Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kesabaran Aira


__ADS_3

Tiba tiba suara EKG terdengar berubah. Suaranya menjadi terdengar cepat dan suara alarm pun berbunyi.


Tim dokter dan orang tua Ryo memasuki ruangan itu dengan cepat. Aira ditarik oleh Bams untuk menjauh ketika mereka menangani kondisi Ryo.


Aira terus menangis. Ia sangat ketakutan. Tubuhnya terasa panas. Ia sangat takut akan keadaan Ryo yang akan memburuk.


“Ryoo... Ryooo..huhu hu.. huhu. Ryo..” ucap Aira lirih


Ayahnya mendekat dan menggandeng erat ibunya. Namun tiba tiba kondisi Ryo kembali normal.


“Semoga ini merupakan keajaiban untuk tuan muda, Nyonya!” Ucap dokter yang selesai memeriksa Ryo.


Aira masih menangis berada di pojok ruangan itu. ia seperti tak punya air mata lagi. Tubuhnya pun lemas. Ia sangat ketakutan.


"Tenang Ai.. dia pasti selamat" Bams memberi semangat pada Aira


Setelah dinyatakan kondisi Ryo stabil, Orang tua Ryo memutuskan untuk beristirahat pulang. Mereka meminta Aira untuk pulang dan beristirahat, tapi Aira menolak. Ia tidak ingin pergi sedetik pun dari sana.


Sang ayah mengajak ibunya keluar. Ia ingin membiarkan Aira berada disana. Bams duduk di sofa dan membantu Aira menunggu Ryo.


Aira hanya duduk disamping Ryo. Sejak kepulangannya, Aira tidak makan dan minum sama sekali. Ia seperti tidak menginginkan apapun. Bams baru menyadari hal itu. Sejak Aira datang ia bahkan tidak meminum setetes air pun.


“Ai, kamu mau sesuatu? aku mau keluar bentar” tanya Bams


Matanya tetap memandang kekasihnya. Aira hanya menggeleng tanpa menoleh pada Bams, matanya sembab, bahkan bengkak seperti telur karena terus menangis dan menangis.


“kamu harus makan sesuatu, Ryo gak suka kalau kamu sakit” ucapnya lagi membujuk


Aira Menoleh pada Bams dan  tersenyum mendengar itu, meski senyumnya seperti sangat sakit.


“aku belikan bubur ya.. dari tadi siang kamu pasti belum makan” ucap Bams yang melihat jam sudah menunjukan jam tiga subuh.


Aira hanya menunduk lembut.


Bams pergi keluar dari ruangan itu. Aira menyandarkan kepalanya sejenak ditangan Ryo yang ia genggam. Ia memejamkan matanya yang begitu lelah hari ini. Ia pun terlelap.


Tiba tiba suara pintu terbuka. Ada dokter dan perawat yang datang mengecek kondisi Ryo, Aira pun terbangun lagi. Sementara mereka mengecek kondisi Ryo, Aira mencuci mukanya agar lebih segar dan tidak mengantuk. Ia kembali duduk dan menggenggam tangan Ryo saat tim dokter itu pergi.


Bams memaksa Aira untuk makan. Ia pun perlahan menyuap bubur yang Bams berikan, ia kembali menangis ketika menyuap buburnya lagi, ia teringat Ryo yang menatapnya saat makan bubur ketika ia sakit dulu di rumah Ryo.


“ai...sudah, berhenti menangis, nanti kamu sakit, Ryo tambah sedih” ucap Bams sedih menatapnya


Aira menyeka air matanya dan berusaha menahan tangisnya.


“yang Ryo butuhkan sekarang, kamu! jadi kamu harus kuat, kamu harus sehat” lanjut Bams


“Ini semua salahku... ini semua salahku” ucap Aira dengan air mata yang tak bisa ia tahan


“jangan salahkan diri kamu.. semua terjadi gitu aja” ucap Bams menenangkan Aira yang terus menangis.


