Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Laksana Seorang Putri


__ADS_3

“bagaimana persiapan minggu depan?” tanya Ryo pada Ken


“tinggal menunggu tuan muda berangkat” jawab Ken


“bagus! Terima kasih ken” jawabnya menutup telpon


“terima kasih?” tatap Ken pada layar ponselnya merasakan perubahan pada sikap Ryo.


Ryo kembali menghubungi Haris sebagai penghubung ia dan Hendrawan.


“om.. atur pertemuan ku dengan Tuan Hendrawan besok” pintanya


“baik tuan muda” jawab Haris tanpa protes.


Ryo ingin segera membuka semua kebenaran tentang sang istri, akhir akhir ini Aira semakin membaik, hampir tak pernah bermimpi buruk atau mengigau. Ia terlihat lebih senang dan ceria. Ryo lebih banyak mengalah dan mengiyakan apapun permintaannya agar sang istri terus merasa nyaman.


Pertemuan disetujui pada sore hari.


Seharian penuh Ryo menemani Aira, terus memanjakan dan memberi perhatian lebih padanya.


“sayang ada apa dengan kamu hari ini?” tanya Aira


“ini kesekian kali kamu bertanya” Ryo menoel hidung Aira manja.


“abisnya kamu beda banget, kaya terlalu lebay gitu” lirik Aira lagi


Ryo tersenyum, tapi tatapannya menyiratkan sebuah perasaan tersembunyi.


“sayang apa karena kamu kangen ME?” tanya Aira


Ryo mengankat kedua alisnya seakan bertanya


“kamu gak kangen nyanyi atau menulis lagu lagi?” singgung Aira


“ada sih kangen, Cuma .. aku lebih kangen istriku” goda Ryo


“iihh.. serius sayang” bujuk AIra semakin merapatkan tubuhnya.


“heum... aku kangen Boys!” jawab Ryo tak ingin istrinya curiga dengan sikap tak nyamannya.


“kamu menyesal keluar dari sana?” tanya Aira


“tidak beib..” Senyum Ryo penuh pengertian tak ingin istrinya merasa bersalah


“wajarkan kalau aku sedikit kangen?” tanyanya lagi ke istrinya


Senyum Aira menghilang, kata sedikit kangen sedikit menyentil hati dan pikirannya yang akhir akhir ini sangat sensitif.


“kenapa beib? Kamu gak suka?” tanya Ryo lagi


“bukan gitu?” Aira menatapnya berpikir.


“terus?” Ryo masih penasaran dengan reaksi Aira padanya


“sedikit kangen? Kamu gak kangen hal yang lain kan?” tanya Aira sedikit cemberut.


Ryo masih mencoba mencerna kata kata istrinya yang tadinya duduk bersandar santai, kini sudah duduk tegak bersila di hadapannya.


Mata Aira menyipit mencurigai sang suami. Ryo masih menatap dengan pikiran mencerna setiap kata yang barusan Aira katakan.


Tiba tiba pikiran Ryo seperti mendapat cahaya seterang lampu pijar.


Bini gue cemburu! benaknya mengikut senyum lebarnya.


“kok senyum?”

__ADS_1


“kamu cemburu beib?” tanyanya menarik Aira kembali agar bersandar padanya tapi Aira menahan diri.


“jawab dulu..” tatapnya sedikit tajam.


“karena sekarang aku kangen... makanya aku narik kamu kesini” Ryo menunjukkan dadanya agar Aira bersandar


Jawaban Ryo ternyata salah, Aira justru semakin menekukkan wajahnya.


“beib... aku kangen dengan Boys dan ME, karena dulu hidupku ku habiskan dengan mereka..” Ryo mendekat dan membelai puncak kepala Aira.


“untuk yang lain.. aku tidak pernah lagi merindukannya karena aku punya kamu sekarang” tatapnya intens dan penuh cinta.


Ryo mengambil tangan Aira dan mencium buku buku tangannya.


“yang aku rindukan, tangan ini..” ucapnya mengecup tangan Aira


“wajah ini..” mencubit kecil dagu Aira.


“pipi ini..” tangan Ryo kini berada di pipi Aira


“bibir ini..” usapnya lembut dengan ibu jarinya


Tangan itu membelai kembali kepala Aira yang kini mulai terhanyut dengan rayuan sang suami.


“hanya ini.. hanya tubuh ini.. hanya wanita ini.. hanya kamu sayang.. kamu akan menjadi satu satunya wanita yang akan bertahta dihati dan hidupku.. hanya kamu yang aku rindukan” ucap Ryo menarik tekuk Aira membimbing ke dalam ciumannya.


Larut dengan ciuman panjang, hanya ciuman panjang yang berfokus pada bibir mereka.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt


Suara paggilan masuk menyadarkan mereka dari ciuman cinta yang membawa hanyut sesaat.


Panggilan dari Haris yang mengatakan bahwa Hendrawan telah tiba di halaman apartemen mereka.


“beib, dengarkan aku ..” wajah Ryo terlihat sangat serius


“kita akan kedatangan tamu, tamu yang sangat penting” tatap mata Ryo semakin serius sembari memegang kedua bahu istrinya.


“sana bersiaplah!” pinta Ryo justru merasa gugup


“sayang.. apa tamu itu ..” Aira membatalkan pertanyaannya karena tak ingin justru menambah kegugupan Ryo yang terbaca olehnya


“ya sudah, aku ganti baju dulu ya..” usap Aira manja meninggalkan Ryo.


