Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Meminta Izin


__ADS_3

“atur keberangkatan bulan maduku minggu depan” perintah Ryo setelah dua hari pesta ulang tahun perusahaan yang berakhir kengerian untuk mereka.


“baik tuan muda” jawah Ken


Ryo masih menatap keluar jendelanya. Sebuah pesan kembali masuk, pesan video atau photo yang masuk setiap jam di ponsel miliknya.


Senyum Ryo mengambang melihat sang istri yang sedang melakukan yoga bersama instruktur pribadi di apartemen mereka.


Ting!


Sebuah pesan masuk. Sebuah pesan dari Haris yang mengatakan..


“komisaris utama Ai & Din ingin bertemu”


Mata Ryo menyipit, deru kecurigaan dan kebencian bersamaan muncul dalam dada dan pikirannya.


“akhirnya mereka akan mengungkapkan kejahatan mereka sendiri” gumam Ryo masih menatap pesan tersebut.


Sudah dua hari Aina bekerja dengan tidak nyaman. Cafe Bams yang selalu ramai kini justru ditambah sesak orang yang mengawalnya.


“kak aku gak perlu pengawalan” untuk kesekian kali rengekan Aina keluar pada Ryo


“tapi ni kamu gak akan tenang di rumah kalau dia tahu kamu tanpa pengawalan” jawab Ryo memaksa


“iiihhh..”


“protes sendiri sama ni kamu” jawab Ryo


Dan kembali ponsel itu dimatikan. Ryo hanya tersenyum. Ia harus menjaga ‘madu’nya tersebut, karena jika tidak, istrinya tak akan tenang dan nyaman berada di rumah.


Ryo kembali menghubungi Haris.


“kapan Tuan Rasoeka ingin bertemu?” tanyanya


“kalau tuan bersedia, dia bisa kapan pun” jawab Haris


“om.. menurut Om, apa yang sebenarnya mereka inginkan?” tanya Ryo masih belum mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi


“saya masih belum mengerti tuan, saya tidak mampu membuka fakta mengapa orang sekelas mereka menginginkan nona” jawab Haris


“buat janji makan malam malam ini! lebih cepat kita tahu, itu lebih baik.. biar kita tahu apa sebenarnya yang terjadi” perintah Ryo.


“baik tuan muda” jawab Haris


Baru saja Ryo meletakkan ponselnya. sebuah panggilan masuk dari sang istri. Ryo mereject panggilan Aira dan mengalihkannya pada panggilan video.


“sayang..” sapa Aira tersenyum


“hemmm” jawab Ryo tak kalah tampan dengan senyuman bahagia.


“gak sibuk?” tanyanya


Ryo tersenyum saja. Tak pernah ada kata sibuk untuk panggilan seorang ibu negara cintanya. Meeting yang sedang berlangsung saja akan ia tahan jika panggilan dari sang istri masuk pada ponselnya.


“aku mau keluar sama syen sebentar” ucapnya


“lho.. bukannya kamu masih ada kelas yoga?”


“ahh.. anak buah kamu pasti ngadu” ucapnya dengan bibir mengerucut tidak senang


Ryo tersenyum melihat ambekan istrinya


“tadi aku mau telpon kamu, tapi takut kamu tidur siang.. jadi aku tanya sama Syen kamu ngapain.. dia kirim video kamu” jelas Ryo yang tak suka istrinya salah paham padanya


“ooo..” jawabnya kembali tersenyum

__ADS_1


“aku boleh ya keluar? Aku bosan di rumah” jawabnya lagi


“hheemm...” Ryo berpikir sambil menatap istrinya yang tersenyum menggoda dan membujuk.


Berkali kali Aira memainkan matanya meminta Ryo menyetujui permintaannya.


“memangnya mau kemana?” tanya Ryo lagi


“ya jalan aja, mungkin mau ke cafe Bams”


Senyum Ryo menghilang seketika, entah mengapa, setiap nama Bams keluar dari mulut Aira seakan membuatnya hatinya nyeri. Ia terlalu cemburu dengan nama itu.


“sepertinya kamu gak suka aku keluar” tunduk Aira sedih melihat perubahan raut wajah sang suami.


“bukan begitu beib.. kamu mau ketemu Bams?” tanya Ryo perlahan


“aku mau liat Aira kerja” jelasnya.


“kenapa gak liat aku aja yang kerja?” pinta Ryo


“gak ah.. nanti kalau aku kesana kamu pasti gak kerja” jawabnya


“kerja kok”


“iya.. ngerjain aku” godanya


Ryo tertawa lepas melihat godaan sang istri.


“ya sudah.. malam ini aku minta maaf gak bisa temenin kamu makan malam.. ada janji makan malam bisnis beib” ucap Ryo


“huh.. libur makan malam pertama kita ini”


“libur makan malam?” Ryo mengerutkan keningnya


“yah.. setiap malam kita makan malam bersama, ini pertama kalinya aku akan makan dengan orang lain dan kamu juga” jawab Aira


Ryo tak pernah mau menerima ajakan makan malam dari rekan bisnis mana pun. Ia selalu ingin berada di rumah bersama Aira jika malam mulai menyelimuti bumi. Jadi ia selalu menolak tawaran seperti apapun tentang acara malam hari.


