
Aira mengajak Aina bicara dan menjelaskan semua yang terjadi. Aina yang dikenal sulit mengendalikan emosi mengerang marah. Menyumpah dan memaki.
“aku benci mereka ni” tangisnya
“iya iya.. ssssttttt... ssssttttt... iya iya” hanya seperti itu yang membuat Aira mampu menenangkan sang adik
Setelah lama ia memeluk Aina ia pun menatap wajah sang adik
“adik ku yang manis!” ucapnya menyeka wajah Aina yang basah
“ni..” isak Aina
“jangan benci Hana, dia gak bersalah” ucap Aira lembut
“dia putri pembunuh mamah, bagaimana aku bisa menerima itu ni?” jawab Aina
“kamu lupa! Kita dulu di benci banyak nasabah papah, kita dihina, setiap hari mendapat cacian, tapi apa itu salah kita?” tanya Aira membelai wajah sang adik dengan lembut, seolah Aina adalah adik kecilnya yang dulu merajuk.
Aina menunduk mengingat dirinya
“ingat Di, ingat kita dulu! Sekarang Hana seperti kita, apa salah dia? Bukankah dia tidak meminta ayahnya melakukan itu? sama seperti kita, apa kita meminta papah melakukan itu hingga kita yang mendapat kebencian itu?” tanya Aira lagi
Aina semakin menunduk, air matanya kembali jatuh.
“Hana hanya korban, sama seperti kita dulu.. haruskah kita memperlakukan dia seperti orang orang itu memperlakukan kita?” tanyanya lagi
Aina tersadar, Kakaknya memang benar. Gadis itu tak bisa memilih jalan hidupnya, ia tak bisa menolak menjadi putri ayahnya, ia tak bisa menghindar dari takdir yang kejam yang terjadi padanya.
“bukankah kamu bilang padaku, kamu ingin tetap seperti diri kamu dulu, tapi sepertinya kemanjaan kakak kamu membuat kamu lupa siapa diri kamu hingga kamu menghakimi dia seperti itu” ucap Aira lagi
“ni.. maafin aku!” Aina semakin sedih mendengar perkataan kakaknya.
“di.. ingat baik baik satu hal, jangan persalahkan orang lain karena kesalahan orang tuanya yang salah berbuat. Karena dia tak pernah bisa memilih dia dilahirkan dari siapa” ucap kakaknya bijak
Andre yang dari tadi menguping pembicaraan sang istri tersenyum. Mungkin dulu jika benar ayahnya yang bertanggung jawab atas kematian ibunya, Aira akan tetap kembali padanya.
“kamu memang istriku yang luar biasa” gumamnya
“ayo! Kita temui Om Hendra, kita temui Hana juga, dia sedang berduka sekarang” ajak Aira.
Aina hanya menurut dengan ajakan Aira. mereka bertemu Hana setelah acara pemakaman selesai. Ternyata Hana selama ini tinggal di rumah sakit, ia tak memiliki tempat tinggal karena Rumah tempat tinggalnya dulu disita oleh perusahaan karena penggelapan dana yang Tony lakukan.
“Hana akan tinggal di mension utama!” ucap Aira.
“tapi nona!” Hendrawan memprotes ucapan Aira
“ni?” Aina juga mempertanyakan
“om bilang! Mension itu diberikan padaku! Aku berhak memasukkan siapapun ke sana bukan?” tatapnya dingin pada Hendrawan.
Ia membenci sikap Hendrawan yang selalu memperlakukan Hana dengan dingin.
“atau memang aku bukan siapa siapa di Ai & Din?” tanya Aira lagi
“bukan begitu nona” jawab Hendrawan menurunkan bicaranya
“terus? Kenapa om protes?” tanyanya dingin, sedingin Hendrawan berbicara pada Hana
“Tony sangat ingin memiliki Mension tersebut, ia juga mencoba mengambilnya saat Tuan Besar berpulang, kami harus melalui banyak persidangan untuk menentukan siapa yang tinggal di mension, tapi sekarang, nona malah mengijinkan putrinya disana, bukankah itu..” Hendrawan tak meneruskan ucapannya karena tatapan Aira semakin
__ADS_1
menajam.
