
“hentikan mah, hentikan!” pinta Ryo terus meronta dari balik kaca menyaksikan terapi sang istri. Hingga sesi yang berlangsung lebih dua jam itu berakhir.
Ryo berlari memasuki ruangan dimana Aira terbaring dengan tubuh menggigil dan mengigau ketakutan. Ia memeluk sang istri erat dan tak terasa air matanya menetes karena tak tega melihat sang istri yang menjalani terapi siang itu.
“Beib... beib..” ia membelai kepala Aira yang ia bersandar terpejam dalam pelukannya.
“aku gak akan minta kamu lagi muncul ke publik, kita sudahi aja semua ini” ucapnya mendekap tubuh sang istri yang basah dan gemetar.
Sesi itu menunjukkan betapa Aira ketakutan dan cerita itu terlalu mengerikan untuk Ryo dengar.
“maafin aku sayang!” ia kembali mengusap lembut puncak kepala istrinya dan mengecup lembut.
Tubuh Aira masih gemetar didalam pelukan suaminya. Nafasnya masih terdengar tak tenang.
“tenang sayang.. aku disini” ucapnya terus mengusap pundak sang istri.
“sshhhhhtt... sshhhhttt”
“sepertinya mereka pasangan yang memang ditakdirkan, biasanya sangat sulit menenangkan kembali seseorang yang seperti itu, tapi dengan suaminya, ia kembali merasa tenang” pandang dokter pada pasangan yang ada di depan mata mereka.
“iya dok, sepertinya cinta tuan muda mampu memasuki zona alam bawah sadar istrinya” jawab dokter satu lagi
Kini Aira seperti tertidur nyenyak dan tak berapa lama ia terbangun kembali.
Matanya sangat mengantuk dan ia membuka mata dengan berat. Terus mengerjapkan mata agar bisa menatap wajah sang suami
“sayang..” suaranya serak dan lirih. Terdengar samar seperti netranya yang menatap Ryo.
“ngantuk?” tanya Ryo
Aira mengangguk pelan.
“tidurlah!” ucapnya membelai wajah sang istri sedang tangan yang lain menggenggam erat tangan yang lain.
Ryo menggendong Aira keluar dari ruang terapi menuju ruang sang ibu. Karena ruangan itu memiliki kamar di balik kantornya. Matanya masih setia terpejam dengan nyaman. Perlahan Ryo mengganti pakaian sang istri dengan telaten. Membaringkannya kembali dan mengecup dahinya dengan lembut.
“tidurlah sayang!” ucapnya terus duduk di tepi tempat tidur memandang wajah sang istri dengan hati yang sedih.
Ryo menyesali dirinya yang terus memaksa Aira melawan diri agar ia mampu tampil ke publik bersamanya. Kengerian saat terapi tadi masih menari di pelupuk matanya.
“maafin aku sayang, maafin aku beib” ia masih membelai wajah sang istri dengan buku buku tangan dan jempolnya.
Kembali mengecup lembut keningnya dan Ryo memejamkan mata, meresapi perasaan yang terdalam yang ia miliki untuk perempuan yang kini terlihat pucat. Meresapi betapa ia mencintai wanita ini. meresapi betapa ia sangat takut kehilangannya, meresapi betapa ia tak mampu melihatnya menderita seperti tadi.
Ryo menunduk sedih. Menyesali dan terus menyesali dirinya. rasa bersalah terus menyelimuti hati dan diri tiada henti. Karena keinginannyalah membuat Aira seperti sekarang. Rasa bersalah itu semakin tajam, menoreh pedih yang terhujam, Membuat diri seakan tak mampu lagi menatap wajah yang menderita di depannya.
Sebuah tangan yang memegang bahunya membuyarkan pikirannya.
“jangan terpukul! Itu sebabnya mamah gak mau kamu ikut” ucap Camila
“Ryo gak tega mah.. Kita hentikan saja” ucap Ryo tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah Aira
“jangan Ry, bukannya kamu ingin dia sembuh?” ucap Camila.
