Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kelemahan Monster Iblis Wii*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Rak dan kelompoknya yang berhasil tiba di ujung terowongan bernapas lega. Sayangnya, saat mereka menyusuri tepian sampai hilir sungai, betapa terkejutnya ketika melihat sosok besar berwarna hijau layaknya monster laut sedang menyantap seorang manusia ubur-ubur di lautan. Mata para pemberontak Tur terbelalak lebar karena mengetahui siapa sosok tersebut. Mereka langsung terkulai lemas dengan Rak masih tergolek lunglai di atas gerobak.


"Itu ... itu Wii," ucap salah satu prajurit Zen yang mengetahui salah satu monster iblis menjaga pohon jembatan.


"Oh, Naga. Kita terjebak," sahut prajurit lainnya dengan wajah pucat.


Kumpulan orang-orang itu seperti kehilangan semangat hidup. Jika mereka kembali ke Zen, maka akan dijadikan budak oleh bangsa Tur. Namun, jika nekat menyeberang, mereka bisa dimangsa oleh Wii. Saat kumpulan manusia tersebut dirundung kebimbangan, Rak menguatkan diri untuk memotivasi mereka.


"Kita masih bisa berlindung sampai bantuan datang," ujar Rak berusaha duduk dengan susah payah.


"Penyihir agung!" seru Kapten Kee si manusia setengah serigala putih berlari mendekat.


Kee meninggalkan Yak saat Kenta ingin mengunjungi Zen. Kenta mempersilakan pria itu ikut dengan beberapa prajurit Tur yang menjadi sekutu barunya usai mendapat pencerahan dari sang Naga. Kee lantas dipercaya untuk menjaga Zen. Kini, Kapten Kee dan orang-orangnya menunaikan tugas sesuai janji.


"Kita pergi memutar. Susuri saja tepian laut. Wii tak bisa mendekati daratan atau dia akan mati kekeringan. Kekuatannya adalah air dan tanah adalah musuhnya. Selama berada di daratan dan jauh dari pasukan Tur, kita akan selamat," ucap Rak lirih.


"Kami mengerti!" jawab Kapten Kee yang dengan sigap meminta kepada 14 orang yang pergi bersamanya untuk melaksanakan perintah Rak.


Rak tetap duduk dalam gerobak yang didorong dari belakang oleh seorang manusia setengah banteng. Lima orang memimpin jalan di depan dan lima orang menjaga belakang. Dua di sisi kanan dan dua di sisi kiri. Mata Rak memindai sekitar.


Penyihir berambut putih panjang tersebut berusaha untuk segera pulih dengan meminum sebuah cairan yang selalu disimpan dalam sabuk kain melilit di perutnya. Namun, siapa sangka jika monster Wii melihat pergerakan rombongan Rak. Makhluk raksasa berwarna hijau tersebut dengan sigap bergerak. Tentu saja, lengkingannya mengejutkan orang-orang.


"Awas!" teriak Kapten Kee panik dengan mata melotot.


"Lempari dia dengan pasir kering! Jangan injak air lautnya! Cepat!" titah Rak yang tak bisa menutupi ketegangan di wajah.


"Wiii!" Monster itu melengking dan berenang dengan cepat menuju daratan.


Saat ia memunculkan setengah tubuh bagian atasnya untuk menangkap orang-orang di tepi pantai, tiba-tiba ....


"Heahhh!"


"Harrghhh!"

__ADS_1


"Bagus! Terus lempari dia!" titah Rak dengan dua tangan mencengkeram kuat pinggiran gerobak.


Ternyata, instruksi dari Rak adalah benar. Wii panik dan merintih kesakitan saat tubuh bersisiknya terkena pasir kering. Ia lalu melompat ke dalam air dan pergi meninggalkan rombongan Rak.


"Hahaha! Kita berhasil!" teriak Bit si manusia setengah kelinci gembira dan disambut sorakan yang sama dari prajurit lain.


