
Sore itu Boman mengajak Bams ngobrol. Ia meminta Bams untuk bicara dan mencari tahu ada apa dengan Ryo akhir akhir ini.
“tolong loe ngomong ke Ryo, loe satu satunya orang yang dia denger” ucap Boman lagi
“mungkin sekarang udah gak lagi Bo” jawabnya
“lo ribut ma Ryo ya?” Boman curiga
Bams menggeleng
“Ryo seperti orang lain sekarang, gue hampir gak kenal dia lagi” jawab Bams
“nah itu” keluh Boman.
“ntar gue coba” Bams berdiri dan meninggalkan Boman dengan tepukan di bahu agar ia tetap semangat menjalani manajemen Boys.
Saat di perjalanan, Bams mencoba menghubungi Ryo, tapi masih saja tidak ia angkat. Ryo hanya melihat panggilan Bams yang masuk di ponselnya. Bams meneruskan perjalanan menuju apartemen Ryo. bagaimana pun Ryo sekarang, tetap saja ia adalah sahabatnya. Ia tidak ingin Ryo terlalu larut dan tersesat.
Bams memencet bell berkali kali tapi tidak ada respon dari dalam. Ia mengambil kunci apartemen Ryo yang ia bawa. Ia masuk ke apartemen itu. Ada Ryo yang hanya berbaring santai di ruang TV, ia melihat ke arah Bams yang datang.
Bams melihat tempat itu sedih, tempatnya sangat kotor dan berantakan akibat perkelahian mereka dulu. Ditambah lagi dengan sampah makanan dimana mana.
“ngapain loe kesini?” tanya Ryo dingin dan tidak peduli
“ngecek loe” jawab Bams santai
Ia mengambil minuman ringan yang di pegang Ryo dan meminumnya seperti biasa. Sangat bersahabat.
“mastiin gue mati apa gue baik baik aja?” jawab Ryo
“terserah pikiran loe” jawab Bams
“tenang aja, loe bisa pulang sekarang, gue baik baik aja” ucapnya.
“ME yang gak baik” jawabnya lagi
Ryo menatapnya kesal. Ia masih marah dengan Bams. pengkhianatan Bams tidak bisa ia terima.
“loe kalo mau marah, marah aja, tapi jangan kaya gini!” Bams menatap tegas ke Ryo
Ryo bangun dan duduk. Ia sangat tidak terurus.
“loe kecewa sama Aira?” tanya Bams
“atau loe Cuma pura pura?” lanjut Bams curiga
Ryo menanggapinya dengan senyuman sinis.
“terus loe kenapa?” tanya Bams lagi
“loe sendiri nanya, pura pura gak tau atau cuma mastiin?” Ryo bertanya balik
“loe dah tau dia, terus loe baru kecewa sekarang?” tanya Bams
Ryo melirik Bams
“loe dah tau dia kerja apa, gimana miskinnya dia, loe tetap suka ma dia, terus sekarang loe seolah kecewa karena itu?” Bams terus menyerang Ryo dengan pertanyaannya
“atau ini cuma alasan loe buat ninggalin dia karena loe bosan?” tanya Bams lagi
“mungkin!” jawab Ryo memancing emosi Bams
“gue kan pernah bilang, kalo loe mau main, jangan dia!” jawab Bams
“karena loe suka ma dia! Iya kan?” ucap Ryo menyambut omongan Bams
“iya!” jawab Bams tegas
Ryo menatap Bams sangat marah. Bams sengaja mengatakan itu agar Ryo mengerti perasaannya sendiri.
__ADS_1
“wahhh... loe terang terangan sekarang” Ryo tertawa sinis menahan amarahnya
“loe bisa senang sekarang, Aira gak di ME lagi, jadi loe bisa datang ke ME tanpa perlu menghindari dia” ucap Bams
Mendengar itu raut wajah Ryo berubah.
