Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kau Hadir


__ADS_3

Gimana ya biar dia gak ikut kesana? Gimana caranya aku periksa tanpa diketahui? Pikirannya terus berpikir.


Ting!


Seperti sebuah ide muncul ditengah perut kenyangnya. Ternyata perut kenyang membuat orang mampu menemukan sebuah cara yang tak terpikir sebelumnya.


Aira mengambil ponsel. Ia melihat lihat pesan.


“hah!” ucapnya langsung memposisikan duduk tegak.


“ada apa nona?” Syen dengan refleks menerima respon dari sikap sontak sang nona muda.


“temanku sudah melahirkan Syen” ucapnya berdiri


“ooowhhh” Syen ikut berdiri dengan nafas lega.


Aira seperti mengamati sebuah pesan dari ponselnya. ia kemudian menatap berkali kali seakan mencocokkan tempat di ponselnya dengan sebuah klinik di dekat taman yang dari tadi ia amati.


Ya! Aira berpura pura memiliki teman yang melahirkan agar ia bisa memeriksa kandungannya tanpa sepengetahuan sang mertua yang merupakan ratunya dokter di negara mereka. ratu yang seakan menguasai seluruh dunia medis dan kesehatan.


“sepertinya tempatnya itu deh” ucapnya lagi


Ia membaca nama Klinik yang dimaksud di ponselnya. ia pun tersenyum.


“Aku kesana bentar ya!” ucapnya melangkah


“tunggu nona, biar saya temani” Syen melangkah mengikuti Aira.


“Syen! Aku gak mau terlihat orang kamu mengikutiku” pintanya lagi


“tapi nona?” Syen tidak melanjutkan kata katanya melihat raut wajah kecewa sang nona


“baiklah, saya akan menunggu di depan. Nona bisa masuk” ucapnya.


Sontak senyum terukir di bibir Aira. Ia puas dengan sandiwaranya.


Gak rugi, banyak belajar dari liat orang akting! Gumamnya dalam hati melangkah.


Syen mengambil mobil mereka dan memarkir di halaman klinik. Sedang Aira masuk sendiri ke dalam sana.


Klinik kecil itu tampak sepi. Mungkin kalah bersaing dengan klinik swasta mahal yang disukai orang perkotaan. Aira mampu memprediksi, klinik ini pasti jauh dari jangkauan sang mertua yang memiliki koneksi bak sebuah jaring laba laba yang dimana inti dari semua itu adalah seorang Camila.


Aira mematikan nada ponsel saat panggilan untuknya memasuki ruang dokter kandungan. Ia mengisi buku kehamilan dan melakukan pemeriksaan. Dokter menunjukkan janin ketika USG dilakukan. Tampak sebuah titik yang tak dimengerti oleh Aira, namun titik kecil sebesar ujung ibu jari itulah yang kini membawa air mata bahahagiannya menetes, melegakan semua nafas yang sesak, menghilangkan semua ketakutan, membuyarkan keraguannya pada dunia.


“janin ini berumur sekitar sepuluh minggu ya bun” senyum sang dokter menunjukkan layar monitor dimana terlihat jelas benih kebahagiaan itu terlihat.


Senyum Aira tak henti hentinya mengembang.


Kau hadir sayang, kau ada disini, kaulah kebahagiaan bunda! Benaknya terus tersenyum menyebut dirinya bunda seperti dokter cantik itu memanggilnya.


Dokter menjelaskan kondisi janin yang sehat, tanya jawab juga mereka lakukan untuk menambah pengetahuan Aira tentang kehamilan. Dokter ramah itu pun bahkan memberikan nomor ponsel miliknya agar Aira mudah berkonsultasi seputar kehamilannya.


Dokter memberikan foto hasil USG pada Aira. Aira mata haru menetes mengikuti rasa yang ada dalam dirinya. Aira terus menatapnya dengan gambaran kebahagiaan luar biasa yang tak mampu ia jelaskan, ribuan kali kebahagiaan saat Ryo melamarnya, sejuta kali lebih bahagia saat Ryo mengucap ikatan suci mereka. kebahagiaan yang hanya


mampu dirasakan seorang ibu yang menginginkan buah hatinya.


Aira melangkah keluar dengan senyuman mengambang. Senyumnya seakan tak ingin pergi. tangannya terus mengelus perut ratanya. Hingga ia melewati seorang perawat yang membawa seorang bayi menuju sebuah ruangan khusus.


Aira mengikut sang perawat, ternyata di dalam sana berkumpul makhluk makhluk polos lucu dengan gerak gerik terindah tanpa dosa, dengan mulut mungil yang mengatup dan membuka, dengan mata sipit dan mata hitam yang enggan mengintip. Makhluk indah yang digambarkan sebagai sebuah kertas putih yang kelak akan memoles sendiri kuas mereka saat menjalani yang disebut kehidupan.


Sayang.. bunda akan menjagamu, kamu telah melengkapi kebahagiaan bunda. Terima kasih tuhan, kau telah hadirkan dia untukku.