Rak tersenyum. Meskipun ia belum bisa menggunakan sihirnya karena terlalu letih, tetapi pengetahuannya tentang makhluk-makhluk di Negeri Kaa, membuat dirinya dan orang-orang di sekitar selamat.


"Kita harus segera bersembunyi. Aku khawatir, pasukan Tur akan mengejar kita. Jejak gerobak dan kaki kalian meninggalkan bekas," ucap Rak seraya menoleh.


Para prajurit baru menyadari hal tersebut. Mereka merasa bodoh karena melupakannya. Kapten Kee dengan sigap memimpin para pengungsi itu pergi meninggalkan kawasan tersebut dan mulai naik ke dataran tinggi agar jejak mereka tertutupi kerikil bebatuan.


Di wilayah Vom benteng terluar.


Burung-burung Eee yang tewas, kini menjadi santapan orang-orang Tur. Dengan rakusnya, mereka hanya memberikan sedikit daging hasil masakan kepada tawanan. Noh dan lainnya berusaha bersabar karena tak ingin strategi mereka menimbulkan kecurigaan. Tepat saat bulan ungu bersinar, terlihat pergerakan besar-besaran dari kelompok Jenderal Gor dan Kapten Rhi yang siap menggempur Vom.


Laksamana Noh dan lainnya terlihat tegang saat sekumpulan orang-orang berpakaian besi serta bersenjata tajam, mulai bergerak meninggalkan benteng. Tersisa 10 penjaga dari Tur yang mengawasi sandera dari Vom. Aim dan teman-temannya saling melirik dalam diam. Mereka menunggu isyarat dari sang Laksamana.


Saat pasukan Tur tak terlihat, Laksamana mengedipkan salah satu matanya kepada pemimpin pasukan burung Eee tersebut. Aim mengangguk pelan. Tangan kirinya bergerak perlahan ke balik baju tempur yang sengaja dilepaskan dengan alasan menjadi alas tidur. Prajurit Vom lainnya melakukan hal serupa termasuk sang Laksamana. Mereka terlihat tegang seperti siap melakukan sesuatu.


"Hatchim!" Praktis, suara bersin sang Laksamana, membuat para penjaga itu menoleh ke arahnya seketika.


"ARRGHH!"


"Serang!" seru sang Laksamana saat usahanya berhasil dengan melemparkan sebuah pisau yang disembunyikan di balik punggungnya.


Ujung benda tajam itu tepat mengenai leher salah seorang penjaga. Pria dengan sosok manusia setengah babi itu tewas karena serangan tak terduga tersebut. Aim bersama kawan-kawannya menyerang pasukan Tur dengan senjata pemberian warga Desa Gul kala itu. Pertarungan sengit pun terjadi. Mereka saling melukai untuk membuktikan yang terhebat.


"Cok, sekarang!" titah Laksamana Noh yang dengan sigap menyibakkan pakaian tempur yang menutupi lubang di sampingnya.


"Laksamana!" panggil si manusia tikus tanah yang kepalanya muncul dari lubang.


Laksamana Noh segera memasukkan kepalanya ke dalam lubang galian buatan Cok. Pria itu merangkak dengan Cok sebagai pemimpin jalan. Beruntung, luka Laksamana telah mengering. Akan tetapi, hal tersebut tak membuatnya melakukan hal dengan mudah karena kehilangan salah satu kaki. Pria berambut putih panjang itu bisa merasakan tanah di atasnya bergetar di mana pasukannya sedang melawan Tur. Laksamana menggunakan dua tangannya untuk terus bergerak hingga akhirnya tiba di ujung terowongan.


"Oh!" kejutnya ketika mendapati sekelompok warga yang ternyata telah siap seperti ingin melakukan sesuatu.


Laksamana Noh dinaikkan ke sebuah gerobak dengan kepala desa yang akan mendorong benda beroda kayu itu. Wajah warga terlihat tegang. Dua tangan mereka menggenggam erat senjata disertai napas memburu.

__ADS_1


"A ... wu wu wu wu!"


