Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Kembalilah padaku


__ADS_3

1.        Kembalilah padaku


“mau kemana loe?” tanya Bams saat melihat Ryo melangkah ingin keluar pintu


“menyelesaikan masa lalu” ucap Ryo kemudian keluar dan menghilang.


Mobil Ryo menderu terdengar garang keluar dari daerah sunyi tersebut. Meninggalkan gumpalan debu yang pekat, sepekat pikirannya saat ini.


Bams menghela nafas, ia menyandarkan diri di sofa setelah menerima semua kenyataan yang telah diceritakan satu persatu. Bams memejamkan mata mencoba menenangkan kembali pikirannya, namun sepersedetik kemudian, ia membuka mata dan menegakkan tubuh kembali.


“ya tuhan!” pekiknya


“ada apa?” tanya Aina


“Ryo!” ucapnya berdiri dan bergegas ingin pergi


“kenapa Ryo?” tanya Aina


“dia pasti mendatangi Boman” ucapnya melangkah pergi


“memangnya kenapa?” susul Aina


“dia pasti akan bunuh Boman” ucap Bams menoleh sejenak pada Aina dan berlari turun menuju mobilnya.


Benar apa yang dikatakan Bams, mobil Ryo memang meluncur menuju ME, membawa amarah, kekesalan dan kebencian yang kini membakar habis tubuhnya. Mengalirkan lava panas dalam setiap pembuluh darahnya.


Bams pun yang memacu mobilnya dengan cepat agar ia sempat menahan sang sahabat sebelum berbuat kesalahan yang mungkin akan menghancurkan dirinya sendiri.


Nuuuuuttt.. nuuuutttt... nuuuutt..


Suara panggilan telpon yang belum diangkat.


“demi tuhan Bo.. angkat telpon gue” ucap Bams yang terus menghubungi Boman


Boman yang melihat Bams terus menghubunginya hanya melirik. Ia sedang fokus pada meeting perencaan untuk ME.


Langkah Ryo memasuki ME dengan tergesa, gerahamnya terus mengerat menahan emosi dalam dirinya. Ia melangkah menuju ruang Boman, tak terlihat siapa pun disana, bahkan sang asisten pun seperti tak ada. Ryo berlari menuju ruang meeting


Brak!


Suara pintu dibuka dengan garang. Matanya tertuju pada Boman yang duduk tak jauh dari pintu. Ryo terus mendekati Boman dan langsung menjatuhkan tinju pada wajah Boman yang sedikit cubby.


“Ryo!” teriaknya kaget


“loe sudah gue peringatkan!!” teriak Ryo sambil terus menjatuhkan pukulan.


Semua orang disana mencoba menahan Ryo tapi alhasil, amarah Ryo lebih dari kekuatannya saat ini. Pukulan terus jatuh dan kini ia menarik baju Boman dan membanting tubuhnya. Ryo menendang Boman dengan emosi tingkat yang sudah tak bisa di redam. Teriakan orang orang semakin hisiteris, semua berdatangan dan ingin menghentikan Ryo


“jika ada yang mendekat, gue pastikan kalian akan berakhir di ME hari ini!!” Ancam Ryo pada semua orang


Bams memasuki ME dengan berlari. Ia mendatangi tempat yang membuat semua orang menjadi heboh. Terlihat Ryo terus memukul Boman tanpa ada yang berani menahannya.


“RYO!!” teriak Bams


Ia langsung menarik Ryo agar menghentikan pukulannya


“dia harus mati di tangan gue!!” ucapnya masih dengan emosi yang luar biasa


“ingat dia Yo.. ingat dia!” ucap Bams yang tidak berani mengatakan nama Aira

__ADS_1


Sesaat kemudian Ryo menghentikan semuanya. Ia menghela nafas yang masih memburu, sedang Boman terkulai lemas tak berdaya.


Semua mata menatap Ryo yang baru mereka lihat hari ini, ekspresinya penuh amarah dan kebencian, Ryo yang dulu santai dan cuek telah hilang, saat ini hanya ada Ryo yang mengerikan.


“mulai detik ini.. gue gak mau liat muka loe di ME lagi, urusan kompensasi loe akan di urus Ken!!” ucap Ryo melangkah pergi.


Bams hanya melirik sejanak pada Boman. Ia ingin melangkah pergi namun suara Boman terdengar kembali.


“apa salah gue Bams?” ucapnya tanpa menyadari kesalahan yang telah ia perbuat


“bukannya gue pernah bilang, loe harus mengingat kesalahan yang loe perbuat yang membuat Ryo ingin membunuh loe!” jawab Bams yang masih kesal dengan Boman.


Bams pergi dengan lirikan mata yang tajam, ia melangkah tanpa ada sedikit pun rasa iba atau kasihan pada kondisi Boman yang babak belur.


*


*


Iring iringan mobil mewah terdengar menderu menuju sebuah gedung tua di tengah area bekas gedung pergudangan barang.


Aina melirik dari jendela mereka. Ia melirik kembali Aira yang masih terlelap.


“ni.. sebenarnya seperti apa Ryo mencintai kamu?” gumamnya yang menyaksikan kedatangan banyak orang yang seakan melindungi tempat tersebut seperti melindungi seorang presiden.


Tak berselang beberapa menit. Aira membuka matanya.


“di...” panggilnya pelan


“ni.. kamu dah bangun” Aina mendekat


“ahhh.. aku ketiduran di” ucapnya menyentuh lehernya karena rasa haus


“ini ni!” Aina memberikan segelas air minum yang ia siapkan


“jam berapa sekarang di?” tanyanya


“udah sore ni” jawab Aina


“aku mimpi aneh di..” ucap Aira


“mimpi apa?”


