
Aira masih betah dalam pelukan sang suami, ia enggan pergi dan terus bergelayut manja di dada hangat cintanya. Lelah dari sesi kesekian kali peleburan cinta mereka membuatnya malas beranjak.
“Sayang!” ucap Ryo sambil tangannya bermain pada boba favoritnya.
“mungkin minggu depan aku keluar kota” ucapnya
“hem! Aku liat jadwal kamu kok” jawabnya dengan nada menahan karena permainan jari Ryo.
Setelah kejadian ngambek versi sensitif, kini Aira memegang langsung jadwal sang suami.
“huft!” keluh Ryo mengingat ia akan meninggalkan candunya yang sekarang ia nikmati.
“aku senang kamu aktif lagi” ucap Aira mendongak pada sang suami.
Cup! Ryo mengecup bibirnya.
“oya?”
“hem, tiap kamu melakukan kegiatan keartisan, ada pancaran mata kamu yang lain yang menggambarkan sesuatu.. entah itu kepuasan, kebagiaan atau kebanggaan, aku tak bisa bedakan” jelas Aira tersenyum
“tapi aku sedih!” ucap Ryo menatap dalam mata sang istri
Aira memutar tubuhnya menaiki dada Ryo bertopang pada tangan yang ia letakkan di dada bidang itu.
“kenapa?”
“karena gak bisa gini sama istriku” ucap Ryo menatap nakal
“aku malah senang!” ucapnya manja
“hem?” Ekspresi Ryo berubah seakan menanyakan kembali
“aku bisa tidur” ucap Aira sengaja membangkitkan kembali kekesalan Ryo yang pasti akan melahapnya kembali
“apa kamu bilang?” kini Ryo membalik tubuhnya sedang Aira masih terkekeh senang.
Sesi itu berlanjut kembali.
“udah ya! Aku besok ada konseling” Pinta Aira agar Ryo tak meminta lagi padanya
“kok gak ngomong?” ucap Ryo membelai bahu sang istri dan mengecupnya
“ye.. dasar pelupa!” Aira mengusap habis wajah Ryo dengan tangannya.
“ayo tidur! Kamu gak fit, besok aku kena semprot mamah” Ryo menyelimuti sang istri.
Mereka pun terlelap.
Hari ini Aira kembali menjalani konseling. Rya kembali mengosongkan jadwalnya untuk menemani Aira. selama sesi konseling, Aira masih saja tak bisa membuka masalahnya pada konselor. Ketakutan akan masalahnya diketahui orang lain membuatnya tak bisa mempercayai siapapun mengungkap semua masa lalunya.
Aira hanya menjawab dengan senyuman.
“ini kesekian kali aku konseling, tapi kok aku tetep gugup ya Re?” tanya Aira
“karena kakak belum mempercayai dokter itu” Rya menjelaskan
“iya juga sih!”
“kakak.. cobalah lebih terbuka” pinta Rya saat Aira keluar dari ruang dokter yang
menanganinya.
“andai aku bisa” Aira menunduk sedih.
****
Hari ini Aira kembali melakukan konseling. Tapi ia diminta untuk memasuki sesi terapi yang lain. Dan hari ini ia di dampingi langsung oleh sang suami.
__ADS_1
“pantes ruangannya beda, kamu ikut” ucapnya tersenyum.
Sesi terapi dan pengobatan pun dimulai.
Ryo merasa gugup, karena hari ini mungkin ia akan membuat Aira membuka masa lalu menyakitkannya yang selama ini ia simpan sendiri.
Aira berbaring terpejam. Dokter mulai membimbingnya hingga ia mampu memasuki ke alam bawah sadar Aira.
Perlahan cerita masa kecil mereka tarasa menyenangkan, hingga pada waktu setelah kematian orang tuanya, emosi aira semakin tak stabil. Perlahan cerita yang menyebabkan traumanya mulai terungkap.
“pergi kalian, pergi!!!” teriaknya dengan keringat yang seakan mandi.
Ryo yang melihat sang istri seperti itu semakin tak tega. Ia meminta menyudahi terapi
“cukup mah! cukup! Ryo gak tega!” ucapnya
Camila menahan Ryo dan menggeleng
“kita harus tahu pemicunya dulu” jelas Camila
“tapi mah!” protes Ryo
Sedang Aira semakin mengeluarkan semua kejadian mengerikan yang menimpanya. Tubuhnya menggigil dan menangis hebat. Mengikuti semua ingatan yang mengerikan di bawah alam sadarnya. Mengingat kejadian kejadian dan tragedi hidup yang ia lalui.
KEJADIAN MASALALU YANG MUNCUL
Suara ketukan pintu membuat Aina berlari menuju pintu depan. Ia meninggalkan sang kakak yang memasak telur untuknya. Ditinggalkan orang kedua orang tuanya dengan waktu hampir beriringan seakan sulit diterima anak belasan tahun itu. ia mencoba tegar demi sang adik.
“cari siapa?” tanya Aina mendongak pada tubuh besar yang berdiri di depan pintu mereka.
“kau siapa?” tanya sang pria tegap yang berdiri di depannya.
