Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)

Ketika Sang Bintang Playboy Jatuh Cinta (Caraku Mencintaimu)
Membaca Fakta yang Ada


__ADS_3

“bun! gimana Om Han?” tanyanya


Nimas menoleh pada Damar dengan canggung


“gimana apanya?” tanya Nimas merasa malu


“bun.. aku tahu bunda masih memiliki perasaan itu” tanya Damar dengan serius


“bunda hanya senang ketemu teman lagi”


“tapi dia bukan teman biasa bunda”


“sekarang dia hanya teman” ucap Nimas menunduk


“bun.. siapa sebenarnya Om Han bagi bunda?” tanya Damar lagi


“sudah bunda bilang dia hanya teman bunda”


“bun... aku akan sangat senang jika bunda mau membuka diri lagi, bunda berhak bahagia bun” bujuk Damar


Mata Nimas berkaca kaca mendengar ucapan sang anak.


“bunda tak perlu membohongi aku dan diri bunda sendiri” ucapnya


“tidak Damar, Han hanya teman biasa bunda”


“teman biasa yang hapal semua kebiasaanya, tahu seleranya dan bahkan mampu mengingat takaran kopi yang ia minum?” cerca Damar


“apa maksud kamu?” Nimas merasa tertangkap


“Om Han alergi kacang sama dengan ku, dia menyukai kopi yang sama dengan ku, kebiasaannya juga sama denganku” ucap Damar yang sudah mengetahui kebiasaan Handoko


“Damar!” Nimas semakin takut


Damar berjalan mendekati Nimas. Ia berjongkok di depan sang bunda. Ia memegang lutut Nimas dan menatap wajah ibunya dengan serius.


“bunda.. apa dia ayah kandungku?” tanya Damar tanpa basa basi lagi


Wajah Nimas sepucat kapas dalam seketika. Ia tak menyangka kecerdasan Damar dalam membaca situasi mampu membaca semua fakta yang ada di depannya.


“bun.. aku berhak tau” ucapnya


Nimas menggenggamkan kedua tangannya dengan kuat. Ia tak berani mengatakan apapun dari mulutnya.


“bun.. katakan.. aku tersiksa dengan semua kenyataan tentangku selama ini” ucap Damar memohon


“aku tahu ayah bukan ayah kandungku” ucapnya


“Damar!” Nimas hanya menangis, tak mampu berkata kata.


“bun! Apa itu benar?” tanya Damar kini ikut menangis menerima fakta yang lama ia cari.

__ADS_1


“dari mana kamu merasa bahwa kamu bukan anak kandung ayahmu?” tanya Nimas membelai pipi anaknya.


“Dari Om Ramon, Om Ramon mengatakan semuanya saat aku menanyakan tentang wasiat ayah yang di gugat oleh sepupu ayah” jelasnya


Nimas memejamkan matanya.


Perasaannya sangat kacau saat ini, sejenak kemudian pandangannya terasa mengabur dan perlahan dunianya menggelap.


“bundaaa!” teriakan Damar adalah hal terakhir yang samar ia dengar. Nimas jatuh pingsan di kursi santainya.


Kepanikan melanda Damar. Nimas pun dilarikan ke rumah sakit. Harap cemas terus menggelayuti tubuhnya, menunggu sang bunda keluar dari kamar penanganan di salah satu UGD rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya.


Penyesalan meliputi seluruh hati, pikiran dan tubuhnya saat melihat sang bunda kini terbaring di brankar yang dibawa oleh perawat menuju kamar inap.


“Sepertinya ibu anda hanya mengalami Syok, tapi sekarang beliau baik baik saja, dia hanya butuh istirahat saja..” hal terakhir yang dikatakan dokter sebelum ia keluar dari kamar itu.


Damar duduk menatap sang bunda, ia menggenggam erat tangannya, ketakutan akan kehilangannya meninggalkan kengerian dalam jiwa Damar.


“maafin aku bun!” ucapnya meneteskan air mata.


Keesokan paginya Damar mengabarkan pada Kiky kondisi ibunya. Kiky pun langsung panik dan berangkat ke rumah sakit bersama Handoko. Tak kalah khawatir, Handoko terasa kehilangan separuh nyawanya saat melihat tubuh pucat Nimas yang terbaring di ranjang rumah sakit yang khas.


“Nimas” gumamnya mendekat. Ia lupa akan segalanya karena terlalu khawatir saat ini


Damar menjauh dari ranjang Nimas dan melirik kesal pada Handoko.


Entah mengapa, perasaan kecewa itu muncul. Asumsi dan pikirannya menjalar ke segala arah. Menyimpulkan jika Handoko telah meninggalkan ibunya saat ia mengandung dirinya.


Kiky memberikan waktu untuk sang ayah bersama Nimas. Ia keluar mencari Damar. Terlihat Damar yang menunduk menopangkan siku pada lurut terus mengusap wajahnya.


