
Pelukan hangat
Aira sedang sibuk sendiri di dalam dapurnya, ia ingin menyajikan makanan yang baru saja ia pelajari untuk sang suami. ia masih berkutat dengan semua peralatannya dan berbagai bahan di atas meja dapurnya.
“nona” sapa Syen mendekatinya
“sudah ku bilang syen, aku gak mau dibantu” ucapnya tanpa menoleh dan masih asyik mengaduk masakannya
“nona” panggil syen lagi
“apa sih syen?” Aira menoleh pada syen dan ternyata dia sedang bersama orang lain
“mamah!” mata Aira membulat menatap Camila yang berdiri bersama Syen
“apa kabar nak?” Camila tersnyum dengan tidak berani dan tatapan rasa bersalah.
Dengan cepat Aira mematikan kompor dan mengelap tangan pada celemek yang ia gunakan.
“mahh...!” seru Aira senang dan melepas celemek itu. ia berlari ke arah Camila dan memeluk wanita itu karena ia begitu merindukannya.
“Aira!” sambut Camila membalas pelukan menantunya
“mahh.. maafin Aira mah..” ucapnya menangis haru dalam pelukan Camila
Camila mengusap lembut punggung Aira seakan memberikan kasih sayangnya. Rasa bersalahnya pada Aira membuat jutaan perasaan berkecamuk dalam dadanya.
“mamah yang minta maaf sayang, kalau saja kami lebih teliti kamu tidak akan berakhir seperti ini” ucapnya memeluk erat Aira
“mamah jangan ngomong gitu, semua sudah berlalu mah.. maafin saya juga karena telah pergi dan membuat semuanya kacau” Aira melepas pelukannya dan menatap Camila yang menangis
“ahh.. menantu mamah yang paling cantik” senyum Camila memegang kedua pipi Aira. Aira pun tersenyum ditengah tangisnya.
“ahhh.. menantu mamah yang baik” ucapnya lagi kembali memeluk Aira.
Aira duduk bersama di ruang tengah. Camila menceritakan semua kejadian yang melanda Ryo selama kepergian Aira. ia tidak ingin menyinggung bagaimana hancurnya seorang Ryo ketika Aira pergi. terlebih saat Ryo menemukan tentang kehamilan Aira. ia semakin terguncang hingga ia harus menjalani terapi untuk dirinya.
“mah... maaf saya belum berkunjung” ucapnya menunduk merasa sebagai menantu yang kurang ajar pada mertuanya
“mamah mengerti sayang, pasti Ryo yang tak mengijinkan kan?” tanyanya
“mas Riry udah bilang akan mengajak saya ke mension” ucapnya
“benarkah?” Camila merasa senang karena sang anak sepertinya akan kembali pada mereka.
“Syukurlah.. mamah senang mendengarnya” ucapnya”
Siang itu Camila menghabiskan waktu bersama Aira.
“nona!” Syen mendekat pada mereka
“ya”
“tuan muda telpon” Syen memberikan ponselnya
Aira baru teringat jika ponselnya sedari pagi dia letakkan di kamarnya.
“aduh!!” ia baru mengingat jika sang suami pasti akan menghubunginya
“ya sayang!” jawabnya menjauh
“beib.. kamu bikin aku serangan jantung deh” jawab Ryo
“hah? Kamu baik baik aja?” tanyanya panik
Ryo tertawa mendengar istrinya
“kamu tanggung jawab lho ya..” jawabnya
“iihh.. kamu mas” jawabnya manja
“ngapain sayang? Sampai gak bisa angkat telpon kamu” tanya Ryo
__ADS_1
“aku tadi masak, hp ku di kamar” jawabnya
“kebiasaan tuh”
“sekarang masaknya udah selesai?” tanyanya
“belum”
“masak apa emangnya?”
Aira melirik pada Camila
“aku lagi ngobrol sama mamah” jawabnya
“mamah?” tanya Ryo
Aira mengalihkan panggilan ke video call. Ia menunjukkan Camila yang santai memainkan tabletnya di ruang tamu.
“kamu baik baik aja?” tanya Ryo
“aku senang malahan..” jawab Aira tersenyum
“ahhh.. jangan senyum gitu sayang... aku gak kuat” jawab Ryo
“iisshhhhh..” jawab Aira kesal
Ryo tertawa melihat wajah manja istrinya yang ceberut
“ya sudah.. kamu ngobrol sama mamah sana, nanti kalau mamah pulang ngomong ya?” pintanya
“kenapa emangnya?” tanya Aira
“gantian kita yang ngobrol di ranjang” Ryo menaik turunkan alisnya
“iihhhh.. kayanya bukan ngobrol deh.. dasar singa!” ucap Aira kesal
Dan membuat Ryo semakin tertawa. Tawanya menggambarkan betapa ia sangat bahagia saat ini. Aira tersenyum melihat tawa suaminya yang begitu lepas.
“hemm..”
“mahh..” panggil Aira kembali mendekat
“Mas Riry” serahnya pada ponsel itu
“mah.. sapa Ryo”
“hhmmm.. kalo lagi happy gini lupa sama ibunya sendiri” protes Camila dengan ekspresi pura pura kesal.
Ryo tersenyum menatap ibunya yang super serius bermanja padanya
Mereka bertiga ngobrol bersama, hingga Ryo mengakhiri panggilannya untuk kembali bekerja. Camila & Aira menikmati makan siang bersama. Ia menyukai masakan Aira dan berkali kali memujinya.
