
Ryo masih menatap ponsel. Tidak ada pesan pemberitahuan transaksi dari kartu kredit milik Aira yang ia berikan. Ryo mencoba menghubungi Aira, tapi masih belum aktif.
Saat kembali ke tempatnya. Aira melihat banyak pesan yang dikirim Ryo. Setelah sekian lama tidak bersepeda, hari ini tubuh Aira rasanya seperti habis di tabrak truk, berasa remuk semua. Mungkin ini capek akumulasi selama tiga hari ini ia naik sepeda lagi.
Ia menghubungi Ryo via video call. Senyum dan canda Ryo paling tidak, bisa membuat mengurangi lelah Aira. mereka melakukan panggilan hingga Aira terlelap. Ryo mengakhiri panggilannya setelah melihat Aira yang yang tertidur dan terdengar dengkurannya. Ia tertawa sendiri melihat kelakuan cintanya, dari sekian wanita yang ia temui, baru sekarang ia mendengar dengkuran wanita.
Pagi itu Aira memilih berangkat kerja dengan menumpang bis. Ia takut rasa lelah akan mempengaruhi kesehatannya. Saat di perjalanan, ada Ryo yang menghubunginya. Dia mengatakan kalau hari ini dia akan sulit menghubungi Aira, karena jadwal syuting yang padat.
Hari ke enam. Ryo masih belum menerima pesan penggunaan kartu kredit milik Aira, sepertinya Aira tidak menggunakannya sama sekali. Syuting pun rampung dilakukan. Ryo memilih langsung kembali ke ibukota. Ia tidak ingin bersantai di tempat itu. meski semua orang memilih untuk relaks sejenak dalam beberapa hari disana. Bahkan, Bams pun memilih tinggal. Ia meminta Kiky untuk menghabiskan akhir pekan mereka disana.
“kamu dimana?” tanya Ryo saat di bandara
“aku masih di ME” jawab Aira
“jangan pulang malam malam lho!” pinta Ryo
“paling jam sembilanan” jawab Aira lagi
“oo. Ya udah, love you” tutupnya
“hmm.. “ jawab Aira
Saat kembali, Ryo tidak langsung menemui Aira, ia ingin memberi kejutan. Ryo memilih kembali ke apartemen dan membuat penampilan sempurna untuk malam ini. Saat ia mencari jam tangan yang ingin ia kenakan, ia menemukan kunci apartemen Bams yang dulu ia gunakan.
“aaa.. ternyata disini” ucapnya memukan kunci itu.
Ryo memarkir mobil di samping gedung. Ia tidak ingin Aira tahu dia disana. Ada bucket bunga mawar yang ia beli saat perjalanan. Ryo membeli sebuah suvenir dari tempat show kemarin. Ada gelang etnik cantik yang pasti sangat cocok untuk Aira. Ia terus memandangi gelang itu dan mencium bunga mawar seraya tersenyum sendiri membayangkan Aira yang mungkin akan berlari ketika melihatnya.
Sebenarnya Aira ingin latihan balet hari ini. Tapi beberapa malam ini dia seperti sedang diikuti seseorang. Jadi ia tidak berani untuk pulang lebih malam. Terlebih dari itu, malam ini ia akan sendiri di gedung itu, karena bapak pensiunan TNI tetangga dekatnya sedang pulang kampung. Hanya ada keluarga yang berada dilantai itu.
Saat Aira pulang. Ada beberapa orang yang mengikuti. Aira mempercepat langkah kakinya. Tapi dua orang itu terus mengikuti. Aira berlari dan sampai di halaman gedung. Ketika ia akan menaiki tangga, dua orang itu menyergapnya dan ia pun teriak
“aaa...!!!!” Aira terus teriak
“Toolloo!” mulut Aira dibungkam
Ryo yang mendengar teriakan Aira berlari menuju kesana. Ia melihat Aira yang yang di sergap dua orang. Sontak kemarahan memuncak pada diri Ryo. ia menendang lelaki pertama hingga tersungkur. Aira terlepas dan terlempar.
Ryo memukul habis-habisan laki laki yang satunya. Ia terus memukul hingga lelaki itu berkali kali meminta ampun. Aira memukul lelaki yang tersungkur dengan potongan kayu yang tergeletak disana.
“ampun.. ampun.. kami cuma suruhan” ucap lelaki yang Ryo pukul
__ADS_1
Ryo menghentikan ayunan pukulannya ketika mendengar itu. ia menarik lelaki itu dan menarik kerah baju lelaki itu.
“ka kami cuma i ingin menakutinya sa saja” lelaki itu hampir tidak bisa bicara lagi
“siapa? Siapa yang menyuruh kalian” Ryo semakin marah, ia menarik lelaki itu membanting hingga tersandar ke dinding tembok.
