Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Perpisahan Kita


__ADS_3

Aira menundukkan kepalanya, tundukan kepala yang seakan menggambarkan kecamuk dalam hatinya saat ini.


“dia bilang setelah menanyakannya ia berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi” lanjut Bams


“pertemukan aku dengannya” jawab Aira mengangkat kepalanya seakan yakin dengan hatinya.


“kamu yakin kamu kuat?” tanya Bams meragu


“aku pasti bisa bi” ucap Aira namun dengan wajah sendu


“tapi Aina melarang! Dia bilang dia takut kamu kenapa napa” jelas Bams


“gak papa bi, aku bisa kok”


“kamu yakin?” tanya Bams lagi


“hem.. aku akan melepas Ryo!” ucapnya tersenyum namun untuk kesekian kali, senyum itu begitu getir. Senyum perlawanan terhadap hati yang begitu sakit. Senyum yang bukan menggambarkan keindahan sebuah wajah, namun senyum menyedihkan yang begitu menyakitkan bagi setiap mata yang melihatnya.


“ai..” ucap Bams begitu sedih melihat wajah yang kini di depannya.


Saat Bams pergi, Aira masuk ke dalam kamarnya, menutup wajahnya dan menangis sejadi jadinya


Inilah akhir kita! Benaknya


Inilah akhir semua cinta kamu!


Aira mengambil air wudhu, ia melaksanakan sholat untuk menenangkah hatinya. Di dalam doa ia meminta


Ya Allah, ijinkan aku melepasnya dengan keikhlasan agar ia mampu bahagia, bantu hamba menjadi kuat dan tersenyum mendengar ia bahagia. Doa Aira di dalam hati dan tangisnya.


Aku mencintainya tulus, aku mencintainya karena Mu, ijinkan hamba meminta kembali kebahagiaan untuknya. Hamba hanya ingin dia bahagia, bagiku itu sudah cukup. Maafkan hamba yang selalu meminta lebih, tapi ijinkanlah dia bahagia untuk ku ya Robbi


Air mata tulus itu mengalir bak tanpa ijin, membasahi semua yang ia lalui.


Lelah dengan tangisnya, Aira terlelap tanpa melepas mukenanya. Ia terlalu nyaman dengan dirinya setelah mengadu dan meminta pada yang kuasa. Selama ini hanya doa itu yang selalu terselip untuk Ryo, untuk suami yang tak lagi mampu ia temui.


Bams menememui Ryo. Ia menyampaikan pesan Aira yang ingin bertemu dengannya.


“jadi loe tahu dimana dia!” tatap Ryo sinis


“ini kedua kali loe khianati gue” ucapnya lagi


“gue minta maaf” ucap Bams


Tatapan Ryo semakin menajam pada Bams. Ia mengeratkan kedua geraham menahan semua kebencian padanya. dibohongi seorang istri, dikhianati seorang sahabat, rasanya cukup bagi Ryo untuk membenci mereka berdua.


“kapan dan dimana gue bisa menemuinya?” tanya Ryo dingin


“besok, gue akan ajak loe ketemu dia” lanjut Bams


“jadi selama ini loe udah sering ketemu dia?” senyum smirk Ryo


“hem!” jawab Bams yang tak ingin memancing emosi Ryo


Bams meninggalkan Ryo yang terpaku.


Malam itu Ryo tak bisa memejamkan mata, ia tak sabar menunggu pertemuan dengan Aira bukan karena kerinduannya, tapi lebih pada keinginan untuk mengetahui sang anak yang dulu dikandung Aira saat ia pergi.

__ADS_1


*


*


“Kamu udah siap ai?” tanya Bams


“udah!” jawab Aira seraya menghembuskan nafas agar ia siap


“aku akan telepon Ryo sekarang” ucap Bams


Bams menghubungi Ryo dan mengatakan dimana Aira berada. Sedang Aina masih sibuk berada di cafe siang itu.


“gue kesana sekarang” ucap Jawab Ryo yang sebenarnya menunggu Bams di cafe tersebut. Ryo keluar dengan tergesa, tanpa sandar menabrak nampan seorang pelayan dan mengenai pakaian Aina.


“sorry” ucapnya tanpa merasa berdosa dan melangkah tanpa menghiraukan mereka.


Aina menatap kepergian Ryo dengan tatapan benci sambil mengibaskan tangan membersihkan percikan kopi yang mengenai kemeja putihnya.


“dasar manusia berdarah dingin” gumam Aina


“ssttt.. hati hati terdengar yang lain” bisik pelayan tersebut


“biarin” ucap Aia masih menatap kepergian Ryo penuh dengan kebencian.


“dia sahabat Bams lho!”


“biarin!” ucap Aina beranjak pergi ke dalam kantor dan mencoba membersihkan diri.