“maksud loe?” Ryo kaget
“Minggu depan Aira akan pulang” jelasnya
“ternyata loe bener bener deket ma dia” tatap Ryo kecewa
“gue taunya dari managemen, Aira tertangkap saat ngebawa surat cuti, dia bilang dia gak ingin ngerusak semua orang” jelas Bams
“loe puas sekarang?” ucap Bams
“loe mainin banyak cewek, gue gak pernah peduli, gue peduli bukan karena gue suka sama Aira, tapi karena nasib tu cewek sama kaya gue, dia berjuang mati matian biar adiknya mampu menyelesaikan kuliah. Sekarang dia terpaksa pergi dari kerjaan yang menyokong biaya kuliah adiknya karena loe mainin dia”
Jelas Bams lagi
“gue gak pernah mainin Aira.. asal loe tau itu!” jawab Ryo
“yang gak gue bisa terima, dia seorang rendahan seperti itu, dan loe yang... mempekerjakan dia” Ryo gak bisa meneruskan kata katanya
“gue minta maaf kalo gue gak ngomong ke loe soal gue mempekerjakan Aira di apartemen gue, Aira yang minta agar gue gak cerita soal kerjaan dia”
“jadi loe dah tau lama?” tanya Ryo lagi
Bams mengerutkan kening tidak mengerti kenapa Ryo menanyakan itu.
“loe dah tau! Tapi sekarang loe seakan mempermasalahkan kerjaan Aira” Bams menjawab lagi
“Aira gak ingin loe tau, karena dia takut loe ninggalin dia, dan ternyata itu bener” jawab Bams lagi
“mana ada cowok yang nerima ceweknya tidur sama sahabatnya” jawab Ryo emosi
“loe jangan ngaco!! Aira gak serendah itu Yo!!!” Suara Bams meninggi karena emosi.
“oyah??... buktinya malam itu!” Ryo memejamkan mata menahan emosinya pada Bams
“jadi loe pikir malam itu Aira..?” Bams mengerti sekarang kenapa Ryo seperti itu
“loe pikir Aira kerja apa?” Lanjut Bams lagi teriak marah
“loe ngomongin tarif malam itu!” jawab Ryo berusaha menahan emosinya
“astaga.. jadi loe pikir kerjaan Aira jual diri?” Bams sangat tidak menyangka pikiran Ryo seperti itu.
Ryo tidak ingin melihat Bams, ia mengambil minuman ringan di meja dan meminum habis sekaligus seolah ia ingin mendinginkan dirinya saat ini seperti mendidih. Ia pun meremas kaleng minuman itu hingga mengecil.
“loe salah paham, gooblok!” teriak Bams
“oya? salah paham?” Ryo sinis
“Aira kerja sebagai asisten rumah tangga panggilan, tarif? Iya.. tarif Aira sekali panggil, dan gue memakai jasa Aira karena dia kekurangan untuk biaya adiknya. Loe tau kenapa Aira gak pernah makan bareng teman temannya? Karena dia selalu membawa bekal sederhana yang kadang isinya hanya tempe. Gue pernah pergokin Aira waktu selesai membersihkan salah satu kamar di apartemen Kiky, dan dia bilang kalau dia kerja sebagai cleaning service. Gue minta Aira membersihkan tempat gue karena gue ingin bantu dia. Tarif? Iya.. tarif yang gue kasih lebih mahal, karena Aira gak mau terima bantuan gue percuma. Gue pernah tawarin beasiswa untuk adiknya, tapi dengan tegas Aira menolak. Itu satu satunya cara gue bantu dia” jelas Bams panjang lebar
“Aira kerja apapun untuk mencukupi hidup dia dan biaya hidup juga kuliah adiknya di kampung” jelas Bams lagi dengan sangat emosi. Ia benar benar marah pada Ryo
“tapi bukan menjual diri!!!” Teriak Bams emosi. Ia tidak habis pikir Ryo berpikir sekotor itu.
“tapi malam itu apa yang gue lihat...” Ryo tidak bisa berkata lagi kembali mengingat kejadian itu.
