
Bams merasa bersalah saat berjalan menuju ruang meeting
Kiky pasti mikir gue bohong nih! Benaknya bicara
Arya terus mengawasi gerak gerik Bams saat meeting di mulai. Bams seperti orang tak tenang, ia seperti terus menatap ponselnya. Sesaat Ryo melirik pada Bams.
Drttt.. drrrttt,.
Ponsel Ryo bergetar menerima pesan.
📲‘pulang jam berapa?’ tulis Aira
📲‘masih meeting’ jawab Ryo
📲‘meeting apa?’ tanya Aira lagi
📲‘tur konser’ belas Ryo
📲‘yakin cuma masalah tur? Gak bahas yang lain?’
Ryo mengerutkan kedua alisnya. Ryo berpikir sejenak, tulisan Aira seakan menggambarkan kecurigaan padanya.
📲‘kamu kangen banget ya? sabar ya.. nanti ku kasih jatah kok’ balas Ryo
📲‘aku serius!’ balas Aira
Ryo menyentuh hidung dengan ujung jarinya, ia berpikir keras maksud dari pesan Aira
📲‘kok gak balas?’ tulisnya lagi
📲 ‘beib aku beneran meeting’ Ryo mengirim foto mereka yang sedang meeting
📲 ‘aku tau kamu meeting yang ku tanya meeting tentang apa!’ balasnya lagi
📲‘tur konser beib.. nanti aku rekam deh kalo kamu gak percaya’
Pesan itu hanya dibaca, tak dibalas lagi oleh Aira. Hal itu justru membuat Ryo semakin khawatir.
📲‘sabar ya beib, bentar lagi pulang kok!’ tulis Ryo lagi
📲‘Ya sayang? Jangan marah ya?’ lanjut Ryo
Tapi tak dibaca lagi oleh Aira.
Seperti halnya Ryo yang terus mengirim pesan. Bams terus mencoba menghubungi Kiky, tapi nomor Kiky sudah tak aktif lagi.
‘kamu udah pulang apa masih di kantor?’
‘ke tempat ku apa ke apartemen kamu?’
‘aku beneran meeting’ ia pun mengirim foto meeting disana, bahkan merekam kembali beberapa detik Video disana.
Tapi tetap aja pesan itu tak diterima Kiky. Pikiran Bams mulai berbeda. Ia tak lagi fokus pada meeting disana.
Jordi dan Arya saling menatap sejenak melihat kedua sahabat itu seperti cacing kepanasan, masing masing dari mereka menunjukkan raut wajah cemas dan tak nyaman berada disana. Mereka seperti sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Bo!” tahan Arya saat meeting masih berlanjut
“loe bisa tunda ni meeting ke besok gak, gue gak bisa fokus nih” singgungnya
“gue juga” ucap Jordi menatap Ryo
Ryo masih tak menyadari interupsi yang dilakukan Arya karena masih berkirim pesan pada istrinya, begitu pula dengan Bams.
Boman menoleh pada kedua orang itu.
“kayanya bukan loe bedua deh yang gak fokus!” ucap Boman melirik Ryo dan Bams
Semua mata menatap Ryo dan Bams secara bergantian. Bams terlebih dahulu menyadari keadaan menurunkan ponselnya kebawah dan melihat satu persatu pada peserta meeting.
Sedangkan Ryo masih tak peduli. Ia belum menyadari ia menjadi pusat perhatian semua orang saat itu.
Ryo menyadari keheningan yang terjadi. Ia pun melihat ke arah Boman yang menatapnya.
__ADS_1
“kok berenti?” tanyanya tanpa dosa
“kita lanjut besok aja!” ucap Boman
“ok!” jawab Ryo langsung berdiri tanpa mengetahui sebelumnya. Ia langsung keluar tanpa peduli pada semua orang yang menatap.
Boman menghela nafas lelah. Ia kesal dengan sikap Ryo yang seakan tak lagi peduli pada ME saat ini.
“Kalau gitu gue pulang juga” ucap Bams berdiri dan melangkah pergi diiringi semua orang.
