
Ryo menarik laci nakas samping tempat tidurnya untuk menyimpan kalung. Dan netranya berhenti ketika melihat sebuah kotak kecil bertuliskan sebuah pesan.
Sebuah hadiah yang dulu ingin aira persembahkan untuknya.
Ryo membuka kado kecil berisi gambar yang terbingkai indah. Air matanya tumpah saat itu juga. Teriakannya membahana, ia kesal dengan dirinya sendiri, ternyata Aira tengah mengandung saat pergi darinya.
Ryo menangis dan menangis menyesali diri. Ditengah malam buta. Ia menghubungi Haris.
“om... cari Aira sekarang juga, dia.. dia.. dia ternyata membawa anak ku” ucapnya tercekat.
Haris yang mendengar di ujung telinganya merasa syok.
“maksud tuan muda?” tanyanya merasa kurang yakin dengan apa yang ia dengar.
“om.. aku baru menemukan buktinya om.. ternyata Aira pergi dalam kondisi hamil” ucap Ryo lirih. Tubuhnya terasa tak bertulang menyadari kesalahannya, perlahan ingatan malam itu saat Aira memintanya perlahan ternyata bukanlah mimpinya.
Ryo sedih, ia membayangkan seorang anak yang mungkin sekarang sudah berumur kurang lebih tiga tahun.
“cari dia om .. cari dia!!” ucap Ryo lagi
“pasti tuan muda.. saya pasti akan mencari nona sampai ketemu” ucapnya penuh keyakinan.
Ryo menangis sendiri melihat foto berbingkai kecil dan pesan bertulis oleh tangan Aira sendiri.
Perlahan ia mengingat kembali, mengapa Aira tak mengatakan padanya tentang kehamilan itu. kembali mengingat serpihan kenangan kenangan ia dan Aira,
“kamu akan mendapat hadiah terindah dalam hidupmu”
Ryo teringat kembali kata kata Aira. Kini ia mengerti hadiah itu. memang hadiah yang terindah.
“aaaaagghhhhhh!!!!!” teriaknya
Camila yang baru datang pun mendengar teriakan sang anak. Ia memasuki kamar Ryo dengan berlari.
“Ryo!” ucapnya lirih melihat Ryo duduk di lantai dengan memegang sebuah bungkusan yang baru terbuka.
“Ryo?” Camila mendekat
“mahh.. mahhh.. Ryo telah menjadi ayah, tapi Ryo baru mengetahuinya” ucapnya sedih dalam tangis
Ia memukul mukul dadanya sendiri karena rasa sakit itu terus menindih dadanya.
“ssttttt... ssssttttt...” camila meraih Ryo dalam pelukannya seperti anak kecil ia menangis terus menerus. Tak peduli lagi pada apapun, ia hanya meresapi kekesalan, kesedihan, syok, kaget, entahlah! Tak ada kata yang bisa menggambarkan semua yang ia rasakan saat ini. ia hanya mampu mengeluarkan semuanya dalam teriakan dan air mata.
__ADS_1
Camila tak tega melihat kehancuran putranya. Ia berharap Aira mampu memaafkan mereka dan kembali pada Ryo, tapi sepertinya penderitaan Ryo seakan menjadi karma atas apa yang dilakukan oleh Rumah Sakit yang ia miliki. Camila hanya mampu menutup mata dan menenggelamkan kepala Ryo di dadanya agar sang anak bisa tenang.
“mahh.. kenapa dosa kalian harus aku yang tanggung” ucapnya lirih
“maafin mamah.. maafin mamah” jawab Camila
Hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan.
Malam itu juga, semua anak buah Haris mendapat perintah pencarian seorang wanita bernama Aira Amira dengan anak yang berumur tiga tahun.
Pelacakan dimulai dari pencarian data Aira, namun sayang data itu terakhir terlacak pada sebuah penerbangan kembali dari kota B menuju kota asal. Dengan gerak cepat Haris memerintahkan anak buahnya berangkat pagi itu meuju kota yang dimaksud. Namun sayang, tak ada informasi lain tentang Aira disana. Mereka mulai menyaring nama dengan Aira, satu persatu nama itu diselidiki, namun belum menemukan hasil dan foto yang sesuai.
Aina merima tawatan tempat kerja yang baru.
