Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Seberkas Cahaya


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. banyak insan yang tak mampu memejamkan mata karena kejadian malam ini. Seorang lelaki sedang menikmati dinginnya malam di balkon kamarnya. Memandang kepekatan malam yang tak mampu mengajak matanya untuk terpejam.


Lelaki paruh baya yang kini jantungnya terus berdansa, mengingat wajah yang tadi ia temui. Senyum senyum terus terukir karena ia memiliki harapan untuk bersama. Namun karena tak berani bertanya membuatnya semakin tak bisa mengajak malam untuk terlelap.


Sama halnya dengan lelaki itu, wanita itu juga tengah terbaring kaku memegang selimut yang menutup tubuhnya hingga dada. Ia menerawang menatap langit langit. Senyum lelaki itu masih ada di pelupuk matanya. Senyum terus terlukis diwajahnya, tak bisa ia hentikan, tak bisa ia sudahi, tak bisa merayu malam untuk membuatnya terpejam. Ia hanya mampu larut dalam sunyinya malam.


Berbeda dengan pasangan yang baru saja melalui malam pertama mereka, sang perempuan telah terlelap. Tak mampu lagi melayani gairah sang suami yang tak henti memorak porandakan tempat tidur mereka berdua. Ia telah hanyut dalam mimpi saat setelah mengatakan ia tak mampu lagi.


Aira kini tengah menikmati mimpi indahnya. Empat kali percintaan dengan durasi panjang telah menguras habis tenaganya. Tubuhnya telah diremukkan Ryo bak seorang buldozer yang membabat habis hutan belantara.


Ryo masih terjaga, tubuhnya seakan tak pernah lelah, selalu menginginkan, tapi tak tega lagi untuk meminta. Ia merasakan tubuhnya terasa lengket oleh keringat yang beberapa kali membanjirinya. Ia pun beranjak untuk menyegarkan kembali tubuh yang lelah berolahraga nikmat malam itu.


Guyuran air tak terasa dingin. Senyum dan gumaman lagu cinta mengalun dalam kamar mandi mewah yang berdindingkan marmer. Lantunan kebahagiaan seolah mengisi penuh ruang hati dan hidupnya saat ini.


Ryo keluar hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Otot perut dan dada yang mengukir laksana roti sobek itu tak mampu Aira lihat. Ia hanya bercermin. Menatap bekas cakaran sang istri yang tadi mencapai puncak yang menggila.


Ryo mengingat percintaan ia yang terakhir, ia tersenyum. Ia mengingat mata Aira yang terbuka dan seakan menatap kedalam matanya.


Saat itu Aira yang terpejam hanya berani membayangkan wajah Ryo yang dulu penuh gaiirah diatasnya. Saat ia membuka mata, wajah itu terlihat jelas dengan bermandikan keringat dan tatapan kabut keganasan percintaannya. Aira tersenyum, ia melihat jelas wajah itu. Ia cukup bahagia karena bayangan itu tampak nyata. Ia kembali memejamkan mata menikmati serangan demi serangan indah suaminya hingga puncak itu terasa luar biasa, seakan aliran hangat ikut ia rasakan hingga ke dalam kelopak matanya.


Ahhhhh.. kamu luar biasa.. benak Aira diikuti erangan Ryo dan dirinya pertanda pertarungan itu berakhir dengan sebuah tembakan lava hangat pada rahimnya.


Ryo kembali tersenyum mengingatnya. Ia berbaring miring menghadap wajah sang istri yang terlelap dengan mulut setengah membuka. Bibirnya terlihat lebih seksi karena mungkin membengkak akibat sesapan sesapan yang kuat olehnya.


“beib..” bisiknya mengecup bahu Aira yang terekspose.


Matanya kembali berpusat pada bibir itu. tak kuat dengan pesonanya, akhirnya Ryo mengecup kembali bibir itu. tercium aroma khas yang dulu ia sukai setiap pagi ia membangunkan sang istri.


Jari tangan Ryo mulai mengikuti aluran bentuk wajah Aira. Ia terus menatap wajah itu. Seolah menikmatinya, mengukir kembali dalam ingatan agar tetap terpatri.


“aku seakan bermimpi malam ini” ucapnya terus menatap wajah yang kini terlelap dalam damai.


"Aku tak percaya kamu disini sekarang"


Ryo memainkan ujung jarinya pada hidung mancung Aira. terus berusaha mengganggu tidur sang istri. Tapi tubuh itu terlalu lelah hingga permainan jari jari Ryo tak mendapat respon sama sekali. Ryo tersenyum saat Aira menggeliat ketika ia terus saja menggangu, namun Aira justru mengeluarkan suara dengkuran tipis pertanda tidur itu begitu nyaman.


Ryo tertawa mendengar suara sang istri yang sangat imut baginya. Ia terus menatap wajah itu. kini tangannya memegang pipi indah Aira.


“aku sangat mencintai kamu Rara Istriku” ucapnya tersenyum


Denyutan cinta menari dalam tubuhnya, irama cinta terus berkumandang mendendangkan lantunan kemesraan yang hanya mampu diceritakan dengan goresan tinta emas sang pujangga. Menggambarkan goresan goresan kuas dari pelukis nirwana. Ia hanya larut dalam rasanya, terhanyut karena cinta yang terus menggelora.


