
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Gempuran terus dilakukan oleh pasukan Kapten Tom yang terdiri dari para manusia setengah burung. Akan tetapi, jenis lawan kali ini berbeda dan cukup menyulitkan Yak. Musuh Yak memiliki kemampuan terbang sekaligus menyerang. Pasukan Yak tak bisa menjangkau orang-orang bersayap dari berbagai jenis burung tersebut. Para pemanah berusaha sebaik mungkin menjatuhkan lawan. Namun, pakaian tempur pasukan Tur kali ini berbeda, sehingga anak panah mereka tak bisa menembusnya.
"Semua serangan kita sia-sia, Pangeran Owe!" seru salah satu prajurit Yak frustasi.
Pangeran Owe diam sejenak terlihat berpikir keras mencari kelemahan para manusia burung itu. Saat pasukan Yak terdesak, tiba-tiba ....
"Goga lebale!"
"Itu Boh!" seru salah satu prajurit saat melihat Boh muncul bersama sekumpulan pemberontak Tur dari dalam istana.
Senyum Pangeran Owe merekah. Ia merasa jika Boh sudah mendapatkan cara untuk mengalahkan pasukan musuh. Boh menggunakan sihirnya dan membuat para manusia burung tiba-tiba saja terpental saat ia mengarahkan telapak tangannya ke sasaran. Mata Kapten Tom menyipit ketika melihat pergerakan sekumpulan pemberontak Tur yang berjalan di belakang Boh.
BYUR!
"Hah! Hah!" engah seorang prajurit Yak yang terluka parah karena tangan dan kakinya tersayat pedang lawan.
Namun, tiba-tiba saja rasa sakit itu lenyap meski bekas luka masih segar terlihat. Pria itu bingung dengan tubuh basah kuyup.
"Air ini sudah dimantrai oleh Penyihir Agung Boh. Namun, hanya bisa bertahan sampai bulan berganti. Setelah itu, kau akan merasakan sakit lagi. Jadi, bertahanlah!" ucap seorang pemberontak Tur dengan tubuh manusia setengah rusa.
"Aku mengerti!" jawab prajurit itu lalu dengan sigap mempersenjatai dirinya lagi.
Satu per satu, para prajurit Yak yang tumbang karena terluka parah kembali bangkit setelah disiram air tersebut. Sebenarnya, Dra juga melakukan hal serupa saat Tur menyerang Vom. Namun, bedanya. Prajurit Vom dibunuh oleh pasukan Rhi dan Gor. Sedangkan pasukan Kapten Tom tidak. Mereka seperti sengaja membuat para prajurit Yak tidak berdaya lalu dibiarkan terluka hingga akhirnya ajal menjemput. Sebuah peluang besar bagi pasukan Yak karena mereka kini bisa melakukan serangan balik.
"Kurang ajar! Kali ini kalian semua akan mati! Tak ada belas kasih!" geram Kapten Tom, "bunuh mereka semua kecuali pangeran dan putri! Bawa mereka pulang ke Tur dengan paksa!"
"Laksanakan!"
"Hati-hati!" seru Boh lantang yang melihat kedatangan pasukan burung ke istana.
Para prajurit yang terluka dan telah terkena air mantra Boh, bersiap dengan bola-bola es. Mereka sengaja menunggu para manusia setengah burung itu mendekat agar terkena serangan langsung.
"Iekkk!" lengking seorang prajurit burung saat ia mendatangi salah satu prajurit Yak yang terlihat seperti gugup di dekat pagar istana.
Namun, tiba-tiba, DUK! KREKK!
"Heah!" seru prajurit Yak tersebut ketika ia berhasil mengenai tubuh manusia setengah burung tersebut dengan bola es.
Makhluk bersayap itu membeku seperti patung es. Prajurit Yak tersebut lalu mendorongnya kuat hingga tubuh lawan jatuh dari ketinggian dan menghancurkannya berkeping.
