Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Tak usah Menangis


__ADS_3

Obrolan terus berlanjut antara Bams dan Ryo saat mereka menghabiskan waktu bersama di cafe Bams.


“gimana Aira? gue dengar ia sudah bisa melihat sekarang” tanya Bams


“yang pasti kami seperti pengantin baru lagi” senyum Ryo menyeruput minumannya


Bams tersenyum.


“loe ma Kiky gimana? Putus?” tanya Ryo


Bams menggeleng


“Kiky sedikit mejauhi gue akhir akhir ini” Bams sedikit sedih


“loe buat salah lagi?” tanya Ryo


“gue juga gak tahu, Kiky sering banget nolak ketemu gue akhir akhir ini, apalagi sudah beberapa bulan ini Kiky banyak di rumah bukan di apartemennya” jelas Bams


“om Handoko gak sakit kan?”


“enggak, dia baik baik aja, itu yang gue bilang, Kiky kayanya ngehindarin gue” ucapnya.


“hati hati lho.. Kiky banyak yang menunggu, antrian panjang cowok tampan diluar sana siap menyambutnya kalo loe lengah sedikit” ucap Ryo semakin membuat panas Bams


“gue tau” ucap Bams merasa mengecil


“atau loe emang masih punya feeling ma bini gue ya?” tebak Ryo menyipitkan matanya


“gue memang dulu punya perasaan pada Aira, perasaan yang gue artikan sebagai kasih sayang pada seorang wanita. Tapi.. saat melihatnya menderita, gue sadar, perasaan gue mungkin bukan cinta, tapi lebih pada seorang kakak yang menginginkan adiknya bahagia” jelas Bams


Ryo menatap mata Bams, ada kesedihan dari sinar mata dan sorot luka saat ia menyebut Aira. sorot mata yang tadi membenci Bams kini kembali memudar. Ia menyadari jika Bams masih sahabatnya.


“kenapa loe gak ngomong kalau Aira kembali?”


“karena dia memohon dan ketakutan” ucap Bams


“loe boleh marah ma gue, tapi rasa gak tega gue yang bikin gue ngelindungin dia” jelas bams lagi


“gue percaya, lagian kalau loe suka ma dia, gak bakalan direspon juga kok, dia juga cinta mati ma gue” Ryo menyombongkan diri


“sombong!!” ucap Bams


Ryo terbahak hingga membuat matanya berair. Bams tersenyum karena lama tak mendengar tawa lepas Ryo seperti tadi.


“gue ke toilet dulu” ucapnya meninggalkan Bams


Bams melanjutkan cemilan dan meminum minumannya. Ia menghela nafas melihat layar ponsel Ryo yang menyala karena pesan. Tampak senyum Aira disana.


“dah berani dia” ucap Bams melihat layar ponsel Ryo yang sekarang berani menunjukkan wajah Aira di ponselnya


Ting!


Sebuah pesan masuk di ponsel Bams. Bams menegakkan tubuhnya menatap pesan tersebut. Rahangnya mengeras menatap pesan video yang ia terima.


“aku ceeembuuuruuuu....” Ryo mengejeknya dengan sebuah nada lagu, karena Ryo ikut menyaksikan pesan tersebut.


Terlihat rekaman Kiky yang keluar dari mobil seorang lelaki dan melambaikan tangannya dengan mesra. Potongan video pada malam hari dimana Kiky turun di depan rumahnya.


“loe diselingkuhin ternyata” ejek Ryo


“heh! Gak mungkin! ini pasti temannya” kilah Bams mencoba mendinginkan dada dan tubuhnya yang memanas.


“gak usah nangis gitu” ejek Ryo lagi, padahal Bams memang tak menangis.


Memang sejak sebulan terakhir Kiky lebih banyak tinggal di rumah dari pada di apartemen miliknya. Ia lebih sering mehabiskan waktu bersama sang ayah. Ia ingin membaca kondisi sang ayah sejak bertemu bunda Nimas.


“pah, besok kan libur, kita jalan jalan yuk?” ajak Kiky


“kemana?” tanya Handoko


“kemana aja, itung itung refreshing” ajaknya

__ADS_1


Malam sebelumnya, Kiky menemui Damar di kantor Damar. Ia meminta ijin untuk dekat dengan sang bunda, Damar pun tidak keberatan.


“kita silaturahmi ke tempat budan Nimas yuk pah!” ajak Kiky


“gak ah, kamu aja kalau mau ke sana” ucap sang ayah sedikit canggung dan malu


Sepertinya aku harus dekat ma bunda dulu biar papah punya jalan! benak Kiky


Akhirnya ia menghubungi Damar dan meminta ijin untuk main ke rumah sang bunda.


“aku boleh gak main ke rumah bunda?” tanya Kiky


“boleh lah, memang ada yang ngelarang?” tanya Damar


“takut aja ntar pacar kamu salah paham, dikira nanti mau deketin kamu” ucap Kiky


Damar tertawa terbahak mendengar penjelasan panjang Kiky


“mau deketin aku juga gak papa” jawab Damar


“ogah, pacarku mau dikemanain” jelas Kiky


“oh iya, lupa kamu dah ada yang punya” candanya


“besok bunda gak kemana mana kan?”