“ahh.. mimpi aneh aja” ucap Aira yang menganggap semuanya mimpi.


Ia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar membawa gelas kosongnya. Aira kembali mengisi gelasnya dan kembali tandas melalui tenggorokannya


“aku haus banget” ucapnya


Aina menatap sang kakak dengan sedih. Ia selalu menganggap kejadian aneh di hari hari mereka sebagai mimpi


“ni..” ucap Aina yang terhenti karena langkah seseorang yang memasuki rumah mereka


Ryo berjalan cepat dan langsung memeluk tubuh Aira erat.


Seketika Aira mematung, ia begitu mengenal aroma tubuh itu, tubuh yang dulu selalu ia sukai


“beib..” ucapnya lirih memeluk erat Aira dan dengan tangisan yang bisa Aira rasakan.


Ryo menangis hingga terisak memeluk Aira. Kesedihan, rasa bersalah dan melihat kondisi Aira yang sekarang membuat tubuhnya tak mampu lagi menahan tangis. Ia lemah dan tangis itu tumpah seperti tanpa ijin yang menggambarkan perasaannya.

__ADS_1


Perasaan benci dan dendamnya sirna, hilang musnah seperti tanpa bekas. Saat ini hanya ada kerinduan mendalam yang kini ingin terlepaskan. perasaan sedih melihat kondisi sang istri, perasaan bersalah karena telah membencinya seakan berkecamuk semua dalam dadanya yang hanya mampu ia keluarkan dalam tangisan.


“maafin aku beib.. maafin aku” ucapnya mengeratkan pelukannya


Hanya ucapan maaf karena telah memebencinya, ucapan maaf karena telah salah menduga, ucapan maaf karena ia tak menemukannya malam itu. hanya kata itu yang saat ini mampu Ryo ucapkan dari lidahnya. Tak mampu mengatakan apapun karena hatinya terus berkecamuk dalam berbagai perasaan yang tak bisa ia ekspresikan.


Aira yang mematung kembali menyadari jika kejadian yang ia rasakan dan ia lalui beberapa menit atau mungin jam tersebut bukanlah mimpi. Kejadian itu nyata adanya. Tubuhnya kembali tegang, ia mematung tanpa ekspresi. Tangannya hanya menjuntai tanpa mampu mengangkat untuk membalas pelukan Ryo. ia kaku, tak bisa bergerak, tubuhnya telah measakan pelukan itu, tapi tidak dengan keinginannya.


“beib..” ucap Ryo masih memeluk tubuh mungil itu.


Namun tubuh itu seakan tak bernyawa, tak merespon apapun sentuhan dan panggilan Ryo.


Ryo melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aira. ia mengangkat dagu Aira, sedang pandangan Aira masih kosong karena memang dia betah dalam gelapnya.


“Beib.. maafin aku..” ucap Ryo lagi


Aira melangkah mundur mencoba menjauh.


“di..” panggilnya pada Aina


“beib!” tahan Ryo dan kembali memeluknya


“mas.. lepasin” ucapnya pelan


Ryo menggeleng


“aku gak akan pernah ngelepas kamu, kamu memohon pun tak akan ku lepaskan” ucap Ryo


Aina perlahan mundur mencoba menjauh dari mereka, ia membiarkan sang kakak menyelesaikan semuanya. Ia pun pergi meninggalkan mereka berdua. Ia berharap dengan kembalinya Aira dan Ryo bersatu, sang kakak bisa sembuh kembali dan hidup bahagia.


Aira mencoba melepaskan diri, tapi tangan Ryo kembali menahannya.


“Beib.. cukup menyiksaku! Aku mohon” Ryo memohon dengan suara yang begitu menyedihkan.


Aira menangis mendengar permohonan Ryo yang terasa menyakitkan baginya. Torehan luka dalam hati terasa nyeri mendengar ucapan sang suami yang meminta dan memohon.


“pergilah dengan orang yang pantas bersanding dengan mu mas.. aku bukan wani” ucapan itu tak mampu Aira selesaikan karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Ryo yang kini telah melummat habis bibirnya.


Aira memejamkan mata menikmati kecupan yang lama tak ia rasakan, tetesan air mata keluar saat ia menutup matanya. Rasa itu masih sama, karena perasaan mereka berdua tak pernah berubah.


Isapan, lummatan, gigitan dan tautan itu semakin lama ketika keduanya saling berbalas. Mereka melupakan dimana mereka berada karena mereka hanya menikmati penyatuan bibir mereka sebagai pelepasan kerinduan yang kini telah bebas tanpa tertahan lagi.


Aira mendorong pelan tubuh Ryo meminta menyudahi ciuman itu. nafasnya tersengal karena Ryo enggan melepas ciumannya.


“aku mencintai kamu” bisik Ryo


Sedang Aira hanya berusaha mengatur nafasnya kembali.


Ryo kembali menarik tubuh itu dalam pelukannya.


“kembalilah padaku beib.. kamu mencintaiku dan aku mencintai kamu istriku” ucap Ryo mengeratkan pelukannya


Terdengar isakan Aira dalam pelukan Ryo yang tak mampu ia artikan


Apakah isakan tangismu karena mencintaku? Atau isakan tangis karena kamu ingin menjauh dari ku? Benak Ryo memejamkan mata meresapi kembali pertemuan mereka saat tangan Aira kembali melingkar di tubuhnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Terima kasih buat yang sudah selalu setia meninggalkan jejak Like dan komentarnya

__ADS_1


jangan berhenti ya.. terima kasih semua n love u all!


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2