“gak, biarkan selamanya seperti ini, Ryo gak papa,.. Ryo lebih baik seperti itu, dari pada dia menderita seperti tadi” hatinya sangat sakit hingga mampu terdengar dari setiap kata yang Ryo ucapnya. Tangis yang ia tahan seakan ingin ia keluarkan pada sang ibu. Tapi jiwa lelakinya seakan tak mampu mengeluarkan semua sesak di dadanya.
“jangan mengambil keputusan saat pikiran kamu kacau, pikirkan lagi.. bukannya kalian selama ini memutuskannya bersama?” semangat ibunya.
Ryo akhirnya mengalihkan padangannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu yang berdiri. Matanya memerah memancarkan sakit di dalam hatinya.
“tanyakan pada Aira, jika ia ingin, kamu dukung dia” ucap ibunya dengan tatapan sangat pengertian
“iya mah!” jawab Ryo lirih dan sedih.
__ADS_1
Aira masih dalam mode tidur nyenyak yang nyaman. Sedang Ryo masih menunggu dengan sabar dan tak ingin mengganggu sang istri.
“mas...!” panggil Aira pelan membuat Ryo mengangkat kepalanya yang nyaman bersandar di tangan sang istri.
“sudah bangun sayang? Gimana? Ada yang sakit?” tanyanya penuh kekhawatiran dengan mencium kening Aira
Aira menggeleng lemas. Mimpi buruk yang ia alami selama terapi membuat badannya seperti berlari marathon. Tak memiliki tenaga sama sekali.
“tapi badanku lemes!” ucapnya seperti perkataannya.
Ryo mengambil air minum yang sudah disediakan. Aira meminum habis gelas itu hingga tandas.
“lagi?” tanya Ryo
Aira menggeleng.
“pulang.. kita pulang ya?” pintanya
“hem! Kita pulang sekarang!” Ryo membuka selimut sang istri. Ia mengambil jaket dan masker untuk Aira. setelah memasang dengan hati hati. Ryo menggendong tubuh Aira. Aira membenamkan wajahnya di dada sang suami. Berusaha menutupi dirinya ketika Ryo membawanya secara terbuka keluar dari ruang itu menuju mobil mereka yang sudah menunggu.
Ryo melupakan pengawalan dan penjagaan. Sehingga banyak mata yang menyaksikan dirinya, dan dalam hitungan jam, sebuah berita viral, Ryo membawa tunangannya ke Rumah sakit. Berita itu pun memunculkan jutaan komentar.
Tunangannya sakit apa?
Jangan jangan hamil?
Itu kenapa sampai gitu ya?
Jangan jangan?
Aduhh.. iri..
Hati ku hancur
Aku ingin bunuh diri aja
Romantis
Aduh perhatian banget ya? Iri!!
Dan masih banyak lagi komentar komentar yang lain, bahkan ada yang bilang mereka baru menggugurkan kandungan tunangannya. Tapi Ryo tak ambil pusing. Ia bahkan tak peduli dengan dunia media sosial ataupun komentar netizen. Saat ini ia hanya fokus pada sang istri.
Ryo membuat jok mobil senyaman mungkin saat membawa istrinya pulang. Dan saat membawanya kembali ke apartemen mereka, Ryo menggendong kembali Aira. membaringkan dengan pelan.
Sore itu ia merawat Aira dengan telaten. Karena kondisi Aira terlalu lemah, Ryo akhirnya memberi cairan infus untuk mengembalikan kondisinya.
Aira terbangun sendiri. Ia melihat kembali tangannya yang mengalir infus.
“dasar suami lebay, aku lemes aja di infus” ucapnya menatap infus yang menetes.
Aira mencoba membawa tubuhnya bangkit, tuntutan panggilan alam untuk dikeluarkan memaksanya untuk bangun.
“sayang jangan bangun dulu!” suara tegas itu terdengar dari pintu dan bergegas mendekatinya.
“aku mau ke kamar mandi” ucap Aira
Dengan dibantu Ryo Aira berada di kamar mandi bersama suaminya.
“keluar!” ucapnya
“gak usah malu, aku bahkan mencicipi semuanya” senyumnya nakal
“isshhhh..” keluhnya dengan wajah sayu tersenyum dipaksa.