“mas..” Kiky duduk di sampingnya dan memegang bahu Damar.


Damar yang menunduk menoleh pada Kiky, matanya memerah entah karena kantuk atau tangisan. Tapi wajah itu begitu murung dan sedih.


“aku yang telah membuatnya terbaring Ky.. aku yang bikin bunda seperti itu” ucapnya dengan mata berkaca kaca


“mas.. itu musibah... bukan salah siapapun” Kiky mencoba menguatkan Damar.


“Tapi itu semua karena aku” ucapnya lagi.


Kiky menarik tubuh Damar dan memeluknya dari samping. Dagu Kiky bertopang pada bahu Damar, sedang kedua tangannya mencoba merengkuh tubuh kekar Damar dalam pelukannya. Ia terus mengusap punggung dan lengan Damar, mencoba memberikan ketenangan padanya.


“sabar mas.. bunda udah gak papa.. kamu jangan menyalahkan diri kamu” ucapnya menguatkan Damar.


Sedang Damar hanya menunduk dalam sedihnya, ia seperti sedang dikuatkan oleh seorang adik. Memberi semangat pada seorang saudara yang sedang terpukul


Tak mereka sadari. Sebuah jepretan kedekatan mereka berdua telah terabadikan dalam sebuah foto yang akan mendatangkan sebuah kekacauan.


*


*

__ADS_1


Aira menggenggam kembali jemari Aina. Saat ini mereka sedang menuju tempat pertemuan yang dijanjikan oleh Haris. pertemuan yang ia tunggu selama ini. Aira ingin menanyakan langsung mengapa wanita itu mengetahui permasalahannya saat itu. menolong dia dan Aina, dan bahkan ibunya telah merawat mereka.


Apa rasa bersalah itu begitu menyiksa kamu kak? Benak Aira merasa bersalah


Aira berpikir, Lisa melakukan kesalahan saat operasi yang menyebabkan ibunya meninggal. Wanita itu merasa bersalah dan ingin menebus salahnya bahkan dengan mengirim sang ibu merawat mereka.


Ia ingin bertanya langsung dan ingin memaafkan wanita itu agar ia terbebas dari rasa bersalah. Aira tak pernah mengira fakta sebenarnya dibalik kejadian itu.


Sebuah resto dengan tema villa yang nyaman menyambut mereka. tak terlihat ada pengunjung lain disana. Hanya orang orang yang bertugas dan tentu saja orang orang yang sudah dikirim Haris.


“Selamat datang tuan muda, nona” Ken menyambut Aira dan Ryo yang baru turun dari mobil mereka.


“terima kasih Ken” senyum Aira


Ryo menarik pinggang Aira lembut kedalam rangkulannya. Membuat Ken mengerti jika sang tuan muda tak senang melihat sang istri yang tersenyum untuk lelaki lain.


“ayo sayang!” ajaknya


Aira justru melepas rangkulan Ryo dan meraih tangan Aina dan menggandeng sang adik memasuki tempat itu.


Aina tersenyum pada Ryo, ia mengingat kata Ryo yang mengatakan ia hanya menjadi yang kedua.


Perlahan langkah itu memasuki tempat yang terlihat begitu nyaman. Semua orang menunduk hormat pada Ryo dan rombongan membuat Aira dan Aina merasa tak nyaman karena mereka tak terbiasa, sedang Ryo hanya berjalan cuek tanpa mempedulikan mereka.


Mereka memasuki sebuah ruangan khusus. Aira dan Aina duduk menunggu orang yang ingin mereka temui.


“apa masih lama mas?” tanya Aira pada sang suami yang berada di sampingnya


Ryo tersenyum membelai pundak sang istri.


“sebentar lagi sayang” jawabnya lembut


Tak berselang lama, Suara pintu terbuka dan sosok yang mereka tunggu memasuki tempat itu. tatapan Aira dingin menatap Lisa. Sedang Lisa terlihat begitu gugup memasuki tempat itu. Bagaimana tidak, ia telah mendapat ancaman dari Haris tentang cerita yang akan ia ungkapkan.


Lisa dilarang menyebut jika kesalahan dalam operasi itu merupakan kesengajaan dirinya, apalagi menyebut jika kematian Andini sebagai kategori pembunuhan olehnya yang terancam, hal itu sangat ditekankan Haris agar Lisa tak mengungkap sama sekali.


Lisa menunduk hormat pada keluarga yang duduk di meja menunggunya.


“Tuan muda, nona” sapanya


Aina menatap tajam pada Lisa, tergambar jelas kebencian dari sinar matanya.


“sungguh dunia begitu sempit, kita ketemu lagi kak Lisa” ucap Aira


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Apakah Lisa akan mengungkapkan semua pada Aira?


Apa yang akan terjadi jika Lisa berani mengungkap semuanya?


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys...🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2