
Aira telah selesai di make up, kecantikan yang dulu tersembunyi kesederhanaan kini terlihat begitu memancarkan wajah bak seorang bidadari.
“kakak... kamu cantik banget!” puji Rya berdiri menatap Aira
Tapi Aira tersenyum gemetar.
“ahhh.. aku gugup banget Re” senyum Aira
“wajar dong gugup, kan bentar lagi jadi nyonya Ryo dan kakak ipar aku” goda Rya tersenyum dan memeluknya manja berusaha agar Aira tak seperti tadi.
“kamu tu..” Aira tersenyum malu
“gugupan mana kak sekarang sama nanti malam?” Goda Rya lagi berbisik
Wajah Aira memerah dan semakin merah. Ia malu sendiri mendengar godaan Rya. Rya terkekeh melihat wajah kakak iparnya yang seakan menjadi tomat.
“jangan gugup, acaranya tinggal beberapa menit lagi, setelah itu kakak gak perlu khawatir lagi, hem?” Rya menggenggam tangann Aira.
Rumah itu mereka hias sederhana dengan kesan pernikahan yang bernuansa putih.
Ijab kabul dilaksanakan, sedang Aira masih di dalam kamar mendengarkan setiap kata yang diucap Ryo.
SAH! SAH! SAH!
Ketika saksi dan penghulu saling bersahutan.
Tak lama Aira keluar dan duduk disamping Ryo dengan kebaya berwarna emas. Jantung Ryo berdansa dan seakan ingin melompat keluar dari tempatnya saat ia menoleh pada Aira yang di tuntun oleh Camila dan duduk di sampingnya.
Istri gue! Benak Ryo dengan nafas tercekat.
Setelah menerima buku nikah dan saling menyematkan kedua cincin. Aira mencium punggung tangan Ryo yang kini resmi menjadi suaminya. Ryo mengecup lembut dahi Aira sebagai bukti kelembutan cinta suami pada sang istri.
Pernikahan mereka hanya di hadiri beberapa orang saja. Orang orang kepercayaan dan keluarga Ryo. Sesaat Aira merasa sedih, karena disana hanya dia seorang diri tanpa ada keluarga dari pihaknya.
“kamu menyesal?” tanya Ryo yang melihat raut wajah sedih Aira
Aira menggeleng.
“aku hanya sedih, hari ini aku benar benar sendiri... seakan tak punya siapa siapa di sampingku” ucapnya menunduk dan meneteskan Aira mata.
“sayang.. kamu gak sendirian, ada aku disini” ucapnya menyeka Air mata Aira.
Aira tersenyum pada Ryo. tapi tetap saja tak bisa menutupi kesedihannya.
“jangan pikirkan apapun, pikirkan saja malam ini” bisik Ryo
Sontak Aira cemberut dan malu.
“kepalamu isinya itu mulu” ucapnya berdiri dan berjalan menuju tempat minuman.
“aku gak sabar unboxing!” bisiknya lagi
Wajah Aira memanas mengingat apa yang akan mereka lakukan.
Acara singkat itu berakhir hanya dalam hitungan jam. Tak ada pesta meriah yang harus menghabiskan waktu lama. Kini Ryo telah bersama di dalam kamar mereka. Aira masih duduk di tepi ranjang menunduk merasakan debaran jantung yang luar biasa.
Tak berselang lama, Ryo memasuki kamar dan berjalan pelan. Aira tidak berani mengangkat wajahnya. Ia terlalu gugup menghadapi malam pertama mereka.
“sayang..!” panggil Ryo lembut yang kini berdiri di depannya.
Ryo berjongkok dan mencoba melihat wajah Aira yang menunduk.
“istriku!” ucapnya lagi membuat Aira kini menatap kedua manik mata Ryo.
__ADS_1
Ryo meraih tangan Aira yang dari tadi Aira genggam. Tangan itu begitu gemetar dan basah.
“apa kamu gugup?” tanya Ryo melerai kedua tangan Aira.
Aira masih diam. Ia mematung dengan situasinya sendiri. Ryo ngusap keringat di tangan Aira kemudian mencium kedua tangan dan telapak tangan Aira secara bergantian, mengecup setiap buku jemarinya.
Ryo yang tadinya sudah merasakan dirinya siap menyerang Aira dengan bayangan jutaan kecupan, kini mereda saat melihat sang istri seperti menegang ketakutan.
