Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kejamnya Ryo


__ADS_3

Bams sangat marah melihat kelakuan Ryo seperti itu, ia tahu bahwa Ryo memang sombong, tapi ia tidak pernah menunjukan sikap sombongnya di depan Bams. Tapi hari ini ia melihat bagaimana sikap sikap orang berpunya yang seenaknya menatap hina pada orang orang miskin seperti mereka.


“ntar malam aku antar” ucap Bams ke Aira membantunya berdiri


“gak usah, aku sendiri aja kesana” jawabnya mencoba bangkit disela isak tangisnya


“Ryo sedang emosi, aku takut terjadi sesuatu ma kamu” jawab Bams khawatir


“dia gak mungkin nyakitin aku Bi” jawab Aira yakin jika Ryo masih memiliki kasih sayangnya selama ini padanya


“pokoknya aku antar” Bams bersikeras.


“gosip kamu baru aja reda, aku gak mau nambah masalah lagi Bi” ucap Aira menolak pertolongan Bams


“terserah, aku takut terjadi sesuatu nanti” Bams memaksa, Aira hanya menghela nafas melihat Bams.


***


Malam itu Ryo menunggu Aira dengan penuh emosi. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk meredam semua kekacauan perasaan dan hatinya saat itu.


“kamu masuk, aku tunggu disini” ucap Bams di depan pintu apartemen Ryo.


Aira memasuki tempat Ryo dengan pelan. Ada Ryo yang duduk santai dengan tatapan tajam menunggu di ruang tengah. Melihat tatapan Ryo yang tajam terasa begitu sakit bak sebuah pedang telah menghujam ke hati Aira.


Dengan berat Aira mengayunkan langkah mendekati Ryo yang duduk santai pada sofa ruang tengah. Tatapannya penuh dengan kebencian dan tatapan menjijikkan pada Aira.


Aira terus mencoba menahan air matanya melihat Ryo yang sangat membencinya saat itu.


“aku minta maaf untuk semuanya” ucap Aira berdiri di depan Ryo. Ryo masih menatapnya dengan penuh kemarahan dan kebencian.


“duduk!” pinta Ryo kasar


Aira balik menatapnya dengan mata berkaca kaca, ia merasa saat itu Ryo seolah akan membunuhnya.


“aku hanya ingin mengembalikan ini...” Aira mencoba mengambil sesuatu di dalam tasnya dan mengeluarkan kunci yang Ryo berikan padanya.


“dan kartu kredit kamu” ucap Aira yang kembali memasukkan tangan ke dalam tas untuk mengeluarkan dompet kecilnya.


“ambil aja, gunakan kartu itu sebanyak yang kamu mau” ucapnya dingin, sedingin tatapannya pada Aira.


Aira menatap Ryo yang melihatnya dengan penuh penghinaan. Tangannya membeku di dalam tasnya.


“dari awal aku gak butuh itu” ucapnya berusaha mengeluarkan dompetnya.


“uang yang bisa kamu cairkan dari kartu itu bisa membayar seratus kali lipat tarif kamu, bukan.. seribu kali pun bisa” ucap Ryo lagi dengan senyum smirk yang menghina Aira.


Aira menangis mendengar itu. Rasanya ia sudah tidak mengenal seseorang yang kini di hadapannya.


“kamu puas dengan menghinaku?” ucap Aira masih memegang dompet di tangannya dan kembali memasukannya tanpa ia sadari


“bukannya hal itu sudah biasa untuk orang rendah kaya kalian?” Ryo benar benar telah membunuhnya dengan kata kata.


“sejak pertama aku sudah bilang, aku bukan orang yang pantas dengan kamu, kenapa sekarang kamu ..” Aira tidak bisa mengatakannya lagi


Ryo terdiam mendengar itu, ia mengingat beberapa kali Aira menolaknya dan mengatakan kalau dia tidak cocok dengannya. Ia pun terdiam.


“maaf jika aku bukan orang yang cocok buat kamu, jika ini hanya menjadi alasan kamu untuk berhenti bermain denganku, kamu tak perlu menghinaku, cukup katakan kamu bosan, aku sudah mengerti!” jawab Aira lagi


Ryo menatap semakin marah dengan Aira. Kini Aira justru menganggap remeh perasaannya selama ini.

