Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Aku ingin sendiri


__ADS_3

Kehidupan pagi ME berjalan normal lagi. Tidak ada wartawan yang menguntit aktifitas disana. Karyawan yang berangkat merasa tenang karena mereka tidak perlu terganggu lagi oleh bermacam pertanyaan dari para wartawan.


Aira datang pagi itu lebih cepat. Ia berdiri sendiri di atap gedung itu memandang dan merasakan panasnya cahaya mentari pagi. Aira berusaha menutupi wajahnya pagi ini. Karena matanya yang seperti telur rebus, dan bibirnya yang sedikit membengkak karena terluka akibat kejadian tadi malam.


Aira terus menarik nafas panjang, berusaha melepas beban hatinya yang berat, berusaha melepaskan sesak yang menghimpit dadanya.


Lamunan Aira buyar dikejutkan oleh suara pesan yang masuk pada ponsel yang dari tadi hanya ia genggam. Pesan dari Bams yang menanyakan keadaannya. Aira pun menjawab kalau ia sudah berada di gedung ME.


Bams lega melihat pesan dari Aira karena ia terus khawatir memikirkan keadaannya menghadapi kejadian tadi malam.


Saat tiba di ME, Bams langsung menuju atap. Ia menemui Aira dan melihat keadaannya. Aira berusaha menutupi wajahnya. Ia sangat malu dengan kondisinya saat itu. seharian itu ia menggunakan masker dan menurunkan topinya untuk bekerja.


Saat ia keluar dari lift ada Tika yang baru saja pulih dari cideranya. Aira tersenyum melihat melihat kondisi Tika yang sudah membaik.


Terima kasih Tik, kamu menyelamatkan ku! Benak Aira


Dengan kembalinya Tika, maka ia tidak akan pernah lagi menjadi pasangan dance Ryo.


Soraya memanggil Aira untuk membahas managemen kembalinya Tika. Aira mendengarkan dengan baik penjelasan Soraya yang akan mengembalikan posisinya semula sebagai OG di gedung itu.


Setelah sekian hari, baru hari ini ‘hari’ Aira tanpa Ryo. ia tidak muncul sama sekali di ME.


Keesokan harinya, Aira kembali membersihkan ruang ruang di ME seperti semula. Teman teman menyambutnya tapi mereka sangat menyayangkan Aira melepas posisinya sebagai dancer. Namun Aira mengatakan ia merasa senang dengan posisinya sekarang. Ia tulus menerima apa yang telah diberikan padanya. hanya itu yang bisa membuatnya bertahan saat ini.


Baginya, sakit yang ada di dada Aira bisa lebih ringan dengan ia menyibukkan diri. Kini ia seperti orang yang gila kerja, karena disaat ia sibuk bekerja, maka saat itulah ia tidak memikirkan berakhirnya hubungannya dengan Ryo. Hanya rasa lelah saat selesai bekerja yang dapat membuatnya tertidur pulas di malam hari.


Hari ini sudah hari ke empat Aira kembali menjadi OG. Ia pun tidak pernah bertemu lagi dengan Ryo. Mungkin dengan kondisi ini, Aira merasa mungkin ia akan lebih cepat melupakan Ryo, satu satunya orang yang telah mengisi seluruh hatinya.


“pakai mata dong!!” suara keras soraya terdengar dari ruangan itu hingga keluar. Ternyata ada Aira yang sibuk merapikan berkas yang tertumpah kopi.


“maaf nona.. maaf nona..” lanjut Aira


Ryo hanya berdiri melihat dari luar jendela kaca. Ia sedih melihat Aira yang diperlakukan soraya seperti itu. tapi ia sendiri telah memperlakukan Aira lebih daripada itu.


Aira keluar membawa nampan dan cangkir kosong dan kotor. Ia sendiri terlihat kotor karena tumpahan kopi. Saat ia menoleh ke sisi kiri, ada Ryo yang berdiri menatapnya dingin. Aira hanya melihat sekilas. Ia pun pergi dengan perasaan bercampur aduk. Ia berusaha menahan tangisnya.


Saat kembali dari ruang pantri, Aira kembali ke ruang loker untuk menukar seragamnya dengan yang bersih. Disana ia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Bukan tangisan karena teriakan Soraya, tapi tangis dari semua yang telah melandanya saat ini, tangis yang ia tahan saat menatap wajah dingin Ryo.


Ryo yang bersandar pada tembok samping ruang loker hanya mendengarkan tangisan Aira dari luar. Hatinya pun seperti tersayat. Rasa pedih mendengar isakan Aira seakan membuat seluruh tubuhnya terhujam jarum, ia seakan


tak menerima tangisan Aira karena orang lain.


Hai bodoh! Loe kenapa ... bukannya loe sendiri sudah buat dia menangis? Benak Ryo seakan bicara pada dirinya sendiri


Ryo berjalan di lorong itu, ada Boman yang telah menunggunya. Ia mengambil berkas dari Boman tanpa bicara. Boman sendiri bingung dengan sikap Ryo akhir akhir ini, ia telah membatalkan tiga pemotretan karena lebam di wajahnya.


“Suruh soraya cuti.. atau dia harus menyerahkan pengunduran diri” ucapnya berhenti melangkah.


Boman tambah bingung dengan kata kata Ryo, kenapa harus seperti itu. Apa mood Ryo yang kurang nyaman di kantor karena soraya? Boman pun bingung sendiri.


“lo kenapa sebenarnya?” tanya Boman mendengar itu.

