Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Tak sabar bertemu denganmu


__ADS_3

Aina menatap serius sang kakak seakan membaca  kembali misteri di raut wajah Aira.


“aku akan kenalkan kamu dengan ayah dari anakku” ucap Aira dengan suara bergetar karena ragu dan kegugupan akan mengungkap sebuah kebenaran yang mungkin membuat posisinya sulit.


“ni? Apa dia salah satu personil yang ikut dalam tur Boys?” tanya Aina


“apa mas Riry itu bekerja di ME?” lanjut Aina


Mulut Aira sedikit membuka mendengar lidah Aina menyebut ‘Mas Riry’


“dari mana kamu tahu?” rasa gugup kembali menyerang Aira. panas dingin tubuhnya seketika hinggap terus menyengat setiap kulit arinya.


“dari kamu ni” ucap Aina ragu melihat seketika tubuh Aira gemetar


“apa?” Aira masih ragu


“dari mulut kamu sendiri.. aku mendengar kamu menyebutnya setiap malam dalam tidur mu” jelas Aina


Aira menunduk. Beruntung ia tak menyebut dengan nama Ryo.


“dia kan ayahnya?” tanya Aina lagi


Aira hanya menunduk pelan.


“ni..” panggil Aina mendekat dan memeluk sang kakak


Kenapa kamu selalu gugup untuk mengatakan lelaki itu? benak Aina bertanya


“aku akan ijin, kita akan kesana, lagian.. lusa aku gajian, gaji ku kan gede ni... cukup buat kita beli tiket sama nginap disana” Aina berusaha menenangkan dan menghibur sang kakak.


“aku udah pesan tiketnya, aku juga udah booking hotel, tapi atas nama kamu” lanjut Aira


“wahhh... mantap tuh muach muach” Aina berpura pura melupakan obrolan berat barusan.


Aira terkekeh dengan kemanjaan adiknya yang selalu ia suka. Selalu senang ketika menerima hadiah darinya, tak pernah menyalahkan atau bertanya. Paling tidak ia seorang adik yang tak menambah beban pikirannya dengan pertanyaan pertanyaan yang tak mampu ia jawab.


Hingga hari yang ditunggu, Aira selalu menyinggung dan meminta Aina untuk menerima sang kakak ipar yang disebut Aira Mas Riry.


“ni.. emang mas Riry itu tampan ya?” tanya Aina


“hem... banget!” ucapnya


“ku buka blokirnya di wa ku ya?” pinta Aira


“jangan, nanti aja!” ucap Aira


“kenapa sih ni.. kok ni gak berani nunjukin ke aku fotonya?” tanya Aina lagi saat mereka duduk santai bersama


“karena dia terlalu tampan” kilah Aira

__ADS_1


“aahh ni... tunjukin dong” pinta Aina


“nih!” Aira menunjukkan salah saru foto Ryo yang ada di salah satu situs online


“ahhahahaahaha.. ni selalu gitu deh!” Aina terbahak


Begitu pula Aira.


“gimana kalo beneran Ryo jadi kakak ipar kamu ya?” singgung Aira


“aku akan tunjukin ke semua orang, kalau aku punya kakak ipar seleb .. sapa tahu aku ikut viral.. hahhhahahaha” ucap Aina


“oya ni.. ni kan kenal Ryo, nanti bawa aku foto bareng dia ya ni?” rengek Aina


“kasih apa dulu..?” goda Aira


“hhhmmmm....?” Aina menyipitkan matanya melihat sang kakak


Aira berusaha menjauh, karena ia tahu sang adik akan menggelitik tubuhnya setelah ekspresi seperti itu


“gak ya ... ingat ponakan kamu!!” ucap Aira menghindar


“ahahhahaha..” tawa Aina lepas


***


Akhirnya hari yang ditunggu tunggu Ryo tiba, konser terakhir, seperti biasa, ia akan menunggu Aira menghubunginya. Rasa  gugup menyelimuti, detak jantung terus memacu, bayangan akan kembali bersama terus menari dalam kepalanya.


Aira dan Aina menyentuhkan kakinya di kota B, Aira menggunakan masker dan memakai hijab untuk menutupi dirinya.


“ni masih takut?” tanya Aina meliht sang kakak yang berpakaian berbeda


“Cuma lebih nyaman kaya gini” jawabnya


“oo...” Aina hanya menanggapi dengan ber oh ria


Ketika mereka berada di perjalanan menuju hotel. mobil mereka tepat berada di samping van Boys yang juga menuju arah yang sama. Namun sangat disayangkan mereka tak saling melihat satu sama lain.


