
Handoko masih terbaring lemah. Dia mengalami serangan darah tinggi yang ekstrim saat mengetahui jika Damar adalah darah dagingnya.
Nimas selalu setia menemaninya, tak melepas sedikit pun tangan Handoko darinya. Rasa khawatir dan ketakutan kehilangan Handoko kembali seakan membuatnya tak mampu melepas lagi tangan itu.
Meski tidak dibawa ke rumah sakit, tapi Handoko harus mendapat perawatan ekstra di rumah. Mereka disarankan harus tinggal sementara di Rumah Damar karena tidak memungkinkan mereka untuk pulang saat itu.
Kiky duduk terdiam menatap bagaimana khawatirnya Nimas pada Handoko. Ia menatap Damar dan seketika raut sedihnya terlihat jelas.
“ayo!” ajak Damar pada Kiky untuk keluar dari kamar tersebut.
“Damaar...” suara lirih Handoko tanpa membuka mata memanggil sang anak
Damar yang tadinya beranjak ingin meninggalkan kamar berpaling menoleh pada suara samar yang Ayah.
Nimas melambaikan tangannya pelan agar Damar mendekat. Perlahan Damar duduk di tepi ranjang. Sedang Nimas berdiri di sampingnya.
“Damar..” panggil Handoko lagi kini membuka mata.
Setetes air mata mengalir di sudut pipinya. Ia tak mampu menahan emosinya sendiri menatap wajah Damar yang memang mirip dengannya. Perpaduan wajah Nimas dan Handoko yang sempurna.
“om.. jangan banyak bicara dulu.. om harus istirahat” ucap Damar
“papah.. papah!” ucap Handoko pelan menepuk dadanya pelan meminta Damar menyebutnya papah.
Damar menoleh sejenak pada Nimas dan dibalas anggukan pelan dan senyum Nimas.
“papah!” ucap Damar yang kemudian disambut senyum dan rentangan tangan Handoko yang meminta dipeluk.
Damar menyandarkan kepalanya di dada Handoko yang berbaring. Sedang Handoko menangis terharu memeluk tubuh Damar. Ia benar benar bahagia.
Hati Kiky terasa tersayat. Bukan tak menerima kehadiran Damar sebagai saudara yang dari awal ia harapkan menjadi seorang Kakak, tapi karena kini ia kembali kehilangan cinta tulus satu satunya yang ia miliki, cinta seorang ayah akan terbagi, atau mungkin akan direbut oleh Damar.
Kiky menangis bukan karena haru, tapi karena ia meratapi hatinya kembali.
Kini papah pun telah menjadi milik orang lain lagi! Gumam hatinya sedih.
Perlahan Kiky membalikkan badan. Ia tak sanggup melihat pelukan cinta sang ayah pada lelaki baru yang akan menjadi saudaranya. Kakinya melangkah pelan, seakan ingin menghilang dari mereka bertiga.
Kiky berjalan menuruni anak tangga dengan lunglai, menuju sebuah ayunan yang berada disisi kolam renang.
Ia duduk perlahan memegang lutut yang seakan tak mampu lagi menopang tubuh rapuhnya.
Ya Tuhan ... adakah seseorang yang hanya bisa ku miliki seorang diri tanpa berbagi? Ia menatap langit yang dipenuhi bintang.
Bams ... aku ingin bersandar di pelukanmu saat ini! tapi .. apa bisa? Ucap hatinya.
Kiky menatap layar ponselnya. ia mencoba menghubungi Bams.
Tapi untuk ke lima kalinya. Bams tak mengangkat panggilannya. Akhirnya Kiky hanya mematikan ponselnya.
Pandangan Kiky kosong menatap kolam renang yang berwarna biru terang. Tubuhnya memang berada disana saat itu, tapi pikirannya tak ada sama sekali. Ia hanya menatap air dengan tubuh membeku.
Sebuah usapan lembut di bahu Kiky membuyarkan semua pandangan kosongnya.
“gimana papah?” tanyanya mendongakkan kepala menatap Damar yang berdiri.
__ADS_1
“papah sudah stabil, tadi dia mencari kamu” ucap Damar tersenyum
“ooo...” jawab Kiky hanya dengan nada datar dan terkesan sedih.
Damar duduk disamping Kiky, perlahan Ayunan itu bergerak lambat
“kamu marah?” tanya Damar perlahan
Kiky menggeleng pelan, tapi tatapannya tetap bertumpu pada air kolam renang.
“kamu tidak suka aku jadi kakak kamu?” tanya Damar
“suka” jawabnya lagi masih terdengar sedih
“tapi kok sepertinya jawaban kamu bertentangan?” Damar masih menatap wajah Kiky
Kiky menundukkan kepalanya.
“melihat papa jatuh cinta, aku sangat senang! Akhirnya aku mampu melihat cahaya cinta di mata papa yang tak pernah ku lihat selama dia hidup bersama mamah”
“dan aku juga sangat senang karena bunda menerima ku dengan baik” jelas Kiky
mengingatnya dengan tersenyum tipis.