Bams melajukan mobilnya menuju apartemen Kiky. Ia ingin menemuinya malam ini. Bams berhenti pada sebuah toko bunga dan membeli bunga mawar. Entah karena apa, ada perasaan takut Kiky marah padanya malam ini.
Bams tersenyum sendiri menyadari dirinya saat menerima buket bunga.
“kamu pasti suka” ucapnya meletakkan bunga dikursi samping dan kembali meluncur. Saat Bams ingin memasuki halaman gedung apartemen Kiky. Sebuah mobil mewah berhenti menurunkan seseorang dan membuatnya menunggu.
Tanpa ia duga, seseorang yang turun dari mobil adalah Kiky, sang kekasih. Lelaki itu tampak memperhatikan langkah Kiky. Interaksi mereka berdua, senyuman Kiky dan perilaku lelaki itu membuat dada Bams terasa pedih. Matanya menajam dan otaknya memanas, dadanya juga bergemuruh terus mengikuti gerak gerik pemandangan di
depannya.
Bahkan ketika lelaki itu pergi, senyum Kiky seperti tetap tersungging meski ia melangkah pelan. Bams mematung kecewa, tangannya mencengkram kuat setir yang ia pegang hingga buku buku tangannya tampak memutih.
Jadi kamu gak aktif karena sedang bersama lelaki lain?
Hah! Ternyata .. Kamu juga seperti ini?
Kamu bilang hanya mencintaiku dan setia padaku?
Bermacam pikiran Bams terus bicara. Seperti pikiran seseorang yang kini berada di apartemen lain.
Aira duduk sendiri menatap cake yang gagal ia buat karena pikirannya yang terus bicara setelah Bams menghubunginya. Ia kecewa dengan Ryo yang kembali tak menganggapnya.
Kita sekarang suami istri, bukan lagi pacar, tapi kamu mengambil keputusan sebesar itu tanpa melibatkan ku?
Apa karena aku hanya orang biasa, jadi keputusan sebesar itu tak perlu kau bicarakan dengan ku?
Karena aku bukan apa apa, jadi kau tak perlu memberitahuku
Ya benar! Kau hanya mencintaiku, aku lupa, aku lupa diriku hanya gadis miskin yang tak seharusnya menuntut lebih!
Aira semakin merendahkan dirinya karena hal itu. Ia semakin menganggap dirinya bukan siapa siapa dan bukan apa apa, sehingga Ryo tak perlu melibatkan dirinya dalam keputusan hidupnya.
Aku hanya teman ranjangmu, aku hanya pemuas bagi kamu, aku ..
Air matanya kini menetes, entah kenapa ia sekarang begitu sensitif. Aira berjalan menuju kamar mandi mencuci mukanya, menatap sejenak dirinya di cermin.
“bersyukurlah Aira, kau sudah mendapat kebahagiaan sekarang, mendapat kenyamanan, jangan menuntut lebih!” ucapnya
“kau hanya gadis miskin yang dipungut dan diletakkan di sebuah kamar mewah sebuah istana” lanjutnya meratapi dirinya.
“jangan berpikir kamu memiliki posisi dimana mereka akan menganggap kamu sebagai bagian dari sesuatu yang penting dalam hidup mereka”
“derajat mu telah dia angkat, itu sudah cukup baginya untukmu, kenapa kau menuntut lebih, memangnya kau siapa? Kamu memang bergelar istri, tapi haknya tak lebih dan tak kurang hanya menerima nafkah darinya dan kewajibanmu melayaninya. Hanya itu.. ingat itu.. hanya itu... ”
Aira kembali membasuh wajahnya seakan ingin membasuh semua kesedihannya, kekhilafannya.
Nit nit nit nit nit ceklek
Suara pintu terbuka.
“sayang! Aku pulang!” teriak Ryo yang membawa buket bunga untuk Aira
“sayang!” panggilnya lagi karena tak menemukan Aira.
Ryo berjalan menuju kamarnya dan mencari sang istri. Terdengar gemercik air dari dalam.