“apa.. ap..pa..” Suara Aira terbata bata ragu mengatakan apa yang ingin ia katakan
“hem?” tanya Ryo lembut mengusap wajah Aira yang berkeringat
“apa boleh kita pulang ke apartemen aja?” tanya Aira meragu
“kamu ingin kita pulang?” tanya Ryo lagi
Aira menurunkan pandangannya
“sayang?” tanya Ryo
Aira mengangguk.
“baiklah..” Ryo berdiri, tapi Aira menggenggam erat tangan Ryo.
“apa mamah gak kecewa kalau kita meninggalkan kamar ini?” tanya Aira menoleh pada ranjang yang penuh dengan kelopak bunga. Ya! Kamar pengantin indah itu telah Camila siapkan untuk mereka.
“mamah akan ngerti kok!” jawab Ryo. Ia merasakan tangan Aira yang gemetar.
Aira menghela nafasnya. Ia hanya malu jika keesokan harinya ia mendapat godaan dari sang adik ipar yang mulutnya tak pernah bisa direm.
“ayo...!” Ryo menarik tangan Aira agar ia berdiri.
Aira menggeleng, menahan sebentar tangan Ryo.
“hem.. aku turun bentar! Kamu ganti baju, hem?” Ryo terus menuruti semua kemauan istrinya demi sebuah kado yang ia tunggu dengan sabar selama ini.
“aku mau mandi.. gerah!” ucapnya tersenyum pucat
“hem!” jawab Ryo lembut dengan senyuman kemudian berdiri mengecup sejenak puncak kepala istrinya. Ia pun keluar dari kamar dan menemui Camila.
Ryo menceritakan kondisi Aira dan Camila pun mengerti. Mereka pun kembali ke apartemen mereka.
“aku mandi dulu!” Ryo membiarkan Aira menenangkan dirinya. Dia mengerti jika saat ini Aira begitu gugup.
Aira masih duduk di tepi ranjang tubuhnya gemetar.
“kok aku lebih gugup dari waktu itu ya?” gumamnya terus menghela nafas
Tanpa ia sadari, Ryo sudah berdiri dari tadi melihatnya. Ia hanya menggunakan handuk yang melilit sedikit tubuhnya. terlihat tubuh seksinya. Otot otot yang akan sebentar lagi akan menggempur habis tubuh mungil Aira.
Ryo mendekat dan masih berdiri. Aira mendongak menatap Ryo. rambut basahnya seakan menambah ketampanan Ryo malam itu yang membuat Aira menelan berat ludahnya.
Ryo menjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aira yang terlihat sayu.
“kamu baik baik aja?” tanya Ryo
Aira tersenyum begitu manis berusaha menutupi degupan jantung.
Senyuman yang membuat desiran darah Ryo yang sedari tadi panas semakin mendidih karena ia terus membayangkan membuka kadonya sejak mereka di perjalanan kembali kesana.
Ryo menarik tekuk Aira dan mendaratkan ciuman, lummatan bibir dan tautan yang terus membuat Aira larut dalam irama cumbuan panas Ryo.
Ryo merasakan tubuh Aira yang gemetar. Ia melepaskan tautan ciumannya dan menatap kedua mata Aira ketika dahi mereka masih menyatu.
__ADS_1
“kamu belum siap?” tanya Ryo dengan nafas yang sudah memburu
Bukan menjawab, tapi Aira kini menarik leher Ryo dan menautkan kembali ciuman mereka. Seutas senyum muncul disela ciuman Ryo. Kini ciuman itu terus, terus dan terus menuntut.
Tubuh Aira masih gemetar, apalagi saat tubuh mereka berdua telah polos, Ryo sangat merasakan jika tubuh Aira memanas dan gemetar.
Cumbuan itu terhenti karena sedikit rasa cemas diantara deru gaiirah Ryo mulai merasuki pikirannya.
“sayang..!” Ryo menatap mata Aira sayu, sedang Aira menatapnya dengan nafas memburu.
“kalau kamu takut, kita bisa menundanya” ucap Ryo merasa tak tega
Aira menggeleng pelan dan wajahnya bersemu
“buka kado kamu malam ini sayang, aku telah menjadi milikmu seutuhnya” ucapnya tersenyum
Kata kata Aira membuat gairah Ryo semakin membuncah, melupakan pikiran cemasnya yang muncul sesaat.
