
...IPO IPO...
Yang puasa bacanya tar aja😆 Kasih like dulu sama vote poin, koin, vocer bagi yg belom😁
---- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Terdapat bahasa campuran ketika Kiarra berbicara.
"Hem ...," gumam Kiarra saat merasakan tubuhnya seperti mengapung. Seulas senyum terbit di bibir menikmati sensasi sejuk dan juga sentuhan lembut di tubuh seperti pijat relaksasi. "Hah ...." Kiarra makin terbuai ketika rambutnya serasa disisir menggunakan jari dan kepalanya dipijat. "Spa ... hem, spa?" gumamnya yang seketika membuat jantung berdebar kencang tak karuan.
SPLASH!
"Agh!"
"Hah, hah, apa yang terjadi?" pekik Kiarra tiba-tiba yang langsung membuka mata dan berdiri. "Aaa!" teriaknya kemudian saat menyadari berada di dalam kolam yang setinggi lututnya saja. Matanya membulat penuh saat melihat Ram berdiri di hadapan tak berbusana termasuk dirinya. "Kau apakan aku, keparatt!" teriaknya dengan emosi meledak-ledak dan sibuk mencari benda apa pun untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup.
"Aku tahu kau pasti marah, tetapi kau keracunan!" ucap Ram panik dengan dua tangan terulur di depan mencoba menghalau amukan sang Jenderal yang mulai melemparinya dengan batu kerikil dari kolam.
"Kau selalu mencari kesempatan saat aku lengah! Kau benar-benar bajiingan, Ram! Kau sama buruknya dengan Jasper!" teriak Kiarra murka dan langsung beranjak dari kolam dengan tubuh polos.
Ia tak peduli dengan tubuhnya yang tak terbalut kain karena itu bukan miliknya. Rohnya saja yang masuk ke dalam, tetapi raganya bukan.
"Aku hanya berusaha membantumu! Wajahmu masih hijau!" pekik Ram yang membuat Kiarra langsung menghentikan langkah.
"What?"
Ram tak mengerti yang Kiarra katakan. Namun, ia segera mengambil sebuah benda dari dalam buntalan miliknya yang tak lain adalah cermin.
BYUR!!
"Lihatlah sendiri," ujar Ram melemparkan cermin berbentuk oval miliknya ke kolam dekat Kiarra berdiri.
Kening sang Jenderal berkerut. Kiarra yang penasaran mengambil benda itu dengan ragu.
"Oh my God!" pekiknya panik saat melihat wajah hingga lehernya berubah hijau seperti alien.
Kiarra mengamati tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya. Ia melihat bagian tubuh yang lain tak berwarna hijau seperti wajah dan lehernya. Namun, setengah rambutnya berwarna hijau. Hanya bagian bawah leher sampai punggung saja yang sudah berubah normal.
"Aku merendammu hampir seharian untuk menghilangkan racun Grr. Hanya saja, aku tak mungkin menenggelamkanmu. Oleh karena itu, hanya wajah, leher, dan rambut bagian atasmu yang masih berwarna hijau. Sisanya sudah pulih seperti semula," ucapnya menjelaskan.
Napas Kiarra memburu. Ia berterima kasih akan hal itu, tetapi ingatan tentang Ram yang kabur layaknya pengecut membuatnya jengkel. Kiarra kembali masuk ke dalam kolam untuk membasuh wajahnya. Namun, warna hijau itu tak mudah dihilangkan. Kiarra yang kesal sampai tengkurap dan membiarkan tubuh bagian belakangnya menyumbul di permukaan.
"Bokoongmu boleh juga."
SPLASH!!
"What! Dasar maniak!" pekik Kiarra kembali tersulut emosi saat ia baru menyadari jika Ram merendam diri di sampingnya.
Pria itu terkekeh saat melihat sang Jenderal terselimuti amarah.
__ADS_1
"Kau akan membuat kehebohan jika warna hijau di wajah tak segera dihilangkan, Ara. Aku bantu mencuci rambutmu. Kau fokus saja pada bagian wajah dan leher. Aku tahu kau sangat memperhatikan penampilan. Jangan sampai wajah cantikmu tak terpancar karena racun Grr," ucap Ram yang masih duduk dalam kolam dan hanya terlihat dada ke atas saja.
Napas Kiarra tersengal. Ia akui memang wajah Kia sangat cantik. Dirinya termasuk beruntung karena mendapatkan fisik yang sempurna seperti di kehidupannya dulu meski bukan wajah Asia. Kiarra cemberut dan akhirnya mengikuti saran dari Ram. Kiarra duduk memunggunginya. Jantungnya berdebar kencang karena keduanya tak berbusana.