__ADS_1


“jangan ganggu gue dulu!” ucapnya balik seperti tidak punya tenaga lagi


“kita punya schedule Yo!” jawab Boman


“batalin!” jawabnya lagi


“ya gak bisa gitu dong loe” jawab Boman lagi


“gue udah sibuk bayar penalty karena loe kaya gini” ucap Boman lagi


Saat itu Bams datang dan mendengar pembicaraan mereka


“loe ambil aja dari duit gue” jawabnya seperti tidak ingin berdebat


“gue balik!” ucap Ryo meninggalkan Boman


Sesaat ia menatap dingin pada Bams yang berdiri di ujung lorong. Ia pun berlalu dan menghilang dari sana.


Bams mendekati Boman yang bingung menghadapi Ryo yang sekarang.


“ada apa Bo?” tanya Bams mendekat


“gak tau gue, Ryo gak mau kerja!” ucap Boman bingung


“loe tau kenapa dia?” tanya Boman


Bams mengangguk pelan


“kenapa?” Boman ingin tau


“ya jelaslah, mana pernah dia mikir masalah kerjaan” Boman kesal dengan jawaban asal Bams.


Bams hanya menanggapinya dengan senyuman pada protes Boman.


“ntar gue ngomong ma dia” ucap Bams memegang bahu kiri Boman dan meninggalkan Boman yang bingung dan repot sendiri oleh sikap Ryo dalam minggu ini.


Sore itu gosip pun merebak diantara pekerja, Soraya mendapat teguran keras atas sebuah kesalahan yang ia sendiri pun tidak mengetahuinya. Soraya diminta mengambil cuti atau pengunduran diri. Boman semakin bingung sendiri, selama ini pekerjaannya banyak yang di handle oleh soraya.


Situasi ME seperti memanas entah karena apa. Aira merasa bersalah dengan kejadian yang terjadi di ME saat itu, banyak masalah yang muncul akhir akhir ini, ia merasa dia mungkin salah satu penyebab masalah masalah itu.


Keesokan harinya Aira menemui manajemen dan mengajukan cuti. Ia ingin pulang. Ingin menghabiskan waktu bersama Aina.


Bams melihat Aira keluar dari ruang manajemen, ia melihat Aira membawa form pengisian cuti yang sudah ditanda tangani.


“kamu mau kemana?” tanya Bams mendekati Aira.


Cepat cepat Aira menyembunyikan kertas yang ia pegang. Tapi Bams sudah terlanjur merebutnya.


“jangan bicara disini” bisik Aira


Bams menarik Aira ke balkon tempat biasa mereka ngobrol.

__ADS_1


“apa maksud ini ai? Kamu gak akan pergi kan?” tanyanya lagi


“aku hanya ingin rehat bentar” ucapnya dengan senyum dipaksa


Tubuhnya kini semakin kurus, mungkin karena lelah dan makanan yang tidak terlalu bisa ia konsumsi.


“kok aku punya firasat gak bagus ya?” Bams mencurigai Aira


Aira berusaha tersenyum pada Bams


“aku hanya gak ingin buat banyak masalah bagi orang lain” jawabnya sedih


“kamu gak salah, ngapain kamu harus lari” jawabnya


“aku hanya ingin sendiri Bi!” jawabnya


“tapi Ai..” Bams terus protes


“ketika kamu menghindari wartawan, bukankah kamu juga gak salah?” ucapnya menatap dengan senyuman pada Bams


Bams tersenyum saat Aira menjawab itu.


“aku hanya ingin sendiri dulu, apa yang harus aku lakukan untuk hidupku dan Aina, itu yang harus aku pikirkan, itu yang akan aku utamakan” jelasnya lagi


“saat kamu bilang rasanya ingin mati, aku sangat khawatir” ucap Bams menatap hangat Aira


Aira merasa bersalah mendengar itu semua


“aku hanya mengeluh sedikit!” ucapnya


“jujur.. dari semua yang aku hadapi, ini yang terberat” ucapnya berkaca kaca namun masih dengan senyuman. Senyuman pahit di antara senyuman Aira yang ia paksakan.


“aku akan ngomong ma Ryo. kamu tenang aja” ucap Bams meyakinkan itu


“gak perlu Bi... aku gak ingin balik ke dia” ucap Aira dan setetes air mata jatuh. Aira menyeka cepat air matanya.


“tapi ai?” Bams tidak mengerti perasaan Aira sekarang


“dari awal aku bukan orang yang cocok buat dia, dan aku udah mengatakan itu berkali kali, dan akhirnya.. sekarang dia ngerti itu” ucap Aira dengan air mata yang terus menetes meski ia mengatakan itu dengan senyuman.


"ini juga yang aku inginkan, aku tak perlu merasa takut lagi ada orang lain yang mengetahui hubungan kami, aku bahkan sekarang tenang" ucapnya.


"kamu yakin?" tanya Bams


Bams menyeka air mata Aira. Tak bisakah aku yang menggantikannya di hati kamu? benak Bams


“meski aku berkali kali bilang pada diriku bahwa ia akan membuangku, tapi tetap saja saat itu terjadi, sakitnya tetap ada” jelasnya menunduk.


Bams merasa sangat sedih melihat Aira seperti itu.


“kamu gak perlu khawatir, aku gak pernah ingin mengakhiri hidupku hanya karena masalah ini, aku masih punya Aina, jadi kamu gak perlu pikirin itu” ucapnya mengangkat wajah dan menatap Bams yang menatapnya sedih.

__ADS_1


“jangan liat aku kaya gitu!” pinta Aira lagi


“aku seakan mampu merasakan kesedihan kamu ai” ucap Bams tersenyum untuk memberi semangat pada Aira.


__ADS_2