
Dor dor dor
Suara
pintu kamar Rya di gedor (bukan di ketok ya)
“Buka pintunya gak?” ucap Ryo dari luar
“Gak mau” teriak Rya
Suara gedoran pintu semakin menjadi. Kegaduhan pun terdengar dari rumah besar itu di tengah malam. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul 00:30 membuat suara seperti itu begitu nyaring dan menggema diseluruh rumah, membuat semua penghuninya kembali membuka mata mereka.
“Buka! kalau gak ku dobrak ni!!” teriak Ryo
“Gak mau!” jawab Rya lagi dan mereka berdua berusaha menahan tawa karena berhasil mengerjai Ryo malam itu.
“Apaan sih berisik malam malam gini kamu Ri?” Harlan keluar dari kamarnya dalam pose yang setengah melek.
“Rya tuh pah nahan bini Ryo di dalam” ucapnya kesal
“Masih calon!” jawab Rya dari dalam
“Dia calon istriku” jawab Ryo
“Dia kakak iparku” jawab Rya lagi
“Buka gak!!” teriak Ryo semakin kesal
“Ku dobrak beneran nih!!” ancamnya karena Rya tak menggubrisnya
“Biarin!” jawab Rya lagi
Ayahnya masuk ke kamar dengan geleng geleng tersenyum. Ia senang karena rumah kembali ramai dengan berdebatan kedua kakak beradik itu lagi. Rumah yang dulu sangat sepi sejak permusuhan Camila dan Ryo.
“Awas ya! Buka Rya!!!!” gedoran itu semakin kencang
“Gak mauuuu!” jawab Rya lagi
“Satuuuu..... Duaaaa....!!” hitung Ryo
Ceklek
Rya terpaksa membuka pintu kamarnya, ia tak pernah berani menunggu Ryo menghitung sampai tiga, dari dulu jika ia membantah Ryo, dan Ryo jika mulai menghitung, ia akan sangat takut.
“Kamu ngapain mau dobrak pintu segala?” ucap Aira membuka pintu dengan tatapan datar
“Ayo kita tidur di kamar ku aja” tarik Ryo pada tangan Aira yang masih berdiri disana.
Plak!
Aira memukul bahu Ryo. Namun Ryo tak melepas tangannya. Mereka bertiga masih berdiri bersama di depan pintu kamar Rya
“Awww.. sakit sayang!” meringis mengelus lengannya
“Apa apaan kamu?” protes Aira
“Kamu dari pada tidur disini mending tidur sama aku”
Rya membuka mulutnya mendengar Ryo yang bicara tanpa di rem. Wajah Aira merona karena malu.
“Lagian kita juga tidur berdua biasanya” lanjut Ryo lagi tanpa berdosa.
Kini wajah Aira semakin merah. Rya menutup mulutnya dengan kedua tangannya menatap Aira dan Ryo secara bergantian.
“kenapa kamu liat kaya gitu?” tanya Ryo pada Rya kesal.
__ADS_1
Rya hanya menggeleng menelan ludahnya. Ia menipiskan bibirnya seakan mengunci mulut.
“Tenang aja, kakakmu ini dan kakak iparmu cuma tidur! TIIIIDUR Rya!!” ucap Ryo penuh penekanan pada kata tidur.
“Kakak iparmu masih virgin karena dia gak mau disentuh sebelum halal” jelas Ryo lagi pada Rya
Rya kembali menoleh pada Aira dan kembali Aira memukul Ryo dengan sangat keras
“bisa diam gak sih?” ucap Aira kesal karena ia semakin malu pada Rya.
Gila, kak Aira bisa bikin kak Ryo nahan gitu? Busyeet! Benak Rya yang membulatkan matanya
“Lepasin!” Aira menarik tangannya
“Ayo sayang kita ke kamar ku aja!” pinta Ryo memelas
“aku mau tidur sama Rya malam ini, lagian apa kata orang aku tidur sama kamu, nanti akan menimbulkan fitnah aja” ucapnya
Rya menggembungkan kedua pipinya mencoba menahan tawanya.
“kan kita gak ngapa ngapain juga. Cuma tidur aja” jelas Ryo lagi
“gak! Aku mau tidur sama Rya aja” ucapnya mundur mendekati Rya.
“asssyeekkk” gumam Aira pelan tersenyum
"ayolah sayang... aku bakalan gak bisa tidur!" keluh Ryo meminta
Aira hanya menggeleng dan sedikit kesal pada Ryo yang terbuka tentang hubungan mereka selama ini yang ia anggap memalukan untuk dikatakan pada orang lain, meskipun itu adiknya sendiri.
