Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Perjanjian pertemuan Aira


__ADS_3

“kenapa? Apa kamu yang membuatnya pergi?” tanya Aina


“mungkin aku salah satunya” ucap Bams lirih


“jika kamu masih mengingatnya, doakan dia!” ucap Aina melangkah dan melepaskan tangan Bams


“doakan dia?” gumam Bams dengan suara berbisik


“tunggu Aina!!” kejar Bams


“apalagi?” tanyanya kesal


“jelaskan padaku!” pinta Bams


“lupakan! dan jangan pernah mengganggu ku dengan kiriman kiriman uang itu, aku tidak membutuhkannya!” ucap Aina ketus dengan tatapan sangat kesal.


“baiklah!” Bams mengalah.


Melawan Aina yang sedang emosi tidak mungkin dengan paksaan, itu berarti ia sama saja membunyikan genderang perang baru.


Aina berjalan kesal keluar dari cafe. Tanpa ia sadari ia tengah berpapasan dengan seseorang yang meliriknya.


Gadis itu keluar dari ruang X? Benak Jordi mengerutkan keningnya


Ruang X adalah ruang khusus hanya untuk Boys. Cafe milik bams menyediakan khusus satu ruang dimana ketika anggota Boys akan berkumpul disana tanpa arahan.


Saat di perjalanan pulang, Aina terus memikirkan dan menelaah sendiri omongan Bams. Ia mengingat dulu lelaki itu yang mengirim uang untuknya setiap bulan, kemudian berhenti, terus Aira pernah mengatakan jika Bambang Sutya adalah atasannya.


Lelaki itu mengirim uang untukku pasti karena ni? Benaknya


“tapi dia menanyakan ni dan tak menanyakan tentang anaknya” gumamnya


Dia bilang sahabat?


Apa sahabat segitunya?


Bams punya Kiky.. dia bilang dia salah satu penyebab ni pergi


Pikiran itu terus bicara dan bicara. Berusaha menyimpulkan apapun dalam kepalanya.


“isshhhh!!” Aina kesal


Sang driver online menoleh padanya dari spion.


“maaf pak, saya sedang kesal” ucapnya tersenyum tak nyaman


Ting!


Suara masuk pemberitahuan transaksi keuangan pada ponsel Aina. Sejumlah uang yang berada di dalam paper bag yang ia kembalikan pada Bams.


“aaaaaagghhhhhhhhhhh” teriaknya kesal tak mampu lagi menahan


“sabar non!” ucap sang supir


“ini orang maunya apa sih??” ucapnya semakin kesal


Ia terus menghubungi Bams.


“APA MAKSUD KAMU NGIRIM UANG INI??” tanya Aina kesal


“itu uang kalian, sudah bukan uangku lagi” jawabnya santai


“kita gak perlu uang kamu!” ucapnya lagi


“aku hanya minta kamu untuk mengatakan kabar Aira...”


“kan sudah ku bilang kamu bisa mendoakannya”


“maksud kamu?” tanya Bams lagi


Tut!


Suara telpon dimatikan.


“dasar gila!” gumamnya kesal dan menarik nafas berkali kali.

__ADS_1


*


*


*


Aina kembali menerima sejumlah uang di rekeningnya. Ia seakan saling berkirim uang dengan Bams. Transaksi keuangan itu seolah hanya sebuah pesan singkat antara mereka berdua.


“nona Aina!” panggil seseorang menyadarkan dirinya yang terus memegang ponsel. Aina langsung berdiri


“maaf bu.. ada transaksi keuangan di rekening saya yang salah, saya hanya berkomunikasi dengan pihak Bank” jelas Aina sebelum mendapat teguran


“bukan itu.. masalah presentasi bulan depan, saya ingin kamu yang maju” ucapnya


“apa bu?” Aina seakan tak percaya, sedang sang manajer hanya tersenyum menganggukkan kepalanya pelan.


“maaf bu.. apa tidak apa apa saya yang mempresentasikannya? Apa tidak menyinggung senior saya?” tanyanya lagi


“saya lihat kinerja kamu selama sebulan ini bagus, kami ingin kamu ditempatkan disini” ucapnya lagi


Aina menelan ludahnya. Jika ia ditempatkan di kantor pusat, itu berarti gaji yang ditawarkan pasti lebih tinggi.


“beneran bu?” ia berusaha menahan senyumnya


“iya.. ini kami sedang mengurus perubahan kontrak kamu jika kamu bersedia”


Aina tersenyum mengangguk


“ya sudah, nanti kita kabari lagi, kerja yang baik” ucapnya


Aina ingin berteriak kegirangan. Ingin sekali ia menghubungi sang kakak untuk memberitahu kabar bahagia itu, tapi ia urungkan.


Lebih seminggu sudah Bams mengganggu Aira. sekarang ia meminta Aina menemuinya lagi karena ia memang serius ingin menanyakan keberadaan Aira. Aina kembali menemuinya dengan syarat Bams mau menceritakan tentang ia dan Aira.


Pertemuan kembali dilakukan di cafe Bams. Bams menceritakan pertemuan mereka, namun ia tak menceritakan secara detail perasaannya pada Aira, ia juga menceritakan pengiriman uang yang dulu ia kirim dimana Aira hampir memutus pertemanan mereka. Namun Bams tidak menceritakan bagaimana Aira bekerja. Ia tahu, Aira tak pernah ingin sang adik mengetahui perjuangannya karena ia takut Aina akan merasa bersalah pada sang kakak.


