri dari pernikahan kedua tuan” jelasnya
“jadi kakek berpoligami?” tanya Aira murka mendengar pengkhinatan itu.
“bukan seperti itu! nenek nona meninggal dunia karena sakit yang ia derita. Tuan besar kembali menikah, tapi dengan seorang janda beranak satu. Dia memiliki putra, Tony namanya” jelas Hendrawan
“ooo..” Aira mencerna cerita tersebut.
“tuan tadi mengatakan mamah berkunjung terakhir kali ke mension utama.. apa itu rumah kakek?” tanya Aira
“betul nona.. dan rumah sekarang jadi milik nona” jelasnya
Aira membuka matanya lebih besar. Ada sebuah keterkejutan yang besar dari omongan itu.
“apa tuan?” tanyanya lagi
“nona.. tolong.. bisakah nona tidak memanggil saya tuan? Saya merasa tidak pantas mendapat panggilan itu” pinta Hendrawan.
__ADS_1
“tolong ceritakan semuanya.. anda menyebut mension.. sebuah sebutan rumah yang tak sederhana, sedang kami hidup begitu sederhana di sebuah tempat yang bisa di bilang terpencil” jelas Aira.
Hendrawan menunduk. Mengingat fakta yang temukan setelah kematian Andini.
“maafkan saya nona.. saya terlambat mengetahui keberadaan nona Andini..” tunduk Hendrawan tak berani menatap mata Aira.
Ryo, Haris dan Ken mengerutkan keningnya
“waktu itu perjalanan kesana memerlukan waktu dua hari dari ibukota karena harus transit. Kami mendengar
tentang keberadaan nona Andini setelah salah satu temannya menyebutkan keberadaannya di rumah sakit dan menunggu operasi jantung. Tuan besar syok mendengar putrinya yang akan di operasi dan mengutus saya pergi, tapi saat saya menunggu penerbangan transit ke kota disana, kami mendapat kabar jika nona Andini gagal dalam operasinya dan...” Hendrawan semakin menundukkan kepalanya.
“saya memutar arah kembali ke ibukota karena mendengar tuan juga mendapat serangan karena tak mampu menerima berita jika ia kehilangan putri satu satunya, tuan besar koma selama tiga bulan, dan dalam waktu itu Tony berusaha mengambil alih perusahaan dan membuat saya tak bisa datang ke nona. Saat tuan besar berpulang, kami kembali harus dihadapkan pada penyelesaian wasiat dan warisan, Tony tidak terima jika wasiat terakhir tuan besar mengatakan jika semua hartanya diwariskan pada putri satu satunya dan anaknya, Nona Aira” jelas Hendrawan
Mata Ryo membulat sempurna, ternyata ia beristrikan seorang milyuner yang tersembunyi selama ini.
Ryo dan Aira saling menatap, tapi tatapan Aira begitu menyedihkan
“setelah itu saya baru mengingat nona .. maafin saya nona yang terlambat datang, seharusnya saya datang lebih cepat sebelum nona menjadi sendirian di dunia ini” tangis Hendrawan terdengar.
“kami datang ke rumah nona yang bertuliskan sudah di sita oleh bank, kami mencoba mencari meski hanya satu foto nona agar kami bisa mencari nona.. tapi rumah itu telah kosong dan tak meninggalkan jejak sedikit pun” jelasnya
“berarti yang mencoba menyingkirkan nona adalah saudara tiri dari ibu nona Aira!” ucapan Haris memecah kesunyian
“apa?” tanya hendrawan yang mendengar jelas kata menyingkirkan.
Kata itu bukan pertama ia dengar, bahkan Ryo pernah begitu emosi menanyakan itu padanya beberapa hari yang lalu.
“kenapa kalian selalu mengatakan menyingkirkan?” tanya Hendrawan
Ryo menatap curiga. Akhir akhir ini ia memang lebih curiga pada semua orang.
“karena operasi mamah yang gagal adalah sebuah pembunuhan” ucap Aira meneteskan air mata
“APA???” ucapan keras Hendrawan seraya berdiri dengan tegak mendengar kata kata yang keluar dari mulut Aira.
Ryo menarik Aira lebih ke dalam rangkulannya, pegangan tangannya di bahu Aira begitu erat. Ia melingdungi istrinya dari tatapan tajam lelaki yang terlihat tiba tiba terbakar emosi.
“apa nona bilang?” tanya Hendrawan kembali menyadari dirinya
“mamah dibunuh dalam operasi itu, dan yang menyuruh mereka ... orang kalian sendiri” jelas Aira melirik dengan tajam ke arah Hendrawan
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nah.. perlahan tapi pasti menuju Akhir cerita...
Fakta yang tertutupi mulai terbuka...
Apakah benar Hendrawan tidak mengetahui tentang pembunuhan itu? atau ia hanya pura pura?
Benarkah dugaan jika Tony yang mencoba membunuh dan menculik Aira?
Kita tunggu episode selanjutnya..
tapi sambil nunggu jangan lupa kasih asupan buat saya ya kak.. ? hehehe trims
__ADS_1
******