Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Dingin


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kenta menggunakan bahasa campuran.


Kenta yang telah membuat kesepakatan dengan para peri, bergegas kembali ke tempat naga di mana makhluk itu selalu mengingatkannya dengan merasuki pikiran setiap saat.


SPLASH!


"Dia kembali!" seru Rak gembira dan segera membantu sang kekasih naik ke daratan.


Dra, Boh, dan Lon ikut mendekat karena penasaran.


"Kau ke mana?" tanya Dra penasaran.


"Hanya mengunjungi Kiarra," jawab Kenta santai, tetapi mengejutkan semua orang.


"Di mana dia sekarang?" tanya Boh panik.


"Hutan kabut putih. Dia aman. Jadi, kita pulang. Aku lapar, lelah dan ingin bermanja-manja dengan calon istriku," jawab Kenta seraya menggoda Rak dengan merangkul pinggangnya. Penyihir berambut putih itu tersipu malu.


"Hei! Ada anak kecil di sini!" seru Lon kesal, tetapi Kenta hanya terkekeh.


Kenta dalam raga Wen melihat sekitar di mana sang Naga tak menunjukkan diri, entah apa yang terjadi. Dra mengajak mereka semua pergi dan Kenta mengikutinya. Selama perjalanan, Dra dan lainnya dibuat penasaran dengan apa yang Kenta lakukan karena ia berbicara dengan Naga menggunakan bahasa lain.


"Ken-ta, bisa kau katakan pada kami tentang petualanganmu? Itu karena kau tak melibatkan kami," ucap Rak hati-hati.


Mata semua orang menatap Kenta lekat dari tunggangan masing-masing. Kenta tersenyum seraya menepuk lembut punggung tangan Rak yang memeluk perutnya karena wanita cantik itu membonceng di belakang.


"Belum saatnya, Rak sayang. Bersabarlah. Aku ingin memastikan sesuatu. Jika hal tersebut berhasil dan sesuai prediksi, dengan senang hati akan kukatakan pada kalian semua," jawab Kenta tenang, tetapi tidak dengan para pendengar.


Mereka kembali ke Kerajaan Vom di mana Kenta akan memulai strateginya. Dra dan penyihir lain yang dibuat penasaran, memilih untuk mengikuti cara kerja salah satu saudara Kiarra tersebut. Setibanya di Vom, Kenta mengurung diri di kamar. Bahkan, Rak diminta untuk jangan mengganggunya dulu sampai ia keluar dengan sendirinya.


"Kakak adik sama saja. Mereka penuh dengan misteri," gumam Lon memasang wajah sebal.


"Memangnya, apa yang terjadi?" tanya salah satu dayang Kiarra, Fuu.


Rak akhirnya menceritakan kejadian usai mereka melakukan pertemuan di luar gunung. Para pendengar serius menyimak hingga kisah berakhir.


"Pasti terjadi sesuatu di hutan kabut putih. Selain itu, Pyu tak lagi mengirimkan kabar. Aku khawatir, jika terjadi hal buruk padanya. Para manusia ubur-ubur juga tak bisa mendekat," ucap Pop menginformasikan.


"Benarkah? Kau dapat informasi terbaru dari mereka?" tanya Dra karena tak mengetahui hal tersebut.


"Ya, pagi tadi. Utusan manusia ubur-ubur datang memberitahukan hal tersebut. Tiba-tiba saja, sungai menuju ke kawasan hutan kabut putih dipasangi semacam pagar air. Mereka tak bisa melintas atau akan tertusuk. Banyak ikan yang terjaring perangkap tersebut," jawab Eur menjelaskan. Sontak, kabar terbaru itu membuat wajah semua orang serius seketika.


Siapa sangka, jika ternyata Kenta cukup lama mengurung dirinya. Makanan dan minuman diantarkan langsung oleh Rak. Sayangnya, wanita cantik itu tetap tak diperbolehkan masuk hingga bulan ungu berganti tiga kali. Rak yang kesal, mulai menunjukkan protes.