Ryo mencoba lagi mengganggu istrinya. Ryo tertawa sendiri melihat geliat geliat tubuh Aira yang sangat lucu baginya. Ia menarik tubuh itu kedalam pelukan dan Aira pun merespon dengan menggelungkan tubuh di dada dan lengan Ryo yang kekar.


Ryo memejamkan mata, merasakan kedamaian dan keindahan hidup. ia terlelap dalam larutnya malam yang melukis cerita bahagia malam ini.


Malam pun akhirnya mampu berlalu tanpa kata, ke empat manusia yang diliputi cinta dua generasi itu pun akhirnya mampu memejamkan mata. Mereka pun larut dalam indahnya mimpi mimpi yang mereka lakoni sendiri.

__ADS_1








“pagi bun!” kecup Damar di pipi sang ibu


“pagi sayang!” balasnya


“wahhh... sarapannya terlihat beda nih?” Damar memperhatikan sajian di atas meja


“iya, bunda kesiangan, jadi tadi minta bibi yang bikin, gak tahunya dibikinin sebanyak ini” jelas ibunya


Damar mulai mengisi piringnya dengan sayuran dan lauk. Ia melirik sejenak pada ibunya yang terlihat bewajah masih mengantuk.


“bunda gak bisa tidur ya tadi malam?” tanya Damar


“iya, paling darah bunda naik lagi” jawabnya mulai menikmati sarapan


Nimas merasa malu, ia seperti anak muda yang tertangkap tangan karena jatuh cinta.


“kamu apaan sih” jawabnya menghindar dan berpura pura memilih kembali lauk untuk ia tambahkan di piring


“bun! Sebenarnya Om Handoko siapa?” tanya Damar serius


“lho.. bukannya kamu sudah kenal?” jawab Nimas


“bukan gitu bun, maksud Damar teman bunda yang gimana?”


“ya temanlah” ucap Nimas kembali menyuap makanannya


“teman spesial ya bun?” Damar terus memberondong Nimas dengan pertanyaan


Nimas menatap Damar sambil mengunyah makanannya. Ia tersenyum melihat sorot mata anaknya yang sangat penasaran pada hubungan yang ia miliki dengan Handoko


“apa dia lelaki yang ayah ceritakan?” tanya Damar lagi


Nimas berhenti mengunyah. Ia mematung tak bisa menjawab pertanyaan Damar karena ia tak tahu apa yang diceritakan oleh sang suami pada putra semata wayang mereka.


“apa dia lelaki yang bunda cintai selama ini?” Pertanyaan Damar semakin tajam.

__ADS_1


Ternyata! Kamu cerita ke Damar mas! Benak Nimas


“iya kan bun? Damar bisa lihat sorot mata bunda dan Om Handoko sangat berbeda” jelasnya


Nimas meletakkan sendoknya. Ia menyudahi sarapan yang hanya berisi pertanyaan dari Damar


“bunda diam berarti iya!” ucapnya menatap dengan sedih.


“apa kamu menyukai Kiky? Apa dia spesial buat kamu?” tanya Nimas balik


Damar menggeleng.


“Kiky milik orang lain dan dia juga mencintai lelaki itu dengan segenap hatinya” ucap Damar


Nimas menghembuskan nafas lega.


“bunda belum menjawab pertanyaan Damar!” tatap Damar pada Nimas dengan sejuta penasaran.


“habiskan sarapan kamu! nanti kamu telat ke kantor” ucap Ibunya berdiri mengambil gelasnya yang kosong untuk ia isi.


Syukurlah kamu tidak menyukai Kiky! Benak Nimas


Pernyataan Damar seperti cahaya bagi Nimas karena tak ia pungkiri, ia berharap hubungannya dan Handoko bisa terjalin kembali, meski hanya sebuah pertemanan.


Berbeda dengan Damar dan ibunya yang sudah menikmati sarapan, pasangan yang masih berpelukan dalam hangatnya pagi masih enggan beranjak.


Tubuh Ryo kini merasakan efek dari aktifitas malamnya. Lelah itu mulai terasa, rasa pegal pun jelas melilit lengannya yang dijadikan bantal oleh Aira sepanjang malam.


Perlahan Ryo mengangkat kepala Aira untuk mencoba merenggangkan otot lengannya yang


kaku, Namun Aira terbangun oleh sentuhan lembut itu.


Perlahan mata Aira membuka, matanya menyipit seperti seseorang yang merasakan silau teramat sangat. Wajahnya masih membantal. Khas dengan wajah lelah dan sayu. Seberkas cahaya yang masuk di sela gorden kamar membuatnya melindungi diri di balik bayangan Ryo.


Ia menatap wajah Ryo yang sudah tersenyum menatapnya.


“pagi sayang!” ucap Aira


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Nah... Moga jangan penasaran ya sama reaksi Ryo yang mendengar sapaan sang istri yang menyebut pagi.


Untuk teman teman yang senang Baca, ingin Novel ini cepat selesai dengan cepat atau perlu saya ceritakan secara detail bagaimana terungkapnya siapa Aira?


Atau perlukah kita mengungkap bagaimana perasaan seorang Bams selama ini? apakah ia masih mencintai Aira? ataukah ia memang mencintai Kiky?


Kasih masukan ya.. karena pembaca novel ini kayanya semakin menurun, saya tak ingin menyiksa orang lain yang tak suka membacanya namun masih penasaran dengan Akhirnya..

__ADS_1


terima kasih buat reader semua, semoga kalian selalu diberi waktu luang dan tempat yang nyaman, biar bisa baca novel ini.. hehehehe 


__ADS_2