
Ting tong ting tong
Suara bel berdentang. Bams yang hampir terlelap terbangun oleh gangguan di jam yang mendekati tengah malam. Ia menutup kembali telinganya dengan bantal. Tapi suara bel itu terus berdentang. Sangat mengganggu pendengaran dan kenyamanan yang baru beberapa menit ia jalani.
“shi*t!!” umpat Bams kesal
“siapa sih!??” ia terpaksa bangun melangkah kesal menuju pintu.
Ceklek
Pintu terbuka. Terlihat Kiky yang mematung dengan mata sembab dan basah. Kusut dan terlihat menyedihkan. Bams menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia mengenakan sendal dan baju rumahan.
Tak ada suara, tak ada keluhan juga tak ada amarah. Hanya air mata Kiky yang terus lolos tanpa sedikitpun gemingan.
“Ky?” tanya Bams melihatnya dengan rasa kasihan. Sakit di dada Bams menatap Kiky yang terlihat begitu menyedihkan dimatanya.
Kiky hanya menatap Bams lekat. Ia tak berani mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya. Semua keluhan dalam benaknya yang tadi terucap tak berani ia keluarkan ketika melihat wajah Bams.
Ia terlalu mencintai lelaki ini, karena cinta lah ia mampu sesakit ini sekarang. Karena cinta lah ia mampu menahan pedang yang menusuk jantungnya saat ini. Seakan bertahan ditengah kematian jiwanya.
“ayo!” Bams justru menarik tangan Kiky pergi dari sana, tak memintanya untuk masuk.
Kenapa? Kenapa kamu sangat gak sudi aku memasuki apartemen kamu? benak Kiky saat berjalan menuju parkiran mobilnya.
Air matanya terus mengalir.
Bams membuka pintu agar Kiky memasuki mobil dan disusul olehnya.
“ada apa?” tanya Bams menyeka air mata Kiky
Ia menunduk, tak berani menatap mata Bams. Terlalu sakit rasanya menatap mata palsu itu. tak ada cinta disana, tak ada kehangatan, hanya sebuah tatapan kasihan yang terlukis jelas terbaca olehnya.
“Aku hanya kangen kamu!” ucapnya lirih tapi air mata itu terus menetes, tak bisa berhenti, laksana darah yang mengalir dari luka yang ada di dadanya, luka yang begitu dalam, luka yang ia toreh sendiri karena cintanya pada Bams.
Bams menyalakan mobil dan pergi dari sana, kembali ke apartemen Kiky, malam itu ia berada disana.
“apa kamu membutuhkan ku malam ini?” pertanyaan itu justru menyakitkan di hati Kiky, pertanyaan yang tertuju hanya pada hubungan kepuasan bercinta yang digambar oleh kuas kata kata Bams.
Kiky hanya menggeleng sedih. Ia tak banyak bicara, tak manja, tak meminta.
“bisa kau menginap disini?” tanyanya pelan dan meragu
“aku hanya butuh teman, bukan teman bercinta” ucap Kiky merasa takut. Takut Bams merasa tersinggung dan marah padanya.
“hem!” jawab Bams tanpa berdosa. Tak mencoba memahami betapa sakitnya Kiky saat ini. Juga tak berusaha bertanya. Itu dilakukan Bams karena ia tahu, tangisan Kiky saat ini karena dirinya yang tak datang.
Kiky berbaring dalam pelukan Bams. Bams memejamkan mata karena memang ia sangat mengantuk dan seperti tak ada yang terjadi. Sedang Kiky hanya diam dengan mata terbuka.
Kiki mengeratkan pelukannya, namun tak ada kehangatan dalam pelukan itu.
Tubuh itu seakan tak bernyawa, tubuh yang hanya memeluknya, sedang hati lelaki itu kosong, kosong akan namanya, kosong akan sosoknya, kosong akan cintanya.
Air matanya kembali menetes. Ternyata. meski pun Bams saat ini dalam pelukannya, hatinya tetap saja sakit dan justru semakin sakit.
Karena hatinya menyadari, jika dia bukanlah siapa siapa bagi lelaki ini, dia hanyalah budak pelampiasannya kini.