*
*
Nuuuuttt...nuuuuttt... nuuuuttt...
Suara panggilan telpon tak dijawab. Kiky menatap layar ponselnya yang menyala. Tertulis jelas nama Bams disana.
Tuit!
Suara pesan masuk terlihat.
Besok aku kembali ke kampung, aku hanya ingin bilang itu
Pesan tertulis membuat Kiky yang tadinya berbaring santai langsung terbangun. Jantungnya berdetak lebih cepat, sesaat kemudian tubuhnya terasa lemas karena rasa takut ditinggalkan oleh Bams. matanya memanas karena rasa katakutan yang kini menguasai tubuhnya.
Kiky mencoba menhubungi Bams balik. Tapi Bams tak mengangkat panggilannya. Kiky meraih kunci mobil dengan cepat. Ia meraih asal jaket yang tergantung di lemarinya.
Kiky memacu mobil dengan cepat menuju apartemen Bams. Ia tak menyangka, mendiamkan Bams justru membuat Bams pergi darinya.
__ADS_1
Kiky berlari menuju lift, matanya sangat merah karena sepanjang jalan ia menangis. Memandang nomor nomor itu terasa begitu lambat hingga ke lantai yang ia inginkan
“bams!” gumamnya pelan
Kiky memencet nomor kode pembuka kunci apartemen Bams dengan cepat.
“bams! Bams! Bams!” panggilnya seperti orang kehilangan.
Bams yang baru selesai mandi keluar dari kamar gantinya. Ia menatap Kiky yang terlihat kusut. Hanya mengenakan piayama tidur dan dengan rambut yang acak acakan.
Kiky berlari ke arah Bams. ia memeluk Bams sambil menangis.
“Ky.. ada apa sayang?” tanya Bams yang tak mengerti perilaku Kiky saat ini.
Kiky memeluk erat dengan tangisan. Ia menangis tersedu di pelukan Bams. Bams membalas pelukan itu begitu erat. Ia tak mengerti apa yang membuat Kiky saat ini seperti itu.
“ssstttt.. sssttt..” Bams mengusap kepala dan punggung Kiky berusaha menenangkannya
“ada apa Ky?” ucapnya lagi masih memeluk kekasihnya
“kamu jahat! Kamu jahat! Huuuu.. huhuhu...” ucap Kiky memukul pelan dada Bams
“aku?” gumam Bams pelan mencoba mencari kesalahannya
“kamu mau ninggalin aku .. kamu jahat” ucapnya lagi
Bams tersenyum, ia tak menyadari jika pesannya diartikan lain oleh Kiky.
“kamu jahat!” keluhnya manja
“sayang sayang denger dulu” Bams mencoba melepas pelukan Kiky. Ia menangkup wajah Kiky dengan kedua tangannya.
Matanya kini basah dan isakannya masih terdengar. Bams menyeka air mata Kiky dan menatap dalam mata basah itu.
“aku gak ninggalin kamu” ucapnya
“bo hong.. kamu bilang kamu pulang besok” jawabnya masih dengan isakan tangis.
Bams tersenyum menatap Kiky
“besok aku memang pulang, Cuma pulang sayang, bapak minta aku pulang karena ada sesuatu” Bams memberitahu Kiky
“hah?” wajah Kiky memerah menyadari dirinya. Ia merasa malu karena terlalu berlebihan menanggapi pesan Bams. saat ini Kiky ingin sekali menyembunyikan dirinya, tak mampu menatap wajah Bams karena terlalu malu.
“ooo..” Kiky melepas dirinya dari Bams dan beranjak duduk di tepi tempat tidur. Ia menunduk malu dan berusaha menghilangkan isak tangisnya.
“kok Cuma gitu?” tanya Bams duduk di sampingnya.
Kiky berusaha menunduk menyembunyikan wajahnya karena terlalu malu. Bams berdiri dan berjongkok di depan Kiky, berusaha mengintip wajah itu dari bawah dan membuat Kiky tertawa
“ahhh... sudahlah.. aku malu” ucapnya menutup wajahnya
Bams meraih tangan Kiky dan membuka wajahnya.
“aku sangat merindukan wajah ini” ucapnya menatap dalam mata Kiky
Kini tatapan itu menghangat tak seperti ketika terakhir mereka bertemu. Meski sangat merindukan Kiky, Bams tak berani menyentuhnya. Ia mengingat tangisan Kiky yang tak menerima dirinya. ia hanya menggenggam tangan itu dan tersenyum.
Bams duduk di samping Kiky, membersihkan sisa sisa air mata di pipi dan pelupuk matanya. Perlahan ia wajahnya mendekat. Kiky pun menutup mata, berpikir Bams akan mengecup bibirnya, namun Bams hanya mengecup kedua pelupuk matanya yang terpejam secara bergantian
“jangan menangis lagi” ucapnya lembut
Malam itu pun Kiky hanya tidur di dalam pelukan Bams. Ini kedua kalinya mereka tidur bersama tanpa melakukan aktifitas panas. Hanya terlelap dalam keheningan dan mencoba meresapi apa yang mereka rasakan. Mengikuti pikiran mereka sendiri.
Kau tak menginginkan tubuhku lagi! Benak Kiky merasa sedih
Semoga aku kuat! Ucap Bams memeluk tubuh Kiky yang memakai piyama tertutup, namun
tanpa ada dalaman yang ia gunakan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1