Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Aku Senang Kamu Marah


__ADS_3

Langkah pelan kaki Kiky memasuki apartemen terasa pedih. Kini ia menyadari kakinya yang terluka. Ia menyadari kebodohannya yang telah membutakan diri dan hatinya.


Seharusnya cukup hatiku yang terluka, kenapa sekarang aku juga melukai tubuhku? Benak Kiky menatap luka lecet pada kakinya yang terasa panas.


Ia bersandar sejenak pada kursi malas di ruang tengah. Matanya menerawang menatap langit langit apartemen yang mengabu karena temaram cahaya malam.


Helaan nafas lelah seakan menggambarkan semua perasaannya saat ini. lelah dengan pekerjaan dan lelah dengan hati yang tak mampu ia lawan.


Goresan kekecewaan dan kecurigaan karena terlalu seringnya ia menemukan fakta tentang kebohongan, membuat ia tak bisa lagi percaya. Seakan semua alasan Bams hanya untuk menghindarinya.


Aku sadar aku bodoh. Aku sadar aku akan menyakiti diriku lagi. Tapi aku tak mampu melupakan sedikitpun tentangmu.


Benaknya kembali berperang. Menghasut dirinya untuk sadar, menyeret pikirannya untuk keluar, tapi .. hati itu terlalu tertutup dan terkunci hanya dengan cinta untuk  satu nama, Bams.


Gambaran kekecewaan Kiky malam ini seakan diikuti oleh rintik hujan. Tetesan air langit dari Ilahi seakan mengikuti tetesan air matanya.


Ia melirik malas ke arah jendela yang kini diterpa angin dan hujan, basah dan tampak menyedihkan. Seakan menggambarkan dirinya saat ini.


Kiky bersandar malas memejamkan mata. Tanpa ia sadari ia terlelap  dengan sendirinya. Pikiran gundahnya telah menyerah, menyerah dengan semua lelah yang ada.


Suara kode pintu ditekan. Pintu telah terbuka, sesosok manusia tampan memasuki ruang apartemen dengan cahaya remang.


Bams berdiri disamping kursi malas Kiky, menatap kecewa pada perempuan yang telah bertahun tahun menemaninya. Ada rasa panas dalam dada mengingat senyum Kiky yang tersungging untuk lelaki yang tadi mengantarnya pulang.


Bams duduk di tepi kursi, menatap wajah Kiky yang terpejam. Ada jejak air mata di wajah yang masih terbalut make up yang sempurna.


Aku marah Ky! Benak Bams berbisik.


Tapi kenapa hatiku sakit melihat kamu kaya gini? Bams mencoba memahami hatinya yang terus berkecamuk sendiri.


“Bams..” mulut Kiky mengucap lirih nama kekasih dalam tidurnya.


Cintanya pada Bams sudah mengurat dan berakar. Bahkan alam bawah sadarnya pun selalu menyebut nama itu dan selalu mengisi setiap mimpinya.


“kamu menyebut namaku di saat tidur, tapi kamu bersama orang lain dan tersenyum senang” ucap Bams pelan dan bergumam


Bams hanya duduk disana, tak memintanya bangun, tak menyentuhnya, tak membawa tubuh Kiky ke kamar, hanya menatapnya. Ia mencoba kembali memahami hatinya, memandang kembali dan mencoba mencari kenangan selain bercinta dengannya.


Tapi bayangan kenangan itu tak mampu ia cari, karena bayangan bersama Aira justru menari kembali.


“ehmm,..” Kiky terbangun dari lelapnya.


Matanya merasakan bayangan Bams yang hadir duduk disana.


“aku telah gila, selalu membayangkan mu ada” ucap Kiky lirih kembali memejamkan mata.


“kau tahu.. kamu telah mengambil hidupku, hatiku, cintaku dan jiwaku.. bahkan dalam mataku selalu ada kamu” ucap Kiky tersenyum membuka mata.


“aku takut berkedip, takut bayangan kamu menghilang!” ucap Kiky tersenyum pada Bams yang menatapnya datar dan dingin.


