
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di wilayah Ark.
Bulan merah kembali bersinar dan membuat wilayah Ark semakin mencekam. Siapa sangka, jika peperangan itu sampai memakan waktu yang cukup lama hingga bulan berganti. Meskipun Raja Ark telah mati, tetapi masih banyak orang-orang yang setia padanya sehingga Kerajaan Ark sulit ditaklukkan. Baik dari pasukan Kiarra ataupun pasukan Ark, sama-sama mengalami kehilangan.
SHOOT! SHOOT!!
BRUKK!
"Arghhh!" erang pasukan berkuda Vom saat kuda-kuda mereka harus merasakan sakit dan kehilangan nyawa karena ikut bertempur.
Prajurit-prajurit Vom yang masih bisa bertahan meski harus kehilangan tunggangannya, berusaha mati-matian agar tetap hidup demi merebut Ark. Perisai sudah dipenuhi oleh puluhan anak panah yang menancap, berusaha menembus pakaian besi mereka. Boh dibuat kewalahan karena banyaknya jumlah musuh dan serangan seolah tak ada habisnya.
"Kemake! Le garata!" teriak Boh dengan dua tangan berkuku tajam menusuk mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar untuk dijadikan seperti sebuah perisai.
Sihir Boh ternyata mampu membuat benda atau makhluk yang terkena mantranya menjadi ringan. Boh membuat sekumpulan orang mati itu melayang menutupi sosoknya dan Panglima Goo yang ingin maju sampai ke wilayah terdekat dari musuh.
"Cepat kemari!" panggil Goo ketika melihat salah satu prajuritnya yang masih hidup.
Prajurit itu terluka akibat sayatan pedang. Ia merangkak mendekati sang Panglima dengan susah payah. Boh mengangkat tangannya tinggi ke atas dengan beberapa mayat sebagai tameng. Boh dan Goo berhasil menyelamatkan beberapa prajurit yang masih hidup dengan mendatangi mereka satu per satu di ladang pembantaian tersebut. Sayangnya, mereka terus dihujani anak panah dari atas sehingga membuat langkah Boh dan Goo terhenti akibat banyaknya prajurit yang berlindung dengan perisai mayat.
"Sial, kita tak bisa bergerak lebih jauh lagi!" pekik Goo kesal karena masih banyak prajuritnya yang bisa diselamatkan, tetapi perisai Boh sudah tidak bisa menampung lebih banyak prajurit lagi.
Orang-orang yang terluka itu terlihat sedih dan takut. Tampak jelas di wajah mereka yang pucat sembari menahan sakit di tubuh. Pasukan Panglima Goo kini harus berhadapan dengan para pemanah ulung yang membidik mereka dari atas benteng. Pasukan Goo tak bisa mendekati benteng yang menjulang tinggi begitu kokoh seperti tak bisa ditembus. Tanpa adanya bantuan dari pasukan burung Wen, hal ini terasa sangat mustahil.
"Di sana ada batu besar, Panglima! Kita bisa berlindung dari anak panah!" pekik seorang prajurit menunjuk.
"Boh, bergerak!" titah Goo dan diangguki wanita bertubuh setengah binatang itu.
__ADS_1
Goo dan lainnya berjalan dengan cara berjongkok untuk menghindari serangan anak panah. Hanya Boh satu-satunya yang berdiri dengan mayat-mayat tertembus kuku-kuku tajamnya. Kuku Boh mampu memanjang seperti pedang dan begitu tajam sehingga baju besi pun tertembus. Orang-orang sekarat itu berusaha agar bisa tiba ke batu besar. Boh juga harus mengistirahatkan tubuhnya akibat menggunakan sihir terlalu lama.
"Cepat! Cepat!" titah Goo saat ia berhasil tiba di batu besar lalu mengajak prajuritnya yang terluka untuk berpindah tempat.
Boh melemparkan mayat-mayat yang sudah seperti landak karena tubuh mereka dipenuhi anak panah. Orang-orang itu terlihat lega karena berhasil lolos dari maut meski entah sampai kapan.
"Hah, hah, di mana Wen?" tanya Panglima Goo dengan napas tersengal. Pria itu melindungi diri dari incaran anak panah pembunuh dengan bersembunyi di balik batu besar.
"Aku ... aku tak tahu. Pasukan burung tak terlihat sejak kita memasuki wilayah ini," jawab Boh yang tak kalah letihnya sehingga ikut bersembunyi bersama Goo.
"Sial, kita tak bisa mundur dan tak bisa maju. Kita terperangkap, Boh," ucap Goo menatap penyihir cantik itu dengan suara bergetar.
"Kau menyerah? Jika kita mati, maka seluruh kerajaan terancam! Mereka mengandalkan kita!" pekik Boh melotot karena tak menyangka jika Goo bisa sampai terpikirkan untuk menyerah.
Goo tak menjawab. Pandangannya tertunduk melihat pedang dalam genggaman. Boh bisa melihat jika Goo menahan sakit di lukanya karena tubuhnya gemetaran dan bibirnya mengering. Boh juga sebenarnya takut, tetapi ia tak mau mengecewakan banyak orang.
