
“siapa lelaki itu?”
“kamu beneran ingin tahu?”
“hem” jawab Aina
“tanyakan ke Aira” jawabnya
“heisss.. bikin kesel aja” ucap Aina melangkah meninggalkan Bams yang terkekeh.
“yah.. ngambek dia” susul Bams
“abisnya kamu sama aja sama ni, gak pernah mau mengungkap tentang mas Riry” ucapnya
“kenapa kamu sangat penasaran?” tanya Bams
“setahu ku ni gak pernah pacaran, gak pernah mencintai seseorang.. tiba tiba ni kembali dan selalu menyebut nama itu” ucapnya
Aina tak berani menyebut jika sang kakak kembali dalam keadaan hamil padanya.
“dia memang mencintai Aira dan Aira juga sangat mencintainya” ucap Bams dengan sedih
“berarti kamu sangat mengenalnya” ucap Aina
“iya.. aku kenal dia” ucap Bams
“ajak aku ketemu dia!” pinta Aina
“untuk apa?” tanya Bams
“aku ingin mengetahui seperti apa lelaki yang membuat ni jatuh cinta dan meninggalkan luka untuknya” ucap Aina
“jika Aira diam dan gak bilang siapa lelaki itu, maka aku tidak berhak mengatakannya” ucap Bams
“heissshh.. nyebelin” ucap Aina yang melangkah menuju mobil
Bams kembali terkekeh
Mereka pun kembali ke cafe utama. Aina turun dari mobil bersamaan dengan Bams dengan tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan hingga tawa itu masih mengembang diantara mereka.
Ryo yang kebetulan berada di parkiran melihat jelas jika perubahan Bams akhir akhir ini karena perempuan tersebut. Ryo yang tadinya ingin meninggalkan cafe masih tertahan karena melihat mobil Bams memasuki halaman.
Ryo membuka pintu ingin turun. Sedang Aina sudah melangkah menuju pintu masuk dan Bams kembali ke dalam mobil untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan.
“Aina!” panggil Bams pada Aina yang ingin membuka pintu
“ya?” Aina menoleh
Bams menunjuk jok belakang dengan dagunya. Aina tersenyum dan melangkah kembali menuju mobil
“sorry.. lupa” ucapnya tersenyum
“dasar pelupa!” ucap Bams meninggalkan Aina yang mengambil barang yang ketinggalan di dalam mobil.
Ryo yang menyaksikan interaksi di depannya seakan mematung. Nama itu tidak asing di telinganya. Sebuah nama kunci keberadaan Aira yang selama ini menjadi misteri tentang keberadaannya.
__ADS_1
Aina masuk ke dalam cafe membawa barang yang ia ambil dan mengantar ke dapur. Ia kembali ke ruang kerja Bams untuk melanjutkan pekerjaan dan membahas laporan tentang kunjungan mereka.
Ryo memasuki cafe dengan pikiran bertanya. Ia berusaha mengingat wajah Aina. Namun hanya bayang senyum Aira yang mampu ia ingat.
Ryo terus menuju ruang kerja Bams. tanpa mengetuk pintu Ryo langsung masuk.
“Ryo!” sapa Bams merasa kaget
Mata Ryo tertuju pada Aina yang duduk di meja kerjanya. terlihat tag nama yang bertuliskan Nana.
“Na.. kamu keluar dulu ya?” ucap Bams pada Aina
“gak usah! Gue Cuma bentar” ucap Ryo
“ayo! Kita ngobrol di ruang X” Ajak Bams
Ryo masih menatap Aina dan dibalas tatapan dinginnya
“siapa dia Bams?” tanya Ryo
“ooh. Dia Nana.. calon manager cafe gue yang baru” cerita Bams
“calon manager?” tanya Ryo yang tak mengalihkan pandangannya pada Aina
Ia menatap Aina lekat, seakan ingin menelan Aina bulat bulat. Balasan tatapan yang sama pada Ryo dibalas dengan tatapan penuh kebencian. Sorot mata Aina menggambarkan betapa ia tak menyukai seorang Ryo.