“kata papah aku tidak boleh memberitahu siapa diriku pada orang asing” jawabnya polos
“ternyata ibumu pintar juga” senyum sinis lelaki itu.
“Di.. telurnya udah matang” panggil Aira pada Aina.
Mata Aira membulat saat ada tiga orang lelaki tinggi berpakaian jas hitam dan rapi berdiri di depan pintunya yang terbuka.
“siapa Anda?” tanyanya merasa takut, karena beberapa hari yang lalu pihak Bank sudah memberi mereka keringanan untuk tinggal disana.
Lelaki itu menatap lekat pada Aira.
“kau pasti putri Andini! Kau begitu mirip dengannya, bawa dia!” menatap Aira.
Mata Aira membulat sempurna, rasa takut menyelimutinya.
Bergegas ia menarik tangan sang adik dan berlari masuk kedalam rumah. tapi terlambat mereka telah berhasil menangkap mereka.
Aina menangis sejadi jadinya. Ia tetakutan.
“apa dia adikmu?” tanya lelaki itu menunjuk Aira
Aira yang cerdas memahami satu hal, lelaki itu mengenal ibunya dan tak mengetahui Aina adalah adiknya.
“dia adikku, tapi dia diadopsi saat kecil” ucapnya gugup
“antar ia ke panti asuhan!” perintah lelaki itu yang sudang membawa Aina seperti membawa karung beras kecil di pinggangnya.
“niiiiiiii... niiiiiiiiii... tolong aku ni.. aku takut ni.. niiiiiiii!!!!!” teriak Aina dengan tubuh berontak, kaki dan tangannya terus menendang dan melawan.
Sedang tubuh kecil Aira ditahan oleh lelaki yang memerintah mereka.
“Diiiiiiiiiii... Diiiiiiii...” Aira ikut menangis
__ADS_1
“tuan tolong jangan sakiti adikku” ucapnya menangis
“kalau kau menurut, adikmu tak akan ku sakiti” ucapnya
“aku akan menurut tuan, aku akan menurut!” ucapnya
“turunkan dia!” pinta lelaki itu.
“kalian ambil semua berkas dan foto di rumah ini, jangan ada yang tersisa” ucapnya lagi pada anak buahnya yang semakin banyak memasuki Rumahnya. Rumah itu seperti diobrak abrik oleh mereka.
Mereka mengeluarkan semua foto dari frame dan hanya membawa kertas kertas penting dari dalam rumah itu. Termasuk ijazah dan surat surat lainnya. Aira hanya menatap mereka sambil memeluk Aina.
“jangan ada yang tertinggal, aku tidak ingin ada jejak sedikit pun disini yang tertinggal!” perintahnya dingin.
Lelaki itu kemudian menerima telpon dari seseorang.
“aku tinggal, kalian bereskan semuanya” perintahnya kemudian pergi diikuti beberapa orang.
Tinggallah Aira, Aina dan tiga orang lelaki disana.
“ni.. takut!” isak tangis Aina bergantian dengan Aira. Aira menghapus air matanya kasar. Gadis kecil itu sadar. Ia satu satunya kini tempat adiknya berlindung.
“tenang, ada aku! Jangan nangis ya Di” ia merangkul bahu adiknya yang duduk dilantai bersamanya
“ayo!” lelaki itu menarik lengan Aira berdiri. Aira dan aina dibawa paksa oleh mereka ke dalam mobil.
Aira duduk terpisah dengan adiknya karena lelaki besar itu berada ditengah mereka.
Aina masih saja menangis, ia ketakutan.
“tuan, bolehkah aku duduk disitu, adik ku ketakutan, aku ingin memeluknya” pinta Aira.
Kini aira duduk di dekat pintu mobil dengan Aina ditengah.
“tenang lah di .. tenang ya.. jangan takut, ada aku!” ucapnya terus merangkul sang adik dan berbisik karena takut dimarahi mereka.
“ni.. pipis!” bisik Aina
“ngompol aja ya?” perintah Aira pada Aina.
“hah!” Aina menatapnya takut
Aira mengangguk dengan tatapan meyakinkan sang adik.
Aina pun pipis disana.
Lelaki yang disampingnya merasakan basah pada bokongnya pun terperanjat
“sialan! Dia ngompol!” ucapnya teriak sesaat kemudian mobil berhenti
“kenapa tidak ngomong!” bentaknya yang membuat Aina kembali menangis. Dan Aira kembali menarik sang adik dalam pelukannya.
Lelaki itu meletakkan tas kebawah. Dan bergegas turun. Sedang kedua temannya hanya tertawa. Dari arah berlawanan. Aira melihat mobil polisi mengarah ke mereka. bergegas ia mengambil tas kecil yang tadi mereka ambil dan menarik sang adik dan membuka pintu.
“hei! Kau!” lelaki yang menjadi supir melihat Aira menarik sang Adik dan mencoba menahan Aina.
“lepaskan adikku!” tarik Aira
“kaaaakkkkk!” teriak Aina
“gigit Di!” ucap Aira
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nah! buat yang dulu penasaran kenapa Aira selalu memakai jaket hodie dan topi untuk menutupi wajahnya, itu karena kejadian ini.
Tunggu episode selanjutnya ya..!
__ADS_1