
Data kematian!
Berisi tentang berkas operasi jantung sang ibu tertulis disana. Keterangan demi ketarangan terbaca. Setiap lembar terus terungkap. Detak jantung Aira berpacu, tubuhnya mendadak memanas, Air mata Aira terus menetes tanpa terhenti saat pada lembar terakhir yang ia baca, netranya seakan meyakinkan otaknya yang tak percaya dan tak terima melihat lembar dimana tertulis sebuah nama penanggung jawab dari kesalahan pada saat operasi sang bunda. Sebuah nama yang kini menjadi ayah baginya, lelaki yang lembut dan penyayang, yang dari awal menerimanya sebagai Aira. tanpa bertanya maupun mengeluhkan posisi kehidupannya. Lelaki yang selama ini selalu hangat dan perhatian padanya, yang telah memberikan kembali sosok seorang ayah baginya.
“papah!” gumam Aira tak percaya.
Tubuhnya lemah, tulangnya menghilang, ototnya membubur, matanya mengabur. Semua dunia terasa gelap, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Fakta yang terlalu menyakitkan untuk ia ketahui. Dibalik kebahagiaannya, ia telah merasa bersalah pada sang bunda. Ia menikahi putra dari pembunuh ibunya.
Aira begitu terpukul. Tanpa pikir panjang. Ia merapikan berkas itu dan meletakkannya begitu saja. Ia menyeka air matanya, berusaha menahan agar tak terlihat mencurigakan.
Detik kemudian, ia berjalan keluar rumah dengan cepat, menaiki sebuah taksi online yang ia pesan. Aira Meninggalkan semua agar tak terlacak. Aira memasuki apartemen dan Aira mengambil kotak berwarna pink dan mengambil tas besar agar tak terlihat mencurigakan. Ia kembali memesan taksi, Aira turun di sebuah terminal dan kembali menaiki sebuah taksi argo menuju sebuah tempat. Hanya tempat itu yang ada pikirannya saat ini.
Air matanya mengalir tak terhenti, bak sungai yang terus mengeluarkan sumbernya yang tak pernah habis. Aira berusaha menutupi dirinya dengan topi yang ia beli. Tak terlihat seperti dulu. Sesekali driver taksi menoleh padanya melalui spion karena isak tangis Aira yang tak bisa ia tahan.
“maaf pak!” ucapnya menyadari lirikan sang supir
“tak apa nona, sudah biasa!” senyumnya
Sang supir memberikan bungkus kecil berisi tisu
“teirma kasih pak!” ucapnya
Kepanikan mulai terjadi di mension utama, sang nona pergi tanpa pengawalan, karena saat itu Aira keluar dari gerbang dengan sangat cepat.
Berselang beberapa menit, laporan itu diterima oleh Haris yang masih dalam perjalanan kembali ke kantornya untuk mengurus pemindahan saham yang diminta Ryo untuk Aira.
“apa?” Haris teriak mendengar penjelasan seseorang di telpon.
“kembali ke mension!” perintahnya
Sang supir pun putar balik dengan kecepatan penuh. Pikiran Haris mulai kacau, tiga amplop yang tadi ia kembalikan bukanlah berisi hal biasa. Ketakutan dan ketidak percayaan pada Aira yang miskin mulai menyelimutinya.
Laju mobil yang kencang terasa pelan bagi Haris yang saat ini terasa ingin terbang menuju mension utama.
“cepat!!!” ucapnya lagi
Sang supir tak berani menggubris. Ia hanya menginjak pedal gas penuh agar sang tuan puas.
Haris berlari memasuki rumah dimana keriuhan mulai terlihat.
“bagaimana kalian bisa kehilangan nona besar?” bentaknya pada empat pengawal yang sudah berdiri tegap.
Tak lama sebuah mobil memasuki halaman. Mobil yang tak kalah mewah, dan turun seorang pemuda tegap dengan perawakan yang atletis serta wajah yang disegani. Seketika wajah itu terlihat layu, ketika mengetahui sang nona besar telah menghilang.
“Ken! Apa saja kerjaanmu hingga hal sekecil ini kau tak bisa tangani!” bentak Haris pada anaknya.
“pah, aku tidak mengurusi nona jika di mension, itu perintah tuan muda!” ucapnya membela diri.
“tapi sekarang nona dimana? Bukan di mension bukan??!!” Haris tak kalah marah
__ADS_1
Ken hanya terdiam. Dia tahu dia kembali lalai.
“cepat kau cari nona di seluruh kota, aku yakin dia tidak akan jauh, CEPPAATTTT!!!!” teriak Haris.
Mereka membubarkan diri, seluruh anggota mereka dihubungi, pencarian mulai dari pelacakan ponsel sang nona yang ternyata masih berada di mension tersebut.
Haris meminta sang bibi membuka kamar tuan muda. Ia menemukan ponsel berdering keras dan terlihat panggilan video dari seorang di kejauhan.
Haris memejamkan mata, tak berani menerima apa yang akan ia katakan padanya jika sang tuan muda mengetahui ketiadaan sang istri.
“kemana nona sebenarnya bi?” tanya Haris.
“Saya tidak tahu tuan, tadi nona terlihat senang, camilan dan jusnya saja masih di balkon, saya melihat nona pergi tergesa dengan tas sedikit besar dan bukan tas biasanya, ia masuk ke mobil dan saya lihat semua pengawal masih dibelakang. Saya bertanya kenapa nona tidak diikuti, mereka pun baru sadar”
Haris menunduk menyadari kesalahan anak buahnya. Ia menoleh pada tempat tidur. Terlihat sebuah map berwarna biru. Jantung harus berdetak tak karuan, matanya terasa berkunang kunang, mencoba melawan pikiran dan netranya yang membenarkan pandangannya.