“baik kalau begitu, bagi tuan Hendrawan mension itu anda yang menguasai, maaf saya lupa!” ucap Aira mengeratkan gerahamnya.
“Ni..!” Aina memegang bahu Aira. ia mengenal sang kakak yang sangat membenci orang yang menyakiti orang lain seperti Hana dan mereka dulu.
“nona! Maafkan saya, maksud saya bukan seperti itu” Hendrawan menyesali ucapannya.
“kemarin Anda meminta saya menerima siapa saya dan menerima semuanya, tapi hari ini saya hanya meminta satu hal, tapi anda langsung menolaknya, terus untuk apa anda mengatakan semua itu?” Aira marah
“kalau Anda menolak semua yang saya minta, jadi maksud Anda , saya yang harus menurut semua dengan keputusan anda?” nada bicara Aira semakin tinggi karena emosi yang meluap.
“ni.. ingat kandungan kamu” tahan Aina
“aku paling benci dengan orang seperti dia yang hanya menyalahkan anak atas dosa orang tuanya! Aku juga mendapat perlakuan itu dulu! Apa kau tau?” teriaknya makin menjadi dengan dada yang turun naik karena emosinya benar benar memuncak.
“coba anda jawab tuan Hendrawan? Aku disalahkan semua orang di tempatku atas perilaku salah papah ku? Apa itu adil untuk ku?” ucapnya lagi seolah ingin mengeluarkan semua kekesalannya
“nona!” Hendrawan tertunduk.
“Hana! Kamu tenang saja, kamu akan memiliki tempat tinggal! Aku akan bicara dengan mas Riry, kami akan menjamin dimana kamu tinggal” ucapnya lagi
Hana hanya meneteskan air mata sejak perdebatan itu dimulai. Kini matanya basah, ia merasa bersalah atas perdebatan yang terjadi di depan matanya.
“nona maafkan saya” ucap Hendrawan
“Anda tidak bersalah tuan Rasoeka!” ucapnya
Hendrawan di panggil dengan sebutan Tuan Rasoeka oleh semua bawahan atau rekan kerjanya, panggilan Hendrawan hanya tersemat oleh orang orang sekitar yang dekat atau menjadi atasannya seperti keluarga Dinirja. Panggilan Om pun hanya dilakukan oleh Aira dan Aina, karena mereka merasa Hendrawan sudah seperti keluarga bagi kakek dan ibu mereka.
“nona tolong jangan berkata seperti itu”
Saat Aira masih emosi, Aina mengirim pesan pada Ryo untuk datang ke tempat mereka bicara.
“Nona, saya minta maaf” ucap Hendrawan lagi. Ia tak pernah meminta maaf pada siapapun karena tingginya posisinya. Tapi di hadapan Aira yang berwajah Andini, Hendrawan melemah, bagaimanapun cinta itu masih ia miliki untuk Andini.
“nona! Tuan! Maaf.. tolong berhenti berdebat, saya tidak masalah akan tinggal dimana, tolong kalian jangan berdebat karena saya” tangis Hana.
“Nona! Saya tidak meminta apapun, saya sudah berterima kasih nona memaafkan papah, tolong nona jangan mempersulit diri nona lagi, saya juga sangat berterima kasih tuan Besar, selama ini sudah membantu saya merawat papah, kalian berdua orang yang baik bagi saya, jadi.. saya mohon .. jangan karena saya kalian jadi bertengkar” ucapnya panjang lebar dengan derai air mata.
“Hana!” tegur Hendrawan
“Saya akan menjadi pelayan nona kalau nona mau, saya tidak masalah nona” ucap Hana lagi
“tidak! Tidak boleh!” ucap Hendrawan nyaring
“kenapa?” tanya Aina bicara
“saya takut ia akan membalas dendam dan akan melakukan sesuatu pada Nona berdua” ucap Hendrawan yang selalu siaga
Deg!