“sabar, berdoalah untuk Ryo agar ia cepat sadar, dan kamu harus makan.. untuk Ryo, hmm?” bujur Bams


Aira hanya mengangguk dan memaksakan dirinya menyuap bubur itu.


Demi kamu sayang, aku harus bisa menelan bubur ini.. Demi kamu! benak Aira yang sangat terpaksa menelan bubur itu di tenggorokannya.


Matahari sudah sangat terik, Aira tidak beranjak dari sisi Ryo, kini tubuhnya seperti tak berasa, karena tidak bergerak sama sekali sejak malam tadi malam. Suara pintu terdengar terbuka. Ada orang tua Ryo yang memasuki kamar itu. Aira menoleh pada mereka.


“kamu istirahat!” bujuk sang ayah


“saya gak capek om” jawabnya bertentangan dengan kondisinya yang terlihat pucat


“om tahu.. tapi beri waktu untuk om sama tante sebentar ya...?” bujuknya agar Aira pergi dari sana.


“ohh.. maaf, kalau gitu saya keluar” ucapnya


Sejenak ia menggenggam tangan Ryo, dan tersenyum permisi pada ibu Ryo.


Aira termenung duduk sendiri di bangku tempat tunggu pasien di pojok dekat kamar Ryo dirawat. Pandangannya menerawang. Ia tidak merasakan apapun saat itu, tidak lapar, tidak haus, tidak mengantuk. Ia hanya melamun. Kini ia tidak menangis lagi, mungkin air matanya telah habis sudah.


Bams datang melihat Aira yang duduk sendiri disana seperti mayat hidup. Tanpa ekspresi sama sekali. Ia bersandar dengan lelah pada tembok disana.


“kok disini?” tanya Bams mendekatinya


“orang tua Ryo minta waktu bersama Ryo” jawabnya menoleh dengan wajah yang sangat kusam dan lelah.


“Ikut aku sebentar!” pinta Bams


“aku gak mau kemana mana” jawab Aira


“kalo kamu gak mau kemana mana... bersihkan diri kamu” jawab Bams

__ADS_1


Aira baru menyadari. Ia lupa mengurus dirinya saat ini. Ia menatap dirinya sendiri, memang ia terlihat kusam. Bams benar, mungkin sekarang ia sangat bau, karena dari kemarin ia belum mandi. Ia mencoba tersenyum pada Bams merasa bersalah. Tapi seperti tidak bisa tersenyum.


Selang beberapa lama, orang tua Ryo keluar. Bergegas Aira menemui mereka


“tolong jaga Ryo!” ucap ibunya dengan mata berkaca kaca


“iya tante!” jawab Aira dengan senyum sedih


Ayahnya hanya menepuk bahu Aira lembut sebelum pergi dari sana.


“kamu jangan menangis lagi, terus ajak Ryo bicara, mungkin hanya kamu yang bisa membuatnya terbangun sekarang!” ucapnya


“iya om!” jawabnya menunduk sopan. Mereka pun berlalu dari hadapan Aira dan Bams


“sana mandi dulu!” usir Bams


Aira membuka koper dan mengambil handuk. Benar kata Bams. ia harus menjaga dirinya untuk Ryo


“aku mandi dulu! Tolong temenin dia bentar ya.. aku gak lama kok!” pintanya pada Bams


“gak usah khawatir, aku akan jagain Ryo kamu” ucap Bams meyakinkan Aira untuk menghibur


Air mengguyur tubuh Aira. Rasa penyesalannya semakin menjadi, membayangkan sakit yang Ryo rasakan saat ini.


Selesai mandi, Aira merasa lebih baik. Ia melihat baru saja tim dokter keluar dari ruangan itu.


“apa kata dokter?” tanya Aira pada Bams


“bentar lagi Ryo akan bangun” jawab Bams berbohong


“ah.. benarkah.. syukurlah” ia tersenyum dengan mata berkaca kaca.


