
Bams kembali ke apartemennya dengan perasaan tenang. ia melihat kembali ponselnya saat menghempaskan tubuhnya pada sofa ruang tengah apartemen miliknya.
“huh” Bams menyandarkan diri
Sebuah pesan masuk, pesan dari sang kekasih yang kini merasa mulai terabaikan.
“Kiky” gumam Bams
Ia kemudian menghubunginya.
“belum tidur?” tanya Bams lembut
“belum” geleng Kiky dengan wajah sayu
“apa kerjaan hari ini bikin kamu kaya gini?” tanya bams
“hem!” jawab Kiky tersenyum lelah
Hening sejenak terjadi diantara mereka. hubungan memang terasa begitu dingin saat ini.
“ky..” panggil Bams lembut
“ya..” jawabnya
“aku kangen!” ucapnya
“aku juga” jawabnya lagi
Namun wajah Kiky seakan tak ceria mendengar kata kata yang sangat ingin ia dengar dari Bams. Baginya saat ini perkataan Bams hanya sebuah kata tanpa ada perasaan di dalamnya
“kamu kesini atau aku yang kesana?” tanya Bams
“aku di rumah sayang” jawab Kiky
“Ky aku kanget banget ma kamu” ucap Bams lagi
“aku juga” jawabnya lagi
“kamu gak ingin datang?” tanya Bams
“hemmm...” Kiky menggantung jawaban
“aku jemput ya?” pinta Bams
“sudah malam yang.. mending istirahat” jawab Kiky
“hemm!” Bams menyerah.
Kiky menutup ponselnya dengan hati miris, kerinduan yang ia lawan membuatnya sesak, tapi ia tak ingin lagi menjadi budak cintaya sendiri. sedang Bams merasa ada yang janggal dalam perasaannya. Ia tak menyangka Kiky kini bersikap dingin padanya.
*
*
Siang itu Cafe sangat ramai, semua orang seakan sangat sibuk, Aina ikut mengawasi semua orang agar tak terjadi kesalahan, setelah melalui masa belajar, kini ia mampu menjadi manager yang baik untuk tempat itu.
Hingga menjelang sore, Aina merasakan pergelangan kakinya yang terasa nyeri. Lelah seharian mengenakan sepatu dengan heels meski tak tinggi membuat pergelangan kakinya kini terasa tak nyaman, ia melepas sepatu dan memijat mijat pangkal kakinya.
Saat asyik sendiri memijat, tampak sepasang kaki mendekat. Terlihat sepatu dengan merk yang sudah dikenal dengan harga selangit.
Aina mengangkat wajahnya, tampak wajah tampan khas yang dulu menjadi idolanya.
“Aina!” sapa Ryo
Mata Aina menjadi tajam, Menatap mata yang dulu tampak lembut namun garang yang kini berubah seolah menjadi tatapan yang begitu dingin.
“kamu Aina adik Aira kan?” tanya Ryo langsung
“bukan!” jawab Aina mengelak
__ADS_1
“jangan berbohong padaku?” ucap Ryo masih dengan nada tak kalah dingin dari Aira
“kalau iya kamu mau apa?” tanya Aina seakan menantang
“dimana Aira?” tanya Ryo
“untuk apa kamu bertanya?”
“karena aku mencarinya selama ini” ucap Ryo
“untuk apa mencarinya?” tanya Aina
“karena aku masih memiliki hal yang belum ku selesaikan dengannya” jawab Ryo
“bukan kah kalian sudah selesai?” tanya Aina lagi
“bukan kah kamu membuangnya?” ucap Aina lagi
“aku tidak pernah membuang Ni kamu!” tegas Ryo
“oh ya?” Aina dengan senyum meleceh
“aku mencintainya dan dia yang membohongiku” jelas Ryo dengan tegas dan geraham menangkup, menandakan dendam dalam dadanya seakan bergemuruh mengingat janji Aira yang ingin menemuinya malam itu.
“Jadi kamu lelaki yang menghancurkan kakak ku? Dan apa kamu bilang? Kamu bilang kamu mencintainya?” Aina semakin kesal
“Cih.. munafik!!!!” lanjut Aina tak bisa menahan diri
“jangan asal bicara kamu, kamu tak mengetahui apapun!” ucap Ryo
“tapi aku tahu pasti, kamu yang telah meninggalkannya!!” teriak Aina semakin kesal
Aina beranjak ingin pergi dari tempat itu, tapi lengan Aina dicekal oleh Ryo
“katakan dimana Aira?” ucapnya dengan cengkraman tangan yang kuat, hingga Aina berusaha melepaskan diri.
“ada apa ini Na?” tanya Bams
“gak perlu loe tutupin lagi, gue dah tahu jika dia Adik Aira” ucap Ryo
Bams serasa mendapat serangan jantung. Sedang Aina beranjak melangkah meninggalkan mereka. Ryo bergegas ingin menahan Aina, tapi Bams justru menahannya.
“duduk dulu Yo” pinta Bams
“loe juga pasti tahu dimana Aira kan?” tanyanya kesal menatap Bams penuh kebencian
“apa loe yang sembunyiin Aira?”
“atau loe sengaja jauhin dia dari gue?”