"Kau bilang ingin menikahiku? Lupakan saja, Ken-ta. Selamanya, kau bukan Wen. Aku tak peduli meski kau raja sekalipun di Negeri ini. Aku menghormatimu karena kau berada dalam raga Wen, kekasihku. Kau juga kakak dari Kia-rra. Namun, jika sikapmu yang tak ingin membagi informasi dengan kami, lebih baik aku pulang!" ucap Rak dengan mata berlinang dan amarah memuncak di depan pintu kamar Kenta.

__ADS_1


Rak meletakkan nampan berisi sajian lezat itu dengan kasar hingga suara dentingnya terdengar cukup kencang. Rak langsung berbalik dan melangkah dengan gusar. Wanita itu tak menyangka, jika ucapannya tak membuat Kenta berubah pikiran. Rak semakin yakin jika Kenta hanya mempermainkannya. Rak meneteskan air mata dengan wajah serius seraya terus melangkah di koridor panjang itu, siap meninggalkan istana Vom. Ketika ia sampai di persimpangan koridor dan siap untuk menuruni tangga, tiba-tiba ....


"Rak?"


"Seyana beki!" teriaknya seraya menjulurkan tangan ke depan, tepat ke arah Kenta.


Sontak, Kenta tertegun. Tubuhnya mematung dengan mata terbelalak lebar. Beruntung, kepalanya tak ikut menjadi es, hanya tubuhnya mulai dari leher sampai kaki. Kenta tegang karena ia terkena sihir es Rak. Wanita berambut putih itu masih menyisakan tetesan air mata di pipi. Kenta menatap Rak lekat yang perlahan menurunkan tangan lalu menggeser langkah, ingin melewatinya.


"Kau pasti marah padaku. Apa alasannya?" tanya Kenta saat Rak menuruni tangga dengan pandangan tertunduk.


Ucapan Kenta membuat langkah Rak terhenti. Namun, senyum sinis yang ditunjukkan wanita itu. Kenta menatap wajah cantik Rak saksama.


"Mungkin karena kau tak peka, tak berperasaan, dan tak bisa memahami hati seorang wanita, oleh karenanya kau diselingkuhi oleh istrimu di kehidupan silam. Bahkan, setelah kau mati dan hidup lagi di negeri ini, hal itu tak mengubahmu. Kau bukan Wen, pria yang selalu jujur dan bersedia menjawab semua pertanyaanku. Selamat tinggal, Ken-ta," jawab Rak yang mengejutkan pria Jepang tersebut.


"Aku memang bukan Wen! Selamanya akan begitu! Kau kecewa padaku? Apa karena aku tak seperti pria yang kau cintai itu? Apa karena aku seorang pria yang gagal dalam membina hubungan di masa lalu, lalu kau pantas menghinaku di tempat ini?" tanya Kenta marah yang sontak membuat Rak langsung menoleh ke arahnya. Keduanya saling bertatapan tajam. "Kau tak menjawab pertanyaanku. Kau bilang, apa pun yang kau tanya, Wen akan menjawabnya. Sekarang, Wen bertanya padamu. Jadi, jawab pertanyaanku. Kenapa kau marah padaku? Aku bukan cenayang, bahkan Wen sekalipun," tanya Kenta tanpa berkedip menatap Rak tajam.


Siapa sangka, jika perdebatan mereka didengar oleh orang-orang yang berada di sekitar. Mereka terpaksa menghentikan aktivitas dan menguping karena dirasa menarik. Sangat sayang jika dilewatkan.


Rak menarik napas dalam. "Rencanamu. Apa yang kau sepakati dengan naga dan para peri di hutan kabut putih? Sudah tiga kali bulan ungu berganti dan kau belum memberitahukan padaku atau lainnya. Kau, tak menganggapku. Jadi, untuk apa lagi aku tetap di sini?" tanya Rak meneteskan air mata.