“berhenti nangis! Kamu gak mau terlihat jelek kalo Ryo bangun kan?” canda Bams


Aira terkekeh kecil disela tangisnya mendengar Bams bicara seperti itu. Ia terlihat tenang dengan kebohongan Bams.


Bams kembali memaksa Aira untuk makan. Ia tidak ingin Aira akan jatuh sakit karena kejadian ini. Bams pun pergi dari sana.


Aira kembali duduk disamping Ryo dan menggenggam tangan kekasihnya.


“Ryo... bangun sayang!” bisiknya


“kalo kamu bangun, aku janji akan panggil kamu dengan panggilan sayang terus” ucapnya menatap Ryo


“kamu harus bangun,.. aku mencintai kamu, aku mencintai kamu sayang... bangunlah!” ucap Aira


“bukankah kamu selalu ingin menginap dirumah ku, aku akan izinkan kamu jika kamu bangun!” ucap Aira


Malam itu Bams kembali ke Rumah sakit. Ia membawa makan malam untuk Aira.


“bagaimana kondisinya?” tanya Bams


“masih sama... kamu bilang kata dokter ia bentar lagi bangun! Kok dia gak bangun?” tanya Aira mulai mempertanyakan


“kamu sabar.. mungkin itu pengaruh obat” kembali Bams membohonginya.


“kamu makan dulu.. kamu harus sehat.. Ryo sedang sakit, kalau dia bangun terus kamu sakit.. gimana?” ucap Bams


Saat ini hanya kata kata menyangkut Ryo yang bisa membuat Aira memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulutnya. Rasa bersalah membuat Ryo seperti itu seakan menyedot semua semangat hidupnya saat ini.


Dua hari telah dilewati, Ryo masih nyaman dengan pejaman matanya. Aira membersihkan tangan Ryo dengan handuk putih. Ia masih sabar berada disana dan Bams setiap hari mengirim makanan dan memaksanya makan. karena jika tidak, Aira pasti tidak akan makan dan minum.


“makan Ai!” bujuk Bams


“sudah .. aku sudah kenyang” ucapnya tak semangat. Ini hari kelima Ryo belum membuka mata.


Aira kembali  ke samping Ryo, menggenggam tangannya


“bangun sayang.. apa kamu gak kangen sama aku?” ucapnya meneteskan air mata.


Tiba tiba Aira merasakan jari jari Ryo yang bergerak. Ia langsung melihat wajah Ryo.


“Ryo.. Ryo..!” panggilnya langsung berdiri


Bams mendekat mendengar Aira yang memanggil manggil Ryo. Ryo pun membuka matanya pelan.


“Ai...ra..” bisiknya dari balik masker oksigen yang masih terpasang.


Aira pun hampir jatuh duduk lemas karena lega. Bams masih menahan agar Aira tidak jatuh.


“Dia sadar Bi.. dia sadar!” ucap Aira lagi.

__ADS_1


Bams memanggil tim dokter. Saat tim dokter datang memeriksa. Ryo kembali menutup matanya. Dokter mengatakan kondisinya mulai stabil, namun masih dalam pengawasan. Setelah beberapa jam, Perlahan Ryo membuka matanya lagi.


“kamu sadar.. kamu sadar..” ucap Aira menangis lagi


Bergegas Aira memencet tombol panggilan dokter.


“aaai...” ucapnya lirih dan terdengar sangat pelan


“iya.. iya.. ini aku.. ini aku!” ucapnya lagi


Tim dokter memasuki ruangan itu kembali. Ia mengecek kondisi Ryo yang benar benar sadar saat itu. mereka pun mengganti masker oksigen Ryo dengan selang oksigen biasa.