*


*


Jantung Ryo masih tak bisa diatur, cinta itu masih ada, tak bisa ia pungkiri dan ia lawan. Tapi kebencian akan kebohongan aira yang berjanji menemuinya membuat semua cinta itu menjadi sebuah dendam yang membuatnya tak melepas wanita itu.


“Tolong loe keluar” ucap Ryo pada Bams


“Aku hanya ingin bicara sebentar Ra” ucapnya pada Aira


“Keluarlah bi!” ucap Aira tanpa mengangkat kepalanya


“Tidak ai!” Bams tak ingin meninggalkan Aira


“Keluarlah.. ada hal yang tidak bisa didengar orang ketiga” Ucap Ryo


“Keluarlah bi.. aku gak akan kenapa napa kok” Aira menegaskan permintaan Ryo


“Kamu gak usah takut, aku tak akan ngapa ngapain kamu” ucap Ryo dingin pada Aira


“Tidak perlu takut, aku tak akan mendekatimu” lanjut RYo


“Tak perlu gemetar seperti itu” ucap Ryo dengan semakin dingin


Ucapan yang begitu dingin dari Ryo yang sekarang bergelar seorang bintang kutub Utara


“Aku hanya ingin menanyakan dimana anak ku?”


Tubuh Aira semakin gemetar mendengar kata anak. Sakit itu kembali terasa tubuhnya seakan mengingat seberapa sakit ia kehilanga putranya.

__ADS_1


Bams kaget setengah mati mendengar kata anak dari Ryo. matanya membulat sempurna seakan tak percaya yang terjadi diantara mereka.


“Keluarlah bi .. aku mohon!” Pinta Aira


“Baiklah..” ucap Bams beranjak keluar


Ryo menoleh ke arah pintu dan memastikan Bams keluar.


“Katakan dimana anakku Ra!” tanya Ryo dengan ketus


Ryo duduk disalah satu ujung sofa. Ia meletakkan kunci mobilnya dengan mata masih menatap Aira. kunci yang selalu ia letakkan di nakas tua itu sejak dulu yang seakan menjadi kebiasaannya


“Katakan dimana dia!” suara itu semakin meninggi


“Dia... dia tidak pernah terlahir” ucap aira semakin gemetar hebat


Ryo menutup mata menerima kenyataan pahit yang baru ia dengar


“kamu tega!” ucap Ryo semakin dingin dan bergetar karena sedih.


Aira memejamkan matanya dan membuka mata masih menatap pada satu titik, tak menoleh pada Ryo dan seakan tak ingin melihatnya. Pandangannya tampak kosong, pandangan yang tak bisa Ryo artikan sebagai apa.


“Aku selalu berpikir, kamu seutuhnya milikku... jiwa, hati dan pikiranmu” ucap Ryo sedih, menelah dengan susah ludahnya karena ia tak mampu menahan diri dari emosinya saat ini.


“Tapi ternyata! hati itu masih milik bams”


“Aku telah salah membaca semuanya” lanjut Ryo


“Ternyata hanya aku yang bermain cinta sendiri”


“Aku selalu tak mampu memasuki hati mu”


Aira tak berani menjawab atau berkata apapun. ia diam seribu bahasa, diam dan menahan nafasnya agar ia terus bisa kuat di dekat Ryo, lelaki yang telah mengisi seluruh hati dan hidupnya.


“Kamu tenang aja .. aku tak akan meminta mu kembali padaku lagi” ucapan Ryo seakan menusuk langsung ke dalam relung hati terdalam Aira.


“Kebohonganmu, kepalsuan, janji manis yang kamu janjikan saat konser terakhir.. telah menghapus semuanya”


“Jadi, kamu bisa tenang sekarang”


“Aku tak akan memaksa lagi.. karena aku sadar, hanya aku yang memiliki cinta itu”


“Kamu tak perlu sembunyi lagi sekarang”


Aira masih terdiam, tapi air matanya kini terus menerus menetes. Ia hanya berani menyeka dengan jarinya. Tak berani meraih tisu yang berada di meja di depannya yang tak akan bisa ia ambil.


Ryo menggelengkan kepala tak percaya dengan sikap Aira yang tak bergeming.


“Tatap aku untuk yang terakhir.. katakan sepatah dua patah kata atas perpisahan kita. Paling tidak aku memiliki memori terakhir yang bisa ku ingat”


Aira yang semakin menunduk membuat Ryo semakin kecewa, sedih dan entahlah, ia tak mampu mengatakan jika ia membenci Aira saat ini.


“Sama seperti dulu... kamu bahkan tak sudi melihat ku” Ryo berdiri untuk pergi


Ucapan itu semakin menyiksa Aira. air matanya bak tumpah tanpa suara. Ryo berjalan menuju pintu keluar.


“selamat tinggal Raraku” ucapnya berhenti sejenak dan kembali melangkah. Suara pintu ditutup menumpahkan tangis Aira yang tak terdengar.

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2