“emang apa yang loe liat? gue cuma ngobrol sama Aira”
“Aira pake baju loe” jawab Ryo lagi
“jadi loe marah karena itu?” Bams merasa lega
“gak usah loe tutup tutupin semuanya dengan dalih kemiskinan Aira” Ryo menjawab dengan ketus.
__ADS_1
"loe memang manusia brengseek" Bams kesal mendengar Ryo masih tak percaya
“malam itu Aira ngomong ke gue, kalau dia akan berhenti bekerja, dia ingin mempercayakan hidupnya ke loe, dia ingin melawan dirinya untuk loe, malam itu dia bikin kue yang pernah mau dia bikin, terus baju Aira kotor karena tepung, gue minta dia ganti dan mencuci bajunya sementara menunggu kuenya jadi” jelas Bams lagi
“terus omongan loe?” Ryo menanyakan lagi
“omongan apa?”
“loe minta maaf ke Aira karena gak pelan pelan...” Ryo malu menyebutnya
Bams tertawa mendengar Ryo menanyakan itu.
“tangan Aira kena air panas karena gue masukin air itu langsung gak pelan pelan goblook” jelasnya sangat marah dengan kesalah pahaman Ryo
“loe gak percaya kan? nih.. Gue tunjukan fotonya kalo loe masih gak percaya” Bams mengambil ponselnya
Bams menunjukan pesan yang dia kirim ke Aira malam itu, tertulis ‘kenang kenangan membuat roti’. Ryo melihat tanggal pesan itu tepat, pesan itu benar – benar malam itu.
Ia teringat kejadian malam dimana ia memanggil Aira, Aira meringis kesakitan karena tangannya yang memerah. Ryo bernafas berat, ia merasa bersalah. Ia menunduk, apa yang sudah ia pikirkan.
“jadi loe marah karena itu?” tanya Bams lagi
Ryo menutup wajahnya dan menghela nafas. Ia benar benar salah paham.
Ya tuhan apa yang telah gue lakukan? Maafin aku beb.. maafin aku..! benaknya
“loe bilang cinta ma dia, tapi loe gak tau apa apa tentang dia.. itu yang loe bilang cinta? Heh?” Bams meremehkan perasaan Ryo ke Aira
“loe tau gue gak pernah serius sama cewek, tapi sama Aira ... itu beda” jawab Ryo
“gue tau” jawab Bams, kini memandang kasihan pada Ryo.
“Aira sangat takut loe tau dia kerja sebagai assisten rumah tangga, dia selalu merasa kalau dia gak pantas buat loe, malam itu dia putuskan buat bersama loe dan melepas semuanya, tapi ...” Bams tidak bisa melanjutkan omongannya
“Karena aku bukan cewek yang cocok untuk seorang Ryo”
“apa kamu sadar? ini pertama kalinya kamu menyebut namaku!” Ucap Ryo dengan tatapan sedih
Aira terdiam
“terus yang cocok buat aku seperti apa?” Ryo terus bertanya balik ke Aira
Aira tidak bisa berkata kata lagi, ia ingin keluar dari mobil Ryo. Ryo menahannya.
“jawab dulu ai!” pinta Ryo
“Cewek yang bukan seperti aku!”
Ryo menunduk menggeleng geleng mengingat obrolannya dengan Aira, ia benar benar merasa bersalah dengan dirinya saat ini.
“apa yang sudah gue lakuin?” Ryo mengeluh sendiri
“gue udah nyakitin orang yang sangat gue cintai” Ryo terus tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan.
“sekarang lo harus minta pengampunan ke dia” ucap Bams memberi semangat
“iya.. gue berharap Aira bisa maafin gue, karena kalo gak ... gue gak tau lagi harus ngejalanin hari gue kaya gimana” jawab Ryo sedih
Bams menanggapinya hanya dengan senyuman miris.
“kalau loe gak telat!” ucap Bams
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Like Like Like Like Like
Vote Vote Vote Vote Vote
Komen Komen Komen Komen
__ADS_1