Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kapal-kapal Perang*


__ADS_3

Kabar dari Vom jika mereka siap menjemput, segera diteruskan oleh para manusia ubur-ubur yang ternyata melakukan pesan berantai layaknya pelari estafet dalam laut. Empat orang dari jenis mereka tetap berada di Vom untuk mengarahkan kapal sampai ke tempat penjemputan. Seorang pria ubur-ubur berenang sampai ke titik tertentu masih di wilayah laut Vom kepada seorang wanita ubur-ubur yang telah berjaga di sana, menunggu kabar.


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


"Aku mengerti, blub!" jawab wanita bertubuh transparan itu lalu berenang menuju ke titik selanjutnya untuk meneruskan pesan.


Pria ubur-ubur menggantikan posisi teman wanitanya dan menunggu di sana sampai kapal dari Vom melintas. Cukup lama perjalanan yang harus dilalui oleh para manusia ubur-ubur karena mereka memutar . Banyaknya armada Tur di perairan yang dekat dengan perbatasan, membuat mereka harus mencari jalan aman agar kapal Vom berhasil mengevakuasi. Kiarra dan Dra yang dikenali, membuat wilayah perbatasan terasa tegang. Namun, pesan itu berhasil sampai ke telinga Kiarra.


"Bagus. Semua bersiap," ucap Gom mantap.


"Tunggu. Apakah ... kolam ini terhubung ke lautan?" tanya Kiarra saat ia bertemu kembali dengan wanita ubur-ubur di kolam.


"Ya," jawabnya lirih.


"Seberapa jauh? Apakah jalannya sulit?" tanya Kiarra dalam posisi merangkak agar tubuhnya tak terlihat.


"Tidak. Apakah ... kau bermaksud untuk berenang sampai ke laut dan menunggu jemputan di sana?" tanya wanita bertubuh transparan itu menduga.


"Hem. Kulihat lebih aman dengan berenang dari pada harus berjalan di permukaan. Bagaimana? Kalian bisa?" tanya Kiarra melirik Gom dan lainnya.


"Ya. Kami bisa," jawab sang Putri dan lainnya mantap.


Wanita ubur-ubur itu bersiap untuk menjemput saat kapal dari kerajaan Vom terlihat. Kiarra dan lainnya kembali ke gua untuk mempersiapkan kepergian dari Tur. Para pemberontak sudah membekali diri dengan senjata dan hal-hal lain yang dibutuhkan sampai jemputan datang.


"Ara ... aku tak bisa berenang. Bagaimana jika tenggelam?" rengek Lon panik yang sudah menunggu di atas pohon dekat kolam sebagai tempat persembunyian sampai sinyal jemputan tiba.


"Tenang saja, aku sudah memikirkan hal itu," jawab Kiarra tersenyum.


"Benarkah? Bagaimana?" tanya Lon dengan mata membulat penuh.


"Akan kuberitahu saat waktunya tiba nanti," ujar Kiarra yang diangguki anak lelaki itu.


Hingga akhirnya, waktu yang dinantikan tiba. Kapal dari Kerajaan Vom terlihat memasuki perairan Tur. Hanya saja, seberapa hebatnya mereka mencoba menjauh dari armada, tetap saja harus melawan karena kapal-kapal perang Tur yang sudah menguasai lautan dan berada di titik-titik krusial. Ditambah, badai datang disertai kilatan petir yang memekakkan telinga.


Kabut hijau yang menguasai wilayah tersebut membuat para awak Vom bersiap karena memasuki wilayah musuh. Ombak semakin ganas dan membuat kapal terombang-ambing. Badai yang jarang terjadi, membuat orang-orang di semua armada baik Vom atau Tur panik karena hal tersebut bukan pertanda baik.


__ADS_1


"Laksamana! Kami melihat kapal asing memasuki perbatasan!" seru seorang awak kapal kerajaan Tur.


"Pasti dari salah satu kerajaan yang bergabung dengan Vom. Jangan biarkan mereka melintas! Raja memerintahkan kita untuk menangkap mereka hidup-hidup, tetapi hancurkan kapalnya!" seru Laksamana kerjaan Tur dengan sorot mata tajam meneropong di atas geladak kapal.


"Baik!"


Segera, suara terompet dari tanduk Ggg ditiupkan. Suara besar itu terbawa angin sebagai tanda jika ada kapal asing masuk memasuki perbatasan. Beruntung, Vom memiliki Laksamana Noh yang terkenal tak pernah kalah dalam bertempur di lautan. Ia mendengar kode dari kapal musuh dan mulai bersiap.


"Laksamana! Kita sudah memasuki wilayah kabut hijau seperti informasi dari para manusia ubur-ubur!" ucap salah satu ABK yang memantau di atas menara.


"Hem, bagus. Kita akan tunjukkan kekuatan Vom! Semua bersiap!" seru Laksamana dan diangguki semua ABK di kapal besar tersebut.