"Bagus! Terus lakukan hal itu! Salah besar jika Tur meremehkan kita!" ujar Boh lantang.
__ADS_1
"Heahhh!"
Tak lama, putri Xen muncul bersama beberapa pemberontak Tur. Para manusia setengah binatang itu mendatangi para prajurit Yak seperti memberitahukan sesuatu. Para pria berambut putih tersebut mengangguk paham lalu melakukan sebuah strategi baru. Kening Boh berkerut saat Xen tersenyum padanya.
"Roh Kia-rra mendatangiku dan memberikan sebuah ide bagus!" ucapnya dengan wajah berbinar.
Boh tertegun karena ia tak mendapatkan pengalaman serupa, tetapi dirinya senang. Meskipun Kiarra tak ikut bertempur bersama mereka, tetapi rohnya datang untuk memberikan petunjuk. Para prajurit Yak tak terlihat gentar lagi. Mereka kini melakukan kerja tim dengan satu kelompok berisi 4 orang.
Dua orang mengincar satu manusia burung dengan lesatan anak panah berujung api. Lalu dua orang sisanya akan melakukan tugas akhir yakni membekukannya menggunakan bola es. Siapa sangka, jika saran dari Putri Xen berhasil atas ide Kiarra. Kapten Tom melihat jumlah prajuritnya berkurang drastis. Ia bisa memprediksi kegagalan dari usahanya ini. Dirinya yang tak ingin pulang dan membawa kabar mengecewakan kepada keluarga, semakin ambisius untuk memenangkan perang.
"Herghhh! Tangkap Pangeran Owe!" titah sang Kapten yang mengejutkan para prajurit Yak di sekitarnya.
"Mereka mengincar Pangeran! Kita harus hentikan!" seru seorang prajurit yang posisinya paling dekat dengan Kapten Tom.
Sontak, hal tersebut menimbulkan kepanikan tersendiri. Pasukan burung Kapten Tom kini mengincar menara. Mereka melemparkan kantong-kantong berisi bubuk peledak dengan tali telah terbakar.
"Awas!" teriak salah satu prajurit Yak saat melihat sebuah kantong dengan sumbu menyela dilemparkan ke lubang jendela tanpa kaca tempat membidik para pemanah di menara.
BLUARRR!
"Arghh!"
Suara raungan kesakitan terdengar bersahutan seiring dengan ledakan dahsyat yang menggema di dalam menara. Putri Xen dan orang-orangnya dibuat panik saat melihat dari pagar istana ketika segerombolan manusia setengah burung mengepung menara.
"Owe dalam bahaya! Cepat ke sana!" titahnya panik.
"Putri! Awas!"
BLUARRR! KRAKK! BRUGG!!
"Aarghhh!"
Putri Xen jatuh dari ketinggian bersama pengikutnya saat tiba-tiba saja jembatan tanpa dinding penutup tersebut meledak dan runtuh .Ternyata, para manusia burung sengaja menjebak agar mereka bergerak ke jembatan. Peledak-peledak diletakkan pada bagian bawah jembatan yang telah dilem dengan lendir makhluk Bbb dan kemudian dinyalakan saat Putri dan kelompoknya bergerak ke sana. Mata Boh dan lainnya terbelalak melihat orang-orang itu jatuh lalu menghantam permukaan dengan keras karena salju yang tipis. Owe yang dikeroyok oleh pasukan burung dan diseret paksa untuk keluar dari menara terus memberontak. Hingga tiba-tiba ....
"Pangeran Owe!" panggil Kapten Tom yang membuat pria setengah rakun itu menoleh ke arahnya.
"Aku tak segan mengumpankan saudarimu ke monster Wii jika terus melawan. Menyerahlah dan pulang," tegas Tom dengan dua cakar besarnya mencengkeram kuat tubuh sang Putri yang terluka.