“iya, dia disini menjalani masa training” jelas Bams yang mulai merasakan hawa dingin diantara Aina dan Ryo
“ayo!” ajak Bams membawa Ryo keluar ruangan
“jadi karena dia loe beberapa bulan ini sibuk sendiri?” tanya Ryo
“ya gak lah.. loe tahu 'kan gue mau buka cabang cafe lagi” jelas Bams berusaha menutupi
“loe gak bohongin gue lagi kan?” tatap Ryo curiga
“loe ngomong apaan? Loe liat sendiri tu cafe hampir dibuka” jelas Bams
Sedang di ruang lain, Aina berpikir keras. Ia mengambil tag nama yang diberikan Bams.
Kenapa Bams bersikeras membuat tag nama ku dengan Nana? Untuk apa ia menyembunyikan namaku? Benak Aina
Ting! Sebuah kesimpulan muncul dalam kepalanya
Jangan jangan mereka mengenal ni dan tahu jika nama Aina adalah adiknya? Pikir Aina
Pikirannya menerawang, ia mulai berpikir untuk mencari tahu sendiri siapa lelaki itu. bagaimana kehidupan sang kakak dan seperti apa pekerjaan Aira.
Setelah beberapa jam, Ryo pergi meninggalkan Cafe. Aina menatap dari lantai atas melihat mobil sport mahal itu meluncur keluar.
Ryo mengenal ni! tapi dia justru memperlakukan ni seperti itu! dan Bams tidak marah saat mengetahui perlakuan Ryo pada ni! benak Aina terus mencoba mencari tahu tentang semua.
Malam itu, ketiga anak manusia itu tak bisa tidur karena pikiran mereka masing masing.
Aina? Bukankah dia adik Aira? ya! Aku yakin dia adik kamu, pantas saat itu wajahnya terasa tidak asing! Benak Ryo berbaring menatap langit langit kamarnya
__ADS_1
Jangan jangan Ryo curiga pada Aina! Benak Bams bicara saat ia menatap pemandangan malam dari balkonnya dan menikmati minuman soda.
Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan siapa mas Riry? Benak Aina yang menatap Aira terlap
Malam terus berlalu meninggalkan mereka yang terus mencerna pikiran mereka masing masing. Menelaah, berasumsi, mencurigai, mencoba menyimpulkan.. semua pikiran itu menghantui mereka bertiga
*
*
‘cafe sangat ramai malam ini, aku gak bisa pulang cepat’
Pesan itu masuk pada ponsel Bams saat ia kembali dari studio.
Bams memutar arah mobilnya menuju tempat Aira.
“ai..!” panggil Bams memasuki tempat itu
“bentar bi!” jawab Aira dari dalam
Bams menyalakan televisi dan menonton sebuah acara infotainment.
“Aina belum pulang bi” jelas Aira keluar.
Bams mendekat membantu Aira duduk bersamanya.
“kamu dah makan?” tanya Bams
“udah!” jawab Aira
“aku mau bikin kopi, kamu mau?” tawarnya
“boleh”
Bams berdiri menuju dapur mereka, merebus air dan mengambil dua cangkir kopi. Bams sangat perhatian pada Aira. perlakuannya sangat lembut. Ia kini tak berpikir lagi tentang hati dan perasaannya. Yang ia pikir sekarang hanya bersama Aira dan membuatnya nyaman.
Setelah sekian tahun, baru hari ini Ryo terlihat bersama seorang wanita. Wanita cantik yang datang pada acara peresmian cabang Mall ANDARYA yang di gadang gadang menjadi pusat semua merek fashion dunia. Wanita cantik mengenakan dress berwarna navy yang berjalan dengan menggandeng lengan Ryo terlihat begitu elegan. Semua orang penasaran pada sosok yang baru muncul ke publik setelah sekian tahun dia sembunyikan.
Berita itu terdengar di telinga Aira. Bams bergegas mengambil remote TV dan mematikannya
“jangan dimatikan bi.. aku ingin dengar” ucap Aira yang merasakan sesak dalam dadanya
“jangan Ai, aku gak ingin kamu menangis” ucap Bams
Tuuuuttt... tuuuttt... suara teko air mendidih terdengar
“tolong bi.. aku hanya ingin tahu kabarnya” ucap Aira memelas
“ada apa?” tanya Aina yang baru datang
Aira menjadi canggung
“kabar siapa ni?” tanya Aina menatap Aira dan Bams secara bergantian
Suara teko mendidih semakin nyaring saat kecanggungan mereka bertiga menjadi hening.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~