
Tiba tiba pesan Bams masuk.
‘bawa kopi, soalnya aku bilang kamu beli kopi’ tulisnya
“terima kasih nak Aira” ucap sang ayah sebelum pergi.
Aira pun membeli kopi dan menuju ruangan Ryo dengan hati senang
“malaikat” ia tersenyum mendengar kata itu. setelah sekian lama, hanya ada dua lelaki paruh baya yang menyebutnya malaikat, almarhum ayahnya dan ayah Ryo. Aira merasa ayahnya kembali berasa disana.
Pah.. aku dipanggil malaikat lagi! Benaknya berucap
“gue pergi dulu” ucap Bams saat Aira memasuki ruangan itu
“mau kemana?” Aira melihat Bams akan pergi
“balik ke ME” jawab Bams
“aku ikut!” ucap Aira lagi
Ryo menganga mendengar itu. Aira baru saja memasuki ruangannya tapi dia bilang ikut balik. Aira melirik Ryo dan tertawa bersama Bams. Ryo masih melongo seolah merasa ia baru saja di kerjai dua orang itu.
“awas kalo aku dah pulih, aku balas kalian” ucapnya ikut tertawa
"marah tuh marah .." ejek Aira
Aira duduk di sampingnya. Dan menatapnya. Ia kembali tertawa.
Ryo menggenggam tangan Aira dan menatapnya senang dengan tawanya.
“aku duluan ai..” ucap Bams benar benar pergi kali ini. Bams tidak kuat melihat kemesraan di depan matanya.
“besok pulang jam berapa?” tanya Aira setelah Bams menghilang dari balik pintu
“sore mungkin!” jawab Ryo santai
“oo...” Aira menanggapi sedih
“kamu gak seneng aku pulang dari rumah sakit?” tanya Ryo menanggapi ekpresi Aira
“ya seneng lah kamu pulang” jawab Aira dengan senyum terpaksa
“tapi kok ekspresi kamu kayanya gak seneng deh” jawab Ryo lagi
“aku seneng kok” ucapnya lagi
Ryo menatap Aira seolah masih menanyakan kenapa dia berekspresi sedih seperti itu.
“Aii...?” panggilnya pada Aira yang menunduk dan menggenggam erat tangan Aira yang sejak tadi ia genggam.
“aku sedih karena kamu pulang dari sini.. karena kamu gak ada yang ngerawat, sedangkan kamu masih belum sembuh betul” Aira menatap Ryo sedih
Ryo kaget dengan jawaban Aira
__ADS_1
“kan ada kamu!” ucapnya lagi
“itu yang bikin aku sedih lagi, dulu waktu aku sakit, karena kamu seorang dokter, kamu tahu betul apa yang harus kamu lakuin, sedang aku.. apalagi siang aku harus kerja, huh... !” Aira kembali menunduk dan melihat tangan Ryo yang menggenggam tangannya.
“aku gak perlu perawatan kok” ucap Ryo menyemangati Aira
“tangan kamu masih di balut perban sama gips gini masih bilang gak perlu, terus tu kepala juga masih pake peci gitu?” Aira protes dengan candaan yang mengatakan perban di kepala Ryo dengan sebutan peci
Ryo tersenyum merasa senang Aira memperhatikannya
“kamu jangan sedih, aku paling gak suka liat kamu sedih... aku udah sembuh, Cuma ini yang belum” ucap Ryo menunjukan lengannya
Aira menanggapinya dengan senyuman kecut
“aku senang kamu khawatirin aku, itu seolah mengatakan aku milik kamu” Ryo mencoba merayu Aira agar ia tidak seperti itu lagi
“dasar penggombal” Aira tersenyum
“gini aja.. hhmm..” Aira berpura pura berpikir
Disaat yang sama, ibu Ryo berada di luar ruang itu. Ia batal memasuki ruang itu ketika melihat Aira bersama Ryo.
