Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Malam mendebarkan


__ADS_3

“mas!” tahan Aira


“beib...” dessah Ryo yang tangannya mulai menyentuh tempat yang ia sukai. Mulai meremmasnya meski dari luar pakaian Aira.


Sedang aliran darah Aira terasa berbeda, menerima sesuatu yang lama tak ia rasakan, tangan kekar itu selalu memberikan sentuhan lembut pada tubuhnya.


“mas..!” Aira mencoba menahan tangan Ryo.


Tapi tangan itu terus melakukan aktifitasnya, seperti kini lidah itu mulai terasa di tekuk lehernya, terus menerus menjadi kecupan kecupan. Ryo semakin nakal, ia melupakan janji yang ia ucapkan pada Aira untuk memulai secara perlahan.


Sejak awal tubuhnya selalu meninggalkan reaksi tertentu saat ia mendekat bahkan hanya melihat tubuh sang istri meski dengan balutan pakaian yang lengkap.


“sayang...” bisik Ryo terus mengecup leher dan cuping telinga Aira


Aira semakin memanas, tubuhnya terus menerima sentuhan Ryo, apalagi kini tangan itu semakin turun dan


“mashh, Hentikan!” langkah Aira ke depan membuat tangan itu merenggang dan kecupan itu terhenti.


Helaan nafas Ryo terengah, ia telah larut dalam gaiirahnya sendiri, begitu pula dengan Aira yang bernafas dengan menderu karena tuntutan sentuhan itu telah membangkitkan kembali denyutan denyutan indah yang dirasakan tubuhnya.


“mas! Ingat janji kamu, aku belum siap!” Aira mencoba melangkah mundur untuk menjauh


Namun tubuh Aira hilang keseimbangan karena ia lupa akan tempat itu. dengan sigap Ryo menahan tubuh Aira agar tak jatuh ke lantai. Tubuh Aira gemetar merasakan tangan Ryo yang kini melingkar di pinggangnya.


“Beib!” Ryo menahan tubuh Aira.


Kini pelukan itu tak menyisakan jarak diantara mereka, tubuh Aira benar benar menempel pada Ryo. Deru nafas Ryo terasa hangat di wajah Aira yang kini dalam dekapannya.


“mas pliss.. aku bahkan belum mandi!” ucap Aira menunduk malu yang membuat wajahnya menghangat.


Ryo tersenyum di tahan, ia tahu saat ini seberapa gugup Aira dalam pelukannya karena ia mampu merasakan detak jantung yang kini bersandar di dadanya.


Ryo mengangkat wajah Aira dengan ujung jarinya. Aira hanya menurut tanpa bergeming, sedang tangan Ryo yang lain terasa erat menarik pinggang Aira seakan lebih mengeratkan jarak antara mereka.


“Aku masih bisa jaga janjiku” ucap Ryo


“sungguh?” tanya Aira semakin sayu


Ryo menatap bibir Aira yang basah, perlahan ia menurunkan wajahnya dan kembali


Cup


Bibir itu telah menyatu, terus melummat dan menggigit hingga Aira membuka mulutnya. Lidah itu saling bertaut, saling melilit dan terus mengeksplor mulut Aira dengan incah. Aira mencoba bertahan tapi tetap saja lidah itu seperti bersambut.


Tangan Ryo semakin menarik tekuk Aira seakan memperdalam ciumannya. Tapi sesaat kemudian Aira memukul dadanya membuat Ryo tersadar jika ia semakin larut ke dalam keingkaran janjinya sendiri.


Dahi mereka masih menyatu, nafas itu sama sama terengah dan menderu.


“aku mencintai kamu beib...sangat sangat mencintai kamu” ucap Ryo mengecup puncak hidung Aira.


“aku juga.. huh” ucapnya sambil mengatur nafasnya kembali.


Detak jantung mereka berdua berpacu, mencoba melawan diri masing masing yang saling merindukan belaian dan kenikmatan. Tapi hal itu masih mereka redam karena alasan mereka berdua.


Aira merasa malu dengan tubuhnya sedang Ryo harus mampu membuktikan jika janjinya tak akan ia ingkari meski itu sangat menyiksanya saat ini.