“welcome back!” ucap dokter yang melihat Ryo benar benar sadar


Aira hanya berdiri di pojok memperhatikan orang orang yang memeriksa Ryo. Tatapan Ryo terus kepadanya. Saat tim dokter sudah keluar. Aira mendekat padanya. Ia menatap Ryo, air matanya terus saja jatuh. Ryo tersenyum melihat wajah Aira yang terlihat pucat karena menangis. Ada senyum di wajah Aira meski kedua pipinya basah.


“kamu pasti sangat khawatir” ucapnya pelan setengah membuka matanya karena ia masih berada dibawah pengaruh obat.


Tangis Aira pun pecah, ia menangis tersedu sedu memeluk Ryo yang terbaring.


“kamu sadar, kamu telah sadar!” tangisnya


“kenapa kamu lakuin ini.. kenapa?” Aira memukul ringan Ryo


“aww..” keluh Ryo tersenyum senang.


“Ah!” Aira bergegas bangun dari pelukan Ryo, dia lupa, tubuh Ryo yang belum pulih.


“karena aku sangat mencintai kamu” ucap Ryo melihat cintanya


Ia menggenggam tangan Aira.


“maafin aku .. maafin aku yang selalu bikin kamu nangis” ucapnya lagi dan menyeka air mata Aira yang duduk di sampingnya dengan tangan gemetar.


Ryo meminta sandaran brangkarnya dinaikan agar ia dalam posisi setengah duduk. Aira masih duduk di depannya menatap penuh semyuman. Ia sangat lega sekarang. Ryo menarik Aira kepelukannya. Ia memeluknya lama.


Saat itu orang tua Ryo akan memasuki ruangan itu. melihat Aira dan Ryo membuat mereka membatalkan niat membuka pintu. Mereka hanya tersenyum melihat putranya yang tersenyum memeluk kekasihnya.


“maafin aku.. maafin aku” ucap Aira di pelukan Ryo


“lupakan.. lupakan semuanya, kita jangan pisah lagi Ai.. aku gak sanggup!” ucap Ryo lagi


Aira mengangkat kepalanya wajahnya sangat dekat dengan Ryo saat itu.


“aku mencintai kamu.. sangat” ucapnya lagi


“hhmm.. aku juga!" Ryo menjawab dengan senyuman, akhirnya ia mendengar lagi ucapan Aira.


“jangan marah lagi ya? maafin aku beib, aku” cubitnya pada pipi Aira.


Aira kembali memeluknya. Ia seakan tak ingin berpisah dari Ryo, ketakutannya akan kehilangan Ryo membuatnya menyadari betapa ia mencintai lelaki itu.


Bams yang baru datang memasuki ruangan itu.


“akhirnya loe bangun juga..” ucap Bams yang masuk membawa banyak makanan untuk Aira. Seolah menganggap Ryo hanya baru bangun dari tidur.


Aira pun bisa menikmati makanannya. Sesekali ia tersenyum pada Ryo.


“ya sudah! Gue pulang dulu!” Bams pergi


Malam itu rumah sakit dibuat heboh oleh permintaan Ryo, bagaimana tidak, ia meminta sebuah ranjang yang sedikit besar dari brangkar miliknya dan mereka pun menuruti keinginan pemilik 25 persen saham dari rumah sakit itu.


“sekarang kamu bisa berbaring disini!” pinta Ryo saat tempat tidurnya sudah diganti.


“kamu tu.. sakit sakit masih aja bisa bikin heboh” omel Aira


“aku gak mau kamu tidur disana” tunjukanya pada sofa.


“iya, aku nurut..” jawab Aira meyakinkan.


Mereka pun terlelap bersama, Ryo ingin memeluk Aira tapi Aira hanya memberikan tangannya untuk dipeluk Ryo.



\~\~\~\~\~\~\~\~


Nah.. cinta pun bersemi kembali...


Tolong kasih vote, like n komentarnya ya...


apalagi kalau ada yang berkenan ngasih mawar atau secangkir kopi

__ADS_1


alhamdulillah banget..


makasih reader udah setia baca .. love you all


__ADS_2