
Siang itu Aira memberanikan diri menemui calon mertuanya. Ia menemui Rya di rumah sakit.
“kak!” sapa Rya mendekati Aira yang menunggunya
“Re!”
Mereka pun berpelukan.
“ada apa kak?” tanya Rya
“kamu gak cerita kakak kamu aku kesini 'kan?” tanya Aira
“gak! Tenang aja!” ucap Rya menenangkan Aira.
“ada apa kak?” tanya Rya
“aku ingin ketemu sama tante” ucap Aira dengan suara bergetar. sangat jelas terdengar betapa ia gugup waktu itu.
“kak.. ada apa?” Tanya Rya cemas melihat Aira yang berkeringat.
Rya mengingat bagaimana kondisi Aira dulu setelah jalan jalan bersamanya.
“Cuma pengen ngobrol sama tante.. kira kira aku ganggu gak ya?” tanya Aira
“ya gak lah.. aku tanyain dulu ya sama mamah” Rya mengambil ponselnya dan menghubungi sang ibu. Ia meninggalkan Aira menunggu.
Aira meremmas tangannya sendiri yang kini berkeringat basah. Ia mencoba melawan dirinya hari ini. ia ingin mengatakan siapa dia pada sang calon mertua. Baginya jujur akan lebih baik. Untuk hasil akhir dari keputusan itu pun ia tak berharap banyak. Tapi paling tidak ia merasa tenang karena tak membohongi siapa pun. Apalagi selama ini Camila menerima dan memperlakukannya dengan sangat baik.
“kak?” panggil Rya. Aira mengangkat kepalanya menatap Rya yang berdiri.
“ayo.. mamah dah selesai meeting!” Ajak Rya
Aira berjalan dengan nafas yang tak teratur. Sesekali ia merasa lututnya lemas dan berpegang pada dinding tembok lorong rumah sakit saat menuju lift.
“kakak gak papa?” tanya Rya yang paham dengan kondisi Aira.
“gak papa” ucapnya dengan berusaha mengatur nafas.
Rya masih memegang kedua bahu Aira yang memegang satu lututnya. Ia menarik nafas pelan dan membuangnya berkali kali, seperti yang Ryo sering ajarkan pada Aira untuk melawan rasa gugup dan traumanya.
“kakak yakin mau ketemu mamah?” Rya merasa cemas melihat Aira begitu gugup
Tapi Aira mengangguk yakin. Meski kini dengan wajah sedikit pucat.
“Ayo Re! Nanti tante kelamaan nunggunya” ucapnya sudah mampu berdiri tegak.
Aira mampu mengayunkan langkahnya menuju lantai teratas gedung rumah sakit terbesar yang menjadi pusat dari seluruh cabang di seluruh negara itu.
Tok tok tok
Sang sekretaris mengetuk pintu dan membuka pintu untuk Aira. Aira menarik nafas dan melangkah masuk pada sebuah ruangan besar yang sangat nyaman.
“selamat siang tante!” sapa Aira menyapa di depan pintu
“selamat siang Aira, masuklah!” ucapnya menyambut berdiri dari kursi kebesarannya.
Ia menyambut Aira hangat. Ia menerima pemberitahuan dari Rya yang mengatakan Aira sangat gugup ingin bertemu dengannya.
“maaf mengganggu waktu tante” ucapnya lagi
Saat memeluk Aira, Camila mampu merasakan tubuh Aira yang gemetar.
“duduklah” Camila mengajak Aira duduk pada sofa.
__ADS_1
Aira duduk dan langsung menggenggam tangannya sendiri. Jika tadi rasa gugupnya yang hanya mencapai 99% kini ia merasakan seribu kali lebih gugup.
“ada apa Ai?” tanya Camila yang melihat Aira semakin berkeringat di ruangannya yang sangat dingin.
“eemmm.. eemmm.. anu tante..ehmm” Aira mencoba mengeluarkan kata kata dari tenggorokannya yang terasa kering.
"sebentar!" Camila berdiri menuju mejanya dan memencet tombol telpon sang sekretaris
“Beta, bawakan segelas air putih sekarang!” pintanya
Sedang Aira merasa malu dan semakin gugup.
Ya tuhan.. bantu aku, mengapa aku sangat gugup? Benak Aira
“tak apa.. cobalah santai, anggap tante teman kamu” ucap Camila kembali duduk di dekat Aira. Kini ia mengelus bahu Aira agar membuatnya tenang.
“anu tante.. emmm” kembali Aira tak mampu mengatakannya.
Sang sekretaris masuk membawa segelas air.
“minum lah dulu!” pinta Camila.
Aira mengambil gelas yang Camila berikan, tangannya begitu gemetar. Sang sekretaris yang masih berdiri melihat betapa gugup gadis itu.
“kamu keluarlah!” ucap Camila pada sekretarisnya.
Camila mengambil gelas yang Aira pegang setelah menghabiskan setengahnya. Camila mengambil tangan Aira yang basah.
“coba bernafas dulu..” pintanya
Setelah menarik nafas beberapa kali, kini Aira sedikit tenang.