Ia pun kini terus mencumbui tubuh indah Aira. hingga akhirnya tubuh Aira mulai tenang dan Ryo semakin berani melanjutkan serangannya.
Aira terus menikmati cumbuan Ryo yang terus membuatnya mendessah dan merasakan sesuatu yang kini sangat ia sukai. Tubuhnya mengejang dan melengkung ketika merasakan sesuatu yang pernah ia alami di malam ulang tahun Ryo. ya! Aira merasakan puncaknya sendiri saat Ryo semakin asyik memainkan lidahnya di area sensitif Aira.
Tetesan air mata dan erangan beriringan saat Ryo berhasil membuka kadonya secara sempurna. Pertanda bahwa mereka telah menyatu, Aira telah menyerahkan diri seutuhnya.
Tubuh Aira bergidik sesaat ketika Ryo berhasil memasukinya. Ryo diam sejenak karena tak tega melihat wajah sakit Aira.
“sayang..” ucapnya mengecup mata Aira yang berair.
Aira tersenyum menyambutnya dan Ryo mulai berani melanjutkan kembali pertarungan panas mereka. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan, namun Aira terus berkali kali mencapai puncaknya, hingga akhirnya erangan Ryo berbarengan dengan benih cinta yang ia berikan di rahim Aira mengakhiri pergulatan panas mereka.
“terima kasih sayang, terima kasih telah memberikan kadoku yang begitu sempurna” ucap Ryo dengan nafas menderu yang masih berada diatas tubuh Aira.
“aku mencintaimu” jawab Aira
“aku lebih mencintaimu beib” jawab Ryo
Aira hanya tersenyum. Tubuhnya kini seakan tak bertulang, ia tak mempunyai tenaga karena ulah nikmat sang suami. Ia seakan tak mampu lagi bergerak. Otot otot tubuhnya seakan menjadi bubur. Keringat yang membasahi tubuh dan mata sayunya seakan menggambarkan betapa lelah dirinya dibuat Ryo.
Ryo mengecup kembali bibir Aira. Ia mejatuhkan tubuhnya di samping Aira dan menarik Aira ke dalam pelukannya.
“tidurlah! Aku tak akan melahapmu lagi” ucapnya tak tega melihat cintanya.
Aira hanya mempu memukul kecil perut Ryo dengan manja dan merasa malu. Mereka pun terlelap dalam indahnya cinta malam itu.
Dan ketika pagi, Ryo dibangunkan dari geliat istrinya dalam pelukannya yang kedinginan. Ryo tersenyum menggambarkan kebahagiaannya.
Hasil kesabarannya selama ini sangat sepadan dengan apa yang ia nikmati tadi malam. Gambaran gambaran keindahan pergulatan mereka menari di pelupuk matanya sambil menatap wajah polos sang istri. Sengatan sengatan cinta kini mengalir dalam setiap darahnya. Ia begitu mencintai makhluk indah ini.
Aku tak mungkin lagi bisa bernafas tanpa mu! Batin Ryo menggambarkan betapa ia mencintai sosok yang menjadi bidadari dalam bayangan matanya.
Ryo pun membelai wajah istrinya lembut, merasakan kulit halus yang seakan membuatnya merasakan sutra termahal dunia, ia telah medapat kenikmatan surga yang sesunggguhnya.
“aku tak akan pernah lagi bisa jauh dari kamu cinta... kini kamu akan menjadi canduku” ucapnya mengecup kening sang istri.
\~\~TAMAT\~\~
Untuk para Readers
Cerita Aira, Ryo, Bams dan Kiky sebenarnya akan dilanjutkan pada Caraku Mencintaimu Vol.2 dengan judul Cinta sejati untuk sang bintang.
Tapi karena ada peraturan baru yang mengharuskan novel tak boleh di pecah, jadinya harus lanjut disini deh!
Untuk para reader yang setia baca, maaf ya.. Novelnya jadi terkesan sangat panjang, tapi Author juga di tuntut untuk memenuhi target kontrak yang udah disetujui.
__ADS_1
Semoga para reader semua tetap setia baca dan terus memberi dukungan pada Author yang baru belajar nulis.