“karena cintaku.. apakah aku akan tetap kuat?” ucapnya yang membelai wajah Bams yang telah tertidur pulas.
Ketika Kiky terbangun pagi itu. Ia hanya mendapati dirinya sendiri dibawah balutan selimut, tak ada kekasih yang mengecupnya mengucapkan selamat pagi, atau pun morning kiss. Dia hanya mendapati dirinya sendiri.. sendiri dan sendiri.
*********
Aira terbangun dalam kondisi dipeluk Ryo di kamar Rya.
“dasar kakak beradik, sekongkol dia” gumamnya melihat wajah Ryo.
Ia mengangkat perlahan tangan Ryo yang melingkar dan mencoba turun dari ranjang. Ia berjalan menuju kamar mandi dan melihat wajahnya memucat.
Jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aira turun ke bawah karena merasakan haus teramat sangat. Ia berjalan menuju dapur dan mendapati beberapa orang pembantu yang sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk tuan mereka.
“selamat pagi nona!” sapa seseorang
__ADS_1
“pagi” jawab Aira tersenyum
“nona sudah baikan?” tanya seorang wanita paruh baya mendekat kemudian menutup mulutnya
Astaga aku keceplosan! benaknya
Aira mengerutkan keningnya. Karena ia merasa memang tidak sakit.
“saya baik baik aja bi..” ucapnya lagi
“nona ingin sesuatu?” tanyanya lagi
“saya haus, mau ambil minum” ucapnya mencoba mencari gelas.
Seorang pembantu yang lebih muda mengambil gelas untuk Aira.
“biar saya ambil sendiri” pinta Aira pada gelas kosong yang dibawanya
Aira menghabiskan minumnya secara langsung dan kembali mengisi gelasnya.
Kok aku haus banget ya? Benak Aira
Aira duduk sebentar disana, para pembantu merasa canggung dengan calon nona muda mereka.
“nona ingin sesuatu?” tanya bibi lagi
“gak bi.. izinkan saya sebentar disini aja” senyumnya
“baiklah..” ucapnya meninggalkan Aira duduk termenung sendiri.
Ryo terbangun dan tak menemukan sang calon istri di dalam pelukannya
“sayang? Beib?”panggilnya dan membuka pintu kamar mandi, tapi Aira tak berada disana. Ryo berjalan keluar kamar. Ia membuka kamarnya dan hanya ada Rya yang terlelap. Ryo bergegas turun dan menuju dapur yang terlihat terang.
“sayang!” panggilnya melihat Aira yang duduk melamun memegang gelas dengan kedua tangan.
“hem!!” Aira kaget menoleh pada Ryo
“ngapain?” tanyanya mendekat dan langsung mengecup puncak kepala Aira
“minum” tunjuk Aira pada gelasnya
“kamu bisa minta bibi mengantar ke kamar” ucapnya meletakkan tangannya di bahu Aira.
Aira tersenyum tipis pada Ryo.
“aku bisa ambil sendiri” ucapnya malas dan kembali berpikir tentang dirinya
“ada apa?” tanya Ryo yang melihat Aira yang seakan berpikir sesuatu.
“gak ada” jawabnya
“bohong!” ucapnya mengacak rambut depan Aira
Mereka yang melihat pemandangan itu tersenyum. Ryo seakan tak sungkan menunjukkan perhatiannya pada Aira di dalam rumahnya. Sedang Aira merasa tak nyaman.
Aira berdiri dan membawa gelasnya menuju washtafel, tapi Ryo bergegas mengambilnya dan memberikan pada salah satu pembantunya yang berada disana.
“aku bisa sendiri!” ucapnya pelan.
“udah.. ayo!” Ryo menarik tangannya
“maaf mba.. merepotkan..” ucap Aira pada pembantu yang menerima gelas bekas ia minum.
“gak papa nona” senyumnya
“bibi terima kasih.. maaf mengganggu kalian pagi ini” menunduk hormat pada mereka
“nona jangan seperti itu” ucap bibi tersenyum melihat kerendahan hati Aira
“kamu apaan sih!” Ryo menarik Aira keluar dari dapur.
