Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Aku pergi!


__ADS_3

“ai... aku memilih pergi denganmu” ucap Bams menatap Aira dengan tatapan berbeda.


Tatapan yang bisa Aira artikan bukan sebagai sahabat, tatapan seseorang yang memberi kasih sayang padanya.


Aira memalingkan wajahnya menjauh, tapi Bams justru menahan dagunya dan mendekatkan wajahnya menatap bibir Aira yang ranum. Aira memalingkan wajah ketika Bibir Bams semakin mendekat. Ia langsung berdiri menjauhi Bams.


“ai...”


“Jangan mendekat bi”


“Ai biar aku jelasin” bams mendekati Aira


“Aku mohon, menjauh dari ku” aira semakin menghindar


“Baik baik, aku disini, aku akan jelasin..” bams merasa takut Aira salah paham


“Aku sudah lama memiliki perasaan ini Ai, jauh sebelum Ryo hadir diantara kita. Tapi aku terlambat menyadarinya, kamu telah memilih Ryo..”


Aira menelan ludahnya berat. ia tak percaya lelaki yang dulu ia damba ternyata memiliki perasaannya


“dan Ryo tau kamu memiliki perasaan padaku?” ucapnya menunduk merasa bersalah


“iya, Ryo tahu..” jawabnya


“itu sebabnya ia selalu cemburu.. bukan karena meragukan ku... tapi karena tahu perasaan mu” aira mengingat kepingan memori di masalalu.


“kalau kamu hanya ingin berpisah dari Ryo, jadikan aku sebagai alasan..”


“ternyata Riry ku tak memiliki sahabat!” ucap Aira menatap Bams sedih


“dan aku juga!” lanjutnya lagi


“aku menganggapmu bahkan sebagai saudara, orang yang menjadi tempat ku bersandar karena tak memiliki keluarga, ternyata... dibalik semua, ada perasaan lain yang tersembunyi yang tak ku pahami” Aira menunduk sedih.


“aku gak mampu mengendalikan hati dan diriku ai, aku terlambat saat menyadari perasaan ku sendiri” ucap Bams lagi


“tolong tinggalin aku sendiri malam ini!” ucap Aira


“aku mohon!” pintanya lagi


“ai... plis.. aku akan menggantikan Ryo dihati kamu”


Aira berdiri melangkah tapi Bams mencekal lengannya.


“lepasin aku!” air matanya menetes


“aku akan pergi! pikirkan omonganku! Aku tulus!” ucap Bams


Perlahan melepas lengan Aira, tapi Aira tak membalik tubuhnya, tak ingin menatap kepergian Bams. ia kecewa banyak hari ini, ternyata seorang sahabat dan satu satunya sahabat yang ia miliki kini telah pergi. pergi bukan meninggalkannya, tapi pergi karena ia memiliki sebongkah perasaan yang salah untuk Aira.


Menjelang tengah malam, sebuah jet mendarat mulus di bandara ibukota. Pendaratan pribadi yang terkesan darurat membawa sosok lelaki tampan dengan wajah sayu sekaligus garang.


Melewati jalanan malam yang sudah sepi dari hiruk pikuk kesibukan kota. Membawa pikiran yang terus bertanya. Memandang wajah tersenyum manja di dalam layar ponselnya.


“beib...” ucapnya lirih


Langkah cepat dan garang terlihat memasuki Rumah. Camila dan Harlan masih sabar menunggu perkembangan pencarian Aira yang menghilang saat senja menjelang.


Haris dan Ken masih mondar mandir dengan telpon yang tak berhenti berdering.

__ADS_1


Ryo berlari menuju kamarnya. Ia mendapati semua benda kenangan Aira telah tiada. Kini hanya tertinggal kenangan bayangan kemesraan singkat mereka di kamar itu. Ryo melihat sebuah map biru masih terletak diatas ranjang mereka. jantung Ryo seakan jatuh, mati dan tak berdetak ketika melihatnya. Nyawanya merasa melayang. Ia menyadari kepergian Aira karena berkas itu. ia menunduk dan memegang map yang telah memutus cinta mereka.


