Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Perjuangan Gadis Kecil


__ADS_3

Aina melawan dan menggigit tangannya hingga terlepas pegangan lelaki itu. Aira berlari menarik Aina di tengah jalan yang langsung menjadi perhatian mobil polisi yang berjarak semakin dekat dengan mereka.


“polisi! polisi!” ucap temannya panik dan mobil itu pergi dengan cepat.


Aira masih berdiri ditengah jalan dengan sang adik saat mobil polisi patroli mendekati mereka.


“adik kecil jangan ditengah jalan!” sapa sang polwan yang mobilnya berhenti.


Tubuh Aira menggigil dan gemetar karena takut.


“ibu polisi, tolong kami!” ucapnya menangis.


Mereka pun membawa Aira dan Aina ke kantor polisi.


“adikmu ngompol ya? Kamu pangku ya?” ucap sang polisi pria.


“iya pak!” jawab Aira


“sudah, jangan menangis lagi, kita aman sekarang!” ucapnya pada Aina


Polwan itu tersenyum mendengar ia menenangkan adiknya.


“kalian mau kemana?” tanya sang polwan.


Aina tak bisa menjawab. Karena ia tak tahu akan kemana.


“Sepertinya mereka anak terlantar” Jawab polisi pria


“Apa kamu tak bisa lihat baju mereka robek gitu” ucapnya


“Kalian akan kami bawa ke kantor dulu ya”


Aira pun diam.


Mobil memasuki halaman kantor polisi. Di depan ada sebuah toko besar, dan tak jauh dari tempat itu ada perusahaan garmen / konveksi.


Aira dan aina masih duduk di kursi tunggu depan. Semua orang berlalu lalang dengan tugas mereka masih masing. Ia dan adiknya seakan terabaikan.


“pak, saya ke seberang dulu ya, mau beli celana buat adik saya” ucapnya


Petugas itu hanya mengangguk.


“ayo di!” mereka berjalan menyeberangi jalan.


Aira melihat setumpuk sampah buangan dari perusahaan garmen. Ia mencoba mencari pakaian ganti untuk sang adik sementara waktu.


“ayo sini, ganti” ucapnya mengajak ke toko besar dan berharap bisa menumpang toilet mereka.


“eh.. gembel dilarang masuk!” ucap petugas yang berdiri di pintu.


Nyessss..


Hinaan itu melukai hatinya. Ia membawa Aina ke samping bangunan. Mengganti pakaian sang adik di samping tong sampah.


Ayah, ibu.. aku berjanji akan menjaga Aina sepanjang hidupku dengan nyawaku! Benaknya memasangkan pakaian untuk Aina.


“Ni menangis?” tanya Aina


“mata Ni perih, bau di!” ucapnya mencoba mengajak sang adik bercanda karena aroma tempat itu memang menyengat


Tampak senyum Aina melihat wajah kakaknya yang kebauan.


“sudah, sekarang pakai ini!” ia memasangkan topi yang temukan.


“Ni, aku lapar!” ucap Aina memelas.


Aina mengecek isi tas yang tadi ia ambil. Ada dompet ibunya disana. Ia mengecek dan menemukan sedikit uang.


“Ayo!” ajaknya.


Aina ingin kembali ke toko itu untuk membeli roti untuk Aina, tapi kembali ia diusir dan dihina.


“dasar gembel! Miskin aja belagu mau belanja di toko ini” ucapnya kasar.


Aira menoleh sabar pada sang adik.

__ADS_1


“kita beli di tempat lain ya?” ucapnya kembali menggenggam tangan sang adik.


Tak jauh dari tempat itu terdapat halte bus karyawan garmen.


Tak berselang lama, bus itu datang dan menaikkan penumpangnya. Aira dan Aina ikut naik.


“heh! Ini khusus karyawan!” usirnya.


Tolong pak, hanya sampai terminal, adik saya tidak kuat lagi berjalan” ucap Aina memelas


“tidak bisa!” ucapnya kasar


“tolonglah pak! Saya akan duduk disini!” pinta Aira menunjuk tangga bis


Belum lagi lelaki itu bicara, seorang perempuan berwajah garang berdiri.


“heh! Ini bis juga bukan punya kamu, biarin dia disana, lagian gak  mengganggu juga” perempuan itu berkacak pinggang


“sudah sudah!” Yang lain menyudahi.


“maaf, kami akan turun!” ucap Aira sedih.


“tidak gadis kecil, kau tetap disana. Jalan pak!” perintah wanita itu pada sang supir yang berada di depan.


Bis pun mulai meluncur.


Aira merangkul tubuh adiknya duduk bersandar padanya di lantai bis. Sepasang mata pemuda menatap mata Aina yang mendongak menatap wajah kakaknya.


“ni.. aku sangat sapar” ucap Aina memegang perutnya


Ketika tadi dirumah, Aina meminta makan pada sang kakak. Tapi belum sempat mereka makan, mereka telah diseret orang orang itu.


“sabar ya di! Nanti kalau kita turun dekal halte biasanya ada pedagang kaki lima” ucapnya lagi mengelus bahu sang adik.


Sebenarnya saat ini Aira tak kalah lapar, tapi ia terus berusaha tersenyum untuk sang adik, agar adiknya tak merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


Pemuda itu terus menatap wajah Aina lekat. Ia mengeluarkan sebungkus roti sisa bekalnya.


“ambillah!” ucapnya pada Aina. Dan dengan cepat Aina mengambilnya.


“aku lapar ni!” ucapnya menunduk.