“gak kok, bunda bukan tipe orang yang punya jadwal” jelas Damar


“hhhmm, aku kangen suasana sama seorang ibu, jangan marah ya aku numpang ibu di bunda” ucap Kiky


Damar merasa sedih mendengar kata kata Kiky yang merindukan seorang ibu.


“tenang aja, aku bisa berbagi bunda ma kamu kok” ucapnya


Nah...sip, satu persatu! Benak Kiky yang berniat mendekatkan kembali sang ayah


“ok deh, besok aku kesana” jelasnya


Malam itu Damar menceritakan tentang permintaan Kiky pada sang bunda. Nimas pun senang mendengarnya.


“kalau perasaan sih gak ada bun, tapi entah kenapa ya.. liat Kiky tu rasanya kaya mau lindungin seorang adik” jawab Damar


“kenapa gitu?” sang ibu penasaran


“pertama ketemu dia, waktu itu kakinya terluka, hati Damar sedih liatnya, entah kenapa, rasanya ingin menjagannya, padahal ketemu gak sengaja gitu”


“oohh.. baguslah, lindungi dia seperti adikmu ya?” pinta Nimas


“iya bun”


*


*


Pagi pagi Kiky berangkat menuju kediaman Damar. Ia semangat karena berharap sang ayah bisa kembali bahagia jika ia bisa menyatukan mereka. Kiky sangat yakin, sang ayah pasti memiliki perasaan pada bunda Nimas.


“assalamualaykum” ucap Kiky melangkah masuk ke dalam rumah setelah di antar oleh sang pembantu.


“waalaykum salam” jawab Nimas keluar dari belakang


“lho.. udah datang” ucapnya menyambut dan memeluk Kiky


“gak ganggu kan bun?” tanya Kiky


“ya gak lah.. ayo!” Nimas mengajak Kiky masuk dan duduk bersama.


Mereka asyik bercengkerama bersama, mengobrolkan bermacam hal. Nimas juga menceritakan hobinya.


“Kiky pengen belajar masak bun, papah bilang, papah sangat suka sama perempuan yang pinter masak” singgung Kiky


“papah kamu masih suka makan pete oseng pedas?” tanyanya

__ADS_1


“pete?” tanya Kiky yang tak mengetahuinya


“iya, dulu papa kamu suka sekali makan itu” jelasnya


“ahh.. ternyata dulu bunda dekat sama papah” senyumnya


“ah tidak, berteman saja” jawab Nimas merasa tertangkap


“bun.. boleh gak Kiky sering main kesini?” tanyanya


“boleh sayang” jawab Nimas


“tapi gak ganggu bunda kan?” Kiky meyakinkan


“ya gak lah, bunda malah senang ada temennya!” jelasnya


“Makan siang disini ya?” pinta Nimas


“pengennya gitu sih bun” ucap Kiky seakan malu malu


Nimas tertawa, ia mengajak Kiky ke dapurnya dan menunjukkan keahlian memasaknya.


“wahhhh,, bunda hebat” ucap Kiky


“Kiky gak pernah masak sama sekali ya?”


“enggak bun, karena terlalu sibuk jadi hampir gak sempat masak” jelasnya


“wahh,.. nanti kalau menikah gimana? Ntar suaminya lebih suka sama pembantu lho” ucapnya


Kiky terkekeh dengan sedih. Kata menikah, hal yang ia tunggu dari dulu dari Bams.


“kok sedih gitu, jangan tersinggung sayang, bunda hanya becanda” jelas Nimas


“bukan gitu bunda, tapi ... sepertinya masih menunggu kapan menikah itu” tunduk Kiky


“lho.. katanya kamu udah punya calon?” tanya nimas


“Cuma pacar bun, gak pernah naik levelnya” senyum Kiky sedih


Iya! Bams tak pernah sekalipun membahas tentang pernikahan dengannya, bahkan ia tak pernah membahas masa depan mereka.


“lhoo.. coba aja kamu singgung singgung” saran Bunda


Kiky hanya menjawabnya dengan senyum getir.


“gini aja bun, ajarin Kiky masak ya.. biar siap menikah nantinya” ucapnya kembali seperti membuat dirinya semangat.


“Oke!” ucap Bunda yang kemudian memberitahu cara memotong.


Kiky memotong sayur dengan pelan. Ia belajar dengan cepat.


“hati hati luka ya” ucap Nimas melihat Kiky. Kiky hanya menjawab dengan senyuman.


Kiky tetap fokus pda sayurnya. Saat ia diminta memotong bawang, saat itulah air mata Kiky seperti tumpah. Perih bawang tak seberapa, tapi diikuti hatinya yang luka dimana ia terus berusaha membuat dirinya sempurna untuk kemauan Bams.


“sini biar bunda aja”


“gak usah bun, masih bisa” ucap Kiky


“gak usah nangis gitu” ucap Nimas menggoda Kiky


“pedih bun pedih banget” jawab Kiky dengan lebaynya


“lho... kok kamu nangis?” tiba tiba Damar memasuki dapur.


“iya” jawab Kiky berusaha menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


“bun.. Kiky diapain?” tanya Damar


“tuh, kakak kamu protes liat adiknya nangis” ucap Nimas

__ADS_1


Damar menatap Kiky dan Kiky pun terhenti terisak mendengar ucapan Nimas


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2