Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Bantu Aku


__ADS_3

Ddrrrtttt ddrrrtttt


Bams melirik ponselnya, tertulis Pak De disana. Ia mengernyitkan kening menatap telpon tersebut. Tak pernah sekalipun lelaki itu menghubunginya, selalu ia yang menghubungi ketika ingin berada disana.


Bams mengangkat teleponnya setelah lama bergetar.


“ya pak de!” jawabnya sambil menoel hidung Kiky.


“bi.. ini aku!”


suara itu bergetar dengan suara isakan. Suara yang langsung merobek hati Bams, meluruhkan pertahanannya, menghapus wajah Kiky dalam sekejap dari pandangannya.


Bams berdiri meninggalkan Kiky, lidahnya kelu, tak berani Kiky mengetahui siapa yang menghubunginya. Ia takut Kiky tersakiti, tapi suara di seberang justru seakan minta diselamatkan.


Isak tangis Aira terdengar menyayat hati Bams. Ia terdiam, bingung ingin mengatakan apa.


“aku kesana sekarang!” hanya kata itu yang ia ucapkan.


Bams berlari menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


“sayang ada apa?” tanya Kiky


“ada masalah! Aku harus pergi” ucapnya terlihat gugup


Kiky tak mampu membaca pandangan Bams. kecupan cepat di bibirnya membuat Kiky yakin masalah benar benar sedang terjadi.


“jangan ngebut!” pinta Kiky melepas kepergian Bams keluar dari pintu


Bams tersenyum dan berlari menuju lift.


Kiky mengernyitkan kening. Pak De?


Pak De! Bukannya itu salah satu cabang kuliner yang dimiliki Bams? benak Kiky bicara


Ya tuhan.. semoga semua baik baik saja! Semoga bukan kebakaran! Kiky berdoa.


Ia masuk ke dalam kamar Bams. membaringkan tubuhnya. Tak tenang dengan kondisi pikiran di kepalanya.


Ku suruh ikutin gak ya? Ikutin gak, ikutin gak?


Benak Kiky berperang dengan kepercayaan dan ketidak percayaan pada Bams. Akhir Akhir ini Bams sudah berubah, lebih perhatian dan bahkan kemarin menemaninya di kantor.


Bams telah cemburu padanya, perlakuannya semakin manis. Tapi pikiran Kiky selalu meragu, karena ia tak bisa membaca binar mata Bams yang ia cari.


Bams menghubungi Pak de kembali dan meminta agar Aira menunggu di tempatnya. Sang istri mengantar Aira ke kamar pribadi Bams yang tepat berada di belakang bangunan luas tersebut. Rumah kecil yang hanya berukuran 6 x 6 dengan konsep open, tersembunyi diantara rindangnya dedaunan.


Aira memasuki tempat itu dengan rasa kagum dan nyaman. Setelah ditinggal Bu De, Aira menangis sejadi jadinya. Ia sudah tak mampu menahan. Ia telah mencintai Ryo dengan sangat, tapi kenyataan pahit itu tak mungkin ia lawan. Kebersamaannya dan Ryo seperti pertentangan dua magnet yang sama.


“maaahhhh...” keluh Aira dalam tangisnya


Rasa bersalah yang mendalam terus menusuk inci demi inci tubuhnya, bak jutaan jarum yang setiap mili detik satu persatu masuk ke dalam aliran darahnya


Bams memacu mobilnya dengan sangat cepat. Ia sangat mengkhawatirkan Aira, tapi juga ada rasa bersalah pada Kiky meninggalkannya sendiri.


Bams menyentuh tombol hijau. Menghubungi Kiky.


“sayang” jawab kiky


“kamu tidur aja, jangan khawatir, Cuma masalah kecil, tapi harus ku selesaikan malam ini” jelas Bams


“hem!” jawab Kiky


“gak marah kan?” tanyanya sedikit khawatir Kiky akan menangis


“enggak...” jawabnya sedikit ragu


“maafin aku ya, di tempat pak De ada masalah yang harus aku sendiri yang tangani” jelasnya


“hemm.. aku ngerti kok” jawab Kiky senang merasa Bams yang takut ia marah.


“Syukurlah, kamu memang paling mengerti!” ucap Bams hanya di mulut bukan dari hatinya.


“aku masih nyetir, ku tutup dulu ya?”


“jangan ngebut, hati hati..” ucap Kiky


“love you!” jawab Bams


Kiky terdiam mendengar kata terakhir Bams saat menutup telponnya, ini pertama kali Bams mengahiri panggilan dengan kata semanis itu. entah ia sadar atau tidak kata itu terucap begitu saja.