“aku akan memiliki seorang ibu lagi, hanya itu yang ada dalam pikiranku”
“kamu juga sangat perhatian denganku, melindungiku sebagai seorang kakak yang baik.. semua itu aku suka”
“dalam hati aku berkata, aku punya seorang kakak sekarang, aku punya ibu lagi”
“kamu tetap satu satunya putri papah, kamu tetap kesayangan papah Ky, dan sekarang kamu juga kesayangan ku, kakak kamu” Jawab Damar mengusap punggung dan bahu Kiky.
Kiky mengangguk mengiyakan ucapan Damar.
“tapi.. kamu adalah putranya dari wanita yang sangat ia cintai.. tentu dia akan lebih menyayangimu dari ku ..” tatap Kiky menoleh Damar.
Damar menggeleng pelan.
“tidak Ky.. hal itu tidak akan terjadi, karena kamu justru sekarang akan memiliki tiga cinta, cinta papah, cinta bunda dan aku”
“mas... kenapa aku selalu ragu .. aku selalu merasa menjadi yang kedua.. hanya dengan papah aku selalu merasa aku di nomor satukan” ucapnya
“sekarang... sepertinya itu juga ..” Kiky terus menangis.
“aahhh.. adik kecil ku yang manja” peluk damar menenangkan tangis Kiky yang kini seperti anak kecil mengadu pada kakaknya.
“sstttt.. ssstttt.. tidak ada yang akan berani merebut milikmu sayang.. mas mu ini yang akan memastikannya” ucap Damar terus menenangkan Kiky
"papah akan selalu menyayangi kamu, sekarang aku dan bunda juga.. jadi jangan ragu.. jangan sedih lagi.." bujuk Damar
Kiky terus menangis dalam pelukan Damar. Ia memang merasakan kenyamanan bersandar di dada itu. kenyamanan yang ia dapat dari seorang kakak yang sekarang telah menjadi kakak kandungnya.
Damar melepas pelukannya karena nafas Kiky yang mulai tenang dan teratur.
“udah nangisnya?” tanyanya menatap wajah Kiky dan menyeka Air mata di pipi sang adik.
__ADS_1
Wajah Kiky cemberut manja pada Damar
“kalau udahan, ayo temuin papah, dari tadi papah manggil manggil kamu”
“bohong! Papah tadi panggil kamu kok” ucapnya masih cemberut.
“kan papah baru tahu aku anaknya.. kalau manggil kamu kan karena dia ingin princessnya ada di sana” goda Damar berusaha membuat Kiky tersenyum
“gimana princess?” tanyanya lagi
Kiky tersenyum tipis disela cemberutnya mendengar ia dipanggil princess.
“aku ketuaan dipanggil gitu” protesnya
“kan aku baru punya adik kecil, dari dulu selalu ingin punya adik cantik, ternyata Allah mengabulkan doaku”
“iihh...” Kiky risih digoda sang kakak.
“ayo!” Damar berdiri mengulurkan tangannya agar Kiky menyambut dan berdiri.
Kiky tersenyum dipaksa dan menuruti Damar. Lelaki itu memang mempunyai wajah dan sikap wibawa. Ia terlihat santai, namun wajahnya juga mencerminkan ketegasan yang membuat Kiky seakan berani berlindung dan sekaligus segan.
Ceklek!
Sebuah suara sebuah foto diambil dari kejauhan. Pesan itu terbang menuju sebuah apartemen mewah dimana seorang lelaki melihat jelas foto foto kemesraan dan sebuah video dari jarak jauh yang menggambarkan kedekatan dan kesan kemesraan sepasang manusia berbeda gender.
“pah.. ada yang cemburu nih!” ucap Damar yang menggenggam tangan sang adik memasuki kamar Handoko di rawat.
Kiky memukul pelan bahu Damar.
Handoko tersenyum melihat kedua anaknya. Ia begitu bahagia saat ini.
“sini.. papah dari tadi nyari kamu” ucap Nimas
“kok papah dicuekin sih? Mentang udah punya kakak, papah jadi ditinggal” goda Handoko pada anaknya
“papah..!” Kiky menghambur memeluk Handoko yang bersandar pada sandaran tempat tidur.
“papa pikir kamu marah sayang” belai Handoko pada kepala anaknya.
“papah takut kamu benci sama papah” ucapnya lagi
“maafin Kiky pah.. tadi Kiky hanya syok aja” ucapnya melepas pelukannya dan menatap wajah sang ayah.
“terima kasih sayang udah tidak marah.. dan menerima kakak kamu” ucap Handoko
“siapa yang mau nerima!” Kiky cemberut menoleh pada Damar yang berdiri di dekatnya
Seketika wajah tiga orang itu berubah.
“kasih hadiah dulu.. baru aku mau jadi adik kamu” jawab Kiky yang membuat semua orang tertawa.
“Dasar!” ucap Damar menekan pelan hidung Kiky
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1