
Perih & Pedih
Ting!
Suara pesan masuk!
‘aku ke apartemen kamu ya?’ dari Kiky
Sesaat Bams mengingat obrolannya dengan Ryo.
“sayangilah orang orang yang menyayangi loe bro.. saat semua itu pergi, loe gak akan sanggup melawan sakitnya”
Ada rasa bersalah tergores dalam benak Bams. Ia kemudian menghubungi Kiky.
“kamu dimana?” tanya Bams
“masih di kantor! Bentar lagi mau pulang!” jelasnya
“aku masih di ME”
“oo... hemm.. ya udah kalo gitu” terdengar nada suara Kiky yang kecewa
Bams melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 18:25 wita
“Ky...” panggilnya lagi
“hem!” jawabnya
“mau ku jemput?” tanya Bams
Wajah Kiky berubah seratus delapan puluh derajat, tadinya ia yang seakan tak semangat langsung berbinar.
“Oke!” jawabnya ceria
“ya udah, tunggu ya?” ucap Bams
“Oke!”
Panggilan pun ditutup.
“kamu pulang duluan, aku dijemput Bams” Kiky memberitahu sekretaris pribadinya yang sedang menahan pintu lift karena Kiky sudah siap untuk pulang bersamanya.
“Bams!” panggil Soraya
“ya?”
“Ditunggu di ruamg meeting soal persiapan tur konser!” beritahu Soraya
“kok mendadak?” tanya Bams
“gak kok! Tadi siang udah diberitahu di grup” jawab Soraya
“masa sih?” Bams kembali melihat ponselnya mengecek pemberitahuan pada grup mereka
Dan Ia baru menyadarinya.
“ya udah duluan aja, aku ke toilet dulu!” alasan Bams
Soraya pun meninggalkannya.
Bams mencoba menghubungi Kiky
“Ky, sorry.. ada meeting dadakan” beritahunya
“ooo... gitu!” nada kecewa itu terdengar kembali.
“aku tutup dulu ya” ucap Bams santai
Sedang Kiky terdiam. Ia merasakan kembali pedih di dadanya. Ia merasa Bams kembali membohonginya. Baru saja ia merasa melambung, tapi semenit kemudian ia terhentak begitu sakit.
Ia pun melangkahkan kaki dengan lunglai. Tak ingin menghubungi sekretaris atau pun sang supir atau memesan taksi online, ia hanya berjalan dengan malas keluar dari gedung itu dengan hati yang berbicara.
“selamat malam nona! Anda ingin saya panggilin taksi?” sapa seorang security
“tidak pak, saya hanya ingin berjalan kaki sebentar” ucapnya terus melangkah
Kiky terus berjalan, ia tak merasa kakinya yang mulai lecet karena heels yang ia gunakan tak cocok untuk berjalan kaki. Tapi hatinya terus mengajaknya untuk melangkah, melangkah dan melangkah tanpa ia sadari
Cikluk
Suara pemberitahuan ponselnya yang low. Sesaat Kiky melihatnya dan mematikan ponselnya. memasukkan ke dalam tas dengan kesal.
“nona?” sapa seseorang dengan mobil mewah berhenti tepat di sampingnya
Kiky menoleh padanya. Ia tak mengenali lelaki itu.
Lelaki itu memajukan mobilnya beberapa langkah dari Kiky dan berhenti tepat dibawah lampu jalanan. Ia turun dari mobilnya dan menyapa Kiky
“nona! Anda baik baik saja?” tanyanya mendekat
__ADS_1
“maaf, saya baik baik saja!” ucap Kiky kembali melangkah
“nona tunggu!” tahan lelaki itu pada lengan Kiky
Kiky langsung menarik lengannya menghindar
“maaf nona, tapi kaki nona berdarah” tunjuk lelaki itu pada sepatu Kiky
Kiky mengangkat kakinya kebelakang untuk melihat bagian tali sepatu yang melukai. Sesaat kemudian perih ia rasakan. Karena rasa sakit, kini keseimbangan Kiky mulai goyang.
“awas nona!” tahan lelaki itu pada tangan Kiky
“terima kasih” ucap Kiky tersenyum, tapi senyum itu begitu getir.
“maaf saya lancang, ijinkan saya mengantar nona!” pinta lelaki baik itu.
“anda sangat baik tuan, padahal kita tak saling kenal” ucap Kiky
“tapi sepertinya anda memerlukan bantuan” senyumnya pada Kiky
“sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, tapi saya akan mencari taksi untuk pulang” tolak Kiky
“baiklah kalau begitu, sekarang nona duduklah di mobil saya, saya akan menunggu taksinya” tawarnya
Kiky pun tak keberatan, lelaki itu pun membantu Kiky duduk di kursi belakang dengan pintu terbuka, ia melepas sepatunya. Terlihat luka lecet yang mengeluarkan darah.
“sebentar!” ia membuka bagasi mobil. Membawa kotak P3K dan mendekati Kiky.
Ia mengeluarkan obat obatan untuk mengobati luka Kiky. Lelaki itu berjongkok ingin mengobati lukanya.
“Biar saya sendiri” pinta Kiky
“nona akan kesulitan mengobatinya karena nona mengenakan rok sekarang, biar saya bantu” ucapnya melanjutkan.
Lelaki itu mengambil kaki Kiky dan meletakkan di paha yang berjongkok. Ia membersihkan luka Kiky dengan teliti tanpa memikirkan kaki Kiky yang mungkin kotor.
Kiky menatap lelaki itu dengan hati pedih
Seandainya dia Bams! benaknya bergumam membuat air matanya jatuh. Dan membuat pemandangan lelaki itu teralihkan pada tetesan air mata yang jatuh.