“Senang kamu!” protes Ryo melirik tajam pada sang adik
“ayo kak kita masuk! Disini berisik!” ucap Rya menggandeng tangan Aira dan
“aakkhhh!” teriak Ryo kesal diikuti tawa Rya dan Aira setelah Aira menutup pintu kamar Rya dan menguncinya.
Harlan dan Camila yang mengintip ikut tertawa pelan menutup kamar mereka. Bahkan para pembantu yang berada di lantai bawah ikut terkekeh mendengar pengakuan Ryo.
“kok bisa ya mah, Ryo kuat nahan gak nyentuh Aira? padahal mereka pacaran sangat lama” ucap Harlan
“karena cinta pah.. cinta...!” ucap Camila memeluk suaminya
Rumah pun kembali hening, memancarkan kedamaian penghuninya saat ini. Semua makhluk penghuninya kembali ke sarang mereka. Kembali dengan perasaannya masing masing, dan kembali dengan senyuman mereka menemukan fakta di tengah malam.
**
Di tempat lain.
Kiky sendiri menatap malam dari jendela apartemennya.
Bukankah malam ini seharusnya kamu disini? Benak Kiky mengingat Bams yang kembali membatalkan pertemuan mereka dengan alasan ada job yang tak bisa ia hindari.
Kiky kembali menatap pesan orang suruhannya.
📲‘tuan Bams berada di apartemennya’ pesan itu tertulis
Kiky hanya bisa menunduk, mencoba meratapi nasibnya.
“mungkinkah aku akan seperti tante?” ucapnya sendiri
Pikiran pikiran Kiky mulai berbicara
Sampai kapan aku sanggup kamu perlakukan seperti ini Bams?
__ADS_1
Aku ingin mengatakan keluhanku
Aku ingin mengatakan aku marah
Aku ingin mengatakan aku gak terima
Tapi .. kalau aku bicara.. apa kamu akan marah?
Apa kamu tetap bisa bersama ku?
Apa yang harus ku lakukan untuk meraih hati kamu?
Kenapa perempuan itu langsung bisa masuk ke hati kamu?
Apa kurangnya aku?
Bukankah aku sangat penurut?
Menuruti semua mau kamu tanpa mengeluh?
Bukankah semua maunya kamu aku ikuti?
Mam.. apa yang harus ku lakukan?
Aku seperti budaknya karena cinta..
Karena cintaku padanya mam
Dada Kiky semakin sesak seiring begitu banyak keluhan pikirannya. Air matanya menganak sungai meski tanpa terisak. Air mata yang terus lolos seakan tak bisa terhenti karena mengikuti semua kekacauan pikirannya.
Kepedihan hati yang ia lawan dengan cinta semakin membuatnya sakit. Posisinya seperti pedang bermata dua, kemana pun mengayunkan akan tetap melukainya.
“jika wanita itu selingkuhanmu! Aku mungkin akan mendatanginya dan memintanya meninggalkanmu, tapi wanita itu ada di hatimu, apa yang bisa ku perbuat agar ia keluar dari sana, sedang kau menyimpannya begitu rapi” ucapnya sendiri menatap bayangan samar dirinya di pantulan kaca jendela.
Apa yang harus ku lakukan?
Benaknya kembali bicara.
Ia begitu kecewa saat ini, kerinduannya pada Bams tak lagi mampu ia tahan. Ia berpaling dan mengambil kunci mobil. Meninggalkan ponsel dan semuanya. Ia hanya mengenakan pakaian rumah. Tak peduli lagi wajahnya seperti apa. Ia pergi.
Kiky memacu mobilnya dengan kencang. Ia tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi karena keegoisannya untuk menemui Bams. Ia hanya tak mampu membendung rasa rindu pada kekasihnya. Ia tak peduli setelah ini Bams akan marah padanya atau tidak. hatinya terlalu berat untuk ia lawan, sakitnya terlalu pedih, otaknya terlalu kacau untuk ia kendalikan.
Ting tong ting tong
Suara bel berdentang. Bams yang hampir terlelap terbangun oleh gangguan di jam yang mendekati tengah malam. Ia menutup kembali telinganya dengan bantal. Tapi suara bel itu terus berdentang. Sangat menggangu pendengaran dan kenyamanan yang baru beberapa menit ia jalani.
“shi*t!!” umpat Bams kesal
“siapa sih!??” ia terpaksa bangun melangkah kesal menuju pintu.
Ceklek
Pintu terbuka. Terlihat Kiky yang mematung dengan mata sembab dan basah. Kusut dan terlihat menyedihkan. Bams menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia mengenakan sendal dan baju rumahan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Tetap dukung Author ya..
makasih buat yang udah ninggalin jejaknya.
Buat yang belum ninggalin jejak, tolong dong tinggalin paling gak satu jempol aja.. hehehhe
love you all
__ADS_1