__ADS_1


“terima kasih untuk semua yang kamu lakukan selama ini, aku minta maaf atas semua kesalahan ku ke kamu, hanya itu yang ingin aku sampaikan malam ini!” ucap Aira berbalik ingin pergi.


“kenapa terburu buru?” Ryo menarik tangan Aira


“a... kamu ada panggilan kerja di tempat lain?” Ryo terus mengatakan kata kata dengan tatapan meremehkan Aira dan itu sangat menyakitkan bagi Aira. Tatapan penghinaan dari orang orang kampung dulu, kini Ryo tunjukkan padanya.


“aku akan bayar kamu sepuluh kali lipat malam ini” ucapnya seraya menarik Aira ke dalam pelukannya.


Aira berusaha melepaskan pelukan Ryo, Ryo menghempaskan tubuh mereka berdua di sofa. Ryo menindih Aira dan mengungkung erat hingga Aira tak mampu bergerak.


“Layani aku malam ini!!” ucapnya dengan tatapan dendam dan menghina pada kedua mata Aira


Ia mencoba menciumi Aira, tapi Aira meronta berusaha melepaskan diri. Ia berusaha mendorong tubuh Ryo dengan tangannya.


“Ryo lepasin.. lepassinnn..” ucap Aira  sambil menangis


“ini kan yang kamu mau?” ucap Ryo terus memaksa Aira. Tangannya membuka paksa baju Aira dan mengigit kasar pangkal leher Aira. Ia mencumbui Aira dengan kasar


“aaaaa.. lepasin” Aira terus berontak. Kakinya terus menendang nendang, tangannya terus mencoba menjauhkan tubuh Ryo yang berada di atasnya, namun tenaga Aira tak mampu melawan Ryo yang kini seakan kerasukan dendam dan kebencian padanya.


Tangan Ryo semakin liar, ia terus mencoba meraba dan meciumi tubuh Aira. Menggigit kasar bahu Aira yang kini telah terbuka.


“Ryooo... LEPASIN LEPASIN.. RYOOOO” Teriak Aira terus melawan.


Ryo membungkam mulutnya dengan ciuman kasar hingga melukai bibir Aira. Aira mencoba mengelengkan kepalanya untuk lepas dari ciuman Ryo.


“RYO LEPAAAASS.. LEPASSSSIIINN” teriak Aira lagi terus meronta melawan Ryo yang sudah menjadi gila karena amarah.


Mendengar teriakan Aira dari dalam, Bams masuk dan melihat Ryo yang seperti akan memerkosa Aira.


“RYO!!!!” teriak Bams, Ia menarik Ryo dan ..


Bams memukul Ryo. Ryo terlempar ke sudut Ruangan itu. Aira bangkit, ia duduk membungkuk menutup tubuhnya dan terus menangis, rambutnya acak acakan, bahkan ia kehilangan dua kancing kemejanya. Bams kembali mendekati Ryo yang duduk menatap Bams dengan kebencian


“kalau lo marah, lo marah aja, jangan lakukan hal hina itu pada Aira” ucap Bams memukulnya lagi dan lagi.


Bibir Ryo berdarah, dan hidungnya pun mengeluarkan cairan merah itu. Ryo balik membalas pukulan Bams. mereka pun adu jotos dalam apartemen mewah itu.


Bugh! Bugh! Bugh! Prang! Preng!


Suara pukulan dan barang yang terlempar mengisi seluruh ruangan itu. Sedang Aira masih terus menangis memegang erat bajunya seakan ingin melindungi dirinya.


“hentikan!! hentikan!!!” pinta Aira pada Bams yang terus memukul Ryo karena sangat marah


“hentikan Bi!” pintanya sambil menangis. Bams pun menahan tangannya yang masih terayun. Ia begitu marah pada Ryo malam ini. Bams melepas kasar tubuh Ryo.


