
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Rein, Chiko dan Ryota dibuat penasaran karena mereka tak bisa menghubungi Kiarra akibat earphone-nya dilepaskan. Tiga orang itu sibuk melihat sekitar untuk memastikan keberadaan Kiarra tak diketahui orang yang mengenalnya. Sedang Kiarra, tampak sabar menunggu saat sepasang kekasih yang merahasiakan hubungan mereka mulai kembali normal. Michelle memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat dampak dari serum penawar gas halusinasi. Sedang Regen, terlihat memegangi perutnya seperti mengalami mual.
"Oh!" kejut Michelle saat ia menoleh dan mendapati seseorang di sampingnya yang menutupi sosok.
Regen yang mendengar sang kekasih terkejut, langsung menoleh dengan kening berkerut karena paras Kiarra tertutupi topi besarnya.
"Kau siapa?" tanya Regen mulai kembali fokus dan mengesampingkan rasa mual.
"Pengakuan kalian sudah aku rekam untuk menyeret Jasper ke Pengadilan Dunia," ucap Kiarra yang membuat mata Regen dan Michelle terbelalak lebar.
"Kau! Kau yang membuat Rein, Chiko dan Ryota menginterogasi kami! Siapa kau? Apa kau tahu akibatnya jika berurusan dengan Jasper?" pekik Regen dengan mata melotot.
"Kau bisa mati olehnya!" sambung Michelle dengan napas memburu.
"Dia sudah berhasil melakukannya," jawab Kiarra seraya menaikkan kepala sehingga wajahnya yang pucat mulai terlihat.
Sontak, Michelle dan Regen tertegun. Keduanya diam cukup lama mengamati sosok dengan pewarna bibir merah menyala, berkacamata hitam, berikut pakaian dan topinya.
"Apa maksudmu?" tanya Michelle mulai mencurigai sosok di sampingnya.
Kiarra melepaskan topi lalu memangkunya, kemudian melepaskan kacamata.
"AAAAA!" teriak Michelle histeris. Mata Regen sampai terbelalak lebar karena terkejut dengan sosok di depannya.
"Ki-Ki-Ki ...."
"Ya. Aku bangkit dari kematian untuk menuntaskan dendam. Jadi ... memihakku, atau tetap berpihak pada Jasper?" tawarnya sembari melirik Michelle lalu berganti menatap Regen.
Dua orang itu tampak shock sehingga seperti orang terkena sesak napas. Kiarra menatap keduanya dengan anggun, meski nyatanya, sosok mayatnya tidak demikian.
"A-aku ...."
"Jasper meminta akses perusahaan Kim Arjuna padamu. Jika kau ingat balas budi terhadap keluarga Tuan Kim dan Nyonya Naomi, berikan akses itu padaku. Berkilahlah sebanyak yang kau bisa sampai aku menemukan celah untuk menjebaknya."
"Kau ... kau ingin memenjarakan Jasper?" tanya Regen curiga.
Namun, Kiarra hanya diam. Wajah pucatnya meski sudah diberi perona, tetapi tetap saja, aura yang dipancarkan seolah membawa kematian. Regen dan Michelle saling melirik.
"Bekerjasamalah dengan Chiko, Rein dan Ryota. Kujanjikan kalian akan tetap bisa berada di posisi yang sekarang dan tak diasingkan ke negara terbuang."
"Sungguh? Yang kau lakukan ini sangat berbahaya, Ara. Apakah ... ibumu tahu? Nyonya Rui tahu?" tanya Michelle tampak cemas.
Kiarra diam sejenak. "Kalian tak perlu mencemaskanku. Urusan ibu, itu tanggungjawabku. Kalian fokuslah pada misi yang akan kuberikan jika setuju bekerja sama. Menolak, akan kubawa kalian ikut ke alam kematian bersamaku."
Praktis, ancaman dari Kiarra membuat dua orang itu bergidik ngeri. Michelle menatap Regen dengan wajah takut, begitupula pria itu. Bagi mereka, ancaman Kiarra lebih mengerikan ketimbang Jasper karena wanita yang telah mati itu bisa hidup kembali dalam raga mayatnya.
"Oke. Kami akan membantumu. Jadi ... apa yang kauinginkan?" tanya Regen yang diangguki oleh Michelle.
