
Tinggallah Aina sendiri disana. Ia mematung memikirkan kembali rentetan pertemuan dengan orang orang yang memiliki pin tersebut.
Malam itu Aina pulang agak malam. Ia hanya fokus pada pikirannya sendiri yang kalut. Ia melupakan Aira yang lebih penting dari apapun baginya.
Maafin aku ni! Benaknya merasa bersalah saat ia mendapati Aira yang tertidur di sofa menunggunya.
Selama dua hari Aina seperti orang senang melamun. Ia bahkan berkali kali ditegur oleh GL mereka.
“apa kamu ada masalah?” tanya GL pada Aina saat ia dipanggil ke ruangan manager.
“tidak ada pak” jawab Aina
“terus kenapa kamu seperti tidak bekerja setelah presentasi kemarin?”
“maaf pak!” ucap Aina yang memang terlihat lelah dua hari terakhir
“jangan karena kamu sukses dan dipuji direktur marketing terus kamu gede kepala ya?” ucapnya kasar
“maaf pak, bukan karena itu” jawab Aina masih merendah
“terus kenapa kamu gini?” tanya GL dengan nada lebih mengerti
“maaf pak!” jawab Aina tak mampu mengungkap alasan ketidak profesionalannya
“ya sudah! Sekarang kamu kembali ke meja kamu dan bekerja dengan baik!!” ucap Manager
“baik pak” jawab Aina berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah keluar dari sana, Aina justru menemui bagian HRD dan menanyakan tentang pembatalan kontrak kerja atas nama dirinya.
Aina tertegun. Ia baru menyadari besarnya denda yang harus ia bayar jika pembatalan diputus oleh dirinya. Aina berjalan lelah menuju mejanya. Sejenak ia berpapasan kembali dengan seseorang yang memakai pin yang sama. Aira tak mampu melihat wajah lelaki itu karena ia kembali menatap pin tersebut.
“kamu disini” ucap lelaki itu sekilas tersenyum pada Aina. Namun Aina kembali tak menyadari sapaannya.
Aina merenung. Jika uang yang dulu Bams berikan tidak ia kembalikan, ia akan mampu membayar denda pemutusan kontrak saat ini juga. Tapi ..
Ting!
Sebuah pesan masuk pada ponsel Bams yang berada di atas meja dan tertulis jelas nama yang tertulis. Jordi hanya menatap pesan tersebut. Dan Bams bergegas mengambil ponselnya saat Ryo melirik ponselnya yang tak jauh dari tempat Ryo duduk.
‘sorry ganggu, kamu dimana?’ tulis Aina pada Bams
‘aku di cafe’ jawab bams
‘ada apa? Aira baik baik aja?’ jawab Bams
‘ni baik baik aja’ jawab Aina
Sememtara itu, Bams bergegas mengganti nama Aina pada ponselnya dengan nama Nana. Ia takut Ryo menyadari nama pengirim pesan yang hampir Ryo lihat pada ponselnya.
Aina bergegas pulang. Ia tidak melangkah menuju tempat tinggal ia dan Aira, tapi menuju cafe Bams.
Selama diam, Aina memutuskan untuk keluar dari tempat ia bekerja sekarang. Ia tak percaya ia mengais rezeki dari seseorang yang dulu ingin menculik ia dan Aira.
Sebuah taksi berhenti di depan cafe, langkah Aina tergesa dan segera menghubungi Bams.
Kembali ponsel Bams berdering. Ia kembali memisahkan diri mengangkat telponnya. Jordi dan Arya saling menatap curiga. Sedang Ryo sibuk dengan sendirinya bermain game meski ia melirik sejenak pada Bams.
Ryo bukan tak mengerti atau merasakan, tapi ia sangat mengenal sang sahabat, akhir akhir ini Bams terlihat berbeda.
__ADS_1
Bams meninggalkan Boys dan menuju kantor utamanya.
“Ada apa?” tanya Bams pada Aina yang terlihat pucat dengan lingkar mata yang sedikit menghitam
“maaf.. aku bingung mau kemana dan ke siapa” ucap Aina merasa malu
“ada apa ai? Ah.. aku panggil na aja.. kalau Ai panggilan kalian jadi sama” ucap Bams
“aku.. aku dapat masalah ditempat kerja.. aku mau cerita ke ni gak mungkin..” ucap Aina sedikit menunduk karena malu
Bams diam menunggu Aina mengatakan semuanya.