Jantung Aina merasa takut. Benar yang dikatakan Hendrawan, apa yang menjamin jika perempuan itu tak memiliki dendam pada keluarga mereka.
“Tuan! Anda memang berkuasa! Tapi jaga lidah Anda!!!” ucap Aira tak kalah dingin
Hana menangis tersedu mendengar tuduhan yang menyakitkan padanya.
Apa dosaku hingga aku dilahirkan begitu hina bagi mereka? benaknya meratapi dirinya menunduk semakin dalam dalam duduknya.
__ADS_1
Aira menoleh pada Hana, gadis itu tak memiliki siapa pun. Ia juga pernah seperti itu, tapi anak itu akan mengadu kemana.
Suara langkah kaki memecah keheningan diantara mereka semua.
“mas!” sapa Aira pada Ryo yang baru datang
“mas... apa boleh Hana ikut dengan kita?” tanya Aira dengan mata memelas.
“ada apa ini beib?” tanya Ryo melihat wajah istrinya yang merah pertanda ia sedang emosi.
“om Hen, Ada apa dengan istriku?” tanyanya
“Tuan tolong tengahi nona dan tuan besar, mereka berdebat karena saya” ucap Hana lagi
“mas.. tolonglah Hana” ucap Aira melembut pada sang suami
“tenang dulu beib!” ia membelai puncak kepala istrinya
“boleh aku tau masalahnya disini apa?” tanya Ryo menatap semua orang disana.
“Ni ingin Hana tinggal di mension utama, tapi Tuan Hendrawan menolak” ucap Aina melirik Hendrawan kesal
“Saya bisa mencari tempat tinggal sendiri tuan” jawab Hana
“gini aja! Sementara Hana akan tinggal di apartemen kita!” jawab Ryo menyudahi
Semua orang terdiam, mereka hanya saling tatap.
Hana pun hanya menurut. Dia ditempatkan di apartemen milik Ryo yang dulu mereka tinggali. Tapi dia lebih seperti seorang pembantu, dia sadar siapa dirinya. melihat Hana yang merendahkan diri, membuat Aina merasa iba.
Hana juga membersihkan unit milik Aina karena perintah Ryo. Tentu saja tanpa sepengetahuan dua kakak beradik tersebut.
“Hana, dengarkan aku!” ucap Ryo
“bulan depan kau akan pindah ke singapura!” lanjut Ryo
Hana mengangkat wajahnya yang menunduk. Ia terkejut dengan ucapan Ryo.
“Kamu akan melanjutkan sekolah kamu disana”
Setelah berbicara secara pribadi dengan Hendrawan, ia memahami ketakutan Hendrawan yang mengkhawatirkan Istri dan adik iparnya. Maka satu satunya jalan adalah menjauhkan wanita yang membuat Hendrawan dan kini dirinya itu jauh sejauh mungkin dari orang orang yang ia cintainya. Satu satunya jalan adalah memberikan Hana fasilitas pendidikan di luar Negeri.
*
*
Perut Aira mulai terlihat membuncit, kehamilannya kini memasuki bulan ke enam.
“mas... mas..!” Aira membangunkan Ryo lembut di tengah malam.
“massss!!!” ini Aira mulai kesal karena Ryo seperti tak bergeming setelah ia mencoba membangunkannya berkali kali.
“hemm! Iya beib” Ryo mulai membuka mata perlahan. Ia sangat lelah, ia kembali dari keluar kota karena sang istri merengek tak mau tidur sendiri, dan kini Aira kembali membangunkannya setelah beberapa jam lalu meminta jatah hariannya.
“massss...!” Rengekan Aira semakin manja
“iya sayang.. iya” Ryo mencoba Membuka matanya yang begitu sulit terbuka. Ryo berusaha mengusap kedua matanya, namun tetap saja kantuk itu luar biasa.
“perutku sakit!” ucap Aira Singkat
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~