"Maaf jika meninggalkanmu. Kuakui aku memang pengecut, tetapi aku tahu jika Grr tak mungkin memangsamu. Oleh karenanya, aku mencari waktu yang tepat untuk menyelamatkanmu meski terpaksa meninggalkan," ucapnya seraya mengguyur rambut belakang Kiarra dengan dua tangan yang dijadikan seperti mangkuk.
Kiarra diam saja tak menjawab. Ia fokus membersihkan wajahnya dari warna hijau pekat layaknya masker wajah. Kiarra mulai tenang dan matanya sibuk memindai sekitar.
"Di mana kita?" tanyanya karena tempat itu tertutup oleh batuan seperti sebuah gua, tetapi cahaya masuk dari lubang besar di salah satu sisi layaknya pintu.
"Kita masih berada di wilayah Tur, tetapi perbatasan dengan wilayah Yak. Ada sebuah pohon jembatan tak jauh dari sini. Oleh karena itu, kau harus segera sembuh. Aku merasa, kau sudah pergi cukup lama. Aku khawatir Dra akan—"
"Dra akan pulih. Dia tak akan mati. Tinggal sedikit lagi dan akan kudapatkan buah itu," tegas Kiarra lalu menggosok wajah agar warna hijau cepat memudar.
"Hem, kau sangat menyayanginya, ya? Sepertinya rumor yang kudengar tentang hubungan kalian berdua salah," ucap Ram yang membuat kening Kiarra berkerut.
"Apa maksudmu?" tanya Kiarra sampai berhenti membasuh wajah.
Ram masih terus mengguyur rambut belakang Kiarra yang warna hijaunya mulai memudar.
"Kudengar, kau dan Dra sering bertengkar karena perbedaan pendapat. Kau juga ...."
"Apa?" tanya Kiarra langsung membalik tubuhnya hingga mereka berhadapan.
Ram terlihat gugup saat ditatap sang Jenderal tajam. "Janji kau tak akan memukulku," tegasnya menunjuk.
"Aaaa! Muka gile!" teriak Kiarra histeris, tetapi Ram tak peduli.
Semakin Kiarra berusaha untuk memberontak, gairah Ram malah semakin bergelora. Kiarra kini dibalas oleh Ram karena selalu menjadikan pria itu umpan. Sebenarnya, Ram tak masalah akan hal itu. Namun, ia yang tak ingin ditindas oleh sang Jenderal, mulai melakukan perlawanan.
"Inilah akibatnya jika selalu menjadikanku tumbal!" tegasnya yang membuat mata Kiarra melotot.
Wanita itu mendorong dada Ram kuat, tetapi lelaki itu juga mengerahkan tenaganya untuk melawan. Kedua tangan Kiarra ditangkap olehnya dan ditarik ke belakang seperti tahanan siap diborgol.
"Lepaskan aku! Awas saja jika kau berani macam-ma— emph!"
BYURR!!
Ram dengan sigap menjatuhkan tubuh Kiarra hingga membuat wanita itu tenggelam. Kiarra panik, terlebih saat Ram mendaratkan bibirnya ke wajah dan menciumnya dengan rakus.
"Erghh!"
BLUB! BLUB!
Gelembung udara keluar dari mulut Kiarra karena ia terus memberontak. Namun, tubuhnya kini tertimpa Ram dan kedua tangannya dipegangi kuat. Kakinya bahkan tak bisa berbuat banyak karena Ram menjepit tubuh bagian bawah dengan pahanya yang berotot.
SPLASH!
"Hah, hah," engah Kiarra ketika tubuhnya ditarik oleh Ram sehingga ia bisa kembali bernapas meski jantungnya berdebar cepat. "Cari mati!" teriaknya dengan mata melebar.
__ADS_1
Ram tak menjawab, tetapi wajahnya begitu serius. Ram terlihat seperti ingin melakukan hal lebih dengan sang Jenderal. Kiarra bisa merasakan cengkeraman Ram di tangannya semakin kuat. Entah kenapa ia menjadi panik karena bisa menduga hal selanjutnya. Benar saja, Ram kembali mendaratkan bibirnya di bibir Kiarra. Kepala belakang dan punggung wanita cantik itu ditekan kuat begitu cengkeraman di tangannya dilepaskan. Kiarra berusaha melepaskan ciuman itu dengan menjambak rambut belakang Ram, tetapi pria itu mampu menahan rasa sakitnya.
BYURR!!
"Ohok!" Kiarra tersedak karena dijatuhkan begitu saja untuk kedua kali sehingga menelan air kolam.
