Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kok Kamu Disini?


__ADS_3

Setelah beberapa menit. Terlihat Aina keluar dengan menggandeng seorang wanita dengan kepala tertutup scraft, langkahnya tampak tercekat, matanya menatap lurus ke depan.


Tubuhnya yang berjalan seakan kaku, memakai sebuah tongkat khas yang digunakan oleh orang orang berkebutuhan khusus sepertinya.


Mata Bams menatap nanar pada pemandangan yang tak jauh darinya. Ia melihat jelas Seorang Aira. terlihat begitu menyedihkan, terlihat begitu menyakitkan. Pemandangan yang menggoreskan torehan beribu luka. Mata Bams seketika mengembun, bergegas ingin membuka pintu mobilnya namun ia urungkan karena Aina telah menuntun wanita itu memasuki sebuah mobil online.


Flash Back on


“Ni.. hari ini kita kontrol ya?” bujuk Aina


“kamu gak kerja?” tanyanya lagi


“aku Cuma masuk bentar hari ini, karena persiapan buat besok” jelas Aira


“Di.. apa sebaiknya kita gak perlu lagi ke rumah sakit?” tanya Aira


“tapi ni.. aku ingin kamu sembuh.. aku kangen main sama kamu ni” pinta Aina


“tapi uang kamu sudah habis banyak buat aku” ucapnya


“kita kan pakai asuransi ni.. apalagi sekarang, asuransinya lebih bagus dari yang dulu”


“hem.. baiklah” Aira mengalah tak ingin berdebat dan tak ingin membuat kecewa sang adik.


Saat di rumah sakit, Aina harus menjalani terapi sekitar tiga jam.


“aku tinggal ke kantor ya ni... soalnya dokternya larang aku mendampingi” ucapnya


“hem ... aku gak papa kok ditinggal, kamu pergi aja”


“aku pergi ya” pamit Aina


Aina pun pergi meninggalkan Aira sendiri. Ia pergi ke kantornya dengan dalih menyelesaikan persiapan presentasi yang diminta.


Flash back Off


Mobil Bams terus mengikuti mobil yang ditumpangi Aira dan Aina. Mobil perlahan memasuki sebuah gang dan berakhir pada sebuah rusun tua.


Mereka turun perlahan. Aina membimbing Aira dengan hati hati. Bams turun dari mobilnya dan mendapat tatapan tajam dari Aina. Ia menggelengkan kepala dan meletakkan jarinya di ujung mulut pertanda Bams tetap diam.


Hati Bams semakin pedih. Lututnya lemas menemukan fakta begitu menyakitkan.Ternyata Aira menghilang bukan keinginannya, tapi ketidak mampuan ia untuk kembali lah yang menyebabkan ia menghilang.


Menemukan kenyataan jika Aina sekarang seperti itu membuat Bams berasa ingin berlari dan memeluknya, tapi Aina mengancam. Jika ia melanggar perjanjian mereka, mungkin sang adik berhati dingin itu kembali akan menyembunyikan sang kakak.


“ni istirahat dulu ya” ucapnya


“hem!” Aira membaringkan diri.


“tadi dokter bilang kondisi ni sangat baik, tinggal harus melanjutkan terapinya ni” ucapnya


“hem!”


Selalu kata itu yang keluar, sangat jarang ia bicara. Setelah memasang kipas angin dengan kecepatan rendah. Membuat nyaman kamar sang kakak, Aina keluar. Ia bersandar pada pintu tua yang sebenarnya tak mampu menahan beban tubuhnya.

__ADS_1


“Ya allah.. kuatkan aku selalu” ucapnya pelan


Hatinya sangat sakit, tapi ia selalu bersikap kuat dan ceria di depan Aira.


Ting!


‘aku masih dibawah, temui aku!’ pesan Bams tertulis


Aina menemui Bams dan mereka bicara di dalam mobil.


“ceritakan semuanya!”


“seperti yang kamu lihat! Tak ada yang bisa ku ceritakan”


“bagaimana Aira sampai buta?” tanya Bams lagi


“ia begitu nyaman dengan dunia gelapnya”


“maksudnya?”


“setelah tragedi itu... kami kembali dari rumah sakit, malam itu tiba tiba listrik padam, ni diam dan tak berpikir untuk mencari apapun, ia justru menikmati gelap saat itu. setelah listrik kembali menyala, ni menanyakan padaku, apa aku belum menemukan lilin, aku kaget! Saat ku gerakkan tanganku di depannya ni tak merespon sama sekali” Aina menunduk dalam tangisnya mengingat semua kenyataan yang ia hadapi.