Lelaki itu mengangkat wajahnya menatap Kiky yang menunduk.
“apa sangat sakit?” tanyanya
“perih!” ucap Kiky
Lelaki itu tersenyum
Ternyata dia begitu cengeng! Benaknya.
Lelaki itu melanjutkan mengobati luka Kiky
“awww!” keluh Kiky saat obat merah itu mulai menyentuh luka.
“sorry sorry nona, jangan menangis ya?” Lelaki itu meniup luka Aira kemudian melihat kembali ke Kiky membuat Kiky terkekeh mendengar kata katanya.
Lelaki itu pun tersenyum
“saya Damar” ucapnya pada Kiky tanpa mengulurkan tangan, karena kedua tangannya masih memegang botol obat merah dan cotton swap
“Kiky” balas Kiky
“apa nona berencana pulang dengan jalan kaki?” tanyanya sambil masih sibuk mengobati kaki Kiky.
“tadinya” ucap Kiky
“lain kali nona bawa snacker aja, jadi gak sampai gini” ucapnya
Kiky tersenyum menanggapi jawaban Lelaki itu
“jangan terlalu formal ah, kayanya juga kita seumuran” ucap Kiky
“saya lebih muda nona, saya baru tujuh belas tahun” ucapnya tanpa tersenyum
Kiky terkekeh mendengar kata kata Damar. Jelas terlihat ia seorang lelaki dewasa dan mungkin lebih tua beberapa tahun darinya.
Damar mengangkat kepalanya terkekeh menatap Kiky yang tertawa.
“kalau begitu aku baru dua belas tahun dong” jawab Kiky semakin tertawa
Sejenak ia lupa pada kekecewaannya pada Bams karena seorang Damar.
Damar memasang plaster pada luka Kiky.
“nah sudah selesai!” ucapnya setelah kedua kaki Kiky selesai ia obati.
“beruntung sekali malam ini ketemu dokter” ucap Kiky
__ADS_1
“kok bisa tau?” tanyanya dengan ekspresi kaget seakan mengatakan ia seorang dokter
“lho.. anda beneran dokter?” tanya Kiky
“ah.. katanya jangan formal” protes Damar
Kiky tersenyum
“kamu” jawab Kiky lagi
“hehehehe” Damar terkekeh
“belum jawab lho” ucap Kiky
“iya, aku pernah menjadi dokter” ucapnya serius
“wah, hebat kan aku nebaknya” jawab Kiky
“aku pernah menjadi dokter cilik saat pramuka dulu” Gelak tawa Damar terdengar diikuti Kiky.
“ahh.. dasar! kau lucu banget” ucap Kiky
“by the way, makasih ya” ucap Kiky ingin berdiri
“aku antar aja ya, itu pasti sakit” pinta Damar lagi
“lagian jalan ini kayanya agak sepi, jarang ada taksi” lanjutnya
Kiky berpikir sejenak dan ia pun mengiyakan permintaan Damar.
Damar membantu Kiky pindah ke kursi depan. Ia terpincang karena memang luka itu terasa perih.
Damar meminta Kiky memasukan alamat pada GPS mobil menuju tempat tinggalnya.
“aku panggil mas Damar ya?” ucap Kiky ditengah obrolan mereka
“asal jangan kau panggil aku opa Damar, musibah itu”
Kiky kembali tertawa.
“Aku baru disini dan beruntung langsung dapat kenalan cewek cantik” ucap Damar
“oya? Emang tinggal dimana sebelumnya?” tanya Kiky
“australi”
“bule nyasar dong ini?” jawab Kiky
“ini pak le, bukan bule, tapi gak pake nyasar!” jawab Damar
Kiky kembali tertawa.
“dasar kamu! seharian aku stress berat tapi sekarang wahh.. dapat lawak gratis” ucap Kiky
“nah lho.. jadi pelawak nih” jawab Damar lagi
Di perjalanan, Kiky merasa nyaman karena damar memintanya melepas sepatu agar luka lecet kecil pada sisi jempolnya tak terasa sakit.
Mobil pun meluncur dengan candaan dan cerita lucu Damar.
Ketika memasuki halaman gedung, Kiky meminta berhenti disana.
“disini aja” pinta Kiky
“tapi apa bisa kamu jalan?” tanya Damar yang mengerti rasa sakit di kaki Kiky
“bisa kok, nanti sepatunya ku lepas” ucap Kiky membuka pintu.
“bentar!” Damar keluar dari mobil dan berjalan membuka pintu untuk Kiky.
“makasih ya untuk hari ini, udah ngobatin lukaku, nganterin pulang lagi, terus ngelawak juga” senyum Kiky lebar pada Damar, mengingat semua leluconnya.
Kiky mencoba melangkah tapi sedikit meringis dan sontak tangannya berpegang pada tangan Damar yang dari tadi mengkhawatirkan langkah Kiky.
“tunggu bentar!” pinta Damar pada Kiky.
Ia mengambil sepatu dari bagasi mobil.
“pake ini!” pintanya
Sepatu snaker Damar yang besar membuat luka Kiky tak terlalu sakit.
“tapi nanti gimana?” tanya Kiky
“anggap hadiah sebagai orang pertama yang ku kenal disini” ucap Damar tersenyum dan melangkah pergi
“makasih ya!” senyum Kiky melambaikan tangan pada Damar yang memasuki mobil dan mulai meluncur.
Kiky tak menyadari sepasang mata mengawasi interaksi mereka. seseorang yang merasakan sesuatu dalam dadanya saat melihatnya. seuatu yang disebut PEDIH!
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~