Ia panik saat Ram menarik dua kakinya dan diarahkan ke bagian penuh kenikmatan itu. Mata Kiarra melebar saat ia bisa merasakan milik Ram berusaha untuk menjebol pertahanannya. Kiarra berusaha bangun dan usahanya berhasil, tetapi sudah terlambat. Milik Ram sukses masuk ke dalam dan membuat napas wanita itu tersengal karena shock. Ram tak berhenti sampai di situ. Rasanya ia belum puas jika tak mendengar jeritan kenikmatan dari lawan.
"Ram, hentikan!" teriak Kiarra di tengah keheningan kolam yang diisi oleh mereka berdua.
Ram bersungguh-sungguh ingin memuaskan miliknya. Ia tak membiarkan tubuh sang Jenderal lolos dari keperkasaannya. Benar saja, Kiarra yang lelah memberontak, mulai terlena dengan cara Ram memanjakan. Wanita itu tak menyangka jika kemampuan Ram hampir setara dengan kelima dayangnya. Kiarra digempur habis-habisan di mana ini pertama kalinya memadu kasih di alam liar antah berantah dan di kolam.
Suara desisan kenikmatan mulai terdengar bersahut-sahutan seperti dua makhluk ketika tiba musim kawin. Kiarra mulai merespon sentuhan Ram di tubuhnya. Ram sudah menduga jika sang Jenderal tak mungkin merelakan suatu hal yang paling ia sukai. Rumor yang mengatakan jika Kia memiliki banyak dayang, tentu saja membuat Ram yakin jika wanita perkasa itu gemar bercinta.
Ram mengerahkan seluruh kemampuan untuk memuaskan sang Jenderal. Kiarra pun demikian. Milik Ram yang terasa pas untuknya membuat wanita itu mabuk kepayang dan tak ingin berakhir. Segala macam gaya dilakukan, bahkan tak segan keduanya saling menjambak, meremat kuat bagian tubuh yang menonjol dan mengisapnya.
"Agh!"
BYUR! BLUB! BLUB!
Kiarra kembali tercebur dan kali ini bisa merasakan sentakan kuat dari Ram yang sedang menggelontorkan semua miliknya. Tangan Kiarra yang terbebas membuatnya bisa bangun dan wajahnya muncul di permukaan. Namun, ia yang kesal pada Ram mendorong pundak pria itu dan membuat lelaki tampan tersebut berganti tenggelam dengan ia di atasnya.
"Heh, rasakan," ucapnya dengan seringai terpancar saat duduk di pinggul Ram meski miliknya masih tersangkut di sana.
Namun, Kiarra curiga. Ram terlihat sangat mampu berada di dalam air dan tetap menyemburkan miliknya meski tubuhnya tenggelam. Kiarra bisa melihat wajah Ram yang terlihat sensual saat sedang melampiaskan hasrat. Sedang Kiarra, gairahnya sirna ketika melihat Ram membuka mata dan terlihat sinar terang berwarna kuning seperti predator pada bola mata.
SPLASH!
"Agh!" rintih Kiarra terkejut saat Ram tiba-tiba duduk dan ia hampir jatuh karena spontan menutup wajahnya dengan dua tangan.
Namun, ia beruntung tak tercebur lagi karena Ram memegangi punggungnya kuat. Kiarra kembali membuka mata dan melihat Ram tampak normal tak seperti yang ia lihat tadi. Kiarra bingung, tetapi memilih diam dengan jantung kembali berdegup kencang saat Ram meraih kepala lalu mencium bibirnya lembut.
"Kau sangat lezat, Ara," bisiknya usai melepaskan ciuman.
Entah kenapa, Kiarra merasa aksi panas kali ini tak terasa cinta di dalamnya. Ram mengusap wajahnya lembut untuk menyingkirkan air yang menempel. Kiarra diam saja ketika Ram tersenyum padanya.
"Hem, caraku berhasil. Kau terlihat sempurna, Ara," ujar lelaki itu yang membuat Kiarra tertegun.
Beruntung, cermin milik Ram tak berada jauh dari mereka berada. Kiarra tersenyum lebar karena wajahnya sudah kembali normal termasuk leher dan juga rambutnya.
"Thanks," ucapnya dengan wajah berpaling.
Ram tersenyum dan mencium bibir Kiarra sekali lagi. Kiarra terdiam. "Kita harus segera pergi," ajaknya.
Kiarra mengangguk dan bangun perlahan. Ia melirik ke arah Ram dan memandangi kejantanan pria itu yang sukses membuatnya terlena. Ram terlihat santai saat memakai pakaian. Pria itu sepertinya memang tak menyukai pakaian yang menutupi dada bidangnya. Kiarra tak mau ambil pusing dan segera berpakaian.
"Ayo," ajak Ram sembari mengulurkan tangan, meminta Kiarra untuk menyambutnya.
"Ayo," jawabnya seraya menerima tangan kekar itu.
__ADS_1