Matanya memerah karena tak ingin berkedip, air matanya mulai meleleh disudut matanya. Tubuhnya tak bergerak. Ia takut mimpinya akan menghilang saat itu.


“siapa lelaki yang mengatarmu tadi?” tanya Bams dingin

__ADS_1


Seketika Kiky tersadar jika sekarang bukanlah khayalannya, bukan juga mimpi. Suara itu begitu jelas terdengar, bibir itu telah mengeluarkan kata kata.


“sayang! Aku gak mimpi?” Kiky menegakkan tubuhnya dan memeluk Bams. Rasa ragu, kecewa, marah, seketika sirna tanpa permisi. Ia kembali larut dalam cintanya.


Kiky memeluk erat tubuh Bams. ia terlalu senang hingga tak menyadari sikap dingin dan tatapan tajam mata Bams saat tadi menatapnya.


Kiky melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Bams.


“sayang kamu udah makan?” tanya Kiky tersenyum senang


“jawab pertanyaan ku!!” tanya Bams dingin


“hem?” jawab Kiky dengan pancaran senang di matanya.


“jawab Ky?” suara Bams meninggi


Melihat Kiky yang senang Bams justru marah. Ia berpikir senyum Kiky sekarang karena ia merasa senang dengan kejadian yang tadi ia saksikan.


“sayang?” ucap Kiky yang kini berwajah sedih kembali.


Sakit rasanya mendengar suara itu meninggi, suara itu seakan begitu tajam seperti panah yang langsung menuju hatinya.


“siapa dia?” tanya Bams lagi dengan nada dingin


“dia?” tanya Kiky mencoba memahami pertanyaan Bams


“pemilik sepatu jelek itu!” tunjuk Bams pada tanpa menoleh arah tangannya yang menunjuk pada sepatu yang terletak di pojok.


Kamu cemburu? Benarkan kamu cemburu sayang? Benaknya girang.


Tapi senyum itu justru membakar kembali emosi Bams. Senyum sinis terlukis di bibir Bams saat melihat senyuman Kiky yang senang saat ia menyebut sepatu lelaki itu.


“kamu bahkan langsung tersenyum saat aku menunjuk benda berengsek itu!” ucap Bams dengan nada rendah tapi berisikan amarah.


Kiky memiringkan kepalanya dan semakin tersenyum. Ia ingin sekali tertawa saat ini. tapi ia terus menahannya. Ia begitu bahagia merasakan kecemburuan Bams yang ia artikan sebagai cinta.


Apa kamu mulai mencintaiku? Benak Kiky menatap Bams yang sudah berkabut amarah.


Tak ada rasa takut, tak ada kekhawatiran, tak ada kecemasan. Ia berani tersenyum di tengah Bams yang sedang mengatur ritme jantung emosinya, terus memacunya pada pembakaran amarah yang menghanguskan pikiran Bams saat ini.


“jawab Ky!!!” bentak Bams membuat semua senyum Kiky menghilang.


Tapi wajah Kiky begitu tenang. tak takut akan bentakan keras Bams padanya.


“kamu marah?” Kiky membelai rahang kekar itu.


Tapi Bams menepis tangan Kiky.


“katakan, sejak kapan kamu bermain di belakangku seperti ini?” tanya Bams lagi meninggi


“jadi kamu marah!” ucap Kiky lagi


Kiky kembali tersenyum, tubuhnya tak bergerak, lelah yang tadi ia rasakan menghilang karena melihat kemarahan Bams yang baginya menyenangkan.

__ADS_1


“jawab Ky?” Bams memegang kedua bahunya erat.


“kamu juga gak menjawab pertanyaanku?” jawab Kiky lembut.


“huft!” Bams menghela nafas dan berdiri dari duduknya. Ia berpaling ingin pergi, hingga kakinya mulai terayun beberapa langkah, dengan cepat Kiky mengejar dan memeluknya dari belakang.


“aku senang kamu marah! Aku senang kamu cemburu! tapi yang harus kamu tahu, kamu tetap satu satunya orang yang mengisi hatiku” jelas Kiky mempererat pelukannya.