“hemm.. baiklah” jawab Aira


“jadi aku boleh ya keluar?” tanyanya lagi


“hemm.. tapi nanti hubungi aku saat disana ya?” pinta Ryo lagi


“bukannya anak buah kamu selalu mengirim foto dan video setiap gerakanku?” goda Aira yang mengetahui jika sang suami selalu menerima laporan kegiatannya.


Bukan karena terlalu posesif, tapi karena Ryo tak pernah bisa tenang jika tak ada kabar dari sang istri. Bukan mencurigainya, tapi ia lebih takut jika ia kenapa napa.


“ya udah.. aku mau mandi dulu.. udah gerah” lanjut Aira


“ahhh.. beib.. jangan menggodaku gitu dong.. aku gak bisa fokus nihh..” jawab Ryo manja


“aahh..hahahaha” tawa Aira yang mengerti jika suami sering mandi bersamanya.


“dah sayang.. muaaacchh” Bibir itu tampak satu layar penuh dan membuat Ryo berasa ingin terbang kembali.


Layar ponsel kembali gelap, tapi hatinya penuh bintang bintang dan pikiran mesumnya bersama sang istri.


“aaahh..” keluh Ryo


Kamu selalu bikin konsen ku buyar beib! Keluhnya dalam hati.


*


*

__ADS_1


*


Makan malam dilaksanakan di sebuah resto sebuah hotel internasional. Sebuah hotel dengan pemandangan view malam yang sangat menakjubkan.


“selamat malam” sapa Hendarawan yang menyambut kedatangan Ryo.


“sepertinya saya sedikit terlambat” jawab Ryo


“tidak tuan Ryo, hanya saya yang terlalu dini datangnnya” balas Hendrawan dengan uluran jabatan tangan.


Setelah membalas jabatan tangan Ryo, Hendrawan mempersilakan Ryo untuk duduk bersama. Awalnya Hendrawan menbicarakan tentang bisnis, isu saham dan beberapa isu keuangan nasional.


“Tuan, kita telah menyelesaikan makan malam kita, maafkan saya lancang bertanya.. sebenarnya untuk apa pertemuan kita malam ini?” tanya Ryo yang ingin mengetahui maksud dan keinginan Hendrawan.


“sebenarnya saya ingin meminta pertolongan pada Tuan Ryo.”


“apa tidak terbalik tuan Hendrawan? Seharusnya perusahaan kecil seperti kami yang meminta dukungan dari perusahaan raksasa seperti tuan” jawab Ryo


“tuan Ryo bisa saja, tuan terlalu merendah” jawabnya


“permintaan tolong ini bersifat pribadi, hanya permintaan kecil, sebuah izin pertemuan selanjutnya” jelas Hendrawan


“izin?” tanya Ryo


“iya, saya ingin bertemu kembali dengan tuan, tapi bersama keluarga” jelas Hendrawan


“maksud tuan ingin bertemu saya dan istri saya?” tanya Ryo lagi


“betul sekali”


“istri saya tidak pernah tertarik dengan hubungan bisnis yang saya geluti, dia lebih senang menjadi seorang istri yang menghabiskan waktunya dirumah menunggu suaminya pulang, jadi sepertinya itu akan sulit” jelas Ryo lagi


“Tuan.. sebenarnya pertemuan kita malam ini saya lakukan karena ingin meminta izin untuk bertemu dengan istri tuan” jelas Hendrawan to the point.


“boleh saya tahu apa alasan anda ingin menemui istri saya?” tanya Ryo dingin dan curiga


“ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dan juga ada hal yang ingin saya tanyakan dengan beliau”


“anda tidak mengenal istri saya, dia bukan orang yang bergaul dengan banyak orang, jadi .. jika anda ingin menyampaikan atau pun menanyakan sesuatu, anda bisa menanyakannya pada saya.. saya bisa menyampaikan padanya” jawab Ryo


“tapi hal yang ingin saya sampaikan bukanlah hal biasa yang bisa dititip pesankan pada orang lain”


“saya bukan orang lain, saya suaminya” jawab Ryo kesal


“tapi tuan.. tolong beri saya kesempatan bertemu dengan nona” mohon Hendrawan lagi


“katakan dulu alasannya? Saya tidak membiarkan istri saya bertemu dengan sembarang orang apalagi orang yang baru dia kenal”


“nona mengenal saya jauh anda mengenalnya” jawab Hendrawan


Ryo terdiam. Gerahamnya mengerat kesal. Ia mengira lelaki inilah yang dulu ingin menculik sang istri.


“oya? Berarti anda mengetahui bagaimana kehidupan masa kecil istri saya?” tanya Ryo


“bukan seperti itu, tapi yang pasti saya mengetahui siapa nona, dan kami mencarinya selama ini”


“mencari? Untuk apa? Untuk menyingkirkannya?” tanya Ryo


“apa maksud tuan?” tanya Hendrawan


“saya tidak akan mempertemukan istri saya dengan orang yang dulu ingin menyingkirkannya” jawab Ryo dengan tegas karena ia merasa yakin jika lelaki yang di hadapannyalah yang dulu ingin menyakiti Aira


“tuan! Anda jangan asal bicara!” jawab Hendrawan tak terima dikatakan seperti itu.


“bukannya orang orang kalian yang dulu ingin menculiknya?” tanya Ryo dengan sorot mata kemarahan pada Hendrawan.

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2