Perjalanan menuju hotel membuat jantung aira semakin berdetak kencang. Ia seperti tak siap dengan malam yang menentukan hubungannya dengan Ryo dan Aina.


Pancaran bayangan keindahan pertemuan kembali terus terlintas dan berdansa dalam pikiran Ryo. Kegugupan Aina yang akan bertemu langsung dengan sang bintang, serta keraguan dan ketakutan Aira mengungkap kebenaran pada sang adik seperti kecamuk tersendiri dalam emosi yang tak mampu digambarkan bahkan oleh seorang pujangga.


Langkah aira menurunkan kakinya menginjak pelaran hotel seperti berat. Rasa takut semakin meronta dalam dadanya. Kata kata jika, mungkin, akankah, seakan terus menggema dan membunyikan genderang perang dalam dada dan kepalanya.


Berbanding terbalik, antusiasme Aina luar biasa, langkah kaki semangat seakan menuju singgasana puncak keinginan yang akan tercapai membuatnya tubuh dan semua barang mereka menjadi ringan ia tenteng.


“ni.. aku udah gak sabar nunggu malam” ucap Aina dengan senyum yang bisa Aira baca sebagai keceriaan dan kebahagiaan luar biasa sang adik.


Wajah Aina terus tersenyum, laksana seorang kekasih yang baru saja menemukan cintanya,  memasuki kamar hotel dengan berlari kecil seolah akan menghabiskan malam pertama.

__ADS_1


Aku senang melihat kamu gini Di... tapi apa kamu akan tetap tertawa dan tersenyum seperti itu setelah tahu siapa


ayah dari anakku?


“ahh..!” Aina menghempaskan tubuhnya di kasur empuk hotel yang dipesan Aira.


“ni.. kamar ini pasti mahal” ucap Aina yang melihat pemandangan keluar.


“hem!” jawabnya


“ni gak habisin tabungan gara gara ngajak aku kesini kan?” tanya Aina lagi


“masa istri Ryo nginap di kamar biasa?” canda Aira dengan wajah memamerkan diri.


“hahahhahahaha” Aina terbahak menganggap semua omongan Aira lelucon semata


“iya juga ya”


Mereka menikmati pemandangan dari balkon hotel dengan pikiran yang bicara. Sedang Ryo menghabiskan waktunya untuk gladi malam ini.


“Apa gak bisa loe taruh dulu HP loe yo?” pinta Bella


“HP Ryo sama gue kok!” jawab Boman yang masih berdiri mengawasi anak anak Boys yang melakukan gladi terakhir untuk konser malam ini.


“tuh di tangan Ryo apa an?” tanya Bella protes


Boman menyadari, jika Ryo memegang ponsel lain selain miliknya


“loe pilih gue taruh hp gue tapi kita gak usah gladi, atau gladinya diterusin dengan ini?” ancam Ryo


Bella hanya melirik Bams yang ia anggap orang yang paling mengerti Ryo. Bams menganggukkan kepalanya pelan dan gladi pun akhirnya di teruskan.


Malam mulai menyentuh bumi, matahari kini mulai terlelap di peraduannya, hanya bulan sabit dan bintang bintang yang seakan menjadi saksi atas pertemuan mendebarkan ketiga manusia yang mungkin akan menyelami debaran perasaan gugup mereka masing masing.


Suara dering telpon yang Ryo tunggu mulai terdengar. Sebuah nomor terlihat jelas terulis pada layar ponselnya. senyum lebar terlihat mengambang menggambarkan debaran jantungnya yang tak hentinya berpesta.


“halo sayang...” ucap Ryo mengangkat


Bersambung..


\~\~\~\~\~\~\~\~


Buat yang bertanya mengapa beberapa hari tidak ada update,


Mohon maaf karena kondisi saya sedang sangat tidak sehat, ini saja saya paksakan agar masih bisa memberi lanjutan pada yang masih setia membaca dan ingin mengetahui cerita akhir dari novel ini..


maaf sekali lagi.. karena kondisi kesehatan saya membuat reader menunggu dan kecewa 🙏🏻


mohon tetap setia menjadiakn novel ini favorit dan membacanya.. dan mohon doanya juga untuk kesembuhan saya..🙏🏻

__ADS_1


terima kasih 🙏🏻


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2