
Aina mencoba meraih kantongnya, tak ada ponsel, tak ada apapun disana
“tas!” ucapnya sendiri
Tapi tak ada apapun di dekatnya, nakas samping tempat tidur itu hanya ada obat obatan dokter.
“ya tuhan!” ucapnya bangun dan menyadari jika tangannya masih tertancap selang infus yang mengalir ke dalam tubuhnya.
Aina bangkit dan mencari perawat yang bertugas.
“nona! Anda tidak boleh bangun dulu!” ucapnya
“aku mencari kakak ku” ucapnya
“iya iya.. tapi nona harus berbaring dulu, luka di kepala nona mungkin menyebabkan gegar otak yang mengharuskan nona beristirahat dulu” ucap perawat itu lagi menahan Aina.
“tapi kakak ku dimana?” ucapnya semakin sedih tak melihat adanya Aira disana
“nona tenang dulu.. siapa nama kakaknya”
“Aira Amira”
Perawat itu tak menemukan nama sang kakak
“dia hamil sus” ucap Aina
“hamil? Apa mungkin salah satu pasien yang kami rujuk ya?” ucapnya
“apa? Dirujuk?” tanya Aina panik
“kenapa sus? Kakak saya kenapa?” Aina mulai menangis.
Setelah mendapat perawatan Aina diijinkan pergi untuk memastikan pasien yang dirujuk adalah kakaknya. Kegugupan melandanya ketika ia melihat seorang wanita dengan masker oksigen dan selang di tubuhnya.
‘Kondisinya kritis’
Kata itu membuat Aina kembali jatuh terduduk lunglai dengan derai air mata. Satu satunya yang ia miliki di dunia ini telah terbaring hampir tak bernyawa.
Niiiii... niiiii.. hanya gumamam itu yang terdengar dalam tangisnya.
“ni.. kamu harus bertahan .. aku gak ingin sendiri disini” ucapnya lirih dalam tangis berbisik di telinga Aira yang terbaring terpejam dengan nyamannya sendiri.
“ni.. kamu harus sembuh.. jangan pernah berpikir meninggalkanku lagi ni.. kita akan selalu bersama” ucapnya dalam tangis.
Ia memilih cek out dari hotel dan tinggal di kamar rawat sang kakak.
Tak berselang lama, perwakilan dari managemen ME dan penyelenggara datang menemui Aina. Mereka menjelaskan bahwa semua pengobatan dan perawatan Aira mereka yang tanggung sebagai tanggung jawab penyelenggara.
“mas Riry..” gumamam bisikan Aira membangunkan Aina ditengah malam
“ni.. ni sudah sadar?” mata Aina kehilangan kantuk saat mendengar suara sang kakak. Namun...
Perlahan Aira membuka matanya, tangannya mencoba meraih perutnya dan sedetik kemudian ia syok kembali menyadari jika perut itu telah rata. Buliran air matanya terus menetes tanpa suara. Ia kembali tak sadarkan diri.
Aina panik memencet tombol yang ada dikamar mereka. dokter berdatangan suara detak jantung berbeda mengatakan jika terjadi sesuatu dengan tubuh Aira.
Hari itu Aira mampu melalui masa kritisnya. Tapi tak mampu menerima kenyataan kehilangan sang buah hati dengan orang yang ia cintai, matanya telah membuka, tapi hanya tatapan satu arah, ia seakan tak mampu lagi menahan cobaan yang bertubi tubi menghantamnya. Dia diam, tak merespon, seperti tubuh yang hanya bernyawa namun tak berjiwa.
Hari kedua perawatan Aira boman datang menjenguk. Saat itu Aina sedang keluar membeli makan siang untuknya. Ia meninggalkan sang kakak yang sedang dimandikan oleh para perawat. Setelah selesai Aira kembali berbaring. Tubuhnya kaku menatap langit langit. Ia seorang manusia kosong yang pasrah dengan apapun.
__ADS_1
Krieett
Suara pintu dibuka.
Boman yang sudah mengetuk tapi tak mendengar respon pun akhirnya memasuki kamar rawat inap Aira.
Saat ia mendekati wanita korban dari kecelakaan tersebut. Ia sangat syok karena wajah itu adalah wajah yang Ryo cari. Boman membulatkan mata tak percaya jika korban itu adalah Aira.
“ai..” panggil boman
“ini aku boman, aku tahu kamu bisa mendengar suaraku..”
Aira masih dalam mode nyamannya.
Aku tahu hubungan kalian rumit, tapi Ai.. aku minta maaf tidak bisa mengatakan kamu disini, karena itu akan menjadi akhir dari ME. Benak Boman menatap wajah Aira yang terpejam.
“aku turut berduka atas kehilangan mu.. nanti saat kamu sadar aku akan kembali ke sini lagi” ucap Boman kemudian keluar meninggalkan Aira.
Sekilas Aina melihat boman meninggalkan kamar sang kakak.
“itu bukannya manager Boys ya?” tanyanya pada salah satu perawat
“betul!”
“ngapain ya?” gumam Aina yang melihat punggung boman menghilang diujung koridor
Aina berjalan menuju kamar sang kakak. Melihat kondisi Aira yang masih tetap sama.
“ni...” Aina memegang tangan Aira yang membuatnya terbangun.
“makan dulu ya?” Aina membangunkan Aira untuk bersandar dengan nyaman.
Satu per satu bubur masuk ke dalam mulut Aira. tapi ia hanya menelannya tanpa mengunyah, tatapannya kosong menerawang.
“Nii.. aku mohon sadarlah.. huhuhuhuhu” tangisnya pecah dalam pangkuang sang kakak. Menangis tersedu ketika ia meletakkan wajahnya di pangkuan Aira. menangis sejadi jadinya.