Jantung Kiky berdetak hebat mengartikan segala hal ke dalam definisi cinta dan sayang. Ia membiarkan kepergian Bams tanpa curiga, tak meminta orang lain mengikutinya. Kiky membaringkan diri dengan terpejam, senyuman terukir di wajahnya, bintang bintang kasih sayang bertebaran dalam pandangan pejam matanya.


Bams memasuki tempat itu dengan berlari. Tak sabar ingin melihat kondisi Aira. Ia tak berani menduga, tapi tangis Aira yang ia dengar seolah menjelaskan jika hubungannya dengan Ryo sedang memburuk.

__ADS_1


Aira telah pergi dari mension mewah itu selama dua jam, malam semakin pekat, namun para bodyguard semakin sibuk, semakin cemas, dan semakin bingung. Mereka benar benar tak mampu menemukan sang nona. Ia seakan ditelan bumi.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk. Aira merasa gugup, ketukan pintu saat ini seolah menjadi ancaman baginya


“ai, ini aku!” ucap Bams dari luar.


Aira berlari menuju pintu, air matanya masih basah, matanya merah, dukanya semakin parah. Larut dalam perasaan yang terus berkecamuk baik dalam dada maupun pikirannya, ingin membawa tubuh itu berlari, tapi hati terus merindu pada sang pemiliknya.


Pintu dibuka, kedua insan saling menatap dalam raut wajah dan tatapan yang hanya mereka yang bisa mengartikan. Sesaat sakit itu semakin nyeri, semakin pedih, semakin mengiris.


Sorot mata putus asa, dan sorot mata kasihan saling bertemu. Debaran jantung masing masing terasa beriringan. Gugup dan rasa malu. Namun ada tatapan pengharapan dan pertolongan yang tersirat diantara dua manusia yang hanya mematung saat itu.


“maafin aku selalu menghubungi kamu saat aku seperti ini!” tunduk Aira memulai percakapan mereka.


“kita bicara di dalam!” ucap Bams


Aira melangkah masuk dan diiringi Bams. ia duduk tepat disampingnya, hatinya saat ini begitu sakit. Pikiran hanya mengatakan satu orang yang mampu memahaminya saat ini, ya! Seorang sahabat yang ia sebut Bi.


“ada apa ai?” tanya Bams memegang lembut bahu Aira.


Aira hanya menangis, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya saat ini. Ryo adalah suaminya, Ibu adalah orang yang melahirkannya, dan sang dokter adalah mertuanya. Ia tak mungkin mampu menceritakan kisah rumit itu pada seorang Bams. meski ia percaya, tapi tak mungkin ia menceritakan semuanya. Apalagi Bams tak mengetahui jika ia dan Ryo telah menikah.


“bantu aku bi... bantu aku!” ucap aira lirih dalam tangisnya


“ada apa ai? Kalian putus?” tanya Bams blak blakan


Aira menggeleng, ia tak bisa berkata lain selain meminta bantuan.


“bantu aku pergi .. bantu aku pergi dari sini tanpa diketahui orang orang Ryo” ucapnya


“tapi kenapa kamu gini?” Bams mencoba mengetahui


“aku ingin pergi!” ucapnya


“aku tahu! Tapi kenapa?”


“aku tidak ingin bersama Ryo lagi!” ucapnya semakin menangis


“kalian ribut?” tanya Bams


“bisakah kamu membantu ku tanpa bertanya? Aku mohon!” ucap Aira lagi


“hiks hiks hiks!” isak tangis Aira


“baiklah!” ucap Bams agar Aira tenang.


“tapi kamu tenang dulu!” pinta Bams agar Aira berhenti menangis.


Aira mencoba meredam tangisnya, mencoba menahannya dengan sekuat hati.


“kamu nginep disini aja malam ini! tenangin diri kamu, besok baru kamu pikirkan kamu mau gimana” Bams selalu bijak dalam menghadapi Aira tapi tak mampu untuk dirinya sendiri.


“aku mau pergi malam ini, Bantu aku bi... tolong kamu keluarkan aku dari kota ini, aku mau pulang!” ucap Aira


“iya iya.. tapi besok, sekarang udah malam, penerbangan juga gak ada kalo ke tempat kamu malam ini” jelas Bams


Aira kembali terisak.


“aku mohon.. aku bingung mau kemana saat ini..” Aira semakin sedih


“kamu tenang aja, kalau kamu ingin pulang, aku sendiri yang akan mengantar kamu” jelas Bams


“sekarang! Pesanin tiket ku sekarang yah?” pinta Aira lagi


“hem...!” ucap Bams agar Aira tenang


“bentar aku ambil dompet ku di mobil!” Bams keluar


Bams mengambil dompet. Ia mengambil salah satu foto yang ia tanda tangani dan spidol miliknya.