Kiarra tersenyum tipis di mana sang Naga masih memberikannya beberapa kelebihan untuk mengendalikan fisik meski organ dalamnya telah mati agar tak terlihat seperti mayat hidup, meski nyatanya terlihat demikian. Sedangkan di sisi lain, Rein, Ryota, dan Rein masih dirundung kecemasan karena saudari mereka belum juga keluar dari mobil Regen. Kawasan itu mulai ramai dan dipadati para pekerja karena jam masuk kantor hampir tiba.
DRETT!
"Oh!" kejut Rein yang membuat kepala dua pria di dekatnya menoleh. "Ibu menelepon," ucapnya.
"Angkat, tapi jangan katakan apa pun tentang kebangkitan Kiarra dan misinya. Itu akan sangat berbahaya," tegas Chiko. Rein mengangguk paham.
"Yes, Mom," jawab Rein berusaha terdengar santai meski wajahnya tegang.
"Rein, ibu minta tolong. Aiko mulai membaik. Ia ingin bertemu saudara dan saudarinya. Aiko akan kembali ke Jepang. Ibu meminta izin darimu untuk membiarkannya tinggal di rumahmu sementara waktu. Nantinya, Aiko akan ibu ajak ke Jakarta dan ikut bekerja bersama kita. Nyonya Naomi sudah mengizinkan. Kau sendiri, bagaimana?"
Praktis, kabar dari sang ibu membuat Rein melotot seketika. Chiko dan Ryota yang ikut mendengar ikut dibuat panik. Panggilan yang di-speaker itu membuat ketiganya mematung.
DOK! DOK!
"AAA!" teriak Rein tiba-tiba saat melihat wajah Kiarra muncul di samping jendela.
__ADS_1
"Ada apa, Rein? Kau baik-baik saja?" tanya Rui yang ikut terkejut.
"A-a ... tikus! Tiba-tiba ada tikus melintas di depanku. Ma-maaf, aku terkejut, Bu," jawabnya berusaha berbohong dengan mata masih menatap Kiarra lekat.
Kiarra segera masuk ke dalam mobil. Ia melirik ke arah tiga saudaranya yang menatapnya saksama. "Ibu menelepon?" tanyanya dengan gerakan bibir dan tangan tanpa suara. Tiga orang itu mengangguk pelan. "Tentang apa?" Chiko dengan sigap menuliskan pembicaraan sang ibu dan Rein ke layar ponselnya dalam sebuah aplikasi lalu ditunjukkan pada Kiarra. "Izinkan."
Mata Chiko melebar. "Kau serius?" tanyanya dengan isyarat yang sama. Kiarra mengangguk.
Rein yang paham hal itu menarik napas dalam. "Ya, Bu. Tentu saja boleh. Aku juga sangat merindukan Aiko. Baiklah, aku tunggu di rumah, ya. Nanti Chiko yang akan menjemput di bandara," jawabnya.
"Baik. Terima kasih, Rein. Ibu sangat menyayangimu," ucap Rui lalu menutup panggilan teleponnya.
Kini, Kiarra ditatap oleh ketiga saudaranya.
"Kita libatkan Aiko juga. Kurasa, dia harus tahu tentang hal ini. Soal Michelle dan Regen, mereka juga akan ikut membantu."
"Woah! Sungguh? Kau berhasil membujuk mereka?" tanya Chiko kagum.
"Apa yang kautawarkan?" tanya Ryota penasaran.
"Menolak, kuajak mereka ke alam kematian untuk menemaniku."
Praktis, jawaban Kiarra membuat wajah tiga orang itu langsung pucat seketika. Tak ada lagi pembicaraan. Mobil Regen juga sudah tak ada di lokasi begitupula dengan Michelle yang berjalan tergesa kembali ke kantor. Chiko juga bergegas kembali ke rumah.
Kiarra kini mengungsi di rumah Ryota untuk sementara waktu karena Aiko akan tinggal bersama Rein di sana. Rein dan Chiko diminta untuk tetap fokus pada misi mengingat waktu Kiarra tak lama lagi berada di Bumi. Hingga akhirnya, Aiko dan Rui datang ke Jepang. Rein dan Chiko tetap bersikap normal.
Mereka akan meyakinkan Rui untuk memasrahkan Aiko agar sang ibu kembali ke Jakarta. Kakak beradik itu sengaja karena Kiarra ingin menemui Aiko dan membicarakan misinya. Hanya saja, Kiarra ragu jika adiknya yang baru sembuh dari trauma bisa ikut bergabung. Ia kembali membuat strategi.