“kamu pulang ke rumah, jangan ke apartemen” ucap Aira
Sang ibu terkejut mendengar itu. Ia pun membatalkan pergi dari sana dan mencoba menguping pembicaraan Aira dan Ryo
“gak.. aku gak mau!!” jawab Ryo tegas
“huh..” Aira menghela nafas
“aku bisa sendiri beib..” jawab Ryo
“kamu lebih senang liat aku sedih mikirin kamu sendiri disana, dari pada pulang ke rumah dan buat aku tenang?” Aira memaksa
“jangan jadikan kamu sebagai alasan agar aku pulang, aku gak suka!” Ryo kesal
“dulu.. waktu aku masih kecil, aku selalu bermain dengan teman temanku, sibuk dengan bermacam aktivitas sekolah, les, balet, aku hampir gak pernah bermain bersama ibu” Aira melepaskan tangan Ryo
Ia menggenggam tangannya sendiri
“waktu SMP, ibu sering mengajakku untuk membuat kue bersama, atau meminta untuk membantunya memasak” lanjutnya perih
“aku selalu menolak, karena aku beranggapan, untuk apa memiliki pembantu”
Aira diam, ia berusaha menutupi kesedihannya
“saat ibu pergi, aku baru menyesali semua itu, aku tidak memiliki kenangan indah bersama ibuku, bersama orang tuaku, sangat sulit menemukan penggalan kenangan, selain kenangan kenangan dimana aku membanggakan tropi dari prestasiku..” Aira semakin larut dengan penyesalannya
Ryo terdiam melihat Aira seperti itu
“penyesalan itu hampir saja terjadi lagi, ketika aku melihat kamu terbaring koma” tangisnya pun pecah. Ia sudah tak
bisa membendung lagi.
__ADS_1
“jika terjadi sesuatu pada kamu, aku pasti gak akan sanggup hidup lagi..” Aira menangis.
Ryo menarik Aira kedalam pelukannya. Ia terus menangis tersedu sedu
“maafin aku..!” ucap Ryo memeluknya erat
Aira terus menangis mengingat penyebab kecelakaan yang menimpa Ryo karena dia.
“aku gak akan sanggup menghadapi hidupku sendiri, jika kamu pergi karena aku” ucapnya lagi dan terus menangis
“aku ngerti perasaan kamu..”
Ryo memeluknya erat. Ia berusaha membuat Aira tenang dalam pelukannya. Ibunya menunduk mendengar Aira yang begitu tulus mencintai putranya, begitu pula sebaliknya.
Saat itu tim dokter datang untuk melakukan pemeriksaan pada Ryo. ibunya pun melarang mereka melakukan itu dan meminta kembali lagi nanti.
Aira melepaskan pelukan Ryo, Ryo menyeka air mata Aira yang basah di pipi.
“tapi aku gak bisa pulang” ucap Ryo lagi
“Ryo... perasaanku hanya perasaan seorang kekasih, aku gak sanggup ngebayangin kehilangan kamu, melihat kamu seperti itu, rasanya aku ingin mati, aku gak sanggup membayangkan hati seorang ibu, yang melihat putranya terbaring koma, seolah menghadapi sang pencabut nyawa.... sedangkan ia justru dijauhi putranya semasih dia sehat..” keluh Aira kembali meneteskan air mata.
Ryo tidak bisa berkata kata, apa yang Aira ucapkan benar. Ia lupa bahwa ada orang lain yang menganggap hidupnya berharga.
“aku mohon, kamu pulang ke rumah, aku gak ingin kamu seperti aku, aku ingin kamu memiliki cerita tentang kenangan kenangan kamu bersama orang tua kamu” ucapnya lagi
“hhmmm... aku pulang ke rumah!” jawab Ryo lembut membelai wajah Aira. ia tidak tega jika ia harus berdebat lagi dengan kekasihnya yang kini terisak
“sungguh?” tanya Aira disela isak tangisnya
“hemm!! tapi dengan satu syarat!” lanjutnya lagi
“hhmm?” Aira menanyakan
“kamu harus tiap hari mengunjungiku” lanjut Ryo
Ekspresi Aira seketika berubah. Bagaimana mungkin ia akan nyaman berada disana, sedangkan itu rumah mereka?
Emang aku bisa bebas ke sana? Ya gak mungkin lah...! benak Aira
“lihat! kayanya kamu keberatan dengan syaratku!” Ryo menanggapi ekspresi Aira
“aku mau ke kamar mandi” jawab Aira menghindar
“Tu kan kamu ngehindarin 'kan,...?”
Ryo hanya tersenyum kecil melihat kelakuan cintanya yang berlari kecil menuju kamar mandi
Ibunya yang mendengar di balik pintu tersenyum. Gadis itu tidak egois, itulah yang ada di pikirannya saat itu dan Ia
pun pergi dari sana dengan senyum dikulum.
Dia telah berhasil membujuknya.
__ADS_1
----------------------