“loe tenang aja.. gue hanya ingin menanyakan satu hal pada Aira, tidak lebih!” jelas Ryo lagi
“loe pasti tahu dimana Aira, karena Aina pasti cerita ke loe!!” Ryo seakan memberondong Bams dengan pertanyaannya
“loe tenang! gue akan kasih tahu kenapa Aina ada disini”
“gue tanya Aira, bukan adiknya” ucap Ryo melangkah meninggalkan tempat itu
Bahaya! Ryo pasti akan mengirim orang untuk mengikuti Aina! Benak itu langsung terpikir
Benar seperti pikiran Bams, sejak hari itu, Aina diikuti oleh beberapa orang, namun Bams tak habis akal, setiap pulang, Aina menuju tempat pak de, dan keluar dari belakang untuk di jemput kembali oleh orang suruhan Bams untuk pulang ke rusun mereka.
Setelah seminggu lebih mengikuti Aina, orang suruhan Ryo menginfokan, jika Aina tak pernah keluar setelah pulang dan kembali berangkat kerja saat pagi.
Ryo menyerah mengikuti Aina karena seperti info sebelumnya, Aina memang tinggal sendiri.
.......
Siang itu Ryo kembali mencoba menemui Aina, tapi dia menolak. Ia terlalu membenci Ryo hingga ia tak sudi melihat lelaki itu.
__ADS_1
Ryo mencoba kembali untuk bicara dengan Bams agar Aina bersedia menemuinya.
“tolong bantu gue Bams!” ucapnya sedih
“bantu gue, paling gak gue ingin bicara dengan Aira, ada hal penting yang ingin gue tanyakan” ucap Ryo lagi
“loe bisa titip pesan ke Aina, nanti gue sampaikan” ucap Bams
Ryo menggeleng, wajahnya memohon.
“gue harus ngomong langsung ke dia!” jawab Ryo
“tapi gue juga.. sulit Yo” jawab Bams
“tolong sampaikan pada Aina, ijinin gue bicara sama Aira meski lewat telpon” ucap Ryo
“gue janji, setelah gue ngomong ke Aira, gue gak akan ganggu hidup mereka lagi” ucap Ryo dengan wajah sedih dan memelas.
Bams merasa tidak tega melihat Ryo. Rasa kasih sayang pada sang sahabat membuat posisinya menjadi sulit. Disisi lain jika ia mempertemukan Aira dan Ryo, mungkin Aira tak sanggup membendung emosinya dan kembali syok seperti cerita Aina.
“jika ni syok, ia akan jatuh pingsan dan kejang” cerita itu terlalu menakutkan hingga membayangkan saja Bams merasa ngeri.
“gue akan tanyakan ke Aina, loe tunggu kabar dari gue” ucap Bams
Ryo menunduk, matanya seperti mengembun. Luapan emosi yang berkecamuk dalam dadanya membuat ia merasa begitu tersiksa. Kerinduan yang berperang dengan dendamnya seakan meluluh lantakkan perasaan dan kejiwaannya saat ini.
Setelah Ryo pergi, Bams menceritakan semua pada Aina. Tapi Aina bersikeras menolak untuk mempertemukan Ryo dan Aira.
“aku takut Ni syok lagi” jawab Aina
“tapi Ryo sepertinya ingin meminta untuk yang terakhir, bukan kah itu justru lebih baik na?” jelas Bams
“enggak! Aku gak mau meresikokan keadaan ni yang membaik akhir akhir ini” jelas Aina menggeleng.
Bams hanya terdiam mendengar jawaban dari Aina.
*
*
Ryo terlihat kembali bersama sang kekasih di salah satu rumah sakit milik keluarganya. Percakapan mereka terlihat mesra saat sang kekasih mengantarnya keluar dari pintu utama rumah sakit tersebut.
Berita yang dimuat lengkap dengan sebuah foto dimana sang wanita mencium pipi Ryo saat ia akan memasuki mobil. Lambaian tangan sang wanita dengan senyuman melepas kepergian Ryo membuat semua infotainment menyimpulkan jika wanita yang Ryo sembunyikan selama ini adalah dia.
Potongan berita itu kembali terdengar di telinga Aira, ia tersenyum namun hatinya menangis.
“akhirnya dia menemukan kebahagiaannya yang sesuai” ucap Aira sendiri merenungi nasibnya.
“Ai...” suara pelan Bams memasuki tempat itu
“bi..” jawab Aira berusaha menyembunyikan ekspresinya. Namun Bams melihat sendiri layar ponsel Aira masih terlihat memunculkan berita Ryo.
“ai.. sebenarnya Ryo beberapa hari yang lalu mengetahui Aina bekerja di cafe ku” ucap Bams
“oh ya?” jawabnya menahan nafas
“hem.. Ryo meminta untuk bicara dengan kamu” ucap Bams pelan dan meragu
“untuk apa?” tanya Aira
“dia hanya ingin menanyakan sesuatu katanya” jelas Bams
Aira menundukkan kepalanya, tundukan kepala yang seakan menggambarkan kecamuk dalam hatinya saat ini.
“dia bilang setelah menanyakannya ia berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi” lanjut Bams
“pertemukan aku dengannya” jawab Aira mengangkat kepalanya
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1