"Kau yakin, Aiko? Kau tak apa kutinggal sendiri?" tanya Rui cemas.
"Tak apa, Mom. Ada Rein dan Chiko. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," jawabnya lembut.
"Iya. Kami akan menjaga dia dengan baik, Ibu. Maaf, aku minta tolong untuk mengurus perusahaan sebentar sebelum nantinya kami menyusul ke Jakarta," ujar Rein.
"Ya, ibu mengerti. Baiklah jika demikian. Ibu akan ke Jakarta besok. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Rui menatap tiga anaknya dengan senyuman.
Rein berjanji untuk memajukan perusahaan. Wanita cantik itu tak sabar ingin berguru kepada sang kakak mengingat ia sedang berada di Bumi. Walaupun kenyataannya, Kiarra bangkit karena sumpah yang belum ditunaikan. Ryota yang mendapatkan kabar segera pergi ke kediaman Rein bersama Kiarra untuk menemui Aiko. Segala hal telah mereka persiapkan agar Aiko tak panik dan harus kembali menjalani rehabilitasi.
Malam itu, di hari ketiga dari waktu yang diberikan sang Naga untuk Kiarra.
TING TONG!
"Kau dikunjungi tamu?" tanya Aiko yang sedang menonton televisi langsung menoleh ke arah jendela.
"Ya. Ryota datang berkunjung. Ia senang sekali kau sudah sembuh," jawab Rein seraya menghidangkan kudapan untuk menemani acara televisi.
Aiko mengangguk dengan senyuman. Ia merapikan rambutnya yang lurus panjang tergerai. Ryota mendatangi Aiko dengan senyum menawan. Aiko menyambut saudaranya dengan senyum manis. Keempat saudara Kiarra duduk saling berhadapan dan mulai berbincang ringan. Hingga tiba-tiba ....
"Oh!"
"Ada apa, Aiko?" tanya Chiko sampai tak jadi menyeruput teh hijaunya.
"Emm ... tak apa," jawabnya langsung memalingkan wajah dari pintu geser.
Aiko terlihat tegang dan meminta izin untuk kembali ke kamar dengan alasan meminum vitamin. Rein dan dua saudara laki-lakinya mengizinkan. Sementara itu, Aiko terlihat gelisah. Kepalanya menengok ke sana kemari sepanjang menyusuri koridor menuju kamar.
"Kata Dayana aku sudah sembuh dan bisa beraktivitas. Namun, kenapa ... mungkin hanya halusinasi," ucapnya lalu meminum vitaminnya dengan segera.
Aiko yang masih merasa letih, memilih untuk beristirahat. Dengan cepat wanita cantik itu tertidur di ranjangnya. Hingga ia merasa seseorang berada di samping seperti menutup tubuhnya dengan selimut.
"Emm," gumamnya dengan mata sayup-sayup mulai terbuka perlahan.
Aiko melihat ada seseorang di sampingnya sedang mengenakan yukata putih bermotif bunga sakura warna merah muda. Aiko semakin membuka matanya lebar dan terkejut ketika melihat ada sosok yang dikenal menatapnya dengan wajah sendu.
"Ki-Ki-Kiarra!" pekik Aiko panik.
"Hai, apa kabarmu?" jawab Kiarra dengan senyum tipis.
__ADS_1
Aiko tampak panik seraya melihat sekitar. Ia merasa kamarnya sedikit berubah. Ada beberapa dekorasi cantik yang membuat suasana ruangan menjadi nyaman dengan aroma terapi yang menenangkan.
"Kau merindukanku?" tanya Kiarra lagi seraya melukis dengan kanvas di sebuah bingkai.
"Kau ... apakah ini mimpi?" tanya Aiko masih berbaring di ranjang karena takut. Tangannya mencengkram kuat selimut yang menutup tubuhnya.
"Mungkin," jawab Kiarra yang membuat hati Aiko sedikit tenang. Kiarra masih terus melukis dengan senyum terpancar meski wajahnya pucat.
"Kenapa ... kenapa kau datang di mimpiku? Lalu ... apa yang kau lukis?" tanya Aiko seraya melongok lalu memutuskan untuk bangun perlahan. Aiko duduk di atas ranjang melihat pergerakan tangan Kiarra. Hingga akhirnya, "Hah! Hah!"