Ryo mempersilakan Hendrawan untuk naik ke unitnya. Pengawalan area unit diperketat. Bahkan Hendrawan dikawal oleh Haris dan Ken sendiri. Masing masing 2 orang di depan pintu unit mereka, di depan lift, di lantai dasar, dan masih banyak lagi dimana mana.


Unit apartemen itu seperti benteng yang di jaga puluhan pengawal hanya untuk melindungi seorang putri yang akan diculik oleh monster mengerikan.


Hendrawan tersenyum melihat semua pengawal yang mereka letakkan untuk menyambutnya. Hendrawan bahkan digeledah jika ia membawa senjata.


Ternyata mereka sangat melindungi mu nona! Benak Hendrawan saat di geledah salah satu pengawal mereka.


Langkah kakinya semangat memasuki lift menuju lantai teratas griya tawang di puncak gedung apartemen mewah tersebut.


Suara bel terdengar. Detak jantung Ryo mulai cepat. Begitu pula dengan Hendrawan yang  lebih gugup karena akhirnya ia mampu bertemu dengan anak kecil yang dulu sempat memegang tangannya saat sang ibu membawanya pergi.


“selamat datang di unit kami tuan” sambut Ryo dengan uluran tangan.


Ken masih setia berdiri sedang ketiga lelaki itu duduk bersama.


“terima kasih atas undangannya tuan muda” ucap Hendrawan


Ryo mengernyitkan sedikit keningnya mendengar Hendrawan yang memangggilnya tuan muda seperti Harus dan Ken.


“dimana nona? Saya sudah tak sabar ingin bertemu dengannya” ucap Hendrawan yang tak bisa lagi menutupi pikiran dan hatinya. Ia terlihat berkeringat dan canggung. Kegugupannya  sangat terlihat.

__ADS_1


Kenapa tuan Hendrawan sangat gugup? Benak Haris melihat kegelisahan hendarawan yang berupaya menyembunyikan kegugupannya.


“Istri saya ada di dalam” jawab Ryo


Hendrawan menarik nafas kembali. Mencoba menurunkan gugupnya.


“Tuan Hendrawan?” panggil Ryo


“ya Tuan muda” jawabnya


“tolong panggil saya Ryo saja tuan” Pinta Ryo


“bukannya  anda juga tuan muda” jawab Hendrawan sedikit mencoba mencairkan suasana hatinya sendiri dengan tersenyum pada Ryo


“mungkin bagi orang orang kami, tapi tuan adalah rekan kerja kami, bahkan bisa kami sebut sebagai klien” ucapnya


“nanti anda akan tahu kenapa saya memanggil anda tuan muda” jawab Hendrawan lagi


“Tuan Hendrawan, disini bukan tempat yang menguntungkan untuk anda bermain rahasia!” Haris mengingatkan Hendrawan akan posisinya.


“tapi anda akan segera tau, kenapa saya harus memanggil dia sebagai tuan Muda” balas Haris


“tuan muda, tolong! Tolong pertemukan saya dengan nona” pintanya


“sabar! Anda pasti bertemu dengan istri saya hari ini” jelas Ryo


“saya akan memanggilnya” ucap Ryo beranjak berdiri


Hendrawan semakin gugup, Ken dan Haris saling pandang. Ken waspada seribu persen karena takut sang nona akan diserang ketika mendekat pada Hendrawan.


“tamunya udah datang?” tanya Aira menoleh saat ia menyisir rambutnya


“heum!” Ryo mendekat dan mengambil sisir Aira.


Perlahan ia menyisir rambut istrinya dan membelainya, begitu lambat hingga Aira mampu membaca raut wajah yang suami melalui pantulan cermin.


“mas.. siapa tamu itu?” tanya Aira


Ryo yang berpikir seakan menuli dengan pertanyaan Aira. ia hanya fokus menyisir rambut Aira secara perlahan dan lembut. Pikirannya masih di penuhi ketakutan jika Hendrawan berniat menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu.


“sayang!” Aira membalik tubuhnya dengan cepat karena ia mampu memahami kondisi Ryo saat ini


“siapa tamu itu yang membuat kamu seperti ini?” Aira mengambil sisirnya dan menggenggam tangan Ryo


“beib..” terdengar suara itu gemetar dan terlihat jelas Ryo menelah ludah dengan begitu sulit


“sayang ada apa?” Aira berdiri, kini kedua telapak tangannya telah menangkup kedua rahang Ryo. mencoba menenangkan lelaki tersebut.


Ryo kembali menghempas nafasnya. Kemudian menatap dalam mata Aira.


“Ayo! Kita temui tamu kita!” ajaknya tersenyum, meski jelas senyuman itu terpaksa ia lakukan.


Aira membalas senyuman sang suami. ia mengalungkan tagannya di lengan Ryo dan merapatkan tubuhnya seolah Ryo adalah tiang kehidupan baginya.


“aku mencintai kamu beib” ucap Ryo mengecup puncak kepala Aira dan melangkah bersama keluar kamar mewah mereka.


Tap tap tap


Suara langkah menuju ruang utama pertemuan terdengar. Detak jantung Hendrawan semakin cepat. Langkah itu seperti sebuah langkah malaikat maut yang akan segera mencabut nyawanya.


Nafas hendrawan mulai terdengar memburu, rasa gugup itu semakin meningkat seiring dekatnya suara langkah kaki tersebut.


Aira keluar dengan menatap wajah Ryo sebelum berpaling pada Hendrawan. Lelaki paruh baya itu berdiri menyambut kedatangan Aira yang mendekat padanya diiringi Ken yang semakin siaga.


“selamat sore!” sapa Aira ramah

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2