“huhuhuu.. aaa....aaaa...” tangisnya semakin menjadi
“aku mohon sadar ni... aku hanya sendiri.. bagaimana aku harus menghadapi dunia jika aku sendiri.. siapa yang melindungi ku ni... huhuhuhuhuu.. aku mohon sadar ni...” ucap Aina lagi
Tapi Aira masih mematung.
Aina kembali memegang kedua bahu Aira, ia terus mengguncang tubuh Aira
“sadar ni .. sadar!!!” ucapnya dalam tangis
“aku mohon ni.. aku akan benci kamu ... aku akan tinggalin kamu kalau kamu gak sadar!!” ucapnya seakan marah mengusap kasar air mata dengan punggung tangan.
Tiba tiba wajah Aira menoleh padanya, kini mata itu seakan tak menerawang. Ia menatap mata Aina
“di?” ucapnya
“ni.. huhuhuhuhuh.. ni.. huhuuhu kamu sadar ni.. huhuhu” tangis Aina memeluk
Tangan Aira mengangkat, perlahan mengusap pundak Aina. Ia ikut menangis
“terima kasih ni.. terima kasih kamu tidak meninggalkan ku seperti papa dan mama” ucapnya
“maafin aku ... maafin aku di..” Aira memeluk erat adik
__ADS_1
Dua kakak beradik itu saling menangisi, mereka hanya beradu tangis dan pelukan seakan membagi penderitaan masing masing.
Seperti halnya Ryo, ia juga larut dalam kesedihannya sendiri, ia kembali menenggak minuman yang ada di depannya, ia ingin melupakan harapannya beberapa hari yang lalu. Bayangan keindahan itu pecah dan hancur berkeping keping, mimpi kembali bersama hilang bak ditelan ombak. Ia hanya hancur sendiri, hancur sehancur hancurnya di kota yang tak ia kenal. Mereka memang meninggalkan kota dimana Aira terbaring. Dimana Aira yang dianggap Ryo meninggalkannya dalam dusta dan janji manis. dimana ia tak mampu melupakan kota itu.
Sedangkan Bams, kini terlelap dalam pelukan seorang Kiky. Ia senang dengan kejutan Kiky yang sudah berada dalam selimut ketika ia kembali ke kamar hotel tempat mereka menginap.
Bagaimana dengan Boman? Boman tak mampu terpejam. Ia mengatur bagaimana agar Aira tak kembali pada Ryo.
Matahari menyibak menyapa bumi. Kondisi Aira semakin membaik. Ia terus berusaha melawan dirinya di depan Aina. Berpura pura baik baik saja untuk si adik. Berbaring duduk dan menonton tv, hanya itu yang bisa aira lakukan dimasa perawatan. Hinga malam kembali menyelimuti angkasa.
“aku keluar beli makan malam dulu ya ni” Aina keluar
“hemm.. belikan aku juga ya?” pintanya
“heeeii.. aku gak bisa, soalnya aku harus menuruti kata dokter” ucap Aina
“isshh” Aira berpura pura kesal dan membuat Aina tertawa.
Saat membeli makan malam, Aina melewati sebuah counter ponsel dan membeli ponsel biasa, mereka berdua kehilangan benda penting itu saat tragedi mengerikan itu.
Saat kembali ke kamar Aira, Aina melihat ada tamu yang sedang membesuknya.
“siapa ya?” pikir Aina yang hanya melihat punggung seorang lelaki disela pintu.
“aii.. kau tahu ME kan? bagaimana Ryo mempertahankan ME..? Ryo pasti akan senang jika semuanya selesai, tertutupi dengan baik, kamu kenal seperti apa Ryo, ia tak mampu menghadapi kehancuran, jadi ku harap kamu dan keluarga kamu tidak memperpanjang semua ini, tidak mempersulit ME akan sangat membantu Ryo, aku hanya ingin mengatakan ini” ucap Boman
Suara itu terdengar
“Tenang aja, aku gak akan menyulitkannya” ucap Aira lirih dengan isakan
“terima kasih atas pengertian kamu.. mungkin jika dulu kamu mendengar saran ku, kita gak harus bertemu di ruangan ini” Boman seakan mengingatkan peringatan yang dulu ia katakan pada Aira
“iya, aku salah.. tapi aku gak menyesal bertemu dengannya” ucap Aira lagi
Boman hanya tersenyum kecut.
“aku pergi, semoga kita gak akan pernah ketemu lagi” ucap Boman
“aku harap!” jawab Aira
Boman melangkah keluar ruangan itu.
“Jadi anda mengenal kakak ku!” ucap Aina dengan dingin
“Iya! Maaf aku harus segera berangkat. Kalian tenang saja, semua pengobatan dan biaya kalian sampai sembuh akan ditanggung ME, Aira juga sudah mengerti” jelas boman
Kebencian pada Ryo dan Boys membuat darah Aina terasa mendidih saat ini. ternyata boy band yang selama ini ia idolakan adalah orang orang berhati dingin seperti wajah sang icon yang dikenal tak murah senyum.
“Kamu pikir aku tidak mampu membayar biaya perawatan kakak ku?” Ucapnya
“Bukan begitu, kami hanya bertanggung jawab”
“Pergi! jangan pernah muncul di depan kakak ku lagi” ucapnya kesal.
Kekesalan yang menjadi kebencian yang mendalam untuk ME dan Boys, khususnya Ryo, membuat Aina tak lagi menjadi fans dari mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Terima kasih buat yang udah tinggalin jejak dan tetap setia baca.. makasih juga udah yang ngasih vote, like dan komentarnya..
__ADS_1
Disaat saya merasa tak semangat, komentar dan like novel ini membantu semangat saya untuk sembuh dan bisa melanjutkan tulisan ini.
Sekali lagi terima kasih!