“No Nona Kiky” ucap lelaki itu gemetar karena ia sudah babak belur di hajar Ryo
“Kiky?” ucap Ryo seakan tidak percaya apa yang ia dengar.
Ia merenggangkan pegangannya pada lelaki itu karena terlalu syok mendengar nama Kiky sang temang yang dulu mengisi hatinya. Sontak lelaki itu melapaskan diri dan berlari pergi dari sana.
Ryo melihat ke arah Aira yang berdiri gemetar, ia seperti sulit bernafas karena syok. Ia pun terjatuh duduk lemas disana. Lututnya seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.
Ryo mengejar Aira yang duduk lemas disana. Ia memeluknya. Ryo bisa merasakan tubuh Aira yang gemetar. Aira sangat ketakutan saat itu. Aira tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ryo tidak ada disana. Ia menangis dan memeluk erat Ryo.
"Aku takut.. hiks hiks" ucapnya dipelukan Ryo
"ssstttt.. ssssttt.. ada aku.. ada aku disini!" Ryo terus membelai kepala Aira lembut dan mengusap punggungnya agar Aira tenang.
Ryo menggandeng Aira ke tempat tinggal Aira. Ia membantu Aira duduk di sofa. Seluruh Tubuh Aira masih gemetar. Aira terluka disisi telapak tangan kanan. Luka itu didapat Mungkin saat ia terlempar tadi.
Aira menahan Ryo yang ingin meninggalkannya. Ia memegang erat tangan Ryo. Ryo pun kembali duduk disamping Aira dan menutup mata seakan tidak percaya dengan yang terjadi saat itu. wajahnya pucat, Aira sangat ketakutan.
“Ai..!”Ryo memanggilnya lembut, menyadarkan Aira yang seperti berada di alam lain.
“dimana kotak P3K?” tanyanya lagi
Aira menggeleng, tangannya masih gemetar. Ryo memeluk agar Aira tenang. Ia membelai rambut Aira dan menghela nafas.
“tarik nafas kamu... hembuskan pelan” ucapnya pada Aira dalam pelukannya
Aira melakukan apa yang Ryo minta.
“terus...” pinta Ryo hingga Aira sedikit tenang
Lama Aira bersandar pada Ryo. Kini ia mulai tenang, tubuhnya tak lagi gemetar, ia memejamkan mata seakan ingin melupakan apa yang terjadi. Ryo masih melihat luka di tangan Aira. Ia tidak menyadari tangan kanannya yang mulai terasa nyeri karena memukul prema-preman itu dengan beringas.
Ryo membiarkan Aira yang tenang bersandar. Ia ingin membuat Aira nyaman malam itu. tapi yang ia tidak habis pikir, kenapa Kiky? Ryo terus teringat ucapa lelaki itu.
“kamu pulang lah!” pinta Aira duduk menatap Ryo saat melepas sandarannya pada dada Ryo. Ia menyadari ketika malam sudah terlalu pekat.
__ADS_1
Ryo hanya menatap Aira tanpa menjawab. Ia terus menatap Aira.
“sana mandi, biar seger!” pinta Ryo
“kamu pulang dulu... hm?” pinta Aira lagi
“aku gak akan pulang!” jawab dengan senyuman menenangkan
Raut wajah Aira sontak berubah
“aku gak mungkin pulang dan biarin kamu sendirian disini” jelas Ryo lagi
“gak.. aku udah gak papa” jawab Aira menghela nafas. Ia sudah bisa tenang sekarang.
“hmm..” Ryo menggeleng
“udah.. sana mandi.. terus kita keluar beli obat!” lanjutnya
“aku beneran udah gak papa” jelas Aira
“kamu pulang aja” Aira terus meminta
“aku gak mau berdebat!.. gih sana” Ryo memintanya membersihkan diri
“tapi” Aira masih menolak Ryo disana
“udah.. sana!” Ryo bersikeras
Aira selesai membersihkan diri. Ryo masih berada disana dengan menunggu. Ryo sedang membuat teh untuk mereka berdua. Sesekali ia meregangkan jari jarinya, melihat tangannya yang memar karena terlalu keras memukul preman preman tadi.
Ia memberikan teh untuk Aira dan duduk bersama. Aira menyeruput teh hangat bikinan Ryo. sangat nyaman rasanya saat ini, saat ia ketakutan ada seseorang bersamanya. Aira menoleh pada Ryo. Ia melihat baju Ryo yang kotor karena bergumul dengan preman tadi. Ia pun memindai tubuh Ryo dengan teliti.
“aku kangen banget ma kamu!” Ryo mengambil tangan Aira
Aira hanya tersenyum. Ia mengingat kembali kerinduannya.
“a’ aku lupa!” Ryo berdiri dan pergi begitu saja.
Lha.. dia pergi? benak hati Aira
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1