“aku mandi dulu!” ucap Aira mencoba berjalan menjauh dari Ryo.

__ADS_1


Tapi baru beberapa langkah gagap itu melangkah. Tangan kekar Ryo telah menggendong tubuh Aira dan kembali mengecup cepat bibir yang seakan masih basah oleh salivanya sendiri.


“aku akan bantu!” ucap Ryo


Wajah Aira bersemu merona, rasa malunya mulai memuncak hanya mendengar kata kata Ryo yang akan membantunya mandi.


Ia menggeleng berkali kali


“gak mas.. enggak! Aku mandi sendiri aja” ucapnya terdengar sangat gugup


Ryo terkekeh mendengar ketakutan sang istri. Ia seakan kembali mengingat masa lalu mereka, masa masa indah mereka menikmati masa masa pengantin baru. Masa masa mereka hanya mengecup keindahan dunia dan surgawi. Masa dimana baginya hanya ada dia dan Aira.


Suara pintu terbuka pertanda kedua insan itu telah memasuki kamar mereka. Ryo masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkan Aira di atas toilet.


“tunggu aku siapin airnya ya?” ucapnya kembali mengecup puncak kepala Aira.


Aira mematung, tak ada gerakan apapun yang ia lakukan. Pikirannya tak bisa membuatnya menggerakkan tangannya. Ia hanya membayangkan mandi bersama di dalam bath up seperti dulu.


Jantungnya berdetak kencang, kegugupan melandanya karena pikiran yang terus berjalan dengan sendirinya.


“astaga!” ucapnya lirih menggelengkan kepala


Ryo menoleh sejenak, ia tersenyum menatap sang istri, tak ada rasa keberatan dalam dadanya menjadi budak Aira, bahkan jika seumur hidup Aira dalam kebutaan, ia akan tetap rela menjadi budak yang setia melayaninya.


Ryo menambahkan aroma mawar kedalam air. Mengetes suhu air agar Aira merasa nyaman.


“sudah sayang!” ucap Ryo mendekat pada Aira


“keluarlah!” pinta Aira tercekat


“apa aku gak boleh nawar?” tanya Ryo tersenyum mendekatkan kembali tubuhnya hingga tangannya melingkar di pinggang Aira.


“sayang lisss!” pinta Aira menunduk dengan kedua tangan di dada Ryo.


“hem!” jawab Aira


Dengan berat Ryo keluar dari kamar mandi, sebenarnya jantungnya sudah tak bisa terbaca lagi, menari dan berdansa seakan ikut keluar membayangkan sang istri yang akan keluar dari sana.


Tapi janji tetaplah janji, Ryo tak berani mengingkarinya. Ia tak ingin Aira menganggap dirinya ingkar di hari pertama mereka bersama lagi.


“gue harus bisa!” ucap Ryo sendiri mencoba melawan hasrat dalam dirinya.


Ditempat lain.


Bams menatap kosong langit langit kamar. Mencoba mengingat kenyataan jika dulu Aira yang tinggal dengan Ryo sebagai istrinya, bukan gadis murahan yang diminta untuk tinggal bersama tanpa ikatan. Ia menyesali diri yang dulu menganggap Aira mau menerimanya saat ia patah dalam hubungannya. Ia malu pada dirinya sendiri yang telah menganggap wanita suci seperti Aira sebagai gadis yang gampang digoda. Ternyata ia telah salah dan Bams hanya bisa menghela nafas.


Tersadar dari lamunan, Bams melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 20:30 malam. Teringat kosong dan sepi  malamnya, Bams mencoba mengambil ponsel ketika teringat sang kekasih.


Ddrrttt.. drrrtt.. drrtt..


Suara ponsel itu bergetar dari dalam tas Kiky yang sedang belanja bersama dengan sang ayah. Satu jam sudah ia dan ayahnya berada disana untuk menyelesaikan misi.


Malam itu Handoko mengajak sang putri yang sedang tak semangat beberapa bulan ini untuk belanja. Kiky yang bak seorang putri tak pernah menyentuhkan kakinya ke toserba atau supermarket. Ia selalu dilayani, segala kebutuhannya selalu dilakukan oleh asisten, pembantu atau pesuruh mereka.