Kenta tersenyum tipis. "Aku meninggalkan surat di kamarmu. Aku baru saja dari sana, tetapi kau tak ada. Mana aku tahu jika kau datang ke kamarku. Sayang sekali, jika ada ponsel dan internet di tempat ini, semua bisa berjalan dengan cepat. Naas, aku terjebak di dunia kuno di mana semua hal dilakukan secara manual," jawab Kenta sebal dengan tubuh masih terperangkap es.


Rak mengedipkan mata. Ia terlihat bingung dan gugup dengan ucapan Kenta barusan. Saat amarah Rak mulai mereda, tiba-tiba Dra, Boh, Lon, dan semua orang yang masuk dalam daftar para petinggi kerajaan menaiki tangga. Rak tertegun ketika melihat orang-orang itu memegang sebuah gulungan dari kulit hewan berwarna cokelat. Kenta yang tak bisa membalik tubuhnya, bisa merasakan kehadiran orang-orang itu.


"Oh, ya! Aku di sini, Ken-ta," jawab Lon langsung bergegas naik ke tangga dan mendatangi Kenta yang terperangkap es.


"Bisa tolong cairkan aku? Aku khawatir jika terkena hipotermia," pinta Kenta dengan mulut mulai mengeluarkan asap dingin.


Lon mengangguk mantap, lalu bergegas menaiki tangga untuk mengambil obor yang terpasang di dinding koridor. Namun, saat ia sudah berada di atas, Lon kembali turun. Ia memberikan gulungan yang ia genggam kepada Rak. Wanita bermata biru itu bingung.


"Itu milikmu. Maaf, aku menerobos masuk kamarmu karena tadi kulihat Ken-ta masuk ke dalam dan meletakkan benda ini. Namun, aku belum membukanya," ucap Lon yang membuat tangan Rak gemetaran saat akan menerimanya.


Kenta memilih diam dan berusaha menahan dingin di tubuhnya. Lon lalu bergegas pergi untuk mencairkan Kenta sebelum pria itu mati kedinginan. Sedangkan Rak, wanita cantik tersebut membuka gulungannya perlahan. Ia berlinang air mata saat melihat isi surat Kenta khusus untuknya. Selain itu, pada bagian bawah gulungan tertulis "I love you." Meskipun, Rak sendiri tak tahu apa artinya.


"Ayo, Rak. Sebaiknya kita berkumpul di aula. Banyak tugas yang harus dikerjakan. Sepertinya, Ken-ta harus beristirahat untuk memulihkan tubuhnya," ucap Boh yang membuat Rak meneteskan air mata bersalah.


"Aku pejantan tangguh, Rak sayang. Jangan khawatir. Tolong kerjakan PR-mu dengan baik, ya. Aku begadang selama tiga hari ini dan sungguh, aku rindu tidur. Jangan datang ke kamar untuk menjadi gulingku," ucap Kenta yang membuat kening semua orang berkerut karena sedari tadi, lelaki itu mengucapkan hal-hal aneh yang tak dimengerti.


Rak mengangguk paham seraya menghapus air matanya. Ia meninggalkan kecupan di pipi Kenta sebelum pergi. Kenta tersenyum.


"Sebenarnya, aku bisa mencairkan es ini untukmu. Namun, karena aku masih kesal padamu, nikmatilah rasa dinginnya. Ya, seperti hatiku selama tiga kali bulan ungu bersinar karena sikap menyebalkanmu," ucap Rak menatap Kenta sendu, tetapi membuat wajah Wen pucat seketika.


Praktis, semua orang menahan senyum. Rak meninggalkan Kenta sendirian di tangga dan berusaha agar tak jatuh atau tubuhnya bisa pecah berkeping-keping.


"Calon istriku lebih menyeramkan ketimbang See," gumam Kenta dengan wajah tegang.

__ADS_1


Di sisi lain, Kerajaan Tur.