“pesanin tiket ku ke kota XXX, tapi apa bisa kamu dapatin tiket untuk ke kota YYY dengan nama orang lain?” tanya Aira


“kenapa ai?” tanya Bams merasa aneh.


“aku gak ingin orang orang Om Haris menemukan ku” isaknya


“kamu beneran ingin pergi dari Ryo?” tanya Bams


Aira mengangguk diikuti tetesan air matanya.


“baiklah! Aku akan hubungi temanku untuk mengurusnya”

__ADS_1


Bams menghubungi orang kepercayaannya untuk mengatur semua keperluan kepergian Aira. Ia berharap meskipun Aira pergi. ia akan tetap menjadi orang yang akan Aira hubungi. Ia bahkan memiliki ide gila dalam kepalanya.


Setelah meninggalkan Aira setengah jam dan berkutat dengan ponselnya. Bams mendapat jawaban bahwa mereka bisa mengeluarkan Aira besok pagi pada penerbangan pertama.


“beres! Kamu akan pergi besok subuh” ucap Bams


Aira tersenyum kecut dibalik wajah sembabnya


“terima kasih bi.. kamu selalu menjadi orang yang ku repotkan setiap aku mendapat musibah” ucapnya


“sekarang jelaskan ke aku!” jawab Bams


Aira hanya menggeleng


“pliiisss.. tolong jangan minta aku bicara!” mohon Aira


Bams hanya menghela nafasnya.


“mandilah! Aku akan minta orang membeli pakaian untukmu” ucap Bams keluar.


Bibi mengantar pakaian untuk Aira dan makanan untuknya. Rasa lapar kembali menyapa perutnya, tuntutan anaknya yang terus meminta untuk diberi nutrisi terus meronta.


“terima kasih bu de” senyum Aira disela wajah sembab.


“sama sama non, yang sabar ya.. kalau ada musibah, itu berarti tuhan sedang menguji keimanan kita, apakah kita masih mengingatnya atau melupakannya” ucap Bu De bijak


“iya bu de, terima kasih.. maaf sudah merepotkan” ucapnya merasa tidak enak.


“jangan sungkan, anggap aja bu de seperti bu de kamu sendiri” ucapnya lagi


“sekali lagi terima kasih bu de” ucapnya


“bu de tinggal ya..”


Bu de meninggalkan Aira.


Setelah selesai berbenah diri, kini Aira terlihat lebih baik. Ia menyantap malas makanan yang diberikan padanya.


Tenang sayang... bunda akan makan kok! Bunda akan kuat demi kamu! usap Aira pada perutnya.


Tak berselang lama, Bams datang kembali.


“ku pikir kamu sudah pulang!” ucap Aira


“aku akan temani kamu malam ini” ucap Bams


Aira menggeleng!


“aku tahu ini tempat kamu, tapi aku mohon, biarkan aku sendiri malam ini” ucapnya menatap Bams


“tidak ai, aku akan disini, aku takut kamu melakukan hal yang tidak tidak” ucap Bams


“aku ingin pulang ke Aina, hanya itu! tolong, aku benar benar ingin sendiri” ucap Aira lagi


“baiklah baiklah.. aku akan pulang, kamu harus bangun pagi besok, kita berangkat subuh soalnya” jelas Bams


“kita?”


“ini tiket kamu!” Bams memberikan tiket yang Bams dapat. Sesuai permintaan Aira, ia mendapat dua tiket dengan tujuan yang berbeda dan jam yang hanya selisih beberapa menit.


“terus itu?” tanya Aira curiga


“ini foto ku, simpan! dibelakang sini nomor telponku, aku takut kejadian kaya gini lagi! Coba kamu bayangin kalau kamu gak pergi ke tempat pak de, kamu pasti gak bisa ngehubungi aku” jelas Bams


Aira terdiam sejenak, sebegitu khawatirnya Bams padanya.


“terus itu apa?”


“ini tiket ku! Aku akan pergi denganmu besok” ucap Bams


Aira menganga tak percaya.


“kamu jangan gila bi!” ucapnya langsung


“ai... aku memilih pergi denganmu” ucap Bams menatap Aira dengan tatapan berbeda.


Tatapan yang bisa Aira artikan bukan sebagai sahabat, tatapan seseorang yang memberi kasih sayang padanya.


Aira memalingkan wajahnya menjauh, tapi Bams justru menahan dagunya dan ....


Bersambung!


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Akankah Akhirnya Aira memilih Bams?


Haruskah cinta seorang bintang berakhir dengan pengkhianatan sang Sahabat?


__ADS_2