__ADS_1
Akhirnya ia tak peduli dengan adanya Ryo.
Aira kembali ke tempat tidur. Ryo membenahi bantal karena Aira meminta untuk bersandar.
Ia duduk di tepi ranjang dan menatap cintanya. Ryo mengambil tangan Aira dan menatap tangan itu. Mengelus, menggenggam, mencium dan meremas tangan itu. Rasa bersalahnya membuatnya diam tak mampu mengatakan apapun pada sang istri.
“kamu sangat khawatir?” tanya Aira membelai pipi Ryo
Ryo mengangguk dalam tunduknya masih menatap tangan Aira.
“maafin aku yang lemah” ucap Aira
“bukan sayang, bukan itu!” Ryo kini menatap Aira. pancaran mata khawatir dan sedih terpancar jelas terbaca oleh Aira.
“aku merasa bersalah, karena terus memintamu bisa membuka diri, aku menyiksamu seperti itu tadi siang” ucapnya kembali menunduk dan matanya memerah. Ryo tak bisa lagi menahan dirinya di depan Aira, kesedihan dan penyesalan telah sepenuhnya menguasai dirinya.
Aira meraih tubuh Ryo dan memeluknya. Pelukan erat Ryo yang khawatir membuat Aira justru begitu berbunga bunga. Ia telah merasakan cinta yang begitu besar dari Ryo. pelukan itu dengan sempurna telah menyapu semua keraguannya selama ini.
“sudahlah... jangan sedih, kamu gak salah, kamu hanya ingin aku sembuh.. dan aku gak menyalahkan kamu kok” ucap Aira menenangkan Ryo
“tapi aku benar benar gak tega liat kamu kaya gitu” ucap Ryo
“hemmm” jawab Aira memeluk erat Ryo
Ryo melepas pelukan Aira. ia menatap dalam mata sang istri.
“sayang, mulai sekarang kita akan hidup seperti ini saja, kamu gak perlu tampil ke publik, orang orang gak perlu tahu siapa istri Ryo” jelas Ryo panjang lebar
“kamu yakin? Selamanya kamu akan nyaman dengan kehidupan kita yang seperti ini?” tanya Aira yang kembali memiliki keraguan jika kelak Ryo akan bosan dengannya.
Ryo mengangguk pelan.
“asalkan kamu bersamaku! Dimanapun dan bagaimanapun kehidupanku.. aku akan nyaman” ucapnya tersenyum penuh dengan pancaran cinta.
Aira tersenyum di sela wajah pucatnya, meraih wajah sang suami, mengecup lembut bibir yang seharian ini belum ia rasakan.
Ryo melerai ciuman panjang Aira. Tak ada tuntutan dari ciuman itu, hanya ciuman penggambaran cinta dan kasih sayang.
“kamu udah gak suka menciumku?” tanya Aira
Ryo terkekeh mendengar protes sang istri.
“kamu lagi kaya gini, aku takut aku melahap kamu” ucapnya mengusap bibir Aira dengan ibu jarinya.
“bibir ini canduku, tubuh ini vitaminku, tapi aku gak tega menikmatinya sekarang” senyum Ryo
Aira memiringkan kepalanya sedikit dengan tingkah manja.
“jangan menggodaku sayang, aku gak akan ngelepas infus itu sampai wajah kamu gak pucat lagi” jawab Ryo menjawab tingkah manja Aira.
“aa ahh..” keluhnya bersandar kembali dan membuat Ryo terkekeh.
“berarti malam ini aku libur?” tanya Aira menggoda. Ia berusaha agar Ryo melepas infusnya.
“iya!” jawab Ryo menoel hidungnya
“tapi besok gak perlu bayar double ya?” jelas Aira lagi mengingat ketika Ryo salah paham padanya soal 'sensitif'. Ia harus seharian di tempat tidur karena Ryo menghukumnya membiarkan dia berpuasa semalam saja.
Ryo tertawa melihat kelakuan sang istri.
“udah! gak usah dipikir” ucap Ryo memeluk kembali Aira.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1