Prajurit-prajurit Goo yang ikutan bersama mereka ikut murung usai mendengar ucapan sang Panglima. Semangat mereka luntur dan mulai takut menghadapi kematian. Saat wilayah bagaikan lapangan itu dipenuhi oleh teriakan dari pasukan Vom dan Ark yang saling bertarung, tiba-tiba ....
"Oh! Apa itu?" pekik Goo saat mendengar suara lontaran yang dilanjutkan gempuran hebat bagaikan tembakan meriam.
Boh berdiri dari tempatnya bersembunyi dan melihat ke arah benda tersebut diluncurkan untuk meruntuhkan tembok pertahanan Ark.
"Itu Laksamana Noh dan Yoh! Kita selamat!" teriak Boh senang ketika melihat di kejauhan sebuah layar kapal terkembang.
"Yeahhh!" sorak-sorai pasukan Vom melihat kedatangan kapal dari dua laksamana terhebat dari dua kerajaan.
"Pusatkan serangan untuk membobol benteng!" teriak Laksamana Noh dan diangguki awak kapal di sekitar.
Bola-bola meriam terus-menerus dilontarkan untuk meruntuhkan dinding batu itu. Noh nekat membuat kapalnya sampai harus menabrak tepi Sungai Agung demi menuju ke wilayah terdekat dengan istana Ark. Hanya saja, risiko besar juga dihadapi karena kapalnya tak bisa lagi memasuki aliran sungai. Para manusia ubur-ubur membantu mendorong kapal Noh agar bisa naik sampai ke tanah supaya meriam-meriamnya cukup dekat dengan benteng.
"Pergi dan bantu Yoh agar melakukan hal yang sama!" titah Noh saat melihat puluhan manusia ubur-ubur berenang di bagian belakang kapalnya.
__ADS_1
"Kami mengerti!" jawab para manusia ubur-ubur yang kembali berenang.
Noh dan Yoh datang dengan dua kapal bermuatan penuh berisi senjata serta amunisi. Dra yang sebelumnya menaiki kapal kedua di mana dua laksamana itu masih dalam satu kapal untuk membuka jalan, melakukan sihir kepada kepada beberapa senjata agar melakukan tugasnya dengan baik tanpa harus ada penggunanya.
"Geaga! Geaga! Heraaa!" teriak Dra lantang.
Dra turun dari kapal dilindungi oleh prajurit Kerajaan Zen yang ikut dalam pelayaran. Ia menggunakan sihirnya untuk membuat bulu-bulu yang ia jadikan jubah meruncing. Benda-benda itu terlepas dari jubah besarnya lalu terbang bagaikan pisau-pisau untuk melukai lawan yang berusaha menjatuhkannya.
JLEB! JLEB! JLEB!
"Arrghh!"
"Hahahaha! Bagus, Dra! Desak terus pasukan itu! Akan kubukakan jalan untukmu memasuki istana Ark!" teriak Laksamana Noh yang berdiri di anjungan kapal dengan pedang dalam genggaman.
Dra mengangguk dan terus melesatkan bulu-bulu tajamnya untuk melukai lawan. Dra dilindungi pasukan Zen dengan pakaian berlapis emas ketika mereka harus berhadapan dengan prajurit Ark bersenjata pedang. Siapa sangka, serangan bantuan dari Laksamana Noh dan Dra membuat pasukan Ark mulai panik.
"Mundur! Mundur! Lindungi benteng!" teriak salah satu Panglima Kerajaan Ark di lubang benteng yang jebol.
"Mereka berhasil menyudutkan pasukan Ark! Ini kesempatan!" teriak Goo melihat peluang karena kini serangan anak panah ditujukan ke pasukan Zen. "Boh, lindungi kami!" pinta sang Panglima dan diangguki penyihir asal Tur tersebut.
"Hem!" jawab Boh mantap yang kembali menggunakan sihirnya.
Kukunya kembali tajam dan menggunakan mayat baru sebagai perisai. Pasukan Panglima Goo yang ikut berlindung di bawah perisai mayat, berlari mendatangi lubang besar dari lontaran meriam Laksamana Noh. Goo membidik lubang di dinding itu untuk masuk dari sisi yang lain agar fokus musuh terpecah. Akan tetapi, pasukan Ark yang gemar berperang, melihat pergerakan kecil itu.
"Jatuhkan Goo dan pasukannya! Hujani mereka!" seru Panglima Ark lainnya yang melindungi benteng sisi barat.
Lagi, hujan anak panah kembali menyerang Boh dan lainnya. Boh sampai menghentikan langkah dan membuat pasukan Goo kembali berjongkok agar tak terkena tusukan mematikan itu. Mereka dibuat bingung dan panik di mana energi mulai menipis akibat perang yang tak berkesudahan.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
semoga Kiarra bisa tamat season 1 hari ini ya. amin❤️