“maaf tante!” ucapnya lagi yang merasa mengambil begitu banyak waktu wanita tersibuk itu
“tak apa!” Camila mengelus bahunya
“hem?” Camila masih menunggu dengan sabar
“Ryo.. meminta .. saya .. emmm... menikah” ucapnya dengan gugup dan sela nafas.
“iya, tante sudah tau” jawab Camila terus mengelus bahu Aira
“tapi...” Aira menunduk
“kamu menolak?” sergah Camila cemas.
Aira menggeleng.
“ah.. syukurlah” ucap Camila
“tapi tante... Ryo katanya belum cerita siapa saya” ucap Aira merasa takut.
“iya, tapi tante gak masalah kok, yang penting kamu mencintai Ryo dan ingin membahagiakannya” ucap Camila
Sejak kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Ryo, Camila tak pernah lagi berdebat dengan putranya tersebut, baginya sekarang melihat tawa Ryo lebih berarti dari pada keinginan yang ia paksakan
“tapi tante, tante harus tau, siapa gadis yang dicintai putra tante...” ucap Aira yang tak terlalu gugup setelah mendengar kata kata camila
“baik .. bicaralah! Tante akan dengarkan”
“saya.. saya...” Aira merasa takut
“saya.. Cuma seorang anak yatim piatu, saya juga masih bertanggung jawab .. terhadap adik saya yang sebentar lagi lulus kuliah..” ucap Aira
Ia menghela nafas berkali kali sebelum melanjutkan ceritanya
Anak ini begitu gugup menceritakan dirinya.. pasti bukan cerita yang bagus.. tapi salut nak.. kamu berani menemuiku untuk mengatakan siapa dirimu! Benak Camila
__ADS_1
“saya sangat miskin tante!” ucap Aira dan kembali ia menarik nafas dan menatap Camila.
Camila tersenyum tipis yang menggambarkan bahwa itu bukan masalah.
“saya pernah bekerja menjadi kuli... buruh cuci... buruh di pasar... pembantu panggilan... dan masih banyak kerjaan kasar yang saya lakukan..” Aira menunduk
“pekerjaan apapun yang penting halal saya kerjakan agar bertahan hidup untuk saya dan adik saya” ucap Aira meneteskan air mata dan kucuran keringat yang begitu deras.
Camila mengambil tisu untuk Aira.
“saya seseorang yang sangat tak pantas untuk putra tante” ia terisak mengelap hidungnya yang mulai berair masih menunduk.
“dulu saya sudah mengatakan pada Ryo bahwa saya tak cocok dengannya, tapi Ryo bersikeras ingin menjalani hubungan ini” lanjutnya
“saya minta maaf tante, saya egois tetap berani mencintai putra tante” ucapnya mengangkat kepala dan menatap Camila dengan mata puppy.
“jadi menurut kamu kamu tidak cocok dengan Ryo?” tanya Camila
Aira menunduk, kemudian ia menunduk pelan.
“jadi menurut kamu karena kamu hanya punya pekerjaan biasa .. jadi tidak cocok dengan Ryo?” tanya camila lagi
Aira kembali mengangguk dan terus menggenggam tangannya sendiri hingga memerah. Perasaan takut terus menyelimutinya. Mendengar setiap pertanyaan yang seakan mengingat betapa tak berharganya seorang Aira bagi seorang Ryo.
Tuhan .. Aku pasrah! Hanya itu yang terucap di benak Aira saat ini
“bukan karena Ryo seorang casanova?” tanyanya lagi
Aira menggeleng.
“itu sebabnya dulu kamu ninggalin Ryo?” tanya Camila lagi
Aira mengangkat kepalanya menatap Camila dengan tatapan bersalah.
“waktu kamu ingin pergi dari Ryo, itu yang menyebabkan Ryo kecelakaan dulu ‘kan?” tanya Camila
Aia terisak mengingat itu, dan sepertinya sang ibu telah mengetahui penyebab kecelakaan itu adalah dia. Aira kembali menunduk, mereemmas kuat tisu yang ada di tangannya.
“tante tanya.. saat Ryo seperti itu, apa yang kamu rasakan?” tanya Camila
“saya sangat menyesal!” ucapnya menunduk lebih dalam dan deraian air matanya terus jatuh.
Camila menghela nafas lega, tapi berbeda dengan apa yang Aira baca. Keheningan kembali sejenak
“baguslah.. jadi ingat! jangan melakukannya lagi” ucap Camila dengan nada yang memang terdengar bijak.
“maafkan saya tante” ucap Aira lagi.
Saat itu Ryo baru memasuki ruang kantor itu dan mendengar ucapan Aira
“mamah!!” ucap Ryo nyaring membuat kedua wanita beda umur itu menoleh pada pintu yang terbuka lebar.
Ryo berjalan cepat mendekati mereka.
“mamah! apa apa an ini?” tanya Ryo dengan wajah emosi.
Camila melengos. Ia paham kekhawatiran putranya saat itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Tolong dukung novel author ya..
tinggalin Vote, Like & Komentarnya
Ngasih kopi atau Rose juga boleh.. hehehe (author ngarep)🤭🤭
Terima kasih, Love You all
__ADS_1