Aiko tiba-tiba panik saat melihat gambar seorang pria yang ia kenal dan tak lain adalah Jasper.
"Kita membenci orang yang sama, Aiko. Aku mati karenanya. Arwahku tak tenang dan aku ingin membalas dendam," ujar Kiarra yang membuat mata Aiko terbelalak lebar.
"Ka-kau ...."
"Aku akan bangkit dari kematian untuk menuntaskan dendamku. Aku ingin kau di sana untuk melihat kematian Jasper. Apakah ... kau mendukungku?" tanya Kiarra menatap Aiko tajam.
Napas Aiko tercekat. Ia seperti panik seraya memegangi dadanya. Kiarra menyipitkan mata. Ia merasa trauma yang menimpa adiknya sungguh mengguncang jiwa hingga Aiko menjadi seperti ini. Kiarra semakin membenci Jasper.
"Aiko ... akan kubunuh Jasper untukmu dan untuk orang-orang yang sudah dirugikan olehnya," ucap Kiarra, tetapi Aiko masih seperti orang shock.
Kiarra yang merasa jika Aiko tak bisa diajak bekerja sama, akhirnya berdiri. Aiko terkejut saat melihat Kiarra berjalan perlahan menuju pintu seperti akan pergi.
"Ka-kau mau ke mana?" tanyanya panik.
"Kukira ... kau memiliki dendam yang sama denganku, tetapi ternyata ... tidak. Semoga hidupmu bahagia, Aiko, meski arwahku tidak demikian," jawab Kiarra dengan pandangan tertunduk.
Kiarra mulai menggeser pintu lalu keluar. Pintu geser itu kembali tertutup dari luar. Aiko terkejut dan bergegas turun dari ranjang. Saat ia membuka pintu, tiba-tiba ....
BRUKK!!
Ryota dengan sigap menembakkan jarum bius ke leher adiknya dari balik dinding. Aiko ambruk tak sadarkan diri. Ryota membopong Aiko untuk direbahkan kembali. Chiko dan Rein kembali membereskan dekorasi yang mereka susun dengan kilat saat Aiko tidur karena vitaminnya diganti dengan obat tidur.
Cukup lama Aiko tertidur hingga akhirnya sadar. Ia kaget saat melihat kamarnya sudah kembali seperti sedia kala. Selimutnya pun masih terlipat rapi di bawah kaki. Aiko bingung karena mimpi itu terasa nyata. Saat ia bermaksud untuk membahas mimpi itu kepada tiga saudara, tiba-tiba ....
"Oh! Apa ini?" Aiko terkejut saat melihat ada sebuah kertas tergeletak di lantai.
Aiko mengambil dan membalik lembaran itu. Sontak matanya melebar. Lukisan itu persis seperti yang ia lihat dari mimpinya.
"Kiarra ...," ucap Aiko memegang kertas lukisan erat di mana gambar Jasper terlihat menyeramkan karena seperti ada noda darah di tubuhnya.
GREKK!
"Aiko, ayo makan malam," ajak Rein saat membuka pintu geser lalu masuk ke kamar dengan wajah berbinar. "Oh, kau memegang apa?"
"Ini ... aku tadi bermimpi Kiarra mendatangiku," ujarnya seraya menunjukkan gambar itu.
"Oh!" pekik Rein dengan ekspresi terkejut.
"Ada apa?" tanya Ryota dan Chiko yang tiba-tiba masuk dengan wajah panik.
"A-Aiko juga mendapatkan lukisan itu ...," ujar Rein tergagap sambil menunjuk lukisan yang dipegang oleh Aiko.
"Kau didatangi arwah Kiarra?" tanya Chiko menatap Aiko tajam dengan mata melotot.
"Kalian ... didatangi juga olehnya? Apakah ... permintaan Kiarra untuk membalas dendam kepada Jasper?"
"Hem!" jawab Rein, Ryota dan Chiko mantap dengan anggukan.
Aiko tampak terkejut lalu memandangi gambar tersebut dengan wajah tegang.
***
wah dpt tips koin😍 makasih ya jadi cemangat deh😁
__ADS_1
Jangan lupa rate bintang 5 bagi yang belum ya. Tips koin, poin, dan vocernya jangan lupa😁 Pengumuman pemenang lomba wanita kuat tgl 9 April nih. Kira2 lele salah satu pemenangnya gak ya😆 Lawannya serem2 uyy author femes semua. Jadi minder. Alah🤭