Air mata Aira menetes membayangkan kelak ia akan memiliki salah satunya. Ia terus mengelus perut dengan tangan kanannya. Melupakan sejenak kejamnya dunia yang telah ia lalui. Hanya merasakan momen indah itu sendiri. Bahkan ia melupakan Ryo yang juga berhak atas janin yang kini ada dirahimnya.

__ADS_1


Ya Ryo! lelaki yang saat ini seperti kebakaran jenggot karena sang istri yang tak bisa ia hubungi. Lelaki yang saat ini mengamatinya dalam sebuah video yang tersambung dengan Syen.


Tut!


Panggilan video pada Ken dimatikan Ryo.


“Dasar tuan muda manja!” gumam Ken pelan dalam geram mengingat kelakuan Ryo.


Selelah lama ia mengamati sang istri. Ryo akhirnya meminta Syen memberikan ponsel padanya


“Syen berikan ponsel mu pada istriku!”


“baik tuan muda”


“nona!”


Suara Syen membuyarkan semua keindahan pikiran Aira saat ini.


“ya” jawabnya menoleh


“tuan muda nona” Syen memberikan ponselnya


“kok kamu VC an sama Syen?” Aira dengan modus cemburu


“terpaksa aku hubungin dia, karena kamu dari tadi gak ngangkat telpon sayang” jelas Ryo


“masa sih?” Aira melihat kembali tasnya.


Aira mengambil ponselnya dan terlihat enam puluh tiga panggilan tak terjawab. Ia menegangkan wajah melihat begitu banyak panggilan dari sang suami.


“tuh! Liat sendiri kan? Huh..!” keluh Ryo dan sekaligus lega.


“maaf sayang, tadi takut ganggu bayinya jadi ku silent!” Aira tersenyum manja


“dasar! Kalau salah aja liatin tuh.. manjanya keluar” ucap Ryo yang sangat ingin mencubit pipi sang istri saat ini.


“malam ini!” ucapnya


“hah? Sungguh? Berarti syutingnya dipercepat apa dibatalin?” tanyanya yang mengingat jadwal Ryo yang seharusnya kembali dua hari lagi


Ryo terkekeh.


“dasar! Ngebalas dia, gak mungkin banget syuting dibatalin” jelasnya dengan bibir maju


“Aku balik karenaaa...” Ryo mengingat sesuatu


Berarti Aira belum melihat berita itu, makanya dia tenang tenang aja..


“sayang.. kamu gak liat berita?” tanya Ryo


“berita apa?” tanya Aira mencoba ingin melihat ponsel


“sayang! Sayang! Liat sini deh!” cegah Ryo


“berita apa sih?” tanya Aira yang ingin kembali melihat berita


“berita kita makan malam” Ryo memberitahu


“oooo ,.. itu kan udah tadi pagi” jelasnya lagi


“ya sudah! Berikan ponsel Syen, kita VC pake HP kamu aja ya?”


“OK!” Aira menyerahkan ponsel milik Syen.

__ADS_1


Tut!


Panggilan diakhiri. Tapi tak berselang beberapa detik ponsel itu diterima Syen, Ryo kembali menghubunginya


“Tu” omongan Syen terhenti karena ancaman Ryo yang melarangnya menyebut dirinya.


“usahakan nona gak melihat berita hari ini... terus antar nona ke kediaman utama!


Paham??” nada penuh penekanan


“baik tuannn” jawab Syen


“cari alasan apapun agar nona tidak curiga!”


“baik tuan!”


“berikan semua info tentang istriku padaku, mengerti??”


“baik tuan!”


Panggilan pun berakhir.


“nona masih belum selesai?” tanya Syen


“udah Syen, ini aku cuma nunggu VC” ucapnya tersenyum


“mari nona!”


Mereka pun meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan Syen memikirkan cara untuk mengajak sang nona ke kediaman utama. Berusaha mencari alasan yang tepat tanpa menyebut berita yang sedang beredar.


Suara ponsel Aira membuyarkan pikiran Syen.


“sayang! Kok gak VC?” tanya Aira


“oooo”


“oooo... iya nanti aku mampir kesana” jawabnya lagi


“hem..”


“iya iya.. udah ah, aku lagi sama Syen” ucap Aira lagi


“love you too!” ucap Aira menutup


Aira menutup ponsel dan memasukkan ke dalam tas.


“Syen! Kita ke apartemen sebentar, terus ke mension” ucapnya


“baik nona!” jawab Syen


“Ayolah Syen, jangan panggil aku nona!” pinta Aira


“maaf nona!” senyumnya


Ponsel itu kembali berdering. Tertulis ibu mertua.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Maaf jika mulai sekarang saya terlambat menupdate tiap harinya..


karena dokter menyarankan saya untuk sementara mengurangi di depan gadget


mohon pengertian dan doa kalian semua

__ADS_1


terima kasih


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2