Aina menunduk mendengar kisah pertemanan mereka. ia berpikir kembali jika kejadian malam dimana Ryo meminta Boman mengurus Aira hanya karena tak ingin Boys mendapat berita miring dimana Bams dekat dengan wanita lain selain wanitanya.


“jadi kalian hanya teman” gumam Aina


“iya, mungkin memang seperti itu bagi Aira” ucap Bams lirih mengingat ungkapan perasaannya dulu sebelum Aira pergi.


“karena aku gak ingin kamu putus kuliah, aku takut kalian kesulitan karena Aira berhenti bekerja” ucap Bams


“uang itu tak pernah aku ketahui kalau bukan pihak perusahaan meminta ku membuka rekening di bank itu”


“kok bisa?” tanya Bams


Aina menceritakan kejadian kenapa ia tak pernah lagi mengetahui rekening itu.


“aku pikir kamu menerimanya” ucap Bams


“tolong ambil kembali uang itu”


“aku akan ambil, tapi dengan satu syarat, pertemukan aku dan Aira!” ucap Bams


“aku tidak bisa.. ia sudah tak bisa kamu temui” ucap Aina menunduk


“jangan katakan jika ia sudah tiada!!” ucap Bams marah dengan mata mengembun


Aina hanya menunduk dalam.


Maafin aku ni! Benaknya


“katakan Aina! Katakan dimana dia?” ucap Bams sedih


“kamu sungguh akan mengambil uang itu?” ucap Aina


“hem!” Bams meyakinkan


“tapi kamu harus berjanji, hanya melihatnya saja!” ucap aina tak tega


“iya!” diiringi anggukan pasti dari Bams


“minggu depan! Kamu bisa menemuinya” ucap Aina

__ADS_1


Bams tersenyum.


“baiklah!” ucapnya


Menunggu waktu seminggu terasa begitu menyiksa bagi Bams. Ia semakin sering berkomunikasi dengan Aina dari pada dengan Kiky.


Kiky mulai merasa gusar. Bams kembali dingin padanya akhir akhir ini.


Malam ini Kiky menunggu di apartemen Bams, ia sudah mengirim pesan bahwa ia menunggu sang kekasih. Ia mengenakan lingeri yang baru ia beli. Menata ruang apartemen itu dengan begitu romantis, berharap sang kekasih datang padanya dengan tatapan terpana dan terpesona. Namun, hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Bams belum juga kembali.


‘apa kalian masih latihan?’ tulis Kiky pada Ryo


‘iya!’ jawab Ryo karena merasa perubahan Bams seminggu ini.


Perubahan drastis yang terlihat oleh teman, rekan, sahabat dan managernya, perubahan senyum Bams seakan baru jatuh cinta.


“nasib kita sama Ky, kita mencintai orang yang salah!” ucap Ryo menatap layar ponsel yang masih menunjukkan pesan Kiky.


Kiky  yang lelah menunggu akhirnya terlelap dengan perut kosong dan lapar. Namun saat malam semakin pekat, ia merasakan tubuh hangat yang memeluknya. Ternyata sang kekasih terlelap dengan senyuman dengan memeluk erat dirinya.


*


*


*


Bams menunggu Aina keluar dari kantor tempat ia bekerja. Ia berusaha tak tercium pers sehingga ia menggunakan mobil sport baru miliknya.


“apa ini parfum yang dari dulu kamu gunakan?” tanya Aina


“hem!” jawab Bams


“sekarang kita ke cafe kamu dulu.. kamu mandi, gunakan sabun yang gak biasa kamu gunakan” pinta Aina


“kenapa?” tanya Bams


“jika kamu ingin melihat ni.. kamu harus menurut! Dan ingat! Aku hanya menunjukkan dia dari jauh!” ucap Aina


Bams semakin penasaran


“kenapa kamu gak ngijinin aku ketemu dia langsung” tanya Bams yang menurut menuju cafe miliknya


“sudah ku bilang, kita punya syarat masing masing. Aku sudah mengembalikan uang itu, kamu bisa melihat ni.. tapi bukan menemuinya” ucapnya tegas


“tapi kenapa?” tanyanya lagi


“nanti kamu lihat sendiri” ucapnya


“ingat, aku akan tunjukkan ni saja.. jika kamu hanya melihatnya, nanti baru aku akan bicara padanya agar ia mau menemui kamu” ucap Aina


“tapi..”


“pilih melihat dia atau tidak sama sekali!!” ancam Aina memotong omongan Bams.


Bams hanya pasrah menurut.


Setelah sepuluh menit, Bams keluar dengan tampilan yang sempurna. Namun Aina menghilang dari tempat duduknya.


“tunggu aku di rumah sakit X” sebuah pesan tertulis masuk dengan jelas di ponsel milik Bams.


Bergegas Bams memacu mobil menuju tempat yang Aina tentukan. Bams berusaha menutupi diri agar ia tak terlihat dan tampak ditempat publik seperti itu.


“tunggu di parkiran depan” ucap Aina


Bams hanya menurut.


Apa yang terjadi dengan kamu Ai?


Kenapa harus dirumah sakit?


Apa kamu sakit? 


Pertanyaan itu membuat debaran jantung gugup Bams semakin memacu. Bayangan ketakutan menemukan fakta mengerikan membuatnya berkeringat di dalam mobil dingin dengan ac pada panel full.


Setelah beberapa menit. Terlihat Aina keluar dengan menggandeng seorang wanita dengan kepala terutup scraft, langkahnya tampak tercekat, matanya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Jangan lupa Tinggalkan jejaknya ya.. Makasih..


__ADS_2