__ADS_1
“Permisi!” ucapnya diseret Ryo keluar dari sana.
Mereka yang berada di dapur itu terkekeh melihat kelakuan tuan muda mereka.
“ayo! Aku masih ngantuk!” ucap Ryo terus menariknya ke lantai atas. Aira mencoba melepaskan lengannya yang dicengkram erat Ryo.
“aku mau pulang!” ucapnya ketika mereka sudah berada di depan kamar Rya.
“aku ngantuk sayang.. kita tidur aja dulu!” tarik Ryo memasuki kamar.
Ryo pun menarik Aira hingga ia jatuh di tempat tidur, diikuti Ryo yang langsung membawa tubuh Aira ke dalam pelukannya.
“Ryo ayolah .. kita harus kerja” ucapnya
“bukankah kamu bilang kamu bersedia mengundurkan diri?” ucapnya masih memejamkan mata
“tapi ..” belum selesai Aira bicara, Ryo mengeratkan pelukannya.
“tidurlah.. kamu pasti masih ngantuk..” ucapnya lagi
“bangun!” Aira menggoyangkan tubuhnya dalam pelukan Ryo
“jangan membangunkan ku.. aku masih belum ingin membuka kadoku” ucapnya mengangkat kepalanya dan mengecup cepat bibir Aira
Aira membulatkan matanya mendengar kata kata Ryo yang menjurus pada sesuatu yang berbau mesum.
“mesum!” ucapnya
Ryo terkekeh dan kembali memejamkan mata mempererat pelukannya.
“lepasin.. aku mau mandi!” Aira kembali mencoba melepaskan tangan Ryo yang melingkar di pinggangnya
“jangan memaksaku unboxing sayang!” ucapnya lagi
“iihhhh...” akhirnya cubitan Aira memaksa Ryo membuka tangannya.
“istriku senang kekerasan, siap siap di KDRT aku nih” ucapnya tersenyum menarik tengkuk Aira ingin menciumnya.
“KDRT beneran nih!” ancam Aira mencoba menolak.
Cup!
“kamu lupa.. morning kiss!” jawab Ryo melepas Aira dan mengambil guling di sampingnya. Memeluk dan memejamkan matanya kembali.
“aku baru tidur dua jam!” ucapnya
Aira terdiam mendengar Ryo yang baru tidur dua jam. Kejadian ini seperti de javu
“Rya dimana?” tanya Aira
“kenapa lagi?” ucap Ryo manja membuka salah satu matanya.
Aira tersenyum melihat kelakuan Ryo.
“aku mau pinjam baju!”
“Rya baru tidur .. dia gak bakalan bisa dibangunin.. kamu tau sendiri ia kebo” jawab Ryo diikuti kekehan Aira
“ya udah, aku pake baju kamu aja” ucapnya bangun dan keluar kamar. Ryo melirik sejenak pada Aira yang melangkah keluar kamar dan kembali memejamkan mata.
Emangnya mereka tadi malam begadang semua apa ya? Benak Aira
Ia tak mengetahui apa yang terjadi pada malam itu. Rya panik ketika menemukan Aira bermimpi buruk dan tak bisa disadarkan. Ia berlari ke kamar Ryo dan meminta Ryo datang ke kamarnya. Mendengar keributan kembali di kamar Rya, membuat pasangan suami istri yang terlelap ikut terbangun. Mereka melihat sendiri seperti apa kondisi Aira malam itu.
Seluruh lampu rumah kembali menyala dan kesibukan terlihat seisi rumah karena kedatangan tim dokter yang memeriksa kondisi Aira.
Rya mengganti baju Aira dengan baju tidur yang sama ia berikan malam itu. Ryo meminta mereka tidak memberi cairan infus pada Aira malam itu. Meski keringatnya seperti sudah mandi. Ryo tak ingin Aira terbangun dengan berjuta pertanyaan lagi seperti waktu itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Satu atau dua komentar kalian sangat membantu semangat author untuk menulis
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berharga untuk author yang hanya remah remah di dunia penulis