Meskipun rahasia Pyu tak terbongkar, tetapi sang Raja menyadari jika Pyu melakukan misi terselubung yang bersangkutan dengan para pemberontak. Namun, Raja yang tak ingin terlihat terang-terangan mencurigai manusia setengah panda merah itu, membiarkan Pyu seolah tak dicurigai. Diam-diam, ia memblokade beberapa wilayah agar para pemberontak tak bisa memasuki wilayah hutan kabut dan perbatasan. Pohon jembatan juga dijaga ketat. Istana dipersenjatai agar mereka tak bisa masuk. Penduduk juga dibatasi agar tak bepergian menuju ke wilayah perbatasan agar tak terkena hasutan musuh.


"Raja," panggil salah satu panglima kerajaan Tur menghadap tuannya.


"Bagaimana?" tanya Raja Tur yang berada di kamar Kiarra.


"Manusia ubur-ubur tak bisa melintas. Strategi kita berhasil," ucap Panglima itu yang membuat senyum tipis sang Raja terbit.


"Bagaimana dengan perbatasan?" tanyanya seraya memegang sebuah bulu yang ujungnya terdapat tinta, digunakan layaknya pena.


"Kami melihat pergerakan beberapa penduduk yang melintas di wilayah musuh. Entah mereka sengaja atau tidak, tetapi orang-orang itu seperti pedagang. Mereka membawa peti-peti besar dengan kereta dalam jumlah banyak."


Kening sang Raja berkerut. "Pasti senjata."


"Sepertinya tidak, Raja," ucap salah satu kapten pasukan Kerajaan Tur dengan wujud manusia burung.


Pria itu melangkah masuk ke dalam lalu membungkuk hormat. Panglima dengan sosok tikus tersebut langsung menatap kapten pasukan udara Kerajaan Tur dengan hormat yang sama.


"Apa kabar darimu, Kapten Tom?" tanya sang Raja menatap salah satu kapten pasukannya lekat.


"Aku dan pasukanku berhasil memata-matai pergerakan para pedagang itu. Mereka melakukan kerjasama bisnis dalam hal perdagangan. Mereka melakukan pertukaran. Ternyata, hal tersebut juga dilakukan oleh seluruh kerajaan, kecuali kita," ucapnya yang membuat wajah sang Raja berubah serius seketika.


"Hem, kerjasama antar kerajaan, ya? Terdengar seperti dongeng," ucap sang Raja menyindir.


Sang Kapten menarik napas dalam. "Empat kerajaan mulai membangun beberapa sarana penunjang, Raja. Mereka mendirikan menara-menara dengan banyak penjaga di setiap perbatasan. Untuk memasuki perbatasan, mereka seperti memiliki sandi khusus agar bisa melintas."


"Apa sandinya?" tanya sang Panglima penasaran.


"Untuk itu, kami belum tahu," jawab Tom dengan pandangan tertunduk.


"Cari tahu!" teriak Raja tiba-tiba. "Jika perlu, rampas semua barang mereka. Kita gunakan sebagai persediaan. Jika mereka melakukan perlawanan, habisi. Biarkan Vom dan kerajaan lain tahu, jika Tur tak bisa diremehkan!"


Ucapan sang Raja tentu mengejutkan Kapten dan Panglima. Mereka saling melirik dalam diam, tetapi mengangguk paham. Dua orang itu lalu pamit undur diri untuk menginformasikan titah terbaru dari Raja. Di ruangannya, dua tangan Raja mengepal. Ia begitu marah karena empat kerajaan seperti menyindirnya karena tak sudi bergabung.


Raja yang memang menginginkan pertempuran untuk menunjukkan kehebatannya, mulai bersiap. Hanya saja, jika pasukannya bertarung di luar Kerajaan Tur, ia pasti akan kalah. Oleh karena itu, Raja mulai membuat siasat agar pasukan Vom dan yang lain mendatanginya. Raja menyeringai.


"Hem, saatnya memancing."


***



wah dapat tips koin dari Jeng Riana 😍makasih yaa cantik selalu untuk dirimu💋 jadi semangat uyy walaupun nanti telat up tapi setidaknya draf naskah udah banyak. jadi tinggal nunggu waktu luang buat crazy up kaya novel TDN. trims sudah sabar menunggu. lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2