Berkas biru yang jelas merupakan sebuah pedang tajam yang akan memutus ikatan antara Ryo dan Aira jika Aira membacanya.
Dan ternyata! Berkas itu berada disana, terpampang jelas. Tak mungkin sang nona tak membacanya karena didalamnya berisi tentang diri dan keluarganya.
“Tuhaaann!” gumam Haris yang tiba tiba lulutnya terasa lemas.
“Tuan!” bibi mencoba membantu Haris yang terhunyung mendekati tempat tidur Ryo.
“bibi! Kita baru saja mendapat musibah!” ucapnya
Bibi hanya menatap khawatir pada Haris. Mereka sudah saling mengenal begitu lama, ia sangat tahu, jika Haris seperti itu, itu berarti masalah keluarga itu sangat besar.
Krrriiiiinng... krrriiiiing..
“halo!” jawab bibi
“bi.. Rara dimana ya? Saya telpon gak ngangkat!” tanya Ryo
“nona sedang keluar tuan, sepertinya HP nya ketinggalan di kamar!” jelas bibi
“ah,... kebiasaan.. ya sudah bi!” Ryo menutup telpon
Bergegas Haris mengirim pesan pada Ken agar mengatakan ia mengikuti Aira belanja. Tapi sayangnya Ryo tak menghubungi Ken, tapi orang lain.
Ryo bersandar santai pada sebuah kursi manager ia memutar mutar dirinya membuat dia semakin nyaman.
“Syen! Berikan ponselnya pada istriku” saat Syen menerima panggilan dari Ryo
“tuan muda! Nona belum kami temukan!” jawab Syen dengan sedih
“apa maksudmu belum ditemukan?” Ryo langsung berdiri dari duduk santainya dengan suara yang begitu nyaring.
“maaf tuan muda!” ucap Syen lirih.
“jelaskan syeeeen!!!!” teriak Ryo lagi
__ADS_1
“nona tadi mendadak pergi dengan taksi online tanpa sempat kami ikuti. Karena sebelumnya nona santai dan ingin menikmati senja di balkon! Saya pulang karena sudah sore dan nona memang tak berencana keluar, tapi saat saya sampai di rumah, saya dihubungi karena nona pergi dengan taksi online!” Syen menjelaskan sambil menangis. Ia ketakutan, ia telah mendapat kepercayaan dari Haris untuk menjaga sang nona besar, tapi sekarang semuanya akan kembali ke pengaturan awal yang mungkin akan mengembalikan Syen hanya menjadi wanita eks panti asuhan yang tanpa pekerjaan.
Ryo terduduk. Ia berusaha berpikir positif.
Sayang kamu Cuma jalan jalan kan? Kamu Cuma bosan kan? Kamu Cuma kembali ke apartemen kita kan? Kamu gak pergi kan?
Pertanyaan pertanyaan langsung muncul di dalam kepala Ryo.
Tidak mungkin dia pergi begitu saja! Hanya pikiran itu yang mampu membuat Ryo bernafas. Langkahnya pasti dan tegap, pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke ibu kota.
Sebuah taksi memasuki halaman hijau sebuah resto kuliner nusantara di pinggiran kota. Ya! Resto Pak De, tempat di mana ia dan Bams dulu makan bersama, Bams menceritakan siapa pak De dan di sanalah tempat persembunyiannya.
Melihat Aira yang datang, Pak De berlari keluar mendekati Aira.
“nona!” sapanya
“pak de, tolong saya..” isak tangis masih terdengar olehnya.
“nona kenapa?” tanya sang istri yang baru saja mendekat
“Bu de.. tolong saya!” ucapan itu kembali terdengar
“ayo masuk dulu!” Bu De membawa Aira ke dalam.
Ia memberi minum pada Aira agar tenang. Setelah menghabiskan minum. Aira menatap Pak de dan istri.
“bisa saya pinjam HP pak de? Saya ingin menghubungi Bams” ucapnya lagi dengan mata sembab.
Pak de langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Bams, kemudian memberikan ponsel pada Aira.
Bams masih sibuk menandatangani foto foto yang akan dibagikan untuk fans Boys. Kiky terus saya menatapnya dengan menggoda.
“jangan menggodaku!” ucap bams tanpa melirik ke Kiky
“iiihh.. sayang malam ini jatah aku sama kamu! kenapa diganggu sama ini sih” protesnya pada foto foto itu.
“ini tinggal dikit kok!” jawab dengan tarian spidol diatas fotonya.
“kamu bilang ribuan?” tanya Kiky lagi
“udah ku taruh mobil, sisa ini” jawabnya lagi tanpa melirik Kiky dan masih fokus menandatangani.
Ddrrrtttt ddrrrtttt
Bams melirik ponselnya, tertulis Pak De disana. Ia mengernyitkan kening menatap panggilan tersebut. Tak pernah sekalipun lelaki itu menghubunginya, selalu ia yang menghubungi ketika ingin berada disana.
Bams mengangkat telpon setelah lama bergetar.
“ya pak de!” jawabnya sambil menoel hidung Kiky.
Bersambung!
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Jangan lupa tinggalkan jejak dan jempolnya ya.. terima kasih