“hhmmm... hmmm..” Aina ragu
“its OK na.. anggap aku sebagai bagian dari keluarga kalian” ucap Bams
“aku harus membayar denda atas pembatalan kontrak ku” ucap Aina
“berapa?” tanya Bams
“sembilan puluh juta”
“aku akan siapkan uangnya” ucap Bams
“kamu gak nanya kenapa?” tanya Aina
“kamu pasti punya alasan sendiri kenapa ingin pergi dari sana.. dan aku bukan orang yang berhak bertanya” ucap Bams
“aku akan pinjam uang itu, nanti akan ku kembalikan” ucap Aina
“kamu persis kakak mu” ucapnya tersenyum mengingat kejadian masa lalu
“tanya sendiri kakak mu!” ucapnya lagi
“kalian sama aja, gak mau cerita” keluh Aina merasa lega
Suara pintu terbuka, Ryo melihat Bams dan tamunya secara bergantian dengan tatapan berbeda.
Wajah Aina seketika berubah, raut senyumnya pudar dan menatap balik ke Ryo dengan penuh kebencian.
“Boman udah datang” ajak Ryo pada Bams
“hem!” jawab Bams kemudian melirik Aina.
Ryo menatap kembali pada Aina yang menatapnya dengan wajah dingin.
Ryo keluar dari ruangan itu dan kembali berpikir
Pernah liat dimana ya tu cewek? Benak Ryo mengerutkan kedua keningnya mencoba mengingat wajah yang terasa tak asing.
Akhirnya Aina memutuskan keluar dari perusahaan yang telah mengontraknya dengan angka yang tinggi. Ia tak ingin berurusan dengan orang orang yang dulu mencoba menyakiti ia dan Aira.
“belum nemu kerjaan?” tanya Bams
Aina menggeleng lesu, sudah satu bulan melamar pekerjaan di banyak tempat namun tidak ada satupun panggilan kerja untuknya. “hari ini aku akan bilang ke ni kalau aku udah gak kerja lagi” ucapnya semakin lesu
“jangan!” jawab Bams
“ni harus tau, aku gak mau nanti ni kecewa kalau tahu aku bohongin dia” ucap Aina
__ADS_1
“tapi dia akan sedih kalau tau kamu udah berenti” jelas Bams
“aku bingung! Seharusnya aku gak mengambil keputusan tergesa kemarin” sesalnya sekarang kehidupan mereka menjadi sedikit sulit.
“kerja disini aja dulu sebelum kamu dapat kerjaan” tawar Bams
“kan pelayan disini udah pas”
“kamu jadi asisten ku aja, ngawasin disini” ucap Bams
“ahh.. aku gak ngerti dunia bisnis cafe” ucap Aina menolak
“kakak sama adik sama aja.. selalu kalau ditawarin tu nolak dulu” keluh bams
Aina hanya tersenyum.
“nanti belajar sama manager disini..” tawar Bams lagi
“hemmmm...” Aina berpikir
“dari pada gak ada kerjaan, toh kamu bingung juga kan kalau pagi pergi kemana” jelas Bams yang melihat situasi Aina yang selalu pergi tiap pagi dan pulang sore seolah ia masih bekerja
“iya juga sih... oke lah kalau gitu, aku kerja disini aja” senyumnya dan mengulurkan tangan
“deal ya?” ucap Bams
“Deal!” jawab Aina
Kini hari hari Aina bekerja di cafe Bams, ia mempelajari semua hal tentang bisnis kuliner. Bams juga mengajaknya ke beberapa tempat kuliner miliknya.
“wahh.. ternyata juragan kuliner kamu” ucap Aina
“ini tempat favoritku!” ucapnya saat memasuki tempat Pak De
“nyaman ya tempatnya” Aina masih melihat lihat tempat itu.
“ini tempat makan ku dengan Aira” ucapnya
“heh?” Aina mencoba menggali kembali
“ya.. aku selalu makan disini bersamanya, karena hanya ditempat ini kami tanpa diketahui orang lain” ucap Bams
“kalian selingkuh?” tebak Aina
Bams tertawa
“inginnya seperti itu, tapi hati kakak kamu itu terlalu bersih, tak pernah mengkhianati orang yang ia cintai” jelas Bams
“siapa lelaki itu?”
“kamu beneran ingin tahu?”
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa jejaknya ya..
makasih buat yang masih setia baca ..
mohon maaf buat yang kecewa sama ceritanya, karena di chapter ke dua memang menceritakan tentang terungkapnya semua misteri kehidupan para karakter di novel ini
__ADS_1