By? Pikiran Ryo semakin salah paham, ia berpikir Aira memanggil Bams dengan sebutan 'baby'


Aira terus menangis, Bams berdiri dan memapah Aira untuk keluar dari sana. Nafasnya masih berderu karena marah pada Ryo yang tak ia sangka tega melakukan itu pada Aira.


“jadi seperti ini kelakuan kalian dibelakang gue?” ucap Ryo melihat Bams dan Aira yang berjalan menuju keluar. Bams ingin balik menghajarnya lagi, tapi Aira menahan.


“cukup!” pinta Aira menahan tangan Bams yang melepaskan bahunya.


“gue malu menyebut lo sahabat gue!” ucap Bams menatap marah pada Ryo. dan mereka pun meninggalkan tempat itu.


Ryo masih duduk di sudut ruangan itu. Ia menangis sendiri. Ia bingung ingin mengeluarkan kekesalannya pada siapa. Ia begitu kecewa pada Bams dan Aira, tapi ia juga membenci dirinya yang masih tak mampu membenci Aira.


Kepedihan hatinya saat melihat Aira yang tertunduk menangis karena kelakuannya tadi membuat hati Ryo merasa bersalah.

__ADS_1


"AAAAAAAAAAGGGH!!!!!" teriak Ryo sendiri di apartemennya yang kini seperti terkena gempa


Saat di perjalanan pulang, Aira terus menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sangat malu pada dirinya sendiri saat itu. badannya terasa panas mengingat setiap kata-kata Ryo barusan. Mengingat betapa memalukannya perlakuan Ryo padanya.


Tega kamu.. tega kamu.. Benak Aira mengingat Ryo


“aku gak nyangka Ryo seperti itu” ucap Bams melihat Aira yang sangat sedih


“aku gak tau harus gimana Bi” jawabnya lirih


Ia terus menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya.


“aku gak tau gimana aku ketemu dia besok” keluh Aira.


“ini sebabnya aku gak mau ada hubungan di tempat kerja” lanjutnya lagi


Bams menatap Aira dengan hati yang terasa diiris. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Aira saat ini. Bibirnya seakan terunci karena ia masih marah dengan Ryo yang membuat Aira seperti sekarang.


Bams tidak tahu lagi seperti apa besok Aira bisa bangun, setelah semua masalah yang menghimpitnya saat ini.


Sesaat ia dibahagiakan oleh Ryo, tapi sekarang ia seperti telah dibunuh lagi oleh lelaki itu.


“rasanya aku ingin mati saja..” tangisnya lagi menutup kembali wajahnya.


“Demi tuhan, kamu jangan ngomong gitu ai!” Bams sangat terkejut mendengar ucapan Aira.


“aku tahu kalau akhirnya akan seperti ini, tapi yang gak aku kira, Ryo sekejam ini” ia terus menangis.


Bams merasa bingung sendiri harus bersikap apa, ingin ia memeluk Aira untuk menenangkannya, tapi itu tidak mungkin, ia tidak ingin Aira merasa tidak nyaman.


Apa yang harus ku lakukan agar kesedihan kamu bisa berkurang Ai? Benak Bams menoleh sejenak pada Aira


Mobil pun hanya meluncur di tengah diam dan derai air mata Aira yang seakan tak bisa berhenti meski tak ada isak tangis yang keluar dari mulutnya.


**


Bams merasakan nyeri pada pada tangan kanannya saat ia sedang membersihkan diri. Ia mengingat kejadian tadi, dan mengingat kata kata Aira


“rasanya aku ingin mati saja..”


Ia mengirim pesan untuk Aira


‘ai.. sesedih apapun kamu, jangan melakukan hal hal bodoh, ingat ada Aina yang masih memerlukan kamu’ tulisnya


Membaca pesan itu membuat Aira tersenyum sedih di sela tangisnya. Bams masih mengingatkan bahwa ia masih berarti bagi hidup orang lain, yaitu adiknya sendiri.


‘hemm!’ jawabnya dengan icon senyuman.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Buat pembaca yang baik...


Tolong dong tinggalkan jejaknya..


Like, Komentar, vote.. apa aja deh..


Makasih banget kalau sudi meninggalkan sekuntum mawar atau segelas kopi..


Love you all

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2