“kamu baru mandi?” gumam Ryo yang melihat angka jam sudah jam delapan malam.
Ryo tersenyum nakal menuju kamar mandi. Ia berencana menemani Aira mandi, tapi saat ia mencoba membuka pintu, pintu itu terkunci.
“sayang! Kamu masih lama?” tanya Ryo kecewa
“bentar!” jawab Aira
__ADS_1
Aira keluar sambil mengelap wajahnya.
“baru mandi?” tanya Ryo
“Cuma cuci muka, tadi aku ketiduran” ucapnya dingin.
Wajahnya terlihat sembab dan Ryo melihat itu.
“sayang, ada apa?” Ryo mendekat mengecup kening istrinya, ia merasa tak ada kesalahan yang telah ia perbuat.
“kamu dah makan?” tanya Aira menghindari pelukan Ryo.
Ryo bergegas menarik Aira dalam pelukannya, dia mengerti ada sesuatu dengan istrinya.
“apa aku berbuat salah?” tanya Ryo mengangkat wajah istrinya dan memberikan bunga padanya
“makasih bunganya, cantik! aku siapin makan malam ya?” senyumnya seakan terpaksa dan mencoba melerai dirinya dari pelukan Ryo.
“beib?” Ryo menahannya
“kamu udah makan malam?” tanyanya lagi
“sayang, aku tau kamu marah, aku tau ada kekecewaan di mata kamu sekarang?” jelas Ryo menatap mata istrinya
“tenang saja, aku akan melayani kamu dengan baik!” jawab Aira dengan senyum dingin
Ryo mengerutkan keningnya mencoba memahami. Ryo membawa aira duduk di tepi ranjang dan memangku istrinya
“aku belum makan, dan gak ingin makan jika wajah istriku dingin gini” ucapnya
Wajah Aira masih datar. Ia masih diam
“katakan! Ada apa?” tanya Ryo
“gak da papa” jawabnya
“beib, kamu gak bisa bohongin aku, kamu pasti habis nangis” jelas Ryo mengeratkan tangannya di pinggang Aira
“aku gak papa” senyum Aira palsu ingin turun dari pangkuan Ryo.
“beib ... aku gak suka kamu nyembunyiin sesuatu dari aku” kini ucapan Ryo tegas dengan nada kecurigaan.
Ya, kamu tuan ku, jelas kamu tidak menyukai jika aku menyembunyikan apapun dari kamu! benak Aira perih
“tenang saja, aku gak akan pernah berani menyembunyikan apa pun dari kamu” ucapnya dengan mata berkaca kaca dan kembali mencoba turun.
“aku gak ngelepasin kamu sampai kamu bilang kamu kenapa seperti ini” ucap Ryo
“aku hanya sedang sensitif, mungkin efek tadi aku nonton drakor” ucap Aira benar benar turun dari pangkuan Ryo.
Ia berjalan menuju meja rias untuk mengambil ikat rambut. Ryo mendekat dan mengambil ponsel Aira. Ia mulai curiga.
“ngapain kamu?” ucap Aira melihat Ryo mengambil ponselnya
Aira ingin mengambil ponselnya tapi Ryo mengalihkan dan menahan tangan Aira
Ryo membuka ponsel Aira dan melihat chat Aira dengan Aina. Aira mengatakan jika sekarang bekerja pada satu majikan dan majikannya sedang keluar.
Ryo membuka daftar panggilan, tertulis Bams melakukan panggilan siang itu.
“Bams! apa karena dia kamu gini?” tanya Ryo curiga dan melirik marah.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Bayang bayang masa lalu Aira yang memiliki sedikit rasa membuat Ryo terus curiga padanya.
Namun dengan sedikit rasa itu, mungkinkah akan menjadi besar? ataukah rasa itu justru akan menjadi bumerang sendiri buat Aira?
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Buat Yang baca tolong tinggalin jejaknya ya..
biar Author bisa semangat lagi nulisnya..
__ADS_1
terima kasih🙏🏻