Putri Xen berusaha untuk tetap sadar, tetapi energinya seolah sirna. Napas Pangeran Owe tersengal. Ia bingung memilih karena tak sudi kembali pada sang ayah. Namun, ia juga tak tega melihat adiknya tewas. Owe akhirnya berlutut dengan kepala tertunduk. Ia memilih menyerah agar adiknya selamat. Saat para prajurit burung siap untuk mengikatnya, tiba-tiba, CLEB!
"Arghhh!"
"Xen!"
__ADS_1
"Kapten!"
Dua tangan berkepala ular Xen tiba-tiba saja bergerak ke atas lalu mengigit cakar perkasa itu. Seringai Putri Xen terpancar. Usahanya dengan berpura-pura tak berdaya berhasil. Namun, Kapten Tom tak menyerah. Ia yang berhasil menangkap sang Putri dengan sigap terbang menjauh dari lokasi pertempuran.
"Rebut Yak untukku! Aku akan membawa putri kembali!" seru Kapten Tom berusaha keras menahan rasa sakit di tubuhnya akibat racun tersebut.
"Laksanakan, Kapten!" jawab para prajurit burung mantap.
Pangeran Owe dan lainnya berusaha untuk mengejar Putri Xen yang terus memberontak agar tubuh ularnya dilepaskan. Sayap besar Kapten Tom terus mengepak menyeberangi wilayah es dan berharap bisa masuk ke perbatasan Tur di mana pasukan penjaga bersiap di sana. Akan tetapi, ....
KRAUKK!
"Erghh!"
"AAAAA!"
Aksi sang Putri dengan menggigit cakar sang Kapten dan menyalurkan bisanya dari dua taring di mulut, membuat kesadaran pria burung itu turun seketika. Putri Xen panik karena Tom terbang tak terkendali. Wanita ular tersebut berusaha melepaskan cengkeraman kuat di tubuhnya saat mereka turun dengan cepat dari ketinggian.
"Heahh! Ah, ah, aaaaa!" teriak sang Putri saat usaha berhasil membebaskan diri, tetapi malah membuat dirinya terlempar ke arah lautan.
BYURR!
Kepanikan langsung melanda karena ia tahu jika monster Wii menguasai wilayah itu. Putri Xen dengan cepat berenang ke permukaan. Ia melihat tubuh sang Kapten terapung di permukaan luapan air dingin tersebut. Saat sang Putri melihat Kapten Tom yang sudah sekarat berusaha agar tak tenggelam, tiba-tiba ....
SPLASHH!
"Wiii!"
Mata sang Putri terbelalak lebar. Ia melihat mulut besar monster ular itu menganga dengan tubuh sang Kapten langsung masuk ke mulutnya berikut air laut yang ikut tertelan. Putri Raja Tur tersebut bergegas berbalik menyelamatkan diri karena Wii sangat dekat dengannya. Ia menggerakkan tubuh ularnya dengan cepat menuju ke daratan es yang tak jauh dari tempatnya berada. Benar saja, ketika Xen berusaha keras menggapai daratan, dari bawah air ....
"Wiiii!"
SPLASH!!
"AAAA!"
YaTubuh Putri Xen terlempar akibat gelombang besar naik ke atas karena monster ular itu muncul tiba-tiba. Namun, hal tersebut berhasil membuat tubuh sang Putri tergeletak di lapisan es. Napas Xen terengah dan dengan cepat merangkak sembari menahan rasa dingin yang menjalar di tubuhnya. Saat Xen melata layaknya ular, tiba-tiba, GRAB!
"AAAAA!"
"Harg!"
"Xen!" teriak Pangeran Owe saat ia akhirnya ditangkap oleh prajurit burung Tur dan dibawa terbang keluar istana.
__ADS_1
Mata Owe melebar melihat adiknya ditangkap oleh tangan monster tersebut lalu dilemparkan kuat ke atas. Mulut Wii terbuka lebar saat tubuh Xen masuk ke dalamnya. Tak lama, terlihat darah menetes dari balik gigi-gigi runcing tersebut saat mulut Wii mengunyah korbannya.
***