Laksamana Noh terlihat tak gentar meski kabut hijau menutupi cahaya bulan ungu. Wilayah itu bahkan menjadi hijau sepenuhnya. Para manusia ubur-ubur sengaja mengarahkan orang-orang Vom ke wilayah itu karena warga Tur percaya jika kawasan tersebut terdapat kutukan Grr sehingga dijauhi.


Namun, para manusia setengah ubur-ubur yang sudah melintasi lautan itu bertahun-tahun lamanya memastikan, jika tempat tersebut aman. Hanya saja, badai memang selalu datang tanpa disertai hujan. Noh mengambil risiko itu dan tak takut jika dikutuk menjadi manusia setengah binatang seperti warga Tur.


BYUR! BYUR! BYUR!


Benda-benda terbuat dari kayu seperti sebuah tong berukuran kecil yang diberi pemberat berupa batu, dijatuhkan dari atas kapal oleh para awak Noh. Segera, para manusia ubur-ubur yang mengikuti pergerakan kapal Vom dari bawah, mengambil tong-tong kecil seukuran gelas besar itu dan membawanya berenang menuju ke kapal Tur. Para manusia ubur-ubur berusaha membantu agar kapal penjemput bisa melintas nantinya.


"Kalian siap?" tanya seorang wanita ubur-ubur yang berenang di bawah kapal Tur bersama jenisnya.


"Lepaskan pemberatnya!" perintah seorang wanita ubur-ubur.


Segera, para manusia setengah binatang itu melepaskan batu-batu yang sengaja dikaitkan dengan tali agar tong tersebut tenggelam. Mereka berenang mengitari sekitar kapal dan perlahan naik ke permukaan menampakkan setengah wujudnya.


"Lempar!"


SWING ... DUK! DUK!


"Oh, apa ini?" tanya seorang awak ketika melihat benda itu tergeletak di atas geladak entah datang dari mana karena tak melihat kemunculannya. Benda itu retak dan serbuk kering di dalamnya berjatuhan di lantai kayu. "Oh, baunya ... ini bubuk peledak!"


Tiba-tiba ....


"Akk! Akk!"


"Tembak!"

__ADS_1


SHOOT! BLUARR!!


"Serangan! Kita diserang!" seru seorang awak saat melihat sebuah anak panah melesat dengan api ungu pada bagian ujung dan meledakkan geladak yang sudah dipenuhi oleh serbuk mesiu.


Ledakan demi ledakan terdengar bersahut-sahutan sehingga kapal terbakar. Panglima Wen yang menunggangi Eee bersama kesepuluh prajuritnya, memantau dari balik awan yang tertutupi kabut hijau tebal sebelum akhirnya siap menukik untuk melakukan serangan. Para manusia ubur-ubur berhasil melemparkan tong-tong kayu itu ke kapal-kapal Tur yang menghalangi jalan menuju ke titik penjemputan. Tentu saja, serangan tak terduga itu membuat Laksamana Kerjaan Tur marah besar.


"Pengkhianat!" teriaknya marah saat melihat seorang manusia ubur-ubur muncul di permukaan dan tertangkap matanya.


Pria itu terkejut saat moncong meriam diarahkan ke tubuhnya ketika akan melemparkan sebuah tong mesiu ke kapal Tur lainnya.


"Matilah!" geram Laksamana Yoh saat akan membakar tali pemicu meriam dengan sebuah obor.


Mata pria ubur-ubur terbelalak lebar ketika melihat dirinya dibidik. Namun, tiba-tiba ....


"Yoh!"


Sontak, Laksamana dari Kerajaan Tur tersebut menoleh. Ia tertegun melihat musuh bebuyutannya yang tak lain Laksamana Noh muncul di hadapan. Pria berambut putih itu terbang dengan tubuh dicengkeram kuat oleh cakar Eee.


"Heahhh!"


"Kau akan mati di sini, Noh!" teriak Yoh saat cengkeraman Eee lepas karena menjatuhkan penumpangnya.


"Mati? Enak saja!" balas Noh yang dengan sigap mengayunkan pedangnya.


TRANGG!!


Pertempuran sengit antara Laksamana Kerajaan Vom dan Tur terjadi di geladak kapal Tur dalam kobaran api. Kapal masih bisa melaju, tetapi mengalami kerusakan di beberapa bagian. Pasukan Vom menuntaskan tugas para manusia ubur-ubur dengan membombardir kapal-kapal Tur yang telah terbakar dengan meriam-meriam besarnya. Pasukan Eee juga gencar melakukan serangan dengan terus membakar dan melesatkan panah-panah pembunuh sehingga awak kapal Tur berjatuhan.


"Cepat! Panggil Kiarra dan lainnya! Kapal Vom berhasil melintas dan siap menjemput!" perintah seorang pria ubur-ubur.


"Aku mengerti!" jawab wanita ubur-ubur yang dengan sigap berenang menuju ke kolam di mana Kiarra dan lainnya siap menyelam menuju ke laut.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


wah dapat tips koin. tengkiyuw Rianađź’‹


__ADS_2