"Itu Lon!" seru Cok saat melihat sosok Lon terbang melayang menggunakan sebuah benda yang terbentang lebar berukuran tiga kali lipat darinya, mengembang di udara berbentuk segitiga dan memiliki pegangan segitiga.


Lon yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan tanah, membuat tanjakan sebagai tempat peluncurannya. Desanya yang telah hangus terbakar, diubahnya menjadi bukit. Lon berlari cukup kencang dengan berpegangan kuat pada tongkat panjang melintang di depan tubuhnya sebagai pengendali. Dengan usaha keras dan keyakinan, tubuhnya terangkat karena dibantu oleh embusan angin kencang hari itu. Meski demikian, benda tersebut tak setinggi ketika mengendarai balon udara.



Ilustrasi Hang Glider biar kalian punya bayangan.


Laksamana Noh sampai terbengong ketika melihat yang Lon lakukan dengan sebuah benda tampak asing, tetapi mengagumkan. Warga bersorak karena melihat Lon berhasil melakukannya. Tiba-tiba saja, terdengar suara orang-orang berteriak dari atas bukit. Laksamana Noh tertegun melihat sekumpulan orang menggunakan benda serupa seperti yang Lon gunakan.


Sebagian warga yang menggunakan hang glider menuruni bukit untuk mengejar anak lelaki tersebut. Mereka mengikuti cara Lon dengan berlari sangat kencang menuruni bukit hingga akhirnya benda tersebut terbang dengan sendirinya. Beberapa berhasil dan ada yang gagal. Hal itu disebabkan karena hang glider berukuran besar itu masih terbilang baru dan ini pertama kalinya mereka mencoba.


Namun, melihat Lon berhasil, para orang dewasa itu tidak mau menyerah. Laksamana Noh melirik Cok. Pria tikus tanah itu menjawabnya dengan mengangkat kedua bahu. Laksamana Noh terlihat bangga, meskipun ide ini bukan darinya, tetapi ia menyukai inisiatif penyihir cilik tersebut.


"Maju!" teriak Laksamana Noh memimpin pasukan beranggotakan sipil.


"Heahhh!" seru orang-orang yang menjadi pasukan darat di bawah kepemimpinan Laksamana Noh meski ia menaiki sebuah gerobak kayu.


Ternyata, diam-diam warga desa membuat sebuah benda seperti yang Lon gunakan. Warga menggunakan kayu dari hutan dan kulit dari Kkk. Mereka mengikatnya dengan sulur pohon sebagai tali. Kulit Kkk didapatkan dari Cok yang diberikan Lon saat ia mengunjunginya untuk mengantarkan perbekalan. Tumpukan kulit Kkk yang ditemukan Lon di ruang persembunyian, dimanfaatkan remaja itu usai mendapatkan penglihatan karena didatangi roh Kiarra.


Saat itu ....


"Kau ... hiks, kenapa kau tega meninggalkan kami begitu lama?" tanya Lon tak bisa menutupi kesedihannya.


"Aku minta maaf. Aku tak bisa bangkit jika bintang biru belum muncul. Aku bisa keluar dari telur dan menemui beberapa orang karena keajaiban yang diberikan bayiku," ucap Kiarra yang membuat Lon menghentikan tangisnya seketika.


"Ma-maksudnya?" tanyanya seraya menghapus air mata.


Kiarra tersenyum. "Bayiku akan menjadi calon penyihir hebat sepertimu, Lon. Dia pengganti penyihir dari Ark."


Senyum Lon terkembang, tetapi kemudian keningnya berkerut. "Tunggu. Ark? Kenapa bisa dari Ark? Bukankah empat dayangmu berasal dari Vom?"


Seketika, mata Kiarra melebar. Ia begitu terguncang saat menyadari hal yang sengaja dilupakan kala itu. Kini, kenangan tersebut kembali muncul dan mengejutkannya.


"Oh, shitt!" pekiknya sampai memegangi kepala. Pikirannya menjadi kacau tiba-tiba.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE. (Playground Ai)


__ADS_2