Hari ini Handoko mengajak sang putri untuk mencoba tantangan baru dalam hari hari mereka, belanja kebutuhan rumah tangga ke sebuah supermarket terbesar di mall di kota mereka.


“ayo sayang, kita lihat seperti apa sih serunya belanja ala ibu ibu itu” ajak Handoko berpura pura antusias.

__ADS_1


“ayo pah!” sahut Kiky memasuki tempat itu dan mengambil troli belanja mereka.


Satu persatu catatan panjang itu di centang, sesaat kadang mereka berhenti dan mencoba beberapa makanan instan yang ditawarkan.


Acara belanja ini sudah lebih satu jam, tapi list tersebut masih separuh.


“papah nyerah sayang!” ucap Handoko membungkuk memegang lututnya


“yah.. papah kok nyerah sih? Tadi yang ngajak tantangan siapa?” ucap Kiky terlihat senang dengan kesibukan belanjanya.


“ya udah, papah istirahat dulu! Sisanya biar Kiky lanjutin sendiri”


“kamu telpon asisten kamu aja” ucap Handoko mencoba berdiri kembali dan memukul mukul pinggannya


“wahh.. papah ku sudah mulai tua” goda Kiky sambil merangkul bahu sang ayah dengan tawa ditahan.


Handoko tertawa mendengar godaan putrinya. Ia rela sakit seperti itu asalkan melihat senyum cerita putrinya lagi.


Setelah ditinggal sang ayah, Kiky melihat panggilan tak terjawab yang masuk pada ponselnya. ia hanya melihatnya tanpa ada keinginan untuk menghubunginya kembali. Kiky pun kembali mengalihkan pikirannya pada panggilan itu dengan fokus pada list belanjaan yang diberikan padanya.


Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Kiky keluar membawa troli belanja yang sudah selesai dibayar.


“ayo pah!” ajak Kiky mendekati sang ayah


“tunggu sebentar, tadi papah telpon Umar” jelas ayahnya


“Umar? Ngapain?” tanyanya lagi


“buat ambil belanjaan kita, kan berat” jelas sang ayah


“iya sih!”


Tak berselang lama muncullah sang supir. Setelah menyerahkan belanjaan mereka, Kiky dan Handoko memutuskan untuk mencari resto untuk makan malam mereka.


“gimana kalau kita makan sushi aja malam ini pah?” ajak Kiky semangat. Tak ada raut wajah lelah yang ia rasakan.


Kiky menggandeng manja lengan sang ayah. Ia menceritakan cerita cerita bagaimana ia dulu menghabiskan waktu sekolahnya berkeliling di mall milik Ryo dan selalu mendapat pelayanan terbaik. Ia juga menceritakan beberapa kejahilan teman temannya, mereka pun tersenyum lebar saat memasuki resto yang bertuliskan huruf kanji berwarna merah.


“gimana kalo kita duduk disana aja?” ajak Kiky yang menolak ruang VIP


“kan tema kita hari ini orang biasa yang belanja bulanan pah” ucapnya tersenyum dan dibalas kekehan Handoko


Saat berjalan menuju meja mereka.


“Kiky?” sapa seorang lelaki


“mas? Makan malam disini juga?” jawab Kiky mendekatinya


Saat Kiky saling menyapa, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang saling memandang dan bertaut. pandangan yang mendebarkan jantung keduanya lebih cepat. Tatapan mata yang seakan membuat sunyi sekitar mereka karena mereka berdua hanya sibuk dengan suara hati dan detak jantung yang seakan berpacu saat itu.


Sedang ditempat Ryo, sepasang mata menatap sosok yang mengenakan kimono mandi keluar dari persembunyiannya. Pacuan jantungnya tak kalah dari kedua manusia yang bertemu di resto jepang. Ia melangkah perlahan mendekati sosok yang ia sebut sebagai hidup dan nafasnya.


“beib..” panggil Ryo lembut dan mendekat


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


nah... ternyata Ryo masih bisa memegang janjinya..

__ADS_1


untuk episode selanjutnya, author gak jamin ya .. hehehe


Tolong tinggalin komentar atau jejaknya kalau selesai baca.. buat modal semangat nulis buat besok lagi


__ADS_2