Cemburu? gue cemburu? Bams mencoba memahami perasaannya sendiri dalam pelukan Kiky


Ia memang merasakan dada yang panas, pikiran yang kacau, tubuh yang menegang ketika melihat Kiky bersama lelaki itu. Ia merasakan kebencian terasa menusuknya. Tapi apa itu bisa dikatakan cemburu? sepertinya tidak, karena perasaan Bams tak sekecewa dia melihat Aira bersama Ryo.


Jika gue cemburu, seharusnya perasaan ini sama ketika melihat Aira? jika gue cemburu, berarti gue udah punya perasaan itu ke Kiky? Tapi kenapa jantung gue gak berdetak beda saat bersamanya? Kenapa detak jantung itu hanya ada ketika gue bersama Aira?


Bams diam bukan meresapi pelukan kasih sayang Kiky, tapi mencoba mencerna sendiri pikiran pikiran yang mengganggu perasaannya.


“aku bertemu dengannya saat aku menunggu taksi, dia hanya menawarkan bantuan, aku juga gak kenal dia sebelumnya, dia memberikan sepatunya karena kakiku terluka” ucap Kiky semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di punggung Bams.


“kamu sangat tahu.. aku hanya mencintai kamu seorang, bahkan aku mencintai kamu melebihi diriku sendiri” ucap Kiky menjelaskan


“terima kasih sayang kamu cemburu, aku senang! Akhirnya ...” ucapnya lagi memejamkan mata memeluk tubuh yang ia anggap telah memiliki hatinya juga.


Bams memejamkan mata menyadari dirinya. perkataan Kiky membuatnya sadar akan keadaan dan terus bertarung dengan pertanyaan hatinya.


Helaan nafas ketenangan Bams membuat senyum Kiky terukir. Nafas lega itu seolah mengatakan ia senang mendengar setiap kata yang Kiky ucapkan. Namun helaan nafas Bams hanyalah sebuah hembusan keinginan melepas lelah dengan dirinya sendiri.


Bams melepas tangan Kiky yang melingkar di perutnya, memegang erat tangannya. Kembali menarik nafas dan membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah itu.


Mata Kiky berbinar cinta menatap kekasih yang tak lagi menunjukkan raut amarah. Bams membelai wajah Kiky lembut. Ia menunduk menatap kaki Kiky. Terlihat merah pada sisi kedua jempolnya, plester menempel pada belakang atas tumitnya.


“ayo!” Bams membawa Kiky kembali ke kursi malas. Mendudukkan Kiky dengan menekan lembut kedua bahunya. Sedang tatapan Kiky terus melekat pada raut wajah Bams, ia ingin terus membaca mata itu, mencoba mencari tatapan binar cinta yang ia tunggu. Tatapan yang pernah ia lihat ketika Bams menatap seorang Aira.


Bams berjongkok, melihat kembali kondisi kaki Kiky.


“kenapa bisa gini?” Bams mengangkat wajahnya menatap Kiky yang sedikit membungkuk menatap dirinya.


Kiky menundukkan pandangannya, tak berani mengatakan jika tadi ia kesal dan berjalan kaki.


“sepatuku kayanya bahannya gak bagus, jalan sedikit aja bikin lecet kaya gitu” ucapnya berbohong.


“buang sepatunya, jangan dipake lagi!!” kata kata Bams seakan menggambarkan sebuah titah.


“hem!” jawab Kiky tersenyum senang.


Bams menaikkan lengan bajunya. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil air hangat. Kiky hanya duduk menyaksikan semua perhatian Bams.


Dengan telaten, Bams membersihkan kaki Kiky, mengeringkan, mengobatinya. Hati Kiky bak ditumbuhi taman bunga dengan jutaan warna, kembali merasakan perhatian yang ia anggap sebagai cinta. Mengartikan setiap sikap manis Bams sebagai sebuah perhatian kekasih sesungguhnya. Membuatnya kembali melayang dan melupakan betapa sakit ia pernah jatuh.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mampukah Kiky bertahan jika Bams mengatakan sebuah kenyataan jika perasaannya untuk Aira?


Apa yang akan terjadi dengan Kiky jika Bams memilih Aira dan meninggalkannya?

__ADS_1


__ADS_2