Bams memberikan sapu tangan untuk Aina.


“Sejak saat itu Ni nyaman dengan dunia gelapnya, ia tak pernah lagi merasa takut, meski kadang ia masih mimpi buruk”


“mimpi buruk?” tanya Bams


“intinya ... kamu sudah melihatnya, sekarang biarkan kami tenang, tolong jangan janggu lagi” pinta Aina


“tolong tetap izinkan aku! paling tidak untuk melihatnya.. aku mohon!” pinta Bams


“Aku tidak berani, ni tidak bisa syok, ia seperti kejang karena menahan emosinya, aku takut jika ni mengetahui kamu menemukannya, dia akan syok” cerita Aira dengan wajah takut


“kejang?” tanya Bams lagi


“maaf, aku tidak bisa menceritakan semuanya, tapi tolong tinggalkan dan lupakan dia.. tolong biarkan kami tenang, ni sudah sudah nyaman dengan keadaannya sekarang, aku masih pelan pelan menbujuknya, apalagi sekarang ni sudah mau menerima diterapi” jelas Aina lagi


“cukup izinkan aku melihatnya saja, aku mohon Aina!” ucap bams meminta


Aina menatap Bams dengan tatapan mengatakan jika ia berat mengijinkan


“aku janji, aku tak akan diketahui Aira, aku mohon ya?” pintanya


Aina berpikir lagi


“aku justru akan membantu kamu menjaga dia, kalau kamu dapat tugas dari kantor kamu, kamu harus ninggalin Aira sendiri, apa kamu gak khawatir?”


Aina semakin berpikir


Benar juga, disini tidak ada siap siapa yang kami kenal. Benak Aina


“baiklah! Tapi janji, jangan sampai ni merasa kehadiran kamu” jelas Aina

__ADS_1


“hem, aku janji!” ucap Bams seraya mengangguk tegas


Sejak hari itu, Bams kadang datang sebagai pengantar makanan untuk Aira, ia kini mengganti parfum, sabun mandi dan shampo agar ia tak dikenali Aira lagi.


Hingga suatu hari, Bams mengantar makan siang karena Aina tak bisa pulang akibat kerjaan yang semakin memaksanya. Suara ketukan pintu tak didengar oleh siapa pun dari dalam. Rasa panik mulai menyelimuti Bams.


Ia membuka pintu dengan kunci yang diletakkan Aina di bawah pot kecil disamping pintu.


“Aira!” gumamnya melihat Aira tergeletak di lantai


Bams berlari dan langsung mengangkat tubuh Aira ke dalam pangkuannya, tubuh Aira lemas terkulai dengan TV yang masih menyala.


“Aira bangun.. Astaga!” ia berusaha menepuk pipi Aira lembut.


Mendengar suara yang tak asing membuat Aira tersadar


“Bi?” ucapnya dengan mata setengah terbuka


“kamu gak papa? Kita ke rumah sakit ya?” ucapnya panik langsung menggendong tubuh Aira dan membaringkan di sofa.


“bi.. ini kamu bi?” tanya Aira


“iya .. ini aku”


Terlalu panik membuat Bams melupakan sandiwaranya, wajah pucat pasi Aira membuyarkan semua ingatannya tentang menutupi diri padanya.


“kita ke rumah sakit ya?” pinta Bams


Aira menggeleng.


“cukup bantu aku ambilin air minum” ucapnya


Bergegas Bams berdiri dan mengambilnya. Perlahan membangunkan Aira membantu menghabiskan satu gelas yang langsung tandas tanpa sisa.


“obat kamu dimana Ai?” tanya Bams masih merasa panik


“aku gak papa” ucapnya masih belum menyadari sepenuhnya kehadiran Bams


“kamu pucat, kita ke dokter ya?” pinta Bams lagi


“aku gak papa kok, cukup minum yang banyak biasanya sembuh” jelas Aira


“kalau gitu aku ambilin minum lagi” ucap Bams beranjak kembali mengambil air


Sesaat Aira menyadari kejadian yang saat ini berlangsung.


“ini.. kamu mau minum lagi?” serah Bams di tangan Aira


“bi? Kok bisa kamu disini?” Aira sadar sepenuhnya akan keberadaan Bams yang sontak membuat tubuh Bams terasa panas  dingin.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


maaf baru bisa up ya... insyaallah nanti saya usahakan lagi biar bisa..

__ADS_1


__ADS_2