“maaf nona, apa nona memiliki rekening bank XXX?” sebuah bank swasta disebut
“tidak bu”
“tolong buka rekening di bank tersebut, karena sistem penggajian wajib menggunakan rekening dari bank tersebut” jelasnnya
“baiklah, saya akan membuat rekening baru” ucap Aina
Siang itu Aina menuju bank yang dimaksud, langkahnya semangat, gegap langkahnya semangat, bayangan karir menjanjikan di perusahaan ternama yang terkenal dengan jenjang karir berdasarkan efford kerja membuatnya semangatnya naik beribu ribu persen. Jika dulu yang ingin ia capai hanya kenyamanan untuk ia dan sang kakak,
kini ia seakan menghadapi semangat baru dimana ia bercita cita menjadi wanita yang lebih dibanggakan oleh sang kakak.
“nona gak salah?” tanya Aina lagi
“tidak, sesuai data nona, rekening atas nama anda sudah terdaftar”
“dulu memang pernah saya punya rekening di bank ini, tapi sudah lama tidak kami gunakan lagi” jelas Aina.
“tapi transaksi masih aktif nona, dan ada saldo hampir empat ratus juta” ucap sang CS
“apa?!!!” Aina bahkan langsung berdiri dari duduknya karena rasa kaget mendengar semua penjelasan CS
“maaf nona! Tenang!” ucap CS yang kemudian menyadarkan Aira karena semua mata yang mengantri disana menatapnya.
Uang dari mana? Benak Aina lagi
“anda yakin?” tanya Aina lagi
“sangat nona, tiap bulan rekening ini mendatat transaksi mutasi” jelasnya
__ADS_1
“tiap bulan?” tanya Aira yang sudah kembali duduk
“sepertinya tiap bulan ada mutasi sebesar sepuluh juta dari rekening atas nama Bambang Sutya” jelas CS lagi
“ternyata dari Bambang Sutya” gumamnya
Ni.... apa lelaki ini yang kamu sebut mas Riry? Benak itu kembali bertanya
“bagaimana nona?”
Aina pun menyelesaikan masalah nomor rekening yang tersebut. Ia kembali ke apartemen mereka dengan berjuta pertanyaan. Bisakah ia menanyakan pada Aira tanpa memicu emosinya.
“apa dia ayah dari anakmu ni?” gumam Aina saat berada di dalam angkutan menuju tempat mereka.
Pikiran Aina terus mencoba membaca, siapa sebenarnya Bambang Sutya? Lelaki yang dulu mengirim uang untuknya, lelaki ini kembali mengirim uang setiap bulan? Hal itu pasti untuk mereka berdua.
Mungkinkah lelaki itu suami mu ni? Benak itu terus bicara
Jika dia meninggalkanmu, dia tidak mungkin mengirim uang setiap bulan selama ini!
Apa mungkin kamu memilih meninggalkannya ni?
Ribuan pertanyaan seolah muncul dalam kepala Aina, oh tuhan...
Aina memilih turun di taman dekat apartemen mereka. Ia berjalan diatas hamparan rumput hijau ditengah terik matahari siang itu. Aina melepas sepatunya dan berjalan bertelanjang kaki, merasakan gelitik rumput rumput dibawah kakinya.
Berusaha menghilangkan pikiran pikiran yang terus menari dalam kepala, mengusik ketenangannya untuk fokus bekerja ditempat baru. Empat ratus juta? Bukanlah angka yang kecil. Dikirim setiap bulan sepuluh juta, itu berarti kemungkinan sejak Aira pergi uang itu mulai masuk ke rekeningnya, Aina mengingat kembali ketika Aira kembali rekening itu sudah tak mereka gunakan lagi. Jumlah itu mungkin beserta bunganya.
Pikiran Aina terus bicara membayangkan pertanyaan apa yang akan ia tanyakan pada sang kakak. Sedang ia tahu kondisi Aira yang tak bisa syok.
“aku harus gimana?” gumamnya menunduk duduk berlutut lelah dengan pikirannya sendiri.
“cobalah berteduh dulu nona!” ucap seseorang berdiri mendekat dan menaungi Aina dengan bayangan tubuhnya dari miringnya panas matahari siang itu.
“ahh.. maaf..!” ucap Aina merasa gagu dan mengangkat wajah menatap lelaki yang berdiri di sampingnya.
Tampak wajah tersenyum menantapnya mata itu seakan tidak asing. Lelaki itu memberikan tangan untuk membantu Aina berdiri.
“terima kasih!” ucap Aina menyambut uluran tangan dan berdiri.
Lelaki itu menatap Aira lekat, senyum tersungging di bibirnya. Tatapan seperti seorang yang menemukan seseorang yang ia rindukan.
“akhirnya!” gumamnya pelan
__ADS_1
“ah? ya?” tanya Aira sambil membersihkan lututnya
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~