“biarkan adikmu memakannya!” ucap pemuda itu


“terima kasih kak! Ayo bilang terima kasih” ucap Aira


“terima kasih kak!” senyum Aina pada pemuda itu.


“sama sama adik kecil”


“makanlah!" ucapnya pada Aina.


Aina memakan lahap roti itu, ia begitu kelaparan.


“ni mau?” tanyanya polos


“makanlah.. ni tidak lapar” ucap Aira tersenyum ditengah perutnya yang keroncongan.


Aira terus menutupi wajahnya saat mereka turun dari bis. Aira yang cerdas kini ia sadar, wajahnya yang terlihat seperti ibunya lah yang dicari oleh lelaki tadi.


“Di! Dengarkan kakak! Mulai sekarang, kalau ada yang tanya kamu anak mamah sama papah, bilang, kamu anak adopsi! Kamu paham?” tegas Aira


Aina kecil menggeleng. Aira membuka maskernya berbicara meyakinkan pada sang adik.


“apa aku anak pungut, Ni?” tanyanya sedih


“bukan! Kamu adik ku, anak kandung mamah papah, tapi kamu ingat tadi? orang itu mencari anak kandung orang tua kita, dan dia hanya mengenali kakak, jadi kamu jangan takut, jika kamu bilang kamu anak adopsi, kamu tidak akan dibawa mereka, kamu paham?” Aira mengingatkan kembali adiknya.


Aina kecil mengangguk.


“apa yang kamu pegang dari tadi?” tanya Aira menunjuk tangan Aina yang terus menggenggam dari kantor polisi.


“tadi aku mengambil ini saat ditarik di mobil penjahat itu” Aira menunjukkan pin bros yang dikenakan semua lelaki berjas yang mencoba menculik mereka.


Bergegas Aira mengambil dan menyimpannya.

__ADS_1


“Aira!” panggil wanita muda berbaju perawat dari dalam mobil yang ia kendarai.


Bergegas Aira menyembunyikan Aina dibalik tubuhnya, menjadi tameng untuk sang adik. Tubuhnya gemetar dan kembali menutup setengah wajahnya.


“Aira! ini tante yang dirumah sakit, ingat?” ucapnya tersenyum


Aira mencoba mengingat wajah itu, ternyata dia perawat yang waktu itu menemaninya saat ibunya berpulang.


“oo.. tante perawat!” ucap Aira tersenyum


“ayo masuk!” ucapnya mengajak Aira ke dalam mobilnya.


“takut ni!” ucap Aina yang takut melihat mobil itu.


“tidak apa apa Di, ada aku, itu tantenya baik” bujuknya.


Aira pun di bawa wanita itu. Aina tertidur nyenyak di pangkuan Aira selama di perjalanan. Ia membelai kepala adiknya.


“mulai sekarang, aku akan menjadi mamah dan papah untukmu di.. kita hanya berdua sekarang!” ucapnya lirih meneteskan air matanya.


“aku pasti bisa menjagamu, aku pasti bisa, aku harus bisa!” ucapnya lagi


Perawat wanita itu meneteskan air matanya. Ia hanya melirik Aira dari spion mobilnya.


“aku akan melindungimu di, kamu tenang ya.. tidak akan ada lagi orang yang akan menyakiti mu” ucapnya menatap memar membiru di lengan Aina.


“aku akan menyayangi kamu dan aku akan berusaha untuk kamu, aku akan menjaga kamu di” ucapnya terus menangis membelai kepala adiknya yang tidur menganga dengan lucu.


Aira terus terisak meratapi nasibnya, kepedihan kehilangan orang tua, rumah, penghinaan orang orang di lingkungannya dan kejadian barusan seakan menjadi puncak musibah yang tak berkesudahan yang harus dihadapi seorang gadis yang baru akan berumur enam belas tahun.


“tante kita mau kemana?” tanyanya melihat dari tadi mobil itu tak berhenti sama sekali.


“ke tempat aman!” jawab wanita itu.


Setelah lama, mobil itu memasuki sebuah rumah di salah satu pedesaan.


“sementara kalian akan tinggal disini ya?” ucap sang tante.


Selang berapa lama keluar seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut. Ia menyambut tante perawat itu dengan pelukan dan mereka membicarakan sesuatu.


“ayo turun!” ajaknya


“ini oma Lia, sementara kalian akan tinggal disini ya?” ucapnya


Aira hanya bisa mengangguk.


“ni.. ini dimana?” tanya Aina yang baru bangun


“aku takut ni..” lanjutnya


“ada aku, kamu tenang ya?” ucapnya lagi menenangkan sang adik


Mereka berkenalan dan mereka diberi makanan.


Sang tante baik hati itu kembali pergi dan setelah malam ia kembali membawa banyak pakaian baru untuk mereka berdua.


“tante sangat baik... terima kasih” ucapnya


Namun berselang dua hari. sang Nyonya rumah membawa mereka keluar dengan tergesa, mengantar mereka menuju terminal dan mengirim mereka ke tempat yang jauh. Hingga akhirnya Aira dipertemukan dengan seorang nenek penolong yang menampung hidup mereka hingga sang nenek berpulang saat mereka baru tinggal setahun


bersama. Dimana kepergian sang nenek membawa berjuta misteri. Karena belum terungkapnya siapa nenek tersebut dan mengapa perawat wanita itu menolong mereka?


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Siapa nenek yang mau menampung mereka? 


Mengapa perawat itu membantu mereka sembunyi?


Mengapa Aira dikejar karena wajahnya yang mirip ibunya?


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..


 

__ADS_1


 


__ADS_2