“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaggggghhhhhhhhhh” teriak Ryo terasa membahana di tengah malam.


Seluruh manusia yang mendengar seolah serentak berlari menuju kamarnya. Ryo duduk bersimpuh di lantai. Diikuti tangis bak seorang bayi yang kehilangan sang bunda.


Camila mendekat dan memeluknya, tak tega melihat putranya yang kini hancur.


“dia pergi mah dia pergiiiiiii.. hi hi hi” ucap Ryo ditengah tangisnya.


Ia melupakan gengsi dan wibawanya. Ia menangis tersedu karena tak mampu menghadapi kenyataan dan ketakutannya yang menjadi nyata.


“kenapa aku harus terlahir dari kalian.. karena aku putra kalian, dia meninggalkan ku sekarang!” ucap Ryo di tengah tangis dalam pelukan sang ibu.


“apa maksud kamu Ry?” tanya Camila melepas pelukan untuk anaknya.


“karena Ryo putra dari pembunuh ibunya” ucapnya menatap sedih sang ibu


“apa maksud kamu?” Camila semakin bingung diikuti pandangan Harlan yang merasa aneh dengan ucapan Ryo.


Ryo memberikan berkas dengan map biru pada Camila. Mereka bertiga masih duduk di lantai. Perlahan Camila membuka berkas tersebut bersama Harlan. Matanya membulat menatap catatan terakhir tentang kematian seorang wanita bernama Andini.


“papah apa ini?” tanya Camila yang tak mengetahui semua itu.


“apa ini pah?” tanya Camila lagi


Harlan mencoba mengingat kejadian yang terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Ia mengingat jelas kejadian tersebut.


“papah memang menyembunyikan ini dari mamah!” jawabnya


Ryo menatap benci pada sang Ayah. Ia berpikir ibunya lah menyembunyikan masalah ini karena tak ingin nama rumah sakit menjadi tercemar, ternyata ayah yang selama ini ia segani dan ia hormati, justru mengaku telah menyembunyikan kejadian tersebut.


“waktu itu, Hardi melindungi Lisa, aku menyetujui menjadi orang yang bertanggung jawab agar Hardi tidak dipecat!” jelas sang ayah yang melindungi sang adik


Ryo memejamkan mata mendengar penjelasan sang ayah yang ternyata bukanlah orang yang bertanggung jawab langsung terhadap kematian sang mertua.


“jadi bukan papah?” tanya Ryo


“bukan, papah hanya tidak ingin om Hardi dipecat, jadi papah menjadi tameng untuk kesalahannya” jelas Harlan


“papah sadar? Karena hal sekecil itu, Ryo kehilangan orang yang Ryo sayangi”


“maafin papah Ry, papah gak nyangka kejadian begitu lama justru sekarang menjadi sumber kekacauan hari ini” Harlan merasa menyesal melihat putranya yang tampak menyedihkan.


Ryo tak pernah terlihat sekalipun dalam hidupnya seperti sekarang. Camila dan Harlan saling pandang melihat Ryo yang menangis menunduk dalam duduk bersimpuh. Hati mereka begitu sakit.


“Ayo berdiri nak, kita bicarakan masalah ini, kita jelaskan pada Aira!”


Ryo menampik tangan sang ayah dengan kasar. Ia berdiri dengan cepat dan pergi meninggalkan kamarnya.


“Ryo!!” teriak Camila mengejar


“Ryo tunggu!” Camila mencoba memanggil. Tapi Ryo tak peduli.


Haris menoleh pada keributan dari lantai dua. Terlihat tuan muda sudah menghilang dibalik pintu, suara geram mobil sportnya terdengar meninggalkan halaman rumah.


“Haris! Ryo Ris.. kejar dia! Aku takut dia kecelakaan lagi!” Camila menangis ketakutan karena tak mampu membayangkan kejadian yang dulu hampir merenggut nyawa Ryo.


Bergegas Ken mengikuti sang tuan muda yang telah menghilang dengan mobil sportnya. Beberapa mobil pun beriringan mengikuti mereka. Tuan muda telah menuju apartemennya. Ryo berharap sang istri berada disana. Tapi yang ia temui hanyalah dua buah apartemen kosong. Ryo berlari menuju lemari pribadi Aira. Ia tak menemukan kotak pink yang tak pernah Aira tinggalkan. Kotak pribadi miliknya. Aira juga meninggalkan buku nikah mereka.

__ADS_1


“sayang, maafin aku...” ucap Ryo lirih


“kamu dimana?” ucapnya sendiri menatap foto Aira.


Ryo kembali menangis memeluk foto sang istri. Aira pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata untuknya menjelaskan. Meninggalkan semua kenangan mereka, meninggalkan Ryo yang sekarang menjadi manusia hampa.


Menjelang tengah malam Bams kembali memasuki apartemennya. Ada seorang Kiky yang tertidur pulas mengenakan pakaian seksi berwarna merah maroon yang membuat kulit putihnya terlihat kontras dan terlihat begitu menggoda.


Bams mendekat dan menyelimuti tubuh Kiky. Ia tak tergoda dengan tubuh itu malam ini karena pikirannya yang sedang memikirkan orang lain.


Bams memasuki ruang gantinya, memasukan beberapa potongan pakaian ke dalam sebuah koper kecil. Bams tak merasakan kantuk meski waktu telah melewati tengah malam. Ia semangat mempersiapkan diri untuk pergi bersama Aira. Ya, Hanya Aira dan dia.


Setelah selesai packing dan membersihkan diri, waktu sudah menunjukkan pukul 3:30 dini hari. Perjalanan menuju tempat pak de memerlukan waktu satu jam setengah dan ke bandara satu jam, maka bams hanya punya waktu 30 menit jika tidak ada halangan.


Bams menaiki tempat tidur, hatinya seperti teriris menatap wajah Kiky, seakan tak ingin pergi tapi jiwanya seakan mengajaknya. Ia mengecup kening Kiky dengan lama, tak terasa setetes air mata jatuh dengan sendirinya. Pedih itu telah diikuti oleh air matanya.


Kiky terbangun karena merasakan kecupan Bams. Bergegas Bams membersihkan sisa air matanya.


Kiky menatap Bams yang telah rapi, sejenak ia melirik jam digital disamping tempat tidur.


“mau kemana sayang?” tanya Kiky yang kini duduk bersamanya


“aku pergi!” ucap bams


“kok mendadak! Ayah ibu baik baik aja kan?” tanya Kiky tak curiga


“hem.. aku harus pergi sekarang, aku ikut penerbangan pertama” ucapnya


“tapi masih lama!” protes Kiky


“maafin aku Ky!” ucap Bams sedih menarik Kiky kedalam pelukannya


Kiky tersenyum merasakan getar tubuh Bams yang menahan tangis. Entah apa yang Bams rasakan saat ini, ia tak mampu membaca dirinya sendiri.


“iya iya.. sudah sudah! Mau ku antar?” tanya Kiky melepas pelukan Bams


Bams menggeleng. Ia menarik tekuk leher Kiky dan menyatukan bibir mereka dalam lumatan panas, ciuman panjang yang terus membuat darah keduanya memanas, namun ciuman itu Bams akhiri ketika tubuh Kiky terus menuntut lebih.


“aku harus pergi sekarang!” ucap Bams


“hanya sebentar lagi sayang..” desah Kiky meminta


“aku harus pergi” ucapnya lagi melepaskan tangan Kiky yang melingkar erat di leher Bams.


“baiklah” Kiky menyerah.


Sejenak Bams mengecup kembali dahi Kiky. Ia melangkah tanpa menolah padanya. langkah itu begitu berat, tapi bisikan untuk pergi bersama Aira terus terngiang.


Mobil melaju dengan cepat menuju resto Pak De, dini hari yang dingin dan sepi membuat mobil sport itu semakin garang di tengah gelap.


Bams melangkah memasuki tempat peristirahatannya, namun sayang ia hanya menemukan sebuah kertas kecil.